Tribute to Ibu Rini, Al Fatihah...

Inspirasi Dari Bu Rini Untuk Perempuan Indonesia Mandiri

Tampilkan postingan dengan label coding mum. Tampilkan semua postingan

Bootcamp KCMI Sesi 1: Membuat Website dengan HTML

Tidak ada komentar

 Pertemuan pertama di Google Meet sekaligus di Live Streaming ke You Tube



Link Studio Code: https://studio.code.org/projects/weblab/sJ6zJ1mVR8cM8_KgsYln2xKkQd1OH93pzzMYBFhHV_M/edit

FREE ONLINE BOOTCAMP KCMI FOR WOMEN

Tidak ada komentar

 

KOMUNITAS CODING MUM INDONESIA [KCMI]

Menyelenggarakan FREE ONLINE BOOTCAMP khusus perempuan. Usia 18 tahun ke atas. Tidak harus sudah menikah dan tidak harus sudah jadi mum (ibu-ibu).

Materi: BELAJAR BIKIN WEBSITE STATIS DENGAN HTML, CSS DAN BOOTSTRAP.

Untuk: pemula

Maksud pemula adalah yang sama sekali tidak pernah mengenal pemrograman atau coding. Namun boleh juga jika anda ingin ikut lagi untuk me-refresh ilmu membuat website yang dulu pernah dipelajari jaman sekolah/kuliah/bekerja.

Output:

  1. Mengetahui cara membuat website
  2. Mengetahui konsep dan syntax HTML, CSS dan Bootstrap
  3. Mampu membuat website statis sederhana untuk keperluan belajar
  4. Mengetahui cara belajar mandiri untuk mengembangkan materi dasar yang sudah didapatkan selama bootcamp

Prasyarat:

  1. Wajib perempuan usia 18 tahun ke atas
  2. Menyediakan laptop dan akses internet mandiri [kelas dilakukan online]
  3. Berminat besar untuk terus belajar dan praktik mandiri
  4. Sudah terbiasa menggunakan laptop/komputer, internet dan skill digital dasar
  5. Aktif di kelas belajar dan di grup telegram KCMI
  6. Bersedia meneruskan semangat belajar dan mengajarkan materi yang sudah didapatkan kepada anak, saudara, keluarga, murid dan siapapun yang membutuhkan

Biaya : GRATIS

Learning Resources dan Tools:

  1. W3Schools
  2. Studio Code Web Lab
  3. Brackets Code Editor
  4. Google Meet
  5. Grup Telegram

Tentang Komunitas Coding Mum Indonesia (KCMI)

Tidak ada komentar

 Ini adalah video untuk menjelaskan tentang Komunitas Coding Mum Indonesia. 




Komunitas Coding Mum Indonesia.
Connect — Code — Empower

Instagram: www.instagram.com/kcmi_id
Twitter: www.twitter.com/kcmi_id

Facebook Page: www.facebook.com/codingmumindonesia

Facebook Group: http://bit.ly/grupfbkcmi
Blog: http://bit.ly/blogkcmi
Telegram: https://bit.ly/telegramkcmi

Women only. Hanya Untuk perempuan. Terutama ibu rumah tangga. 

Bagaimana cara belajar codingnya?

Simak video berikut:


Pengalaman di Apple Developer Academy UC

Tidak ada komentar
foto bareng Aminah, si mbak OB yang mungil dan selalu berteriak, "Bu Heni, I miss youuuu"



"Bagaimana agar lolos Apple Developer Academy ya bu?"

Pertanyaan yang mampir ini masih ada, terus ada dan akan makin banyak masuk ke inbox, DM dan juga email jika masuk ke momen pendaftaran baru.

Nah, saya rangkum jawabannya di Podcast berikut ya.


Podcast bisa disimak di sini:



Sedangkan 2 tulisan lain di blog bisa juga dibaca satu per satu untuk menambah wawasan dan persiapan nanti ya:
  1. https://www.prasetyorini.com/2019/02/alhamdulillah-diterima-di-uc-apple-developer-academy-2019.html
  2. https://www.prasetyorini.com/2019/12/catatan-singkat-di-apple-developer-academy-uc.html





Pertama Naik Kereta Api Lagi Setelah 15 Tahun Di Rumah Saja

Tidak ada komentar
Ini cerita beberapa tahun lalu. 2016. Jadi sekitar 4 tahun yang lalu kalau dihitung dari sekarang tahun 2020. Ini cerita ketika pertama kali saya naik kereta api lagi, setelah berhenti sejak lulus kuliah di Bandung, tahun 2001.

Perjalanan kali ini karena undangan dari BEKRAF bagi saya untuk datang ke acara Sosialisasi Coding Mum di Tulungagung.

Perlu diingat, bahwa sebelumnya saya adalah ibu rumah tangga yang hampir 100% hanya di rumah saja. Jarang sekali bepergian. Kalaupun pergi pun bersama keluarga. Dan sama sekali tidak pernah keluar rumah, apalagi ke luar kota sendirian.

Nah, undangan ini mengharuskan saya pergi sendiri. Pertama kalinya sejak menikah. Jadi 15 tahun tidak pernah pergi sendiri dan tidak pernah naik kereta api lagi sama sekali.

Bayangkan bagaimana rasanya?

pertama naik kereta api lagi setelah 15 tahun di rumah saja
sumber foto: pexels.com


Sama sekali tidak tahu bagaimana prosedur membeli tiket terbaru. Dan juga harga tiketnya. Pergi sendiri ke Stasiun Gubeng juga ribet sendiri. Bentrok dengan jadwal menjemput anak sekolah. Perginya juga kudu naik bemo alias angkot beberapa kali. Kalau naik sepeda motor sendiri, takut nyasar karena udah lama banget nggak pergi jauh dari rumah. Selain track motoran adalah ke pasar, sekolah anak atau ke ATM bank untuk mengambil jatah bulanan dari gaji suami.

Tahun 2016 itu belum ada ojek online. Dan belum ada aplikasi KAI untuk pesan tiket seperti sekarang. Semua masih serba manual. Tapi saya udah dengar bahwa naik kereta api sekarang udah jauh lebih enak daripada jaman saya sekolah dan kuliah dulu.

Suami meyakinkan akan membelikan tiket ketika istirahat kerja. Karena dia yang selama ini bisa ke sana ke mari, saya iyakan saja. Ternyata pekerjaannya banyak dan dia baru bisa ke stasiun sore hari, sementara loket tiket tutup.

Panik dan bete juga saya. Udah hanya bergantung pada doi, eh kok gagal gini. Mendingan saya nekad naik bemo pagi-pagi, pasti loket masih buka dan saya bisa pulang ke rumah sebelum jadwal menjemput anak sekolah.

Tapi ya sudah, nasi sudah jadi bubur. Saya berbekal browsing di google dan tanya ke teman-teman di grup whatsapp blogger yang terbiasa travelling. Katanya bisa beli tiket Go Show alias saat itu juga. Dan usahakan sebelum jadwal kereta berangkat.

Undangan saya jam 10 pagi dimulai di Tulungagung. Dan hasil browsing menunjukkan kereta api ke Tulungagung berangkatnya shubuh, sekitar jam 5 pagi. Maka untuk dapat tiket Go Show, saya harus ke Stasiun jam  4 pagi. Dan sholat Shubuh dulu di stasiun.

Suami menghitung perjalanan dan kemungkinan telat karena harus prepare Shubuhan di stasiun, maka diputuskan kami berangkat dari rumah jam 3 pagi. Byuh kayak mau sahur.


Dan bener, kami berangkat jam 3 pagi, kami sampai stasiun sekitar jam 4 kurang sedikit dan loket belum buka :). Jarak rumah saya ke stasiun lumayan jauh, karena lokasi di Surabaya Barat. Dan stasiun ini di Surabaya Utara mungkin ya, atau Timur. Entahlah saya ga terlalu ngeh arah.

Singkat cerita urusan beli tiket beres. Saya berbekal roti dan minuman untuk sarapan di jalan. Wajah suami rada panik gimana gitu tapi dipendam aja. Kebayang juga gak pernah ngelepas istrinya pergi sendirian sejak dia nikahi.

Saya juga antara deg-degan, juga seneng bisa pergi sendirian setelah belasan tahun digandolin dua anak lelaki saya itu kan. Ditambah kagum dengan perubahan stasiun dan kereta api.

Stasiun bersih banget. Ada tempat wudhu dan sholat. Walau toilet ada di tempat lain di bagian dalam dekat rel kereta. Kalau di Stasiun Gubeng ada musholla dan kamar mandi di luar stasiun, cuma rada kotor sih.

Proses beli tiket juga pakai kertas kecil dan scanning. Lalu sedia KTP juga gitu. Ada sistim boarding macam mau naik pesawat terbang. Pengantar tidak boleh masuk kecuali bawa tiket. Jadinya masuk depan gerbong dan rel kereta itu sepi tidak uyel-uyelan. Wah hebat nih. Ingatan memori jaman antri beli tiket di stasiun dengan kondisi tak karuan pun muncul.

Pas masuk kereta api juga kaget, wah ini kereta ekonomi tapi ada AC-nya dong. Adem. Bersih. Nyaman. Ada charger listrik pula. Kaget banget. Katrok aku....

Perjalanan ke Tulungagung sekitar 4 jam. Dalam perjalanan juga nyaman banget. Tidak ada satu pun penjual yang masuk ke gerbong. Tidak ada juga orang yang berdiri atau duduk di lorong gerbong. Di dalam kereta bersih dan segar.

Beberapa kali turun di Stasiun pun, saya terpana-pana dengan adanya tampilan Stasiun kecil-kecil yang bagus-bagus, toiletnya juga bagus-bagus.

Sampai di Stasiun Tulungagung, saya tahu dari google dan teman kalau menuju Hotel Kristal tinggal naik becak saja. Dan itu benar. Tidak sampai 15 menit naik becak, saya sudah sampai di lokasi.

Nah di sini, ada kejadian lucu.
Saya yang masih kagak pede dan kagetan kalau diundang ginian, kagak berani tanya terlalu banyak ke panitia Bekraf. Jadi saya tidak tahu disuruh ngapain di sana.

Saya pikir hanya duduk menemani para ibu-ibu untuk belajar coding, seperti kelas Coding Mum Surabaya yang saya ikuti. Jika ada pihak Bekraf datang, mereka cuma duduk saja mengamati kami.

Ternyata, saya di sana hadir dan diundang sebagai narasumber alias pembicara.
Waduh grogi. Tahunya pas mau tanda tangan absensi di hotel itu.


Jadi, ketika sampai hotel, saya kagum ternyata hotelnya mewah bagus gitu. Pas saya tanya ada kegiatan Coding Mum Bekraf?. Ditanya balik oleh resepsionis hotel, "oh acaranya Venna Melinda bu?".

Saya jawab bukan, tapi Coding Mum. Dan mereka menunjukkan saja ke lantai 3 atau 6 saya lupa. Di depan pintu lift bertemu sekelompok ibu-ibu menanyakan hal yang sama pada saya. "Mau ke acara Venna Melinda ya?". Saya diam saja, mengikuti mereka.

Di benak ini heran juga. Apakah ada acara kampanye? karena saya tahu Venna itu kan sekarang ikutan di parpol.

Ndilalah beneran. Jadi Sosialisasi Coding Mum di Tulungagung ini termasuk acara yang digagas oleh Venna Melinda. Jadi saya dapat tuh merchandise, mug bergambar beliau dan sempat berfoto juga.

Saya berangkat itu, dengan pakai sepatu kets biru tua bulukan yang udah saya gambar warna-warni garis-garis dengan cat aga. Pakai celana jins biru tua. Hem putih bahan kain rayon bali yang adem. Dan blazer hitam dengan jilbab berwarna ungu motif. Gak matching pokoknya dah. Eh hem putih saya ganti  dengan baju kemeja merah yang saya bawa. Saya ganti baju ini di stasiun Tulungagung deh kalau ga salah.

Waktu maju ke meja pendaftaran, ketika saya sebutkan nama dan asal, panitia langsung panik bahwa pembicara sudah datang. Lalu berlari mencari anak Bekraf.

Batin saya, "haa? aku jadi pembicara? gila nih, saltum sepatuku gak pokro ngene rek. Alias nggak bener gini euy. Kagak resmi."

Di toilet hotel, ketemu dengan alumni Coding Mum dari Malang. Mbak Christinna kalau ga salah namanya. Dan dia berganti baju resmi banget. Byuhh, grogi saya makin kerasa salah kostum. Masuk ke ruangan hotel, melihat pak Boy (almarhum) - Deputi Bekraf memakai baju batik.

Haduh ampun dije. Udah kadung ngerasa saltum gimana dong?

Ya udah, bergaya sok nyentrik dan tomboy aja. Padahal ga pede aslinya, apalagi ibu-ibu Tulungagung pada heran gitu ngelihatnya.

Saya pun diminta duduk dekat tim Bekraf di salah satu meja bundar besar.

Mas Ardan, kalau ga salah, anak Bekraf, berbisik ke saya kalau meminta flashdisk file presentasi yang akan saya tampilkan nanti biar dimasukkan ke laptop panitia.

Kaget lagi sayaa. Kagak bilang harus pakai slide. Saya nggak bikin gitu. Wong di rumah dah bingung sendiri tentang beli tiket dan gimana ngatur rumah kalau saya tinggalkan.

Saya memandang mbak Christina, dan dia pun tidak membuat slide.

Ya sudahlah pasrah. Saya bersiap saja nanti bicara berdasar pengalaman pribadi. Opo jare.
Nanti menampilkan blog pribadi saja, menunjukkan beberapa artikel tentang Coding Mum yang saya tulis satu per satu dengan tekun, setiap hari selama ikut kelas Coding Mum Surabaya. Dan juga cerita saya bingung ketika anak suka main game. Disambungin ke situ lah.

Jadwal maju saya setelah sesi Pak Boy dari Bekraf, Venna Melinda yang punya gawe dan pak Zaenal Arifin sang koordinator Coding Mum Surabaya.



Sebelum ini juga diselingi shooting SBO TV atau TV lokal antara saya, Venna Melinda dan alm. Pak Boy dari Bekraf. *aduh saya masuk TV lagi nih, gitu batin saya GR :)

Akhirnya terjadilah dan tibalah waktunya saya maju.
Bicara di depan 200 audience tanpa persiapan, pertama kalinya. Dan eh ternyata lancar-lancar saja. Ibu-ibu menyimak. Dan beberapa menghampiri setelah saya selesai bicara. Ada yang kenalan. Ada yang curhat. Senang.

ketika bicara di depan 200 ibu-ibu di Tulungagung



Selesai acara, niatnya  saya langsung kembali ke stasiun. Sambil sholat dhuhur - jama' dengan ashar, saya berbincang sebentar dengan ibu - istri ketua DPRD Tulungagung. Beliau awalnya menawarkan untuk jalan-jalan sebentar ke mall Tulungagung.

Tapi saya tolak karena takut telat kereta api. Oh ya tiket pulang langsung saya beli dari Stasiun Gubeng shubuh tadi. Jadi sudah tahu jadwalnya. Sekitar jam 3 sore lebih. Waktu tunggu masih lama, tapi tak apa daripada telat. Nanti bengong dong sendirian di Tulungagung? bisa panik luar biasa anak dan suami di rumah. Udah saya nggak mau ambil resiko.

Ketika di stasiun, saya terkagum-kagum dengan penampilan Tulungagung. Kota dan orangnya keren kekinian semua. Baju-baju juga ala orang Jakarta dan model kekinian yang banyak eksis di instagram.

Gabut menunggu lama dan kelaparan, saya pun pergi keluar stasiun sebentar lalu membeli nasi bebek goreng yang dibungkus. Nanti akan saya makan di kereta api jika udah nggak tahan lapar.

Lalu saya beli juga beberapa potong Roti O sebagai oleh-oleh ke anak. Kebayang itu bau sedep rotinya mulai dari stasiun sampai di dalam gerbong.

Jadwal naik kereta pun datang. Saya duduk dekat pintu gerbong. Dan kalau malam itu ternyata kereta api padat sekali. Banyak sekali yang naik. Juga kereta lajunya lebih lama karena beberapa kali berhenti di stasiun, menunggu lama seperti menunggu giliran gitu. Sumpek, capek, laper, ngantuk, takut juga malam-malam. Tumpuk jadi satu.

Perut lapar tapi sungkan mau makan. Tapi akhirnya nggak tahan juga. Saya makan nasi bebek goreng yang udah dibeli tadi. Ternyata bebek gorengnya kurang mateng tanek gitu masaknya. Jadi alot dan susah digigit. Udahlah makan sungkan, ini susah pula nggigit bebeknya hahah. Udah cuek aja dah terlatih menjadi anak kos bertahun-tahun. Makan asal kunyah telan kenyang.

Nggak sempat juga cuci tangan ke toilet. Karena printilan bawaan banyak, mulai tas ransel penuh, ada laptop netbook mini juga, roti O dan tas totebag merchandise.

Sampailah juga di Stasiun Gubeng sekitar jam 10-11 malam. Dan suami saya udah standby menunggu di pintu keluar stasiun dengan seringai lebar dalam balutan sweater coklatnya.

Ih, rasanya kayak jaman masih pedekate pas masih kuliah dulu deh.

Di mobil saya bercerita panjang lebar. Termasuk kaget juga ternyata dapat amplop berisi uang 6 digit sebagai pembicara.

Nah perjalanan saya sebagai narasumber seminar atau pembicara, dimulai hari itu ternyata.















Ikut Jobhun Academy Online Learning Untuk Peluang Kerja dan Karir Baru

Tidak ada komentar
Beruntung banget dapat kesempatan ikut kelas online belajar Copywriting di Jobhun Academy. Stay at home karena masa pandemi virus Corona alias Covid-19, proses belajar tidak ada kendala. Dengan akses internet saya dan beberapa teman bisa ikutan belajar barengan hampir tiap hari bersama pengajar yang bener-bener ilmunya daging dan udah jadi praktisi yang kaya pengalaman. Real copywriter one.
jobhun academy online learning copywriting


Sempat beberapa kali melihat postingan Jobhun tentang beberapa kelas online yang akan diadakan. Nah ketika mampir ke instagram dan website-nya langsung. Kemudian baca isi materinya apa aja, pas deh, ikutan kelas Copywriter ini paling cocok. Materinya lebih lengkap daripada beberapa kelas online yang pernah saya ikuti. Coba simak materinya berikut ini:

Materi yang akan dipelajari

  1. Mengenal copywriting
  2. Mengenal profesi copywriter
  3. Memahami peran dan tanggung jawab copywriter
  4. Memahami peluang kerja copywriter di industri
  5. Memahami skill dasar yang harus dimiliki copywriter
  6. Memahami media yang digunakan untuk pendistribusian konten copywriting
  7. Memahami apa saja tools/software yang digunakan untuk copywriting
  8. Memahami teknik copywriting
  9. Memahami formula AIDA dalam copywriting
  10. Memahami 5W1H sebagai teknik dasar penulisan dan copywriting
  11. Mengenal jenis-jenis copywritring digital
  12. Persiapan karier: Tips mendapatkan pekerjaan di bidang copywriting, baik freelance maupun full time.
  13. Persiapan karier: Tips membuat CV dan portfolio yang menarik bagi copywriter
  14. Persiapan karier: Tips menjadi copywriter yang produktif dan tidak mudah terkena writer’s block
  15. Rekomendasi situs penyedia proyek dan pekerjaan sebagai content writer, sekaligus tips dan trik memenangkan proyek.
  16. Tes akhir untuk mentee (Hasil tes berupa konten yang bisa dijadikan sebagai portfolio dalam  melamar pekerjaan)


Tidak cuma kelas yang mengajarkan teori rupanya, tapi juga praktek untuk mengasah keterampilan menulis copy yang baik. Juga persiapan biar tembus dapat pekerjaan baru dengan skill ini. Menarik kan? 

Apalagi, ini penting nih, apalagi saya melihat profil pengajarnya yang mumpuni. Bukan hanya orang yang paham teori. Tapi beneran praktisi. Mas Maulana Fadilah yang emang udah dari sononya suka menulis. Walau awalnya menulis puisi :). Kemudian menekuni bidang komunikasi dan beberapa kali bekerja sebagai copywriter di beberapa perusahaan yang berbeda. Sampai akhirnya sekarang menjadi Senior Copywriter di Tokopedia. 

jobhun academy online learning copywriting
Latar belakang pendidikan Maulana Fadilah:

Bachelor’s Degree, Communication, Advertising – Universitas Indonesia


Pengalaman kerja Maulana Fadilah

Junior Copywriter at Berakar Komunikasi (2011-2012)
Junior Copywriter at SeratusPersen Komunikasi (2012-2014)
Copywriter at Login Communication (2014-2017)
Senior Copywriter at Berakar Komunikasi (2017-2019)
Senior Copywriter at Tokopedia (2019 – sekarang)


Kelas online dimulai sekitar jam 7 malam dan berakhir jam 9 malam. Kadang malah lebih kalau diskusi udah asik banget. Suami saya sering heran, ini ikutan kelas online kok gak selesai-selesai sih? *LOL

jobhun academy online learning copywriting

Ikutan kelas ini menambah lagi wawasan dan konsep dasar copywriting terutama di bidang komersial untuk pembuatan iklan di berbagai media.

Saya sendiri, sejak sibuk sendiri ngisi blog, tanpa terasa belajar copywriting ketika ikut lomba, mendapat pekerjaan sebagai reviewer brand atau produk atau ingin mempromosikan produk saya sendiri. Bahkan untuk membangun personal branding, tanpa terasa saya membuat copy demi copy bahkan tagline yang mudah diingat orang. 

Seperti:
  • ibu rumah tangga digital
  • pakai daster dapat transfer
  • perempuan harus melek teknologi
  • ayo bermain coding
  • di rumah saja bisa
Tapi itu semua saya pelajari sendiri atau otodidak. Atau kalaupun ikut kelas online, ya kelasnya model belajar asynchronous atau tidak ada interaksi dua arah langsung dengan pengajarnya. 

Di Jobhub Academy Online Learning, beda nih. Ada interaksi dengan pengajar dan peserta lain melalui platform zoom video meeting. Bagi peserta yang kelewat, tidak masuk atau saat itu kuota data habis atau sinyal internet lagi buruk, tidak risau juga. Karena seluruh proses kelas online tiap hari akan direkam oleh pihak Jobhun dan disimpan di cloud. Jadi bisa sewaktu-waktu dipelajari ulang oleh peserta.

So, ikutan belajar di Jobhun Academy Online Learning ini, recommended banget deh. Kalian bisa langsung mampir ke websitenya di link ini: www.jobhun.id. Dan setelah kalian dapat ilmu baru, langsung juga kontak terus ke Jobhun sampai dapat job dan karir baru. Asik kan :)

Contoh Storytelling Untuk Menampilkan Preview Ios Apps Saat Presentasi

Tidak ada komentar
Hari Tua Apps adalah salah satu ios apps yang dirancang di Apple Developer Academy|UC batch 1 tahun 2019 lalu bersama kelompok saya (bresyukur banget masuk kelompok keren ini deh). Ios apps ini semacam aplikasi untuk mencatat keuangan. Lebih lengkapnya bisa disimak foto, postingan linkedin teman kelompok saya dan tautan dari Behance di bawah ini:

storytelling hari tua ios apps





link behance:
https://www.behance.net/gallery/91724185/Hari-Tua-App


Ya, karena saya cuma Coding Mum butiran debu, yang masih bingung banget ikutan ngoding apps-nya, dengan bahasa Swift itu, saya bisanya bantu kelompok untuk riset dan menulis. 

Nah setelah prototype apps selesai dibuat, kami harus presentasi di depan pihak Apple academy dan mentor. Dan ini adalah contoh storytelling yang saya buat, untuk dijadikan keynote (slide presentasi)

----------------


Storytelling HARI TUA APPS KEYNOTE

A. INTRO:

Pada suatu hari, Brian kehilangan moodnya dalam bekerja dan kuliah. 
Dia duduk di cafe tempatnya bekerja sambil melihat ke dua arah. 
Satu, mengamati sosok orang tua yang berjalan tertatih keluar dari cafe.
Dua, memandang deretan rumah di depan cafenya. 

Dia bertanya di dalam hati. 
Apa bisa aku punya rumah sebelum setua orang itu ya?

Sambil memainkan iphone-nya, Brian kemudian melihat ke layar iphone, membaca notif chat yang baru masuk. 
Ini notif chat dari pacarnya  yang rutin bertanya, setiap hari pada Brian. 
"Kamu sudah makan, Beib? Nanti pulang jam berapa?"

Brian menjawab chat itu sekenanya lalu melanjutkan lamunannya.
Dia berkata dalam hati, bicara pada dirinya sendiri.

Beli rumah kayak impossible aja ya.
Mau nabung rutin, kadang lupa. 
Kadang khilaf beli gadget terbaru pas baru gajian.
Kalau saja ada reminder rutin di hape ini buat mengingatkan aku untuk bisa nabung rutin sampai target rumah kebeli. Kayak chat tiap hari dari pacarku ini.

Tak sengaja jari Brian menekan Pop Up Iklan yang menuju ke App Store, dan berhenti di aplikasi bertuliskan

"HARI TUA"

---------------

B.WHY WE NEED HARI TUA APPS?
pengenalan tentang Hari Tua Apps, menunjukkan kelebihan dan alasan kenapa orang membutuhkan Hari Tua Apps. 

1. [ Muncul Logo ]


Hari Tua means "old day" 
kami membantu mengatur keuangan kalian sehingga kelak di Hari Tua ada di posisi aman, mapan dan bahagia dengan orang terkasih. 

Siapa yang harus memikirkan Hari Tua mereka?
Tentu saja kita yang masih muda. 
Jika kita memikirkan hari tua di saat kita sudah tua, tentu saja akan sangat terlambat. Harga rumah sudah melambung tinggi. Inflasi takkan pernah berhenti. 

Untuk mendapatkan target hidup yang mapan, tentu harus mulai MENABUNG dari sekarang. 

Apakah orang sudah tahu pentingnya menabung?
Sepertinya relatif sudah. 
Akan tetapi kenyataannya sebagian orang masih mengalami kesulitan untuk bisa menabung dengan cara yang tepat. 
Begini alasannya:


2. [Menunjukkan skrinsut hasil survey]

Kita sebenarnya sudah tahu manfaat menabung dan pentingnya menabung sejak dini. Akan tetapi, kita masih sering terhambat oleh beberapa hal ini:
1. impulse purchasing = belanja spontan
2. not budgeting = tidak membuat budget pemasukan dan pengeluaran dengan baik
3. love of convenience = menabung ala jadul, tidak terdokumentasi dengan baik, tidak ada reminder dan tidak bisa diakses online


3. [menunjukkan Persona dan Emphaty Map Brian]

Seperti halnya Brian, target pengguna kami mengalami kesulitan ini. 
Brian adalah pemuda yang sehat, energik, dan memikirkan masa depannya. Sehingga sambil kuliah dia bekerja paruh waktu di cafe. Dan seterusnya sesuai persona dan emphaty map. 


Sebagai solusi dari masalah Brian dan orang-orang seperti Brian ini, Hari Tua apps hadir dengan 3 fitur unggulan:


4. [ Menampilkan Screen 3 fitur : Saving, Budget, Cashflow ]

3 fitur utama ini akan memberikan solusi pada hambatan pada proses menabung. Hal ini yang mendasari juga ide utama untuk membantu orang belajar menabung dengan tepat. Sebagai turunan dari ide besar membuat apps di challenge kali ini yaitu menabung. 

Saving: akan membantu pengguna untuk membuat target hal yang akan dicapai, jumlah uang yang harus ditabung dan perkembangan tabungannya sampai ke deadline tabungan.

Budget: akan membantu pengguna menyusun rencana keuangannya sehingga antara pemasukan dan pengeluaran bisa balance.

Cashflow: akan sangat membantu pengguna mengawasi posisi keuangannya secara real. Dengan catatan mereka rajin memasukkan input data cashflow mereka setiap hari. 

Dengan 3 fitur ini, kondisi keuangan pengguna bisa terdokumentasi dengan rapi. bahkan catatan keuangan untuk mencapai target impian mereka (Saving Goals) mereka pun ada. 

5. [Kembali menunjukkan logo Hari Tua Apps]

Kami yakin, Hari Tua Apps adalah solusi untuk anda yang mengalami masalah yang sama.






Ayo Bermain Coding Bersama Anak Dengan Scratch

Tidak ada komentar
Menurut Steve jobs, " Everybody should learn to program a computer, because it teaches you how to think!"

Yang artinya, "Semua orang sebaiknya belajar bagaimana cara membuat program komputer (coding), karena ini mengajarkan kita cara berpikir."

Bagaimana jika Coding ini dikenalkan sejak kecil? sejak anak-anak SD bahkan sejak anak usia dini yang belum bisa baca tulis. 

Apakah bisa?
Alhamdulillah BISA. 

Untungnya, di tahun 2020 ini, sudah banyak pihak yang pintar dan baik hati, mau membuat platform belajar coding untuk anak dan dibagikan secara sukarela.

Jadi kita bisa mengaksesnya gratis (semoga selamanya).

Salah satunya adalah SCRATCH.
Bisa coba diakses di websitenya www.scratch.mit.edu




Scratch adalah platform coding kids dengan metode visual programming. Jadi code atau kode pemrograman yang ditampilkan bentuknya kotak-kotak seperti puzzle yang tinggal di tarik dan gabungkan (drag and drop).

Juga, banyak konten visual yang sudah disediakan seperti Sprite (bentuk kucing, manusia, hewan, dll)






 Jangan khawatir jika belum pernah mengenal Scratch dan tidak tahu cara menggunakannya. Karena sudah disediakan semuanya oleh pembuatnya. Kita tinggal mengeksplorasi setiap button dan menu yang disediakan.

Untuk belajar cara menggunakan bisa mengeklik TUTORIALS, maka akan muncul kotak-kotak kecil berisi video tutorial.


Scratch ini bisa digunakan di semua gadget, baik itu komputer, laptop, android smartphone dan ipad.
Scratch juga bisa diakses online maupun offline. Jika ingin anak-anak bisa belajar coding bareng teman baru, bisa mendaftar di program Ayo Bermain Coding yang diselenggarakan oleh Kelasku Digital. Untuk mendaftar dan mendapatkan informasi baru, bisa mengisi formulir online di tautan berikut: bit.ly/newskelaskudigital , informasi kelas lainnya bisa follow instagram dan facebook Kelasku Digital. 


Selamat belajar dan mengeksplorasi ilmu baru :)



DARI CODING MUM KE AKADEMI PRASETYORINI

Tidak ada komentar

Berdiri di hadapan 200 ibu-ibu di Tulungagung, membuat hati saya berdesir sendiri. Siapalah saya ini? Programmer bukan, motivator sukses juga bukan. “Saya hanya ibu rumah tangga yang suka internetan”, begitulah satu kalimat yang saya ucapkan tiap kali memperkenalkan diri jika diundang sebagai pembicara. Seperti juga kala itu, ketika berada di Tulungagung di acara Sosialisasi Coding Mum. Bagaimana bisa seorang ibu rumah tangga murni, satus persen, tiap hari megang sapu dan pel, bisa mendadak jadi pembicara? Bahkan pengajar atau trainer? Lah kok bisa? Nah, begini ceritanya.

Perkenalkan, nama lengkap saya Heni Prasetyo Rini. Saya termasuk salah satu alumni Coding Mum Surabaya Batch 1. Sebelum mengikuti kelas belajar membuat website ini, saya adalah emak-emak yang aktif di jagad maya. Ingat, “jagad maya” loh ya, bukan mulan jamila  #eh.

Saya aktif di dunia digital sejak tahun 2010, tapi masih sebatas menulis dan mencari informasi.Selain menulis di blog dan menjadi pegiat digital, saya juga sempat mencoba peruntungan membuka sebuah onlineshop jilbab. Jika anda pernah mengenal olshop bernama “Jilbab Orin” sekitar tahun 2010, nah itu punya saya. Saya murni ibu rumah tangga dengan segala rutinitas domestic. Terlebih ketika anak kedua saya lahir premature, saya total ada di dalam rumah saja.

Teknologi digital membantu saya untuk belajar, berkarya dan eksis walaupun dari rumah saja. Apalagi ketika saya mengenal CODING MUM. Ini seperti sebuah PINTU AJAIB yang membuat saya masuk ke sebuah dunia baru, seru, menarik dan ternyata bisa juga menghasilkan.

meja paling depan kelas Coding Mum Surabaya 2016

Saya termasuk emak-emak yang sangat aktif di Coding Mum Surabaya. Saya berusaha untuk tidak bolos kelas satu kalipun. Setiap kali selesai kelas, sesampai di rumah, saya langsung membuka laptop di malam hari. Kemudian membuat grup whatsapp coding mum Surabaya rame dan panas karena pamer hasil belajar secara online itu. Saya bersungguh-sungguh ingin menguasai cara membuat website untuk pemula ini. Dan sampailah saya di tugas akhir untuk presentasi.

Semula saya akan membuat website Studio Belajar Doji, untuk menyimpan hasil browsing sumber belajar anak-anak saya. Akan tetapi, di hari akhir kelas, saya mulai ngeh bahwa misi dari kelas belajar ini adalah memberdayakan perempuan. Maka saya pun mengangkat kembali rencana yang ingin saya buat bersama beberapa teman sebelumnya. Yaitu membuat kelas belajar khusus perempuan bernama AKADEMI PRASETYORINI. Ini adalah konsep yang terus menerus saya bawa dan dengungkan

AYO NGODING REK !

Tidak ada komentar

Siapa yang mau kerja pake daster trus dapat transfer? Yang mau mana suaranyaaaa?.

Ya siapa juga yang tidak mau, betul tidaakk?.

Bisa kerja di rumah, nggak ribet kena macet, nggak heboh jika pensil alis patah atau lipstick hilang entah kemana karena dibuat mainan sama si kecil.

Tinggal nyalain laptop, mainin mouse dan dikit-dikit aja ngetik kode HTML5, CSS3 atau Javascript. Kemudian menghias isinya dengan memasukkan gambar, file pdf atau video di hyperlink. Lalu tinggal save dan tralala trilili sebuah website sudah siap digunakan sesuai keperluan.

Ya benar, pekerjaan para cyber daster ini adalah menjadi pembuat website. Loh kok bisa emak-emak dasteran bikin website? Siapa yang ngajarin? Emang ada lembaga kursus yang nerima emak-emak belajar bikin website sambil rempong ngajak anak-anaknya? Kan biasanya dimana-mana ditolak tuh.

Walah rek, ada wistalah tempat belajar semacam itu ada. Namanya adalah CODING MUM. Ini adalah kelas belajar yang digagas oleh BEKRAF. Sekitar pertengahan tahun 2016, saya dan hampir 10 emak lainnya dapat kesempatan ikutan CODING MUM SURABAYA (CMS), yang lokasi belajarnya ada di DILO SURABAYA.

suasana di kelas Coding Mum Surabaya 2016, selalu ada selipan kids :)


Baiklah, sekarang silahkan duduk manis dulu sambil ngemil donat dan kopi hangat. Saya mau berbagi cerita bagaimana super dupernya saya ketika mengikuti program CMS itu dan betapa ajaibnya alur kehidupan saya kemudian setelah lulus dari tugas akhir di CMS.

Jadi begini, awalnya saya tak sengaja menemukan banner Coding Mum Surabaya Batch 1, di wall facebook seorang teman. Tanpa banyak cangcimen saya langsung daftar program itu, dan berusaha membagikan informasinya ke media sosial pribadi. Dengan harapan, biar yang ikut makin banyak. Singkat kata, saya diterima menjadi peserta dan berhasil mengikuti semua jadwal belajar dan tugas akhir untuk presentasi website. Saat tugas akhir itulah saya mempresentasikan single web dari Akademi Prasetyorini, yaitu sebuah akademi khusus perempuan yang mengajarkan tentang materi yang sama dengan coding mum, ditambah dengan materi bisnis kreatif serta digital marketing. Sajian ini tak sekedar untuk menggugurkan kewajiban tugas akhir di coding mum. Akan tetapi ada misi visi pribadi dalam hari saya, agar ide ini akan terwujud suatu hari nanti. Sejak saat itu, konsep Akademi Prasetyorini, saya sebutkan kemana-mana, bahkan saya masukkan dalam materi lomba menulis di blog. Syukurlah, dengan konsep rancangan Akademi Prasetyorini itu, saya mendapatkan juara dua dengan hadiah sebuah computer PC All in One dari ASUS. Inilah keajaiban pertama yang saya dapat setelah lulus dari Coding Mum Surabaya.

Kenapa saya bilang ajaib? Karena setelah ikutan Coding Mum saya tidak hanya paham cara membuat website. Saya dapat computer canggih gratis, menjadi narasumber seminar dan radio, diterima menjadi trainer dan beberapa program terkait dunia digital atau startup. Padahal jika ditelisik saya tidak punya latar belakang pendidikan di dunia IT atau pemrograman. Saya juga tidak pernah ikut kursus website atau apapun selain belajar 3 bulan di Coding Mum Surabaya.

Dari sini saya semakin yakin untuk terus mengambil bagian dalam program pemberdayaan perempuan untuk melek teknologi. Karena saya sendiri mendapatkan hasil yang nyata-nyata positif dikarenakan telah melek teknologi. Melek internet. Bisa mengoptimalkan aneka bentuk platform digital yang tersedia di internet dalam bentuk kegiatan yang positif. Bahkan dari sini saya mendapatkan tawaran pekerjaan yang bahkan sering diluar dugaan saya.

Yang lebih ajaib lagi, saya bisa menjadi sahabat bagi kedua anak lelaki saya yang punya ketertarikan luar biasa pada dunia digital dan internet. Baik itu dunia pemrograman, media sosial dan uprekan lainnya. Saya pun, Alhamdulillah, bisa mencarikan informasi dan jalan yang harus ditempuh anak saya ketika memutuskan ingin menekuni dunia pemrograman. Jadi anak sulung saya, tanpa ragu kemudian memilih untuk melanjutkan sekolah di sekolah kejuruan bagian pemrograman atau SMK jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Semula dia ingin mengulik tentang website dan animasi. Ternyata sekarang dia lebih tertarik pada pemrograman terkait Big Data.

Well, ketika anak saya bicara tentang Big Data, Internet of Things (IOT) saya bisa mengimbanginya dengan baik dan memberikan informasi yang paling update. Bahkan saya bisa mengarahkan anak saya untuk kontak dengan salah satu ahli yang kebetulan saya kenal. Perkenalan dengan para pakar pemrograman ini saya peroleh ketika saya “nekad” untuk mengikuti aneka bentuk acara dan komunitas para programmer dan startup. Bahkan saya sering dibilang sangar karena ibu-ibu blusukan ke acaranya Google Developer Group (GDG). Padahal jelas-jelas saya tidak paham apa yang dikatakan oleh narasumber. Akan tetapi niat saya adalah mencari informasi sebanyak mungkin untuk bisa mengarahkan kedua anak lelaki saya tersebut. Alhamdulillah hasil blusukan saya mulai menampakkan hasilnya. Selain anak saya semakin terarah, saya pun semakin tersedot dengan indahnya ke dunia digital, startup dan pemrograman.

Saat ini saya menjadi Trainer Gapura Digital, yaitu salah satu projek Google untuk memfasilitasi para pebisnis UMKM agar bisa go online. Sebagai blogger pun saya sangat aktif menulis dan nyaring untuk bicara kesana kemari tentang pentingnya perempuan melek teknologi. Bersama beberapa alumni Coding Mum Surabaya, kami berembuk dan punya tekad bersama untuk kembali membuka kelas belajar bagi perempuan dan anak-anak. Ya, kami tidak hanya menyasar ibunya, tapi sekaligus juga anaknya. Karena kebetulan kami juga punya partner yang sudah mempunyai program Coding Kids untuk membuat game dan animasi sederhana. Rencana kami ini didukung dan disambut dengan baik oleh rekan-rekan di Surabaya dan sekitar Jawa Timur seperti Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Jombang dan lain sebagainya. Misi kami sederhana saja, kami ingin bisa berkontribusi untuk membuat para ibu rumah tangga khususnya agar lebih berdaya di bidang digital yang relative minim modal.

Dalam setiap kesempatan menjadi narasumber, saya menyampaikan ide ini dan alhamdulilah semakin banyak dukungan yang mengalir. Dari sini saya lihat, bahwa ide awal Bekraf untuk membuat program Coding Mum itu memang baik dan tepat sasaran. Tinggal meningkatkan kualitas kelas belajar, strategi pembelajaran yang lebih efektif dan jenis materi apa saja yang nanti diperlukan. Selain itu, perluasan sasaran juga bisa dilebarkan, tidak hanya ke ibu rumah tangga melainkan ke jenjang yang lebih muda. Misalnya pada anak lulusan SMP atau SMA yang putus sekolah atau bahkan bisa masuk ke sekolah, universitas dan komunitas sebagai mata pelajaran ekstra.

Menarik sekali membicarakan pemberdayaan perempuan melalui teknologi ini. Misi besar saya pribadi saya, sekali lagi, adalah mengembangkan Akademi Prasetyorini menjadi sebuah training center untuk belajar tenang digital creative. Lulusan dari sini diharapkan bisa mandiri dan bekerja sendiri sebagai self employee atau freelancer di ranah digital. Sehingga kelak semakin banyak para creativepreneur yang menjadi profesi alternative yang patut diperhitungkan saat ini, apalagi di masa depan.

Motivation Letter Saat Mendaftar Coding Mum Surabaya 2016

Tidak ada komentar
Sewaktu mendaftar, saya harus memasukkan satu dokumen Motivation Letter atau surat motivasi yang menunjukkan misi dan motivasi mengikuti Coding Mum Surabaya tahun 2016. Saya menemukan file ini di folder google drive saya. Jadi sebaiknya disimpan juga di sini, sebagai bahan inspirasi teman lainnya dan bahan refleksi untuk saya sendiri. Berikut saya copy paste kan persis tanpa perubahan sama sekali.
saat di kelas Coding Mum 2016 di Dilo Surabaya Jl. Ketintang

MISI DAN MOTIVASI
Mengikuti kelas CODING MUM

Saya  tertarik di bidang pendidikan, terutama pembelajaran online. 

Ketertarikan saya itu bermula ketika saya memutuskan menjadi ibu rumah tangga penuh dan mengenal internet. Dari internet saya bisa belajar banyak hal termasuk menjadi blogger dan berbisnis online. Dari sini saya melihat betapa internet bisa sangat bermanfaat jika bisa digunakan dan dikelola dengan baik. 

Minat saya tersebut semakin berkembang ketika meneruskan studi S2 di UNESA jurusan Teknologi Pendidikan (2013-2015). Saya mempelajari platform e-learning dan menjadikannya topik di setiap mata kuliah terkait dan tugas akhir. Platform berbasis Learning Management System yang saya pelajari adalah Edmodo, Schoology, Course Networking. 

Sewaktu PPL di Jombang,  saya menjadi trainer guru MTsN Wonosalam untuk penggunaan applikasi berbasis Google sebagai sumber belajar. Antara lain google drive, google form, dan blog. 

Dari sini saya melihat, betapa teknologi berbasis internet bisa sangat memudahkan kinerja belajar mengajar. Terbesit keinginan untuk bisa membuat software atau aplikasi untuk memudahkan pendidikan. Seperti laboratorium kimia virtual, permainan kartu memori untuk menghafal tabel perkalian, aplikasi untuk membuat soal online dengan mudah, dsb.

Jadi, saya bersyukur sekali dan sangat tertarik dengan diadakannya  kelas Coding Mum ini. Dan berharap bisa belajar sampai piawai membuat sebuah pemrograman. 

Kebetulan anak sulung saya juga tertarik dunia coding dan game developer. Sejak kecil dia belajar otodidak mengotak-atik komputer, internet, mengenal istilah hacker, membuat MOD di game Minecraftnya dll yang menurut saya itu berbasis kode pemrograman juga. Agar produktif dalam main game, saya arahkan dia membuat review game di You Tube channel: Maldoz Zulhaq.


Keluarga kami tertarik di dunia pendidikan. Jadi penguasaan coding akan kami arahkan ke sana. Insya Alloh ke depannya nanti kami ingin membuka kelas belajar di rumah, baik untuk anak-anak maupun dewasa. Terutama saya akan menggerakkan ibu-ibu atau perempuan supaya melek internet. 

Saya juga ingin bisa membuat aplikasi tutor online sehingga anak bisa belajar dengan mudah, murah dan dimana saja.  Saya juga akan terus mengupdate diri dan menangkap peluang apa saja yang bisa dilakukan berbasis pemrograman dan teknologi internet, yang bisa meningkatkan pendidikan dan kreatifitas sebanyak mungkin orang. 

Jika kapabilitas dan kompetensi saya sudah memenuhi, maka saya juga bersedia menjadi trainer dan terlibat untuk gerakan mengajarkan coding di sekolah seperti yang saya baca di beberapa komentar di bawah pengumuman kelas Coding Mum ini. 

Karena ketika saya pernah baca juga di luar negeri program ini sudah berjalan. Seperti di www.code.org , mereka menyebarluaskan ketrampilan coding untuk semua orang sehingga bisa memudahkan kinerja mereka dalam segala profesinya. 

Jika hal ini bisa terjadi, maka pendidikan dan perekonomian di Indonesia bisa mendapat kesempatan untuk lebih baik dan berkualitas. 

Berikut motivasi dan misi saya mengikuti kelas Coding Mum. Besar harapan saya bisa ikut sampai selesai. Dan mendapatkan solusi dan pemakluman, jika perangkat laptop (netbook) saya di rumah masih kurang mumpuni spesifikasinya untuk coding. Mungkin komputer anak saya cukup memadai untuk sementara ini.  Ke depannya akan kami siapkan perangkat sesuai kebutuhan. 

Dan spesifikasi itu akan kami ketahui setelah saya mengikuti pertemuan pertama kelas Coding Mum tanggal 27 April 2016 nanti.

Terima kasih sebesar-besarnya dan saya dukung program Coding Mum ini semoga semakin lancar dan sukses sesuai target yang dicanangkan. 

Wassalamualaikum Wr.Wb

Heni Prasetyorini
Twitter : @HeniPR

Membuat Website di Wix

Iklan wix sering banget kan muncul? Terutama di you tube. ⁣
Akibatnya saya jadi penasaran juga. Lalu mencoba membuat website dari wix. ⁣

Setelah bikin dua kali, sepertinya bagus juga kalau wixsite ini dibuat mereka yang butuh landing page untuk portfolio, CV atau bisnisnya. ⁣

Pilih yang Free saja dulu, bentuk sama bagusnya, cuma nama websitenya ya sesuai bikinan wixsite, diambil dari alamat email yang digunakan untuk register di akun wix.⁣



Hasilnya yang saya bikin tadi tuh, url websitenya: www.kelaskudigital.wixsite.com/rumahdigitalkreatif⁣

Saya coba nulis postingan baru blog, bisa juga. Tampilannya sudah responsive, menyesuaikan ukuran layar gadget kita. ⁣

Pas buka di hape, eh ada apps-nya juga. Saya coba install juga tentu saja. Lalu membuat satu postingan blog di sana. Cukup mudah menulis dan memasukkan gambar. Sama seperti saat menulis blog di platform blogger ini. Cuma tampilan nulisnya udah gede responsive juga. Enak di mata.

Sayangnya setelah blogpost dibagikan, ketika tautan di klik, diarahkan untuk mengunduh dan menginstall Wix Apps dan hanya bisa membaca postingan blog di apps itu.

Wah kok bisa otomatis buka wixsite kita di desktop hape ya?

Nah di Wix apps juga ada fitur untuk saling follow gitu. Juga ada forum chat atau ngobrol antar sesama penggunanya.

Jadi ini kayak gabungan: website bulider, nulis di blog dan media sosial di dalamnya.


Doji 123: Ios App Untuk Belajar Menulis Angka

Inilah hasil draft ios apps yang saya buat ketika tugas akhir, atau final project.





Berikut Video penggunaan apps ini untuk belajar menulis angka







Kalau ingin tahu bentuk sketsa UI/UX design dan codingannya di Xcode, bisa dilihat di video ini. Sayangnya kurang jelas sih. Kalau ada waktu nanti saya bikin yang baru



Sebelumnya, ide apps ini sudah saya ujikan ke keponakan cilik saya






Nah saya pun meminta masukan dari teman-teman yang menjadi GURU PAUD, orang tua anak-anak yang masih kecil atau usia dini dan siapapun yang ingin memberikan masukan tentang aplikasi di hp itu mau kayak gimana jika digunakan untuk membantu anak belajar menulis huruf dan angka.


Kerja Di Rumah: Bisa Segitu Banyaknya

3 komentar
Kalau dari foto ini, saya tuh sedang menyapa secara Live di Grup Facebook Komunitas Coding Mum Indonesia. Sebagai Presiden alias Ketua Umum, ya harus menjaga ikatan batin antar anggota. Setelah itu, membuat video untuk mengais data perihal hal yang dibutuhkan anak usia dini jika diajak belajar menulis menggunakan aplikasi di handphone. Ketika semua urusan depan kamera selesai, blazer dan jilbab saya lepas (karena gerah), dan saya meneruskan menulis buku biografi pesanan klien di laptop.

ibu rumah tangga digital : Heni Prasetyorini
Mengisi Live Webinar Dari Handphone di rumah
Saat lelah ngetik, saya buka peralatan handmade dan mulai membuat satu demi satu prakarya berupa tali kacamata, bros, gelang dan kalung. Yang hasilnya kalau sudah jadi, bisa saya pakai sendiri atau jual. Koleksi bisa dilihat di www.instagram.com/percamanik.
Habis gitu, ke dapur (untuk cari bahan yang bisa dikunyah 😁). Mungkin lanjut menggoreng ikan bandeng, tahu dan tempe. Dilanjutkan lagi buka laptop untuk menulis konten baru di blog. Nge-blog itu sudah saya mulai sejak 10 tahun lalu, tepatnya tahun 2009. Awalnya cuma untuk curhatan aja dan latihan menulis. Saat ini, dari blog saya dapat banyak kejutan. Bisa terbang atau naik pesawat pertama kali juga karena tulisan di blog saya menang lomba.Lalu diundang jadi pembicara, trainer dan hal lainnya, termasuk diminta menulis buku biografi dosen ini, juga karena yang mengajak kerjasama telah melihat rekam jejak saya di blog. Baru-baru ini malah saya dapat sepatu dan sepatu sandal baru dari ngeblog. Cuma harus nulis artikel blog sebiji aja loh, http://www.prasetyorini.com/2020/01/shoesmart-marketplace-sepatu-terbesar-pengusung-brand-lokal-indonesia.html?m=1 Hampir semua pekerjaan itu saya lakukan dari rumah dan di dalam rumah saja. Kecuali memenuhi beberapa undangan. Pengalaman saya ini menarik sekali untuk saya bagikan. Karena saat ini, memilih jadi ibu rumah tangga atau working at home mom, sudah makin keren aja kedengarannya.
Selain keren juga makin mudah. Ada internet, ada platform digital. Ada teman dan komunitas tempat belajar bareng. Bahkan saya ikutan komunitas ibu-ibu dari luar negeri. Terkadang juga menyapa para pakar pendidikan dari luar negeri juga.Bahasa Inggris saya tidak terlalu fluent atau fasih. Saya bisa paham membaca dan mendengarnya. Cuma untuk menulis dan mengucapkan lagi, rada mikir. Tapi kalau sekadar berbalas chat dan mengirim pesan, kan bisa mengandalkan google translate? Jadi ga ada batas. Sharing saya kali ini, untuk memberi semangat pada ibu-ibu ya. Sehingga ke depannya juga, tidak kaget dan shock misalkan anak gadisnya atau menantunya memilih jadi ibu rumah tangga. Jangan cemas ilmunya bakal sia-sia.

Memberikan kelas online pun bisa. Itu rencana saya di startup teknologi pendidikan yang saya rancang dengan anak dan suami, di www.kelaskudigital.com Berbasis dari rumah, bekerja bisa begitu banyak ragamnya. Bahkan tahun 2009 itu saya mulai jualan jilbab online modal nekad, tapi bisa tembus diliput oleh Metro TV Jawa Timur. Ah nantilah, saya banyak cerita tentang ini https://www.facebook.com/pg/koleksijilbaborin/ Gimana, mau lanjut diceritani lagi?

Catatan Singkat Perjalanan Hidup Menjelang Tahun Baru 2020

Tidak ada komentar

Beberapa orang di twitter membuat catatan perjalanan hidupnya dalam satu dekade (10 tahun) dengan satu kata singkat di tiap tahunnya.

Saya jadi kepincut juga ingin membuat catatan perjalanan singkat, tapi tidak singkat. Eh gimana. Begini saja, sebut saja catatan singkat yang teringat selama jadi "dewasa".



1997 Masuk ITB, tanpa ada saudara atau kenalan di Bandung dan sekitarnya. Malah ketemu jodoh di kereta api.

2001
- Menikah 3 bulan sebelum sidang sarjana. LDR 4 tahun tanpa putus sambung.
- Kembali ke Surabaya, meninggalkan LIPI. Hamil anak pertama.
- Merasa gagal menjadi anak perempuan yang punya karir cemerlang seperti yang diinginkan ibu.
- Melamar menjadi tutor Kumon: gagal [mungkin ketahuan kalau sedang hamil muda, karena kebelet pipis terus saat menunggu tes dan wawancara].
- Membuka jasa pengetikan dan bimbel di rumah ibu, lumayan pelanggannya.
- Menulis novel untuk lomba majalah Kartini: gagal
-

2002 Melahirkan anak pertama. Kerja singkat-singkat saja, trus resign.

2006 Melahirkan anak kedua, prematur. Total jadi ibu rumah tangga di dalam rumah.

2009 Bisa ke warnet, membuat email, blog dan ikut mailing list penulis

2010 - 2013
- Nekad jualan jilbab online, modal dan peralatan pinjam.
- Hampir setiap hari ke warnet dengan anak kedua yang berumur 3 tahun.
- Belajar mandiri digital marketing dll
- Belajar mandiri membuat wire jewelry

2013
- Masuk Metro TV Jatim karena jualan online dan ngeblog. Coba kerjasama bisnis jilbab online dengan wali murid sekolah anak: gagal. Memutuskan berhenti jualan.
- Ada wacana lanjut kuliah saja dari suami, tapi saya bingung memilih lanjut S2 jurusan Kimia di ITS atau yang lain?
- Akhirnya lanjut Kuliah S2.
- Jam 1 dini hari, ketemu website UNESA Pascasarjana Teknologi Pendidikan dan memilih itu.
- Berurut-turut dua anak dan suami opname. Padahal sudah mendaftar dan bayar biaya kuliah S2 sebanyak 4 juta.
- Hari pertama kuliah, menangis naik motor di Gunung Sari ingat almarhum bapak dan deg-degan luar biasa karena sudah belasan tahun tidak naik sepeda motor sendiri track jauh dari rumah.
- Di kelas metodologi penelitian, karena bingung menjawab, Bu Heni kerja di mana? saya ucapkan sebagai Ibu Rumah Tangga Digital

2015.
- Renovasi rumah dengan banyak kendala ditambah isu medis, ingin berhenti kuliah.
- Bicara ke ibu: "lanjut saja kuliah, ibu jauh lebih susah hidupnya dari kamu. Kesusahanmu tidak ada apa-apanya."
- Lanjut kuliah, mengerjakan tesis, seminar dan sidang disambi menjadi mandor tukang di rumah.
- Lulus S2 Cum Laude.
- Melamar ke beberapa sekolah dan kampus, tidak lolos.
- Mulai serius ngeblog, setelah ikutan workshop Fun Blogging berbayar 100 ribu: makan Hokka Bento di kantor Qwords Intiland Sby.
- Membuka Kelasku Digital di facebook page, tidak tahu meneruskannya. Tidak percaya diri menjadi trainer teknologi pendidikan. Mendapat komentar dari teman sendiri, "kami tidak butuh orang seperti bu Heni."

2016 Ikutan Coding Mum.
- Membuat konsep Akademi Prasetyorini sebagai tugas akhir Coding Mum.
- Menang ngeblog dapat PC All in One Asus, berkat konsep Akademi Prasetyorini
- Pertama kali ke luar kota sendirian naik kereta api ke Tulungagung (sosialisasi coding mum)
- Pertama membuat kelas Membuat website : gagal (peserta hanya 3 orang dari 30 pendaftar)
- Beberapa alumni coding mum yang dekat, berguguran sampai pada tiga titik utama = TRIOBOLOLO

2017
- Menang Puspiptek #1 dan pertama kali naik pesawat terbang ke Serpong.
- Sosialisasi Coding Mum ke Kediri
- Menjadi narasumber radio Suara Muslim Surabaya dan Senora FM

2018
- Ke Bali, setelah gempa Lombok
- Menang Puspiptek #2
- Terpilih jadi Presiden Coding Mum.
- Start Coding Kids Kelasku Digital, lalu berhenti karena merasa perlu memikirkan ulang konsep kelas untuk anak dan waktu yang tepat.
- Menjadi koordinator Coding Mum Disabilitas Surabaya 2018
- Menulis buku biografi dosen Teknik Fisika ITS #1
- Co Writer buku tentang migas berdasar orasi Profesor di ITB
- Membuat


2019
- Lolos dan graduate dari Apple Developer Academy 2019.
- Mengajar mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya.
- Menjadi Mentor Dilo PAD Surabaya 2019
- Menjadi trainer di Substitute Makerspace
- Mengajar dosen di Palangkaraya: pertama kali ke luar pulau Kalimantan.
- Menjadi narasumber KLIK BSSN di Graha ITS di depan seribu audience.
- Sedang menulis buku biografi dosen Teknik Fisika #2
- Menjadi narasumber Pojok Inspirasi BPMTP Kemdikbud di Sidoarjo
- Membuat kelas online Scratch dan Kodu di Fanpage Kelasku Digital



*catatan ini akan terus diperbaiki dan dilengkapi sesuai dengan memori yang mampir ke isi kepala dan hati. Semoga bisa menjadi inspirasi.

Catatan Singkat di Apple Developer Academy | UC

11 Desember 2019, Saya lulus dari 10 bulan program Apple Developer Academy di Universitas Ciputra (UC) Surabaya angkatan pertama atau disebut juga Cohort 1.

 Beberapa hari kemudian baru dilakukan penyerahan Sertifikat - Certification of Completion - resmi di Flexible Space gedung Apple Academy di kawasan kampus UC, seperti yang tampak di foto saya tersebut.
photo credit: Thenar Visual

Sudah kurang lebih 10 bulan sejak hari pertama mengikuti program ini. Dan sampai kemarin, masih ada anak-anak muda, terutama mahasiswa yang mengirimkan pesan pribadi ke media sosial saya. Tentu saja ingin bertanya tentang pengalaman dan cara biar lolos diterima di Apple Developer Academy|UC.Untuk singkatnya, sekaligus akan saya jawab di sini:

Sebelum mendaftar, saya mencari dulu informasi sebanyak-banyaknya tentang Apple Developer Academy, baik yang di Indonesia maupun di beberapa negara lainnya. Untuk mengetahui konsepnya apa sih, tujuannya apa, dan apakah saya bakal diterima jika mendaftar, juga apakah sanggup menjalani proses di akademi selama berbulan-bulan?

Setelah hasil pencarian menunjukkan bahwa ada peluang untuk masuk, maka saya persiapkan dokumen CV untuk mendaftar sebaik mungkin. Jejak rekam, prestasi, hasil karya dan sebagainya diperbarui di semua lini pribadi yang saya punya: blog, instagram, facebook, twitter, linkedin. Supaya apapun tautan yang saya tulis di CV, ketika dicek ulang memang benar isinya dan sudah ter-update.Setelah tahap dokumen lolos dan masuk ke pembuatan video profil, saya lakukan lagi riset kedua. Yaitu riset video profil teman yang memang juga baru mendaftar, dengan cara mengikuti tanda pagar (#) yang sudah diatur tersebut di You Tube, yaitu #uc.apple.academy.2019.

Nah, dari situ ditarik benang merah, kira-kira Pesan apa yang mau disampaikan di video profil, supaya bisa sesuai dengan isi CV dan personal branding yang sudah dibangun sebelumnya. Karena aktivitas saya beberapa tahun ini seputar pemberdayaan perempuan di ranah teknologi juga teknologi pendidikan untuk kelas belajar anak, maka itulah yang saya tampilkan.

Video saya berjudul "Impactfull: Dari Apple Academy Untuk Coding Mum & Coding Kids Indonesia" bisa disimak di sini:


video


Ketika membuat video, usahakan dengan intonasi suara yang keras, jelas dan bersemangat. Ini pasti terpancar otomatis jika kalian punya karakter motivasi diri yang kuat. Kalau sedang baper dan bad mood, lebih baik jangan bikin video dulu ya. Makan bakso pedes dulu biar muncul lagi semangat membaranya :)

Seharusnya video profil ini hanya dibatasi 1 menit. Tapi saya keblabasan lebih dari 3 menit. Dan ketika masa rekam video itu ada drama listrik di rumah mati berjam-jam, maka ketika listrik nyala wifi nyala, tanpa babibu lagi, langsung saya posting videonya ke You Tube, karena memang deadline sampai jam 12 malam itu. Pokoke budal, kalau kata orang Surabaya.

Dokumen dan video lolos, selanjutnya adalah tahapan Tes Tulis yang langsung dikerjakan di Universitas Ciputra. Apa saja bahan materi tes tulis? Nah ini semua juga saya riset dan pelajari sendiri, sebisa mungkin, semaksimal mungkin. Mulai dari konsep Coding : OOP, Swift Programming, lalu tentang design dan juga bisnis. Ditambah lagi karena tes tulis ini waktu saya daftar disebut Tes Potensial Akademik, maka saya pun mengulang lagi materi TPA yang sekarang banyak bertebaran model soal online yang bisa dikerjakan sambil nungguin dadar jagung yang sedang digoreng matang sempurna di dapur :). Kalau ingat TPA harus ingat lagi model tes kalau mau masuk sekolah negeri reguler atau mendaftar jadi dosen. Yaitu ada Deret Hitung, Deret Ukur, Sinonim, Pola dan sebagainya.

Waktu tes tulis ini, dilakukan di Lab. Komputer UC. Soal berjumlah 100 butir dan nilai saya 65. Lumayan dan ternyata memenuhi kredit minimum untuk bisa lolos tahap selanjutnya yaitu interview.
Nah, terakhir persiapan interview, maka persiapannya tidak lain dan tidak bukan adalah menampilkan diri sendiri sekeren mungkin. Jangan sampai kelihatan gembos, ngglembosi atau males-malesan aja gitu ya.

Oke, semua tahap terlampaui dan saya lolos diterima. Cerita lengkapnya bisa dibaca di blog pribadi saya berikut ini: 




Berlanjut menjawab model pertanyaan anak muda tentang pengalaman saya di program ini, berikut jawabannya.

Sebagai informasi awal, profil saya adalah ibu rumah tangga yang punya beberapa aktifitas dan jenis pekerjaan remote work atau sebagai freelancer. Sebagai IBU RUMAH TANGGA perlu digarisbawahi, karena itu mempengaruhi rekam jejak saya sebagai satu-satunya ibu-ibu dan satu-satunya peserta perempuan dari Public Participant.

Menjadi ibu rumah tangga (model saya), artinya mengantar jemput anak, mengurus rumah dan lain sebagainya adalah tugas saya. Ketika ikutan program ini, dan kebetulan masuk ke shift sore dimana harus datang pukul 13.30 WIB siang, dan pulang saat maghib pukul 17.30 WIB petang, itu bukan hal yang biasa-biasa saja. Melainkan suatu keadaan antimainstream yang luar biasa di mana harus ada banyak sekali perubahan dalam struktur yang sudah aman dan nyaman di dalam rumah tangga saya.
Menjemput anak pulang, misalnya, tidak bisa saya lakukan sendiri karena bentrok jam. Maka harus dialihkan ke pihak lain.

Di awal akademi, anak saya titipkan ke tetangga perumahan sebelah yang juga mempunyai usaha laundry kecil-kecilan. Ternyata berjalan 3 bulan, beliau mundur karena kecapekan dengan jalur dari rumahnya ke sekolahan anak saya yang cukup jauh menurutnya (Sambikerep - Lidah Kulon). Apalagi waktu jemput sekitar jam 3 sore, di masa kemarau di mana matahari lagi panas-panasnya juga. Wajar kalau mbak penjemput jadi jatuh sakit. Dengan kondisi ini, saya coba menjadi pengganti, tapi sama juga, nggak sanggup. Jadi migren kepala karena harus riwa-riwi dari UC - Lidah Kulon - Sambikerep - UC untuk sekali jalan.

Maka opsi kedua diambil yaitu menggunakan jasa ojek online. Walau di awal cukup bikin deg-degan karena anak saya masih SMP kelas 7, alhamdulillah berjalan waktu, cukup aman dan lancar.

Ini bentuk struggle saya yang pertama.

Di Apple Developer Academy|UC, kita tidak diberikan jadwal belajar yang ketat, saklek dan padat berjam-jam duduk di meja menghadap komputer saja. Melainkan bentuk belajar yang dinamis dan mandiri (self directed learning). Konsep ini sangat bagus terutama untuk generasi muda, gen Z yang punya karakter jauh berbeda dengan saya si Gen X. Dan ini lagi yang menjadi bentuk struggle saya yang kedua.

Saya mengalami proses adaptasi yang cukup sulit dalam beberapa hal. Ada momentum di mana fokus saya benar-benar terbelah karena hal keluarga. Dan jadwal saya untuk fokus dan mengerjakan sesuatu, belum tentu sinkron dengan jadwal dari teman-teman satu tim, yang usianya jauh lebih muda, yaitu setengah dari usia saya. Ya, di hari penerimaan program ini, usia saya tepat 40 tahun, sedangkan mayoritas peserta di akademi berusia 18-22 tahun. Walau ada beberapa yang juga seumuran dengan saya, namun belum pernah satu tim :)

Keterbatasan ini, cukup berdampak juga dalam kinerja saya di akademi. Bahkan hasil kontemplasi atas kondisi itu, menjadi bentuk satu podcast ini:



Dengan pengalaman saya tadi, pelajaran yang bisa diambil untuk teman-teman yang ingin masuk ke Apple Developer Academy adalah sebagai berikut:
  1. Jika mengalami kesulitan, sampaikan kepada mentor pribadi, mentor akademi, teman atau siapapun yang bisa menjembatani. Karena sebenarnya di apple developer academy, diterapkan model interaksi yang bebas, cair dan dinamis. Tell somebody that you have a problem and you need help. Saya ditempa bertahun-tahun untuk tidak mudah minta tolong, jadi lumayan keteteran di akademi. Just don't act like me there.
  2. Dokumentasikan dengan baik perjalanan belajar (learning Journey) dan refleksi. Setelah di akhir akademi, saya menggunakan tools bernama Airtable (bisa dicari dan diunduh sendiri ya). Dengan fitur Calendar di Airtable, lebih mudah bagi saya mencatat kegiatan sehari-hari, sekaligus memasukkan Learning Evidence atau bukti belajar, baik dalam bentuk gambar screenshot, dokumen ataupun video. Coba deh di www.airtable.com

Baiklah itulah catatan singkat saya. Semoga bisa menginspirasi.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk keluarga baru saya di Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya. Juga pihak Apple yang bertukar username, saling follow dan sesekali ngobrol di inbox media sosial. Serta beberapa narasumber yang hadir di Sharing session atau Training session, dan masih terus berkomunikasi dengan saya. Terima kasih banyak. Semoga ke depan bisa saling memberikan manfaat dan kebaikan.

Jika ingin melihat informasi lengkap tentang Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya, silahkan di baca di website officialnya berikut ini:
https://developeracademy.uc.ac.id/id/landing/