Tribute to Ibu Rini, Al Fatihah...

Inspirasi Dari Bu Rini Untuk Perempuan Indonesia Mandiri

Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Mengajari Anak Yang Tidak Suka Matematika

Tidak ada komentar

Ini buku ringkasan karya bu Rini, target segera dibeli jika sudah terbit. 



Hari Sabtu , 27 Desember 2020, malam minggu, jam 20.00 WIB. Di kamar. [terpaksa] mengajari anakku lagi tentang matematika.

Sebenarnya udah enggan megang buku ginian. Tapi kepaksa kudu ngajarin anak sendiri.

Lah tiap buka soal, kepikirannya, "misalkan soal ini dibikin di scratch bakal gimana ya ngodingnya?" 

Kalau ada yang nanya, "kok masih ingat bu, sama matematika? Padahal kerjanya atau apanya kan ga di bidang itu?"Ya saya masih ingat. Karena sejak jaman SD, suka math, tapi milihnya kuliah Kimia. Gajelasss 



Btw buku-buku ini, saya beli di bu yang sudah mengajarkan Fisika, Kimia, Matematika sejak kuliah di ITB (sekitar 30 tahun lamanya sampai saat ini).Kelihatan banget dah expert, urutan materinya runtuut.


Tadi buka buku ini lagi (setelah sekian lama disimpen di box plastik)....Fast reading untuk satu kasus soal UN. Trus tarik mundur ke Ringkasan Materi.

Nemu rumus dan bahasan yang enak dan mudah dimengerti. "Loh dek, ini ada rumusnya ya. Jaman mama ga ada eh. Keren ya bukunya bu Rini."Gitu kata saya. Tak mudah mengajarkan ilmu basic lagi, terutama ke anak saya ya ga terlalu minat ke matematika.

Mbanding-bandingkan anak dengan saya yang jaman muda dulu, yang sukacita bahagia gembira ria kalau disuruh ngerjain math, kalkulus, mavek, sejak SD sampai kuliah, ya bisa bentrok sama anak jadinya. Perang di meja belajar. Makin bete si anak sama matematika. Saya pun udah sempat jenuh banget, males banget megang lagi buku pelajaran MIPA. Tapi setelah banyak ngamati, anak saya ini butuh banget bantuan ibunya. Jadi ya wis ngalah. Melu sinau maneh :))

Eh ini tadi, buka lagi buku-bukunya bu Rini, yang saya beli sejak si anak sulung masih SMP, eh enak nih buku. Ga ruwet. Sangat membantu untuk Recall memori tentang matematika dengan lebih cepat dari yang saya duga.

Mood juga naik. Eh iya ya gini rumusnya. Oiya begini maksudnya.

Sekarang anak kedua saya masih kelas 8. Namun saya udah pesan juga Ringkasan Math, Fisika dan UN untuk SMA yang sedang ditulis bu Rini juga. Sekalian nyetok. Kalau ngajarin anak Math dan Kimia, insya Allah masih bisalah dipanggil kembali memori belajarnya.

Kalau Fisika, udahlah ampun. Ga mudeng. Dulu modal ngerjain ratusan soal jadi lolos. Untung bapaknya anak-anak, orang teknik, yang demen Fisika. Jadi aman. Ya begitulah. Saya kembali megang buku ini lagi. Sambil menerapkan konsep melatih anak saya untuk LHTL (Learning How To Learn), atau Belajar Cara Belajar.

Anak saya suka menggambar. Ga suka baca. Ga suka angka juga. Udah umur 14 tahun juga. We'll see, apakah trik ngajarin dia nanti berhasil di rumah. Bukan untuk memaksa suka math kayak ibunya. Tapi mengajarinya Learning Skill, membiasakannya untuk belajar, dan tahu cara belajar yang paling pas buat dirinya sendiri.

Saya mulainnya dengan ngobrol dulu panjang lebar dengan si anak. Walau dia nyebutnya, "mama ngasih siraman kalbu", Trus bikin kesepakatan, Belajar sehari satu soal aja. (Dulu SD, dikasih 5 soal udah nangis dia)

Tiap ngerjain pakai trik Jalan Mundur. 

1. Buka soal dulu. 

2. Baca soal. 

3. Pahami soal. 

4. Mengerti pertanyaan.

5. Mengungkapkan cara menjawab dengan kata-kata saja dulu. Kira-kira mmembayangkannya gimana. Karena dia suka nggambar, saya minta membayangkan soalnya jadi gambar. Maunya langsung saya suruh menuliskan format menjawab soal math. Seperti sakleknya saya dulu ngajarin kakaknya. Tapi nih adek, beda banget karakternya. Jadi, saya pilih langsung bantu. Dia jawab dengan kata-kata. Saya bantu nulis bahasa matematikanya.

6. Wajib menulis ulang Rumus. Biar nancep di sel neuronnya.7. Ngerjain soal8. Sambil latihan mbenerin skill ngitungnya.

Apa anak saya langsung senang?

Tiap 10 menit, dia ambil nafas panjang .

Tapi saya ga mau jadi baper atau emosi. "Santai dek. Santai. Ini gampang kok. Kamu aja ga kebiasaan. Besok-besok makin biasa, ya jadi bisa. Gampang."Demikian catatan ngajari anak belajar di rumah. Kita di kapal yang sama kok ibu-ibu Bu Heni, sabar banget ngajarnya?Iya sekarang. Dulu ya jadi Guru Killer banget saya ke anak-anak. Ampun dah. Ampun bener. Jangan dicontoh. Tapi ya proses. Makin umur. Makin ada pengalaman ini itu. Makin dekat ke anak. Antar anggota keluarga juga makin terbuka. Jadi ringan gitu. Ga gampang spanneng. Jadi ngefek juga bisa ngajarin anak lebih legowo dan sabar aja mengikuti flow laju belajar anak. 


Hari pertama dan kedua, proses belajar bareng saya ini kurang berhasil. Suasana ga nyaman. Anak merasa tertekan. Saya memintanya masuk di kamar saya, dan buku-buku ringkasan matematika yang tebal itu ada di kasur juga. Sepertinya bikin anak saya sesak nafas alias tertekan. Dia kan nggak suka buku dan baca buku, apalagi tebal. 

Lalu saya memikirkan trik lain bagaimana. 
Dan akhirnya menemukan yang cocok. 

Sebuah papan kecil saya tempelkan di tembok luar kamar anak saya. 

Setiap hari saya menuliskan SATU RUMUS baru. Dan Soal latihan. Dengan spidol hitam biasa. 

Anak saya akan mengerjakan soal itu kapan saja jika dia lewat dan sempat. 

Jika benar saya ganti baru. Jika jawaban salah, saya panggil anak saya dan saya terangkan dengan singkat. Paling lama 10 menit. 

Sepertinya ini berhasil. 



Rhenald Kasali: Pendidikan Yang Menghukum di Indonesia

Tidak ada komentar


Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal, dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya, tulisan itu buruk. Logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat.

“Maaf, Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak
anaknya dididik di sini,” lanjutnya.

“Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!”, dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam.

Padahal, saat menempuh ujian program doktor di luar negeri, saya dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan para dosen penguji memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun, suasana ujian dibuat sangat bersahabat.

Seorang penguji bertanya, sedangkan penguji yang lainnya tidak ikut menekan. Melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan
kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Etikanya, seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan. Tapi yang sering terjadi di tanah air justru penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya.

Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukannya melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul.

Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga cenderung menguji dengan cara menekan. Ada semacam unsur balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Lantas saya berpikir, pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakter hasil didikan guru-gurunya sangat kuat: yaitu karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu, saya pun mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa bersalah karena telah memberinya penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya justru mengatakan bahwa “gurunya salah”. Kini, saya mampu melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan rasa takut?

Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: Rotan pemukul, dilempar kapur atau penghapus oleh guru, setrap, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata ancaman: Awas…; Kalau…; Nanti…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin membuat kita lebih disiplin. Namun, juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.

Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari. atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, kecerdasan m anusia dapat tumbuh, tetapi sebaliknya juga dapat menurun.

Ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi, juga ada orang yang “tambah pintar” dan ada pula orang yang “tambah bodoh”.

Mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan.

Bantulah anak Indonesia untuk maju.

#Smoga bacaan ini, bisa bantu temen2 tentang makna mendidik..
Mendidik adalah utk merangsang anak agar maju,
Membantu menemukan potensi terbaik anak dan mengembangkannya,
Menjadikan anak berbudi pekerti yang baik.

SALAM PERUBAHAN POLA PIKIR


disclosure: tulisan ini adalah repost, dan murni ditulis oleh Rhenald Kasali.

BOOKTUBER Cara Asik Review Buku Di You Tube

Tidak ada komentar

Rubrik ZETIZEN di koran Jawa Pos, hari Sabtu, 21 Juli 2018 ini bikin saya heppi. Ada satu hal baru yang sama sekali nggak kepikiran di benak saya. 

BOOKTUBER
Reviewer buku melalui You Tube. 

Ini kan keren banget to. Emang kreatif yaaa anak-anak millenial. Kalau mereka diberikan wadah untuk berkreasi dan menyalurkan ekspresinya, jadinya tuh unik, macem-macem dan "zaman now" banget gitu loh. 

Menurut hemat saya, trik jadi Booktuber ini bisa berguna untuk:
1. Para guru dan orang tua, agar anaknya suka baca buku. 
2. Para penulis indie, untuk mempromosikan buku karyanya.
3. Cara penerbit indie untuk promosi dan engage dengan pembeli dan pembaca bukunya. 

Sebagai informasi, saya nih termasuk pembaca buku yang rada gila dari jaman orok kali ya? hehehe. Kalau kalian ada kesempatan ketemu ibu saya, pasti diceritani dengan bahasa begini,
"Heni itu waktu kecil, mau pergi kemana aja bisa ngilang. Dicari-cari, eh mojok lagi baca buku. Jadi kalau ke rumah siapa aja, larinya ke meja atau rak, mencari buku."

Zaman kecil tak punya duit lah untuk beli buku macem-macem. Untuk memenuhi keinginan baca buku, itu buku paket mbakyu-mbakyuku udah habis kubacalah walau beda kelasnya jauh. Terutama buku Bahasa Indonesia dan ada kisah cerpen di dalamnya, seneng banget deh. 

Waktu jaman anakku bayi, terutama anak kedua, aku sering begadang sampai malam untuk menyelesaikan novel tebal sekelas novel berjudul NIBIRU tulisannya Tasaro GK (orang Indonesia loh ini yang nulis. Menurutku lebih kece daripada Harry Potter loh). 

Nah, kembali ke booktuber. Menjadi booktuber menurutku adalah cara paling cerdas, smart, puinter untuk menyebarkan VIRUS SUKA BACA BUKU ke segala penjuru. Satu channel booktuber yang disarankan di Jawa Pos tadi adalah milik Maggie Chen. Dan setelah aku buka, iya, kece nih bocah. Coba lihat salah satu videonya deh, 



Saatnya Meniru Yang Muda
Iya nih, sebagai emak-emak yang udah lumayan ubannya #ealah, meniru anak muda gini bikin energi datang lagi. Membuat review buku dalam bentuk video, bisa asik dan menjadikan deretan buku yang ada di lemari buku, rak buku dan beberapa box kabinet plastik itu bisa berguna. 

Yang masih jadi PR saya adalah BELAJAR MENGEDIT VIDEO. 
Kemarin coba gampangan edit pake Video Pad, ternyata pas mau menyimpan as file MP4 kudu mbayar, brenti dulu deh, hahaha. 

Mungkin nanti minta ajari si anak lanang untuk mengedit video dengan tools entahlah yang dia pakai selama ini untuk bikin video game review di channelnya, kayak gini nih



waduh, bikin gambar, bikin video, urusan multimedia gini, selalu bikin aku rada gemes dan mendadak migren heheh. Tapi ya, belajar basic aja, penting kali ya. Atau nanti belajarnya edit video dari android aja coba deh. Kalau udah bisa, nanti saya kabari di blog ini lagi.

Oke, selamat mencoba membuat video untuk review buku. Jika sudah tayang tag saya ya di sosial media.
Bisa di instagram @heniprasetyorini, fesbuk: fb.me/heniprasetyorini, atau twitter: @HeniPR.

Happy weekend.