Navigation Menu

Kopi Dan Drama Korea: Mood Booster Blogging dan Coding

Kopi? Maklum banget jadi jimatnya blogger atau pekerja lainnya.
Tapi, drama Korea?
Nonton drama sambil nge-blog, sambil ngoding, bisa?
Beneran? Serius?

Jawabannya adalah. BENER. SERIUS.

FYI. Saya nih, hidupnya bisa dibilang 90% ada di dalam rumah. Selama 7 hari seminggu, 30 hari sebulan. 10% sisanya untuk antar jemput anak, ke pasar, ke ATM bank atau minimarket.

Is it real?
Yes.
Biar ga umum, itu real story.

Jika ada kerjaan atau acara lain, barulah porsi keluar rumah naik beberapa persen.

Kalau duluu, saya di rumah bareng anak yang kunyil, anak kedua. Jadi masih rame. Lah, sekarang dia udah gede, klas 4 SD, yang pulangnya sore, selisih dikit dengan kakaknya.

Jadi, sejak suami ke kantor, praktis saya sendirian di rumah. Pagi sampai sore. Dan itu sepiii loh rasanya sodara-sodara.

Yang komen bikin anak lagi mbak Hen, bakal saya kasih voucher jilbab hahaha.

Karena sepii, saya suka bikin rumah jadi rame pas kerja ber-digital ria. Kadang denger radio, kadang lagu di you tube. Tapi lebih sering muter drama Korea sih ya.


Kenapa?
Karena aku suka intonasi suara dari bahasa Korea. Apalagi jika filmnya ngehits dan menohok hati kayak Goblin. Untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan dalam persinyalan internet nusantara, maka saya donlot semua episode Goblin ini di laptop. Biar ati tenang, wkkk.

Jika udah juenuh banget atau mental block, ga tau mau nulis apa, saya tinggal brenti trus nonton dramanya deh. Kalau udah ngakak sebentar lihat ulah Gong Yoo dan Eun Tak, baru mulai lagi.

Dibilang multitasking, bolehlah. Ini cuma kebiasaan.
Jaman sekolah dulu, saya sering belajar di depan tivi menyala. Rame aja gitu. Tapi bukan rame orang ngobrol.

Ya, bisa konsen tuh ya waktu itu.

Kalau sekarang saya ga bisa konsen depan tivi. Terlalu banyak iklan dan acaranya ga sreg di telinga juga hihihi. Di telinga, bukan di mata.

Kalau tentang kopi, itu sudah wajibun wajiiib.
Biar kata saya dinasehati jangan ngopi dll, tetep ga bisa.
Tapi sekarang udah jauh berkurang sih dibanding jaman perjuangan sekolah. Sekarang paling segelas kecil sehari. Pagi terutama. Biar ga salah paham dan kroso urip, heheh.

Camilan temannya kopi  ga terlalu wajib ada. Kalaupun ada kue, saya biasanya nggigit diki doang. Karena saya ini makhluk nyemego alias pecinta nasi. Jadi mending makan nasi daripada nyamil jajan. Jowo banget wis.



1 Comments:

Thanks For Your Comment :)

Sharing Tentang Digital Learning di Radio



Kamis, 20 April 2017 kemarin saya diundang di radio Suara Muslim Surabaya untuk sharing Mengenal Digital Learning Sebagai Cara Pembelajaran Sesuai Perkembangan Jaman.

Seneng banget kali ini bisa ngobrol tentang hal-hal yang sudah saya "kepo-in" sejak dulu kala. Apalagi sejak mengambil kuliah Teknologi Pendidikan di Pasca Sarjana Unesa dengan topik e-learning untuk tesis.

Sebelumnya saya ajukan judul tema tentang mudahnya memulai bisnis online. Kok bisnis? ya maksud saya masuk ke ranah muslimahpreneur gitu, dan yang masih nyambung dengan segala hal per-digital-an.

Akan tetapi setelah saya telaah lagi, kayaknya kok belum kompeten banget ngobrolin bisnis. Takutnya nanti nggak bisa jawab pertanyaan. Saya memang pernah mulai buka online shop dan di tahun ketiga sampai ada media televisi yang meliput. Tetapi selanjutnya bisnis saya nggak jalan. Brenti karena kuliah lagi. Nggak pede lah bicara bisnis, hihihi.

Akhirnya saya ajukan tema tentang Digital Learning, yang lumayan sudah saya kuasai. Hal ini juga diperkuat, setelah saya chit-chat dengan teman yang menjadi dosen dan mengeluh susahnya menerapkan digital learning untuk mahasiswanya. Sementara saya diajak seorang Kepala Sekolah Dasar untuk membantu keinginan beliau menerapkan digital learning untuk kelas 1-2 SD.

Klop deh, pembahasan Digital Learning adalah pilihan topik yang tepat.
Sebelum ke radio, saya sudah menyiapkan materi. Namun karena keterbatasan ada beberapa materi yang belum tersampaikan. Jadi, saya share saja disini.

Mengenal Digital Learning Sebagai Cara Belajar Sesuai Jaman

Ketika era digital sudah tiba, siapa yang tidak mau menyesuaikan diri bisa ketinggalan.
Adalah salah satu karakter makhluk hidup untuk bisa beradaptasi.
Begitu juga manusia. Mau tidak mau, harus bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi
apalagi perubahan di bidang teknologi.

Perlu juga digarisbawahi bahwa karakter tiap generasi itu berbeda-beda.
Ada istilah generasi X, Y dan Z.
Generasi X bisa dibilang generasi jadul dan gaptek.
Generasi Y dan Z adalah generasi yang sejak jadi embrio sudah mengenal gadget dan internet.
Generasi ini sudah lazim disebut generasi Millenials atau generasi Langgas.

Millenials punya sifat yang harus selalu connected, atau berhubungan dengan dunia luar.
Media sosial bisa menyediakannya.Itulah kenapa mereka harus selalu update dan kemana-mana megang gadget.

Bagaimana jika, fenomena ini ditangkap dengan positif di ranah pendidikan.
Bagaimana caranya agar belajar baik di sekolah formal atau non formal bisa sesuai dengan karakter generasi millenials.

Caranya adalah menerapkan teknologi digital dalam pembelajaran yang biasa di sebut e-learning atau digital learning.

Segmen 1: Mengenal Digital Learning

1.       Apa itu digital learning?

eLearning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone. (LearnFrame.com).

Digital Learning System (DLS) merupakan suatu terobosan baru dalam teknologi pembelajaran yang diterapkan bagi para pelajar untuk belajar secara digital melalui pemanfaatan teknologi baik software (perangkat lunak) maupun hardware (perangkat keras), online maupun offline yang dikemas secara menarik dan interaktif (Sugema)

2.       Apa manfaat digital learning?
Penerapan digital learning ini menjadikan pelajar lebih mandiri belajar dan mendalami materi bahan ajar, karena pelajar dapat belajar kapan saja dan di mana saja, baik secara online maupun offline. Dan evaluasi pembelajaran dilakukan oleh guru secara otomatis melalui proses digital, sehingga tidak perlu pengoreksian secara manual melalui kertas. Hasil evaluasi yang diperoleh pun akan lebih cepat, akurat dan objektif. Digital learning juga dapat menyatukan semua kegiatan belajar mengajar yang biasa dilakukan secara konvensional ke dalam bentuk digital. Di dalam DLS ini, dapat mencantumkan beberapa bahan ajar sebagai referensi yang dapat mempermudah pelajar dalam memahami pelajaran seperti: e-book teori, video tutorial, soal latihan, simulasi percobaan, konsultasi, bahkan fitur pencerahan atau motivasi pagi pelajar.

3.       Siapa yang membutuhkan digital learning?
Siapa saja. ABK. Homeschool karena sakit/hal tertentu. Karyawan atau Anak usia sekolah yang harus bekerja. Bisa jadi pengajar yang dengan keadaan tertentu, misal sakit atau bertugas, tetap bisa mengajar.

Ada kisah sukses anak homeschooling yang masih berusia belasan tahun, sekitar SMP, sudah bisa menyelesaikan kursus online di Coursera dan mendapatkan sertifikat, itu sampai 20 mata kuliah. Dan itu anak Indonesia.
Kursus online ini menerapkan digital learning dimana semuanya dilakukan secara digital tanpa kertas sama sekali (paperless). Buku handout berupa ebook digital, soal ujian juga digital, interaksi dengan dosen dari luar negeri pun digital.
Anak ini selain bisa menguasai materi, juga punya skill kemandirian belajar yang begitu tinggi. Dan itu sangat bagus untuk bekal masa depannya.
Belajar mandiri bukan berarti belajar sendirian. Akan tetapi dengan motivasi diri bisa belajar sesuai kebutuhan, juga tau caranya bertanya kepada para ahli atau mencari jawaban ketika tidak bisa menguasai materi.

Siapa mau punya anak atau murid dengan karakter seperti itu?



Segmen 2: Mengapa kita butuh menerapkan digital learning?

1.       Mengapa kita butuh?
Karena sudah menjadi tuntutan jaman. Digital learning memberikan pengalaman belajar baru yang sesuai dengan karakter generasi millenials. Dengan cara ini, kita bisa menarik perhatian mereka. Selain itu digital learning memberikan kesempatan mereka untuk menumbuhkan soft skill yang dibutuhkan di era digital:
a.       Kolaborasi -à fleksibel virtual team
b.      belajar mandiri à belajar karena butuh
c.       luwes berinteraksi secara global dan internasional
d.      menerima perbedaan dengan terbuka
e.      mengendalikan diri à dengan adanya UU ITE dan etika Digital Netizen

2.       Apa yang terjadi jika tidak menerapkan?
Tentu saja tidak akan kiamat. Karena di detik ini, mereka yang hidup dengan cara sangat sederhana juga bisa.

Kalau menurut pengalaman saya berinteraksi dengan mereka yang bertahan untuk gaptek atau menolak teknologi adalah mudah sekali menjadi pengguna saja. Sekaligus mudah keliru karena tidak tahu dan tidak mau tahu.
Kalau kita dan anak-anak terus bertahan hanya menjadi pengguna, maka kita adalah korban bagi mereka yang pinter teknologi. Mereka yang bikin, kita yang beli. Begitu seterusnya.

Jadi, jika kita punya ilmu dan kemampuan sesuai perubahan jaman yang begitu cepat, maka kita bisa punya senjata lebih banyak untuk mengendalikan diri sekaligus mengembangkan diri.



Segmen 3: Kendala selama ini
1. Apa saja kendalanya?
   a. Mindset keluarga (orang tua) bahwa teknologi itu lebih banyak mudharatnya jadi di stop semuanya
   b. Mindset guru bahwa kerja dengan teknologi itu lebih sulit
   c. Siswa belum terbiasa berkomunikasi dengan platform edukatif
   d. belum meratanya akses listrik dan internet di Indonesia

2. Bagaimana cara mengatasi kendala?
   a. edukasi ke orang tua oleh pihak lembaga pendidikan
   b. pembiasaan penggunaan kinerja berbasis teknologi di sekolah dan di kelas
   c. aktif dalam komunitas teknologi pendidikan


Segmen 4: Langkah Menerapkan Digital Learning

1.       Bagaimana tahapan menerapkan digital learning di sekolah?
a.       Punya mindset yang sama dan sepakat akan pentingnya digital learning.
b.      Menganalisa kesiapan sumber daya manusia dan sumber daya internet. Karena akses internet adalah wajib.
c.       Mencari sumber belajar, bisa belajar mandiri, memanggil Trainer / Guest Teacher, ikut Komunitas terkait seperti Google Educator Group, Bincang Edukasi, dll.


2.       Platform atau tools apa yang bisa digunakan?
a.       Ada gratisan dan berbayar
b.      Alhamdulillah nya yang gratisan itu buanyak sekali. Beberapa negara sudah membuat platform digital learning, termasuk Indonesia.
Terutama yang ada unsur LMS (Learning Management System), seperti Edmodo, Course Networking, Schoology,dll. Kalau di Indonesia: ada  Kelase, Kelas Kita, Ge School.

Bahkan Google sendiri juga mengembangkan banyak tools untuk pendidikan. Terangkum di GAFE (Google App For Education). Saya sendiri sudah menggunakan beberapa tools Google untuk pembelajaran ketika masih bersama teman di pasca Unesa, untuk beberapa guru di MTs Wonosalam Jombang. Dan nanti ada satu sekolah lagi di Sidoarjo yang ingin menerapkan hal yang serupa.

Platform yang sering digunakan, terutama di Indonesia adalah Edmodo. Karena relatif mudah dan menarik, bisa dilihat di www.edmodo.com. Di Indonesia sendiri sudah ada Kelase. Bisa dicoba di www.kelase.net.
Khusus Kelase, saya belum berhasil utak-atik karena register masih belum berhasil. Tetapi jika sudah semakin diperbaiki, dan sesuai kebutuhan, saya akan senang sekali menggunakan produk lokal dari bangsa Indonesia sendiri seperti Kelase.

Untuk rekaman suara saya di radio, bisa disimak disini:


Semoga bermanfaat, jika ada yang ingin ditanyakan atau sharing bisa hubungi saya di email:
heni.prasetyorini@gmail.com

0 Comments:

Thanks For Your Comment :)

Serunya Ketemu Kupu-Kupu Digital

Bermain bersama si Kecil adalah momen yang bisa jadi mood booster paling besar ya, terutama dalam keseharian ayah dan bunda yang semakin padat kegiatan. Kebetulan, weekend kemarin saya dapat kesempatan ikutan acara launching Nestle Dancow ADVANCED EXCELNUTRI+ :

Selain acara launching produk susu pertumbuhan yang baru dan inovatif dari Nestle Dancow, disana juga ada event Dancow Explore Your World, tempatnya di  Royal Plaza Surabaya (1-2 April 2017). Dengan 4 wahana permainan, acara ini jadi sangat menarik. Jadinya, saya ikutan bisa bermain bersama teman-teman si kecil di sana. Lucu sekali melihat binar mata mereka yang sangat tertarik dan penasaran saat ada di depan wahana bermain yang sudah disediakan pihak Dancow.



Saya ke sana bersama beberapa teman dan keluarganya. Rombongannya rame anak-anak. Baru masuk, sudah ingin antri ke wahana Central Park. Namanya generasi millenials ya, tertarik banget dengan sesuatu yang bisa dieksplorasi dari gawai. Nah di wahana ini, disediakan beberapa gambar hewan yang bisa dilihat bentuk 3D dan gerakannya melalui ponsel pintar. Teknologi yang digunakan adalah AR (Augmented Reality). Dan ini sangat menarik perhatian mereka. Jika hewannya beneran muncul dan bergerak di layar ponsel pintar, mereka tertawa dan berteriak memberitahu lainnya. Seru deh. 


sedang melihat "kupu-kupu digital" 


senangnya kupu-kupunya muncul dan bergerak

Silahkan dilihat nih, video sewaktu kami bermain di wahana Central Park. 




nenek pun ikut beraksi mengabadikan momen cucu kesayangannya :)

Biarpun seru,  jatah bermain harus berhenti. Si Kecil sempat kecewa, tapi tak apa. Biarkan si kecil mengalami proses belajar berbagi dengan teman lainnya. Jadi main kupu digitalnya harus selesai. Pas banget saat itu dimulai acara talkshow tentang tumbuh kembang anak. Paling seneng ikutan talkshow yang narasumbernya sangat mumpuni di bidangnya. 

Ada psikolog dra. Ratih Ibrahim, M.M., Psi, dokter spesialis anak. dr. Roedi Irawan, M.Kes, SpA(K). Dan Senior Brand Manager DANCOW Advanced Excelnutri+ Nestle Indonesia, Riza Nopalas yang dipandu host paling smart dan rame, yaitu Shahnaz Haque.



Ada 3 elemen penting yang ditekankan dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak, yaitu NUTRISI, STIMULASI dan CINTA KASIH. Ketiga hal tersebut harus diupayakan semaksimal mungkin terpenuhi. 

Riza Nopalas menuturkan, "Kami, dari pihak Nestle Dancow berkomitmen untuk menjadi mitra ayah dan bunda. Kami berharap inovasi terbaru kami yang didukung oleh Nestle Research Center ini dapat membantu si Kecil mencapai tumbuh kembangnya yang optimlasi dari sisi  nutrisi."

Wah keren ya, inovasinya adalah menambahkan 10 kali lipat asupan bakteri baik. 
Loh, kok bakteri?
Sabar, silahkan disimak dulu penuturan dokter Rudi berikut ini ya ayah, bunda. 

Dokter Rudi, sebagai dokter spesialis anak menuturkan bahwa, nutrisi selain perlu kandungan mikronutrien dan makronutrien yang lengkap, juga harus bisa melindungi saluran pencernaan. 
Karena 80% daya tahan tubuh terdapat di saluran pencernaan. Bener juga ya, kebayang kalau si kecil kurang beres saluran pencernaannya, biasanya malah sering sakit. Ternyata ini alasannya.



Nutrisi perlindungan memang paling diperlukan ya buat si Kecil. Dokter Rudi pun melanjutkan penjelasannya, bahwa kita perlu menjaga asupan bakteri baik. Lactobacillus rhamnosus adalah bakteri baik yang dapat membantu menjaga saluran pernafasan dan saluran cerna si Kecil. Tubuh yang terlindungi dengan adanya asupan bakteri baik ini, adalah fondasi utama untuk mendukung proses belajar dan pertumbuhan fisik si Kecil, yang tentunya sangat penting dalam tahap tumbuh kembangnya.




Selain nutrisi, untuk memaksimalkan juga kemampuan kognitif si Kecil perlu mendapatkan STIMULASI. Misalnya ayah atau bunda mengajak berbicara, bermain, menanggapi setiap respon dan reaksi yang disampaikan oleh si Kecil. Sehingga mereka bisa berbalik melakukan sesuatu atau bereksplorasi mencoba hal baru. Ketika si Kecil berhasil, maka akan muncul percaya diri. 

Bunda Ratih Ibrahim berkali-kali menekankan kepada para ayah dan bunda, bahwa anak adalah anugerah luar biasa dari Tuhan yang harus dijaga dengan baik. Jadi untuk membesarkan si Kecil, tidak bisa asal-asalan dan sembarangan. 

Akan tetapi, semuanya harus seimbang. Membiarkan si Kecil mengembangakan jiwa petualangnya, harus tetap di awasi. Jika ada hal yang membahayakan si Kecil, segera dicegah dengan cara memberikan alternatif kegiatan lainnya. 

Usahakan mengurangi kalimat, "jangan!" dan "tidak boleh", akan tetapi usahakan memberikan kebebasan anak mengeksplorasi dunianya dengan mengatakan "IYA BOLEH". 


Mendengarkan isi materi talkshow, serasa ciut sendiri. Sadar betul jadi bunda, masih banyaaaaak kurangnya ya. Untung saja ada situs informasi yang disediakan oleh DANCOW PARENTING CENTER, yang bisa diakses setiap saat. Sehingga kita bisa mendapatkan informasi sekaligus berkonsultasi tentang tumbuh kembang si kecil. 

Aksesnya antara lain: 
  • Dancow Parenting Club www.dancow.co.id/dpc
  • rewards.sahabatnestle.co.id
  • facebook: Dancow Parenting Center
  • Twitter: @DancowCenter 


Setelah talkshow selesai, kami lanjut lagi menjajal wahana permainan yang ada di sisi kanan atrium. Suasana semakin ramai dan padat pengunjung ya. Selain si Kecil tertarik bermain, para ayah bunda juga mampir di booth Dancow untuk membeli susu buat stok bulan ini. Si Kecil juga bisa mencicipi produk susu yang sudah siap minum dan dingin. Jadi seger, siap bereksplorasi lagi.




Wahana kedua yang diincer adalah Art Center. Main-main sama warna, pasti digemari si Kecil. Apalagi ini langsung dicap di telapak tangan. Udah deh, tidak ada lagi kata takut kotor or something. Bunda langsung siaga bilang IYA BOLEH ke pada si Kecil. Isi talkshow langsung dipraktekkan, hehehe




Sembari teman-teman saya dan si Kecilnya masih sibuk di semua wahana permainan, saya melipir sejenak untuk menemui orang istimewa. Ya beliau adalah dokter Rudi yang tadi jadi narasumber perihal nutrisi. 

Dokter Rudi adalah dokter spesialis anak yang "memegang" anak kedua saya yang lahir prematur tahun 2006. Alhamdulillah melalui tangan dingin beliau, anak saya bisa sehat normal sampai sekarang. Momen wow banget bisa berfoto bareng beliau. Semoga sehat ya pak dokter. 


momen wow bersama dokter Rudi

Nah, seru kan ya acara ini. Jangan cemas kawan, acara serupa akan segera diselenggarakan di empat kota lainnya kok. Di Jakarta (29-30 April), Semarang (5-6 Agustus0, Solo (9-10 September) dan Makassar (7-8 Oktober). Save the date yaa...

Tunggu event serupa yang seru di kota terdekat anda ya bundaa.... 



11 Comments:

Thanks For Your Comment :)