Hi, I'm Heni, welcome to my blog

Sharing Tentang Coding Kids di SEA MORNING SHOW - SEA Today Channel

Alasan Kuliah di Jurusan Kimia FMIPA ITB Yang Jauh dari Keluarga di Surabaya

20 komentar
Sebenarnya seperti halnya impian jamak anak-anak kecil di tahun 90-an adalah menjadi dokter. Maka kuliah di jurusan kedokteran termasuk sebagai cita-cita di dalam kepala saya waktu kecil, bahkan sampai SMA. Saya yakin bisa tembus ke jurusan ini, karena sejak kecil pula nilai rapor saya cukup bagus. Langganan rangking dan juara kelas. Bukan semata berotak cerdas atau pintar, tapi sejatinya saya memang anak yang diberikan titipan bakat untuk suka belajar. 

Sampai suatu saat ketika program analisa masuk jurusan apa di sebuah bimbingan belajar, pemilik bimbel yang menjadi konsultan juga saat itu memberikan pandangan yang berbeda. 

Dari beberapa hasil try out saya menunjukkan nilai yang tinggi di berbagai mata pelajaran, termasuk matematika, kimia, bahasa Indonesia, fisika dan bahasa Inggris. Nah yang jelek atau nggak terlalu bagus adalah nilai biologi. 

Pak konsultan bimbel lalu memberikan komentar begini, "Kamu ingin masuk kuliah kedokteran? tapi nilai biologinya rendah gini. Yakin kamu? kuliah kedokteran itu banyak hafalannya bukan hitungannya. Tapi matematika kamu tinggi gini kan. Coba pikir lagi. Kuliah kedokteran itu lama banget baru bisa menuai hasilnya. Butuh 14 tahun baru balik modal. Mulai kuliah kedokteran umum, lalu praktek pengabdian, trus kuliah lagi kedokteran spesialis. Panjang. Butuh bertahun-tahun dan butuh uang yang banyak."

Okay that's it. Demi kalimat terakhir itu yang mengurungkan niat saya untuk ngeyel mendaftar di jurusan kedokteran. Kasihan bapak yang pensiunan tentara sudah bertahun-tahun. Nanti ibu bakal seperti apa kerja jungkir baliknya untuk menutup biaya kuliah di kedokteran. Kuliahnya lama juga mungkin aku tidak tahan, apalagi banyak hafalan. Iya sepertinya konsultan bimbel itu benar. 

Singkat cerita, ketika mendaftarkan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri), saya pun memutuskan memilih jurusan Kimia. 



Alasan sederhana waktu itu adalah saya suka warna-warni. Kalau memilih jurusan Matematika atau Fisika nanti hanya ketemu angka-angka, membosankan. Kalau kimia kan nanti ada larutan, batu kristal dan reaksi kimia yang melibatkan juga warna-warna. 

Pilihan mendaftar kuliah saat itu adalah:
Pilihan 1 = Kimia FMIP ITB
Pilihan 2 = Kimia FMIPA ITS

Dua-duanya jurusan Kimia. Iya sengaja biar tidak repot juga dan hasil dari analisa pak konsultan bimbel tadi juga. Saya memilih jurusan yang kira-kira bakal tembus dan lolos masuk kampusnya. 

Ketika berkas mendaftar UMPTN sudah saya serahkan, yang waktu itu diurus kolektif oleh bimbel, jadi bukan sekolahan SMA yang mengurus gitu. Intinya saya sendiri yang mendaftar dan mengurus sendiri semuanya tanpa didampingi orang tua, saudara atau guru. 

Ketika mendengar saya hanya memilih jurusan Kimia, kakak laki-laki ketiga saya protes, kenapa saya tidak memilih jurusan Farmasi saja. Alasannya kalau sudah lulus nanti bisa bikin apotek sendiri, lebih jelas pekerjaannya. 

Saya waktu itu kaget juga dengan komentarnya kok baru muncul, lah kemarin ke mana aja mas?
Tapi sudah terlanjur, ya saya jawab aja apa adanya. 

"Kalau daftar ke farmasi, aku gak lolos mas, nilai passing grade ku gak nututi."

Dan ketika ditanya kenapa milih Kimia, nanti nggak jelas pekerjaannya. Aku pun menjawab kalau cita-citaku ingin menjadi dosen atau peneliti di laboratorium kimia. Dan itu memang benar adanya. 

Eh lalu kenapa harus ke ITB?
Ke Bandung? gak ke ITS aja langsung gitu kuliahnya, kan enak dekat dengan keluarga di tanah kelahiran Surabaya, ya kan?

Entahlah, saya waktu itu pengen menantang diri sendiri saja. Ingin merantau. Sekalian untuk memacu diri sendiri lebih baik tanpa intrik-intrik orang dekat atau keluarga yang masih menganggap saya anak perempuan cengeng dan nangisan hahaha. Nekad amat dah. Padahal saya tidak punya keluarga dan kenalan sama sekali di Bandung atau bahkan Jawa Tengah. Udah berani aja loncat dari Jawa Timur ke Jawa Barat.



Dan begitulah, akhirnya, atas takdir jalan dari Allah SWT saya diterima di jurusan Kimia ITB. Ibu saya yang sesaat setelah mendaftar, menangis tiap hari dan berdo'a supaya saya batal atau tidak diterima di kampus yang jauh, kali ini do'anya tidak manjur. Huuuu...so sad mendengar cerita ini kemudian. 

Tapi orang tua dan keluarga saya tidak terlalu baper melepas saya merantau jauh ke Bandung. Karena udah ada pengalaman 3 tahun waktu SMA jauh dari Surabaya, ketika menemani ibu kembali ke Jombang, kota kelahiran ibu yang berjarak 2 jam dari Surabaya itu. Bahkan waktu kelas 3 SMA saya benar-benar sendirian di rumah selama satu tahun dan sempat berpindah ke rumah saudaranya ibu demi keamanan diri jika terus sendirian di rumah ibu yang asli. Demi bisa belajar juga tiap hari biar lolos UMPTN dan bisa tembus masuk ITB. 

Dan kenapa juga ITB? kenapa bukan UGM atau UI?

Entahlah  kalau diingat, saya dulu tak terlalu risau dengan predikat kampus favorit. Mungkin ini termasuk jadi bagian pengaruhnya, jadi waktu kelas 3 SMA ada kunjungan dari alumni SMA yang sudah kuliah di ITB. Sedikit ceritanya menarik hati. Terutama kota Bandung yang dingin dan makanannya enak-enak. 

Sejak lahir saya tinggal di Surabaya, kota metropolitan yang padat dan panasnya minta ampun. Jadi pengen banget ke kota Bandung yang sejuk dan adem itu. 

Nah, sederhana bukan alasan masuk kuliah di jurusan kimia ini?

Nggak banget deh dengan analisa ala anak masa kini. Receh banget mbak Heni. Lah itu kenyatannya. Dan ketika saya sudah kuliah, terbukti deh kalau pak konsultan bimbel itu benar. Mending saya ambil jurusan Matematika. 

Kenapa?
Karena di jurusan kimia selama kuliah 4 tahun itu, nilai mata kuliah di transkrip akhir saya untuk Kalkulus dan Matriks Ruang Vektor (pelajaran matematika) adalah A dan AB. Sedangkan nilai mata kuliah terkait kimia malah beragam mulai A,B,C dan D. 

Iya serius, di transkrip saya, nilai Kimia Analitik saya D. Yang menyebabkan IPK saya menjadi 2,98. Hanya butuh 0,02 aja untuk menjadi bulat 3. Ya ampun sayaa....

Lalu setelah lulus, kerja apa?

Tunggu postingan selanjutnya, mungkin akan jadi topik baru di Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog.

 






Ide Bisnis Pretend Play Toys Atau Mainan Pura-Pura Dari Kain Untuk Anak-Anak

Tidak ada komentar

Pretend play adalah bermain pura-pura, yang bisa berguna untuk mengenalkan dan mengasah soft skill pada anak. Contohnya adalah anak berpura-pura menjadi dokter, petani, koki, penjahit, arsitek, penulis, programmer dan lain sebagainya. 

Pretend play bisa dilakukan langsung atau memerlukan alat peraga yang bisa disebut Pretend Play Toys. Kita bisa membuat mainan peraga ini dari berbagai bahan. Misalnya kerdus susu, kotak cereal, bungkus jajan atau dari kain. 

Keuntungan pretend play toys dari kain adalah awet. Bisa dicuci dan dipakai ulang. Seperti apa contohnya ya? Berikut rangkaian ide yang saya dapat dari berbagai sumber, terutama di pinterest. Mari kita lihat:


1. Cover Kursi Klinik Dokter Hewan



Pretend Play berupa sarung kursi ini menarik loh. Bisa diterapkan di segala bentuk kursi makan atau kursi kerja yang sudah ada di rumah. Dengan beberapa potongan dan jahitan sehingga bisa menutup kursi, lalu diberikan desain yang menunjukkan bahwa kursi itu adalah sebuah tempat atau meja kerja yang sesuai dengan profesi pura-pura yang dimainkan anak-anak. 

Di gambar adalah Cover Kursi Klinik Dokter Hewan, dimana tersedia beberapa hal yang dibutuhkan. Itu bisa dicetak sablon, atau dijahit terpisah dalam bentuk boneka atau peraga dari kain flanel. 

Model lain bisa dibuat dengan tipe Pretend Play Cover Chair atau cover kursi ini adalah:
  1. Laptop pura-pura (kerjanya penulis/programmer)
  2. Kompor dan oven free-standing pura-pura (kerjanya koki)
  3. Meja kerja guru 
  4. Astronot, dan lain sebagainya
Sebelum membuat, pastikan membuat riset tentang apa saja yang ada di benak anak tentang profesi itu. Dan apa yang nyata ada di dalam profesi itu. Maka unsur edukasi akan melekat sangat kuat. 


2. Kotak Bekal dan Makanan dari Kain Flanel



Flanel ini menarik untuk dieksplorasi karena mudah dibentuk, dijahit atau dilem dan juga warna-warni. Kali ini bisa jadi makanan atau bahan makanan pura-pura yang bisa disusun menjadi burger, sandwich atau nasi goreng, sayur tumis, nasi pecel dan lain sebagainya dalam versi makanan tradisional Indonesia. Yang kemudian disusun di kotak bekal. Di mana kotak bekal ini juga bisa dibuat dari kain flanel. 

Pilihan menggunakan kain flanel ini harus diperhatikan juga untuk anak usia berapa. Anak balita yang masih di fase oral atau suka makan dan memasukkan barang ke dalam mulut, sebaiknaya tidak diberikan mainan dari kain flanel. Karena kain ini ada serabutnya sehingga bisa saja tergigit, lepas dan tertelan di mulut anak bayi dan balita. 

Namun untuk anak dengan usia pas dan kemampuan menjaga diri dan mainan yang sesuai, kain flanel ini adalah jenis kain yang awet untuk bahan mainan pura-pura. 


3. Istana Kain di Meja

Masih ingat kan waktu kecil suka menggunakan sprei atau sarung yang dibentangkan antar kursi dan meja, seolah-olah itu menjadi tenda, gua atau rumah kita?

Nah, ini ada ide menarik untuk membuat Istana dari kain yang bisa dipasang di meja dengan lebih cantik. Lebih aman juga karena tidak melorot setelah beberapa bagian bisa diikat di kaki meja. Coba perhatikan gambar berikut:




Gimana? menarik kan ide mainan pura-pura dari bahan kain ini?
Bagi anda yang sudah mempunyai keterampilan menjahit atau bahkan konveksi, bisa mencoba memproduksi mainan ini sebagai produk tambahan untuk dijual. 

Perhatikan sasaran anak-anak yang ingin dibantu dengan bermain pura-pura. Pelajari juga tahap perkembangan anak sehingga bisa memberikan produk yang tepat sesuai kebutuhan. Jangan lupa menarik opini dan masukan dari orang tua anak-anak usia dini, sehingga bisa sesuai jaman. Jangan tanya ke ibu-ibu yang anaknya sudah kuliah seperti saya, bisa jadi jawabannya nanti, "ngapain sih bikin gituan? pakai sprei dan sarung aja dah cukup.". Lol.

Jika ingin mencari ide lebih lanjut bagaimana bentuknya, anda bisa mencari di google atau pinterest dengan kata kunci PRETEND PLAY TOYS FROM FABRIC. Insya Allah bisnis mainan anak itu nggak ada matinya. Selalu menarik. Dan anda pun bisa menerima custom order, pesanan sesuai permintaan dan kebutuhan konsumen. 

Semoga menginspirasi. 

Sumber gambar dari sini, sini dan sini.


Setelah Membaca Buku Syekh Ali Jaber Amalan Ringan Paling Menakjubkan

Tidak ada komentar


 Meninggalnya Syekh Ali Jaber, ketika beliau dalam perawatan setelah terinfeksi virus COVID-19, ikut menggoncang hati saya. Padahal sebelumnya, saya tidak terlalu tertarik dengan beliau. Di benak saya waktu itu, ketika beliau pertama kali muncul di acara ceramah di televisi, lomba menghafal Al-qur'an dan beberapa berita, adalah sesal. 

"Kenapa ada orang Arab segala sih yang muncul jadi ustadz di TV? kan orang Indonesia banyak."

Akan tetapi, beberapa bulan sebelum beliau meninggal, banyak potongan-potongan media yang menceritakan tentang beliau. Dan membuat saya tertarik. Terutama ketika beliau memaafkan orang yang telah menusuknya di suatu acara di sebuah daerah. 

"Syekh Ali Jaber, bukan orang biasa ini kayaknya. Sosoknya, karakternya, kok beda seperti ustadz-ustadz yang biasanya tampil di media?", begitu yang terlintas dalam hati. 

Mohon dimaklumi adanya, begitulah yang dirasakan oleh orang awam. Dari saya yang tak punya latar belakang agama yang bagus, bahkan mempunyai keluarga yang berbeda agama. Ya, tidak semua saudara kandung saya beragama Islam. Mungkin suatu saat saya akan menceritakan hal ini, terkait apa yang terjadi dan bagaimana pengaruhnya pada keluarga besar kami. 

Bahwa Syekh Ali Jaber bukan orang biasa, pun terbukti dari isi buku ini. Jujur saja, saya baru tahu ada buku ini ketika beliau sudah berpulang. Sesaat setelah berita Syekh meninggal, seketika itu juga algoritma media sosial bermain, begitu juga marketplace. 

Iklan buku-buku karya Syekh ini mulai bertebaran. Orang pun mulai memposting komentarnya, review bukunya atau keinginannya membeli buku ini. Tentu yang lebih gencar lagi adalah orang yang berpromosi. Mendadak ikut jualan buku agama, diawali dengan buku beliau. 

Awalnya saya ingin membeli buku ini dari tokopedia, dengan sistim pre-order, karena penjualnya baru akan restok setelah buku ini viral. Namun saya batalkan, karena teman saya ikut-ikut menjualnya. Rumahnya dekat pula dengan saya, jadi ongkos kirim bisa ringan. Bahkan mungkin gratis. Tak ketinggalan juga saya berpikir untuk lebih mendukung jualan teman sendiri daripada orang yang belum kenal. 

Datanglah bukunya sebulan kemudian. Kok lama sekali? ya sepertinya pihak penerbit pun kewalahan untuk mencetak ulang buku yang tak disangka-sangka akan viral dan diminati jutaan orang di Indonesia. Dari mereka yang tersentuh dengan sosok Syekh Ali Jaber, seperti saya. 

Awalnya buruk sangka.

Iya, awalnya saya mengira buku ini isinya biasa-biasa saja. Hanya poin sedikit materi, banyak ayat-ayat Al-qur'an dan Hadits. Tulisan Arab lebih banyak daripada abjad latin. Itu dugaan saya. Jenis buku yang enggan saya beli dan baca. Namun saya tetap memesannya karena ingin ada kenangan dari sosok Syekh Ali Jaber. 

Ternyata saya salah. 

Buku ini juga disertai dengan CERITA atau storytelling. Sebuah konsep yang menyertai buku amalan seperti ini, yang jarang digunakan oleh penulis buku agama. 

Dan lebih menariknya lagi, cerita ini adalah kenyataan yang dialami sendiri oleh Syekh. Ditambah dengan gaya menulisnya, seperti beliau sedang ngobrol biasa saja di depan kita. Atau seperti berbincang langsung di depan jama'ah. Santai. Kalimat pendek-pendek. Khas Syekh Ali Jaber. 

Jika benar buku ini ditulis sendiri oleh beliau, maka kemampuan berbahasa Indonesia Syekh ini cukup bagus. Karena enak dibaca. Ringan dan mengalir. 

Isi buku juga padat banget. Istilah anak sekarang adalah, bukunya daging banget. 

Banyak kalimat penting yang bisa distabilo. Bahkan jika dituruti, satu buku bisa berwarna-warni karena semuanya penting. 

Salah satu contohnya ini, tentang konsep arti Sifat Allah SWT dalam bahasa Arab, yang diberikan tambahan oleh Syekh, sebuah pengetahuan yang baru kali ini saya tahu. Contohnya adalah arti Asmaul Husna, Asy-Syakur (Maha Mensyukuri). 

Dalam bahasa Indonesia, diterjemahkan langsung sebagai Maha Mensyukuri. Padahal aneh kan ya? Kok Allah SWT malah mensyukuri? 

Ternyata, terjemahan ini belum tepat. Karena arti bahasa Arabnya lebih panjang lagi, dan jika diterjemahkan adalah Maha Memberikan Pahala besar untuk Amalan yang Kecil, itu adalah arti dari Asy-Syakur. 

Gimana, baru tahu kan? sama. 

Poin ini yang mungkin ditarik menjadi judul buku. Dan menjadi copy yang menarik untuk orang Indonesia yang suka dapat untung gede dengan modal dikit.

Amalan ringan apa saja yang dianjurkan oleh Syekh Ali Jaber?

Sebenarnya biasa-biasa saja, alias yang sering kita dengar dari berbagai sumber dan ulama. Sejak dulu sampai sekarang. Namun bumbu cerita dan pengalaman Syekh, membuat kita semakin yakin betapa amalan itu sangat bermakna besar. 

  1. Selalu membaca Shalawat
  2. Selalu membaca istighfar
  3. Banyak-banyak membaca surat Al-Fatihah
  4. Membaca QS. Al-Mulk sebelum tidur
  5. Sedekah Shubuh
  6. Amalan di hari Jum'at
  7. Menghargai orang kecil 
  8. Menutup aib diri sendiri
  9. Berlama-lama dalam sujud
  10. Memberi jeda ketika membaca QS. Al-Fatihah, karena sejatinya Allah SWT membalas di setiap ayat yang kita baca
  11. Tidak terburu-buru dalam shalat
  12. Menikmati shalat sebagai ajang pertemuan dengan Allah SWT
  13. Menikmati mengaji dan membaca Al-Qur'an
  14. Menikmati berdo'a seperti sedang curhat kepada Allah SWT
  15. Dilarang curhat keburukan kepada manusia, walaupun ulama. Dianjurkan hanya curhat kepada Allah SWT melalui do'a
Dan banyak lagi yang lainnya, terutama amalan berlatar cerita hikmah. 
Saya membaca buku itu, sehari langsung habis. Pasti bakal dibaca ulang lagi untuk mencatat poinnya. Namun saya berikan dulu ke anak kedua saya, yang ikut tertarik ingin membacanya. 

Mendapatkan nasihat agama seperti ini sebenarnya udah biasa saja kan ya. Banyak ustadz, ulama, Kyai yang kadang ketemu langsung di sebuah acara ceramah atau kita lihat di media. 

Namun mendapatkan nasihat ini dari Syekh Ali Jaber, bahkan hanya dari video digital dan buku cetak seperti ini, kok bagi saya, terasa getarannya sampai ke hati. 

Batin saya yang awam ini berasumsi, mungkin Syekh ini memang baik luar biasa, terutama di hadapan Allah SWT. Dan ini adalah bukti nyata dari jargon, Menulis dari hati akan sampai ke hati. Terbukti buku ini, bisa sampai ke hati saya. 

Semoga menginspirasi.


Usia 42 Dapat Beasiswa Digital Talent Kominfo 2021

18 komentar
Udah tua kan saya, alhamdulillah semangat belajarnya nggak luntur juga. Kadang heran sendiri. Tetapi terus belajar juga penyelamat jiwa di masa pandemi. 

Kalau sudah bosan banget, paling ampuh cari materi belajar yang sulit dan rumit. Biar tenggelam dengan usaha memahaminya. Jadi lama-lama rasa ingin sembarangan ke luar rumah jadi musnah. 

Begitu pun berita adanya Digital Talent Scholarship yang diadakan Kominfo ini. Informasi dibagikan oleh salah satu member grup Bumagit di telegram. FYI, grup ini mengganti nama KCMI yang sekarang vacum dan mungkin berhenti beroperasi. 

KCMI = Komunitas Coding Mum Indonesia 
Bumagit = Ibu Rumah Tangga Digital

Sebenarnya misi visi mirip-mirip dengan KCMI sih, namun Bumagit lebih longgar dan luas. Tak sekadar grup ibu-ibu belajar coding. 

Tapi ya pesertanya mom coder, tetep aja yang dibagikan informasi seputar programming. Terutama segala program gratisan. 

Saya tidak tertarik dengan DTS. Karena tahun lalu harus datang ke kampus tertentu. Selama pandemi masih belum aman, saya dan keluarga berkomitmen tak mau ke luar rumah. Kecuali sesekali aja belanja sembako, harian, ke ATM udah gitu aja yang dekat-dekat. 

Sebaliknya, yang membagikan info DTS terus menyemangati kami untuk ikutan. Mumpung semuanya bisa online. Baik ujian saringan masuk, pun saat belajarnya. Full 100% online. 

Nah boleh juga nih. Saya pun kepoin itu website kominfo tentang DTS. Lengkap sesuai sasaran. Untuk anak muda biar dapat skill kerja, UMKM dan yang paling menarik perhatian saya adalah program Professional Academy yang kelak dapat Sertifikasi Profesional. Yang ini bukan untuk mahasiswa atau anak muda, melainkan lebih ke praktisi atau pekerja. 

Saya coba daftar dengan memasukkan profil sebagai Founder Startup Kelasku Digital. Dan freelance trainer untuk coding anak-anak. 

Saringan pertama lolos, saya diberikan email berisi link untuk Tes Substansi. Isinya sesuai materi yang diambil. 

Saya sengaja memilih Programming Web: HTML, CSS & Javascript. Daripada Python Programming yang belum saya kuasai sama sekali. 

Kali ini saya melepaskan idealisme ingin belajar hal baru. Ilmunya aja. Nggak butuh sertifikatnya. Seperti biasanya. 

Tapi, kudu rada cerdas dan realistis. Yang saya ikuti nanti memberikan Sertifikasi Profesional. Ini yang utama. 
Maka saya pilih materi yang lebih saya sudah kenal dan pahami sebelumnya. 

Dan malah saya juga sudah membuka Kelas Belajar Website untuk anak-anak. Maka ini yang saya ambil. Sekaligus menata kurikulum kelas anak ketika saya belajar. 

Tes Substansi diadakan online. Dengan beberapa syarat teknis untul enable cookies & javascript. Juga sinyal wifi kudu kuat banget. Ga boleh ditinggal ke toilet sekalipun. Dan camera harus on. 

Saya mikirnya udah kayak Ujian ala Google Certified Educator gitu. 

Deg-degan ajalah. Ternyata pas buka website soal ujian, ga ada tanda camera menyapa di laptop saya. Padahal dah siap berjilbab panas-panas siang-siang di kamar :)

Ujian diberi waktu 60 menit, saya selesai 18 menit saja langsung submit. 

Bukan ke PD an sih. Soal Javascript cuma 50-70% aja bisa jawab. Kalau HTML CSS dah bisa semua. 

Saya nggak kepikiran untuk mundur dan koreksi jawaban. Sampai ke butir soal ke-100 udah submit. Done. 

Lalu saya teruskan menyiapkan kelas coding anak-anak. 

Pas udah sadar kalau bisa aja rada "curang" gitu kan ya?
Jawaban yang kayaknya salah, bisa diedit gitu sambil browsing contekan dari google di HP, ya kan? 
Rada menyesal juga , kenapa tadi tidak nyontek ya? hahaha, tapi segera di skip perasaannya. Udah kebiasaan sejak jaman sekolah, kalau ujian hanya mengandalkan isi kepala sendiri dan harus cepat menjawab. Supaya tidak lupa. Begitu juga saat tes di Apple Deceloper Academy tahun 2019 itu, saya menjawab dengan cepat karena kalau ragu pasti malah banyak yang salah. Jawab cepat dan submit. Done. 
Udahlah, saya juga ga terlalu berharap. Biasalah bonek, bondo nekad. Lolos syukur, ga ya belajar sendiri. Wong belajar itu bisa dari mana saja kok.  


Grup Bumagit ramai harap-harap cemas. Sampai akhirnya pengumuman dan lolos semua. Alhamdulillah termasuk saya. 

Kali ini saya akan pelajari dengan menikmati sepenuh hati. Materi tak terlalu sulit. Bisa jadi momen untuk mengingat ulang. 

Ya belajar selalu menyenangkan buat saya nih. Kalau kalian bagaimana? Anak-anaknya juga suka belajar kayak saya? 





Menulis dari Hati Ala A. Fuadi

Tidak ada komentar








Ini adalah catatan ketika saya mengikuti mini workshop menulis yang diadakan oleh A. Fuadi. Diadakan secara online menggunakan zoom. Yang katanya peserta datang dari 5 negara. 

  • Menulis bisa mengakselerasi karir dan hidup kita
  • Kita harus terbuka untuk menyampaikan ide dalam berbagai medium (buku, film, dll)
  • Potensi buku difilmkan cukup besar
  • Buku itu dilirik oleh para produser atau PH untuk difilmkan
  • Novel Indonesia terbaik, berdasarkan Goodreads. Amati yang sudah difilmkan itu cukup banyak
  • Jadi buku yang laku, ada kemungkinan besar akan difilmkan.
Menurut A. Fuadi, Resep buku menjadi film jika memenuhi syarat ini:
  1. Best seller
  2. Eksternal, extrovert
  3. Punya voice yang kuat. Tinggal diperkuat dengan visual.
  4. Alinea awal
  5. Sampul
  6. Yang paling penting: tulisan yang baik
Tulisan yang internal itu seperti banyak dialog ke dalam yang hanya di dalam pikirannya. Ini sulit untuk pembuat film membuatkan adegannya. Jadi sebaiknya eksternal. 

Contoh di buku Negeri 5 Menara, banyak aksi, kegiatan, perjalanan yang mudah digambarkan oleh pembaca dan pembuat film. 

Tidak hanya harus best seller. Penting juga jika punya RUH yang kuat. Atau maksudnya VOICE yang kuat. 

Penting juga jika di alinea pertama, tulisan kita sudah menculik perhatian kita. Jadi kita fokuskan energi agar DI AWAL CERITA harus KUAT. Lalu di bagian selanjutnya itu juga kuat dan memperkuat. 

Pentingnya SAMPUL YANG BAGUS, karena ini juga berbicara lebih baik untuk menyampaikan ide. Tidak cukup hanya tulisan saja. Sebaiknya menggunakan bantuan desainer. 

TULISAN YANG BAIK juga bisa menggerakkan hati dan menginspirasi. Setelah baca, orang itu termangu dan ingin melakukan sesuatu. 
 
Menulis harus ada komitmen pada MUTU juga. 
Walau di platform online, cepat tidaknya tayang, dikendalikan dengan mutu tulisan dan keputusan penulis. 


TULISAN adalah KARPET TERBANG.
  • bisa pindah medium
  • bisa mengantarkan kita ke tempat yang "aneh" di luar dugaan kita
  • tulisan tentang LOKALITAS (budaya, kebiasaan) itu menarik perhatian
CERITA bisa dalam bentuk:
  • buku anak
  • biografi
  • kritik sosial
  • kisah perjalanan
Tulisan populer = tulisan yang banyak dibaca orang. 

Proses Menulis A. Fuadi:
  1. Fondasi Hati (Inner Journey)
  2. Bangunan Rasa. Data & Logika (Outer Journey)
MENULIS DARI HATI
Dikejar dengan pertanyaan:
  1. Why? ------ Apa tujuan menulis? cari yang kuat alasannya. [Luruskan niat: suntikan stamina yang tidak putus]. Why ala A. Fuadi = "Sebaik-baiknya manusia yang paling bermanfaat buat orang lain (Nabi Muhammad SAW).
  2. What? ---- apa topik tulisan kita? apa yang paling dekat dan berkesan pada diri kita. Apa yang paling menggentarkan jiwa kita?. Ibaratnya, topik apa yang kita kita bicarakan selama 3 hari 3 malam tanpa jeda. Dan jika ditulis dengan hati dan karena senang, maka akan terasa pada tulisannya. [ kenal, peduli, familiar, tahu: obat kuat tulisan ]. What ala A. Fuadi adalah pengalaman di pesantren. Tugas penulis adalah menggali apa hal yang tak terlupakan dan bisa disampaikan dengan penuh perasaan. 
Menulislah dari hati.
Akan sampai ke hati. 

Trik menulis kisah pribadi tapi tidak memantik konflik karena orang terkait. 
Kita bisa ganti SPACE and TIME. 
Misalkan kejadian dipindah ke PLANET MARS, dan ganti tahun. 
Ganti nama, posisi, gender, jabatan dan lain sebagainya. Sehingga ibaratnya ini adalah inspirasi bukan kisah nyata. 

3. HOW ? 
Referensi dan visual, dari buku lain, foto, diari, dll

CARA RISET:
  • Meriset sebaiknya kuat. 
  • Tulisan yang risetnya kuat jadi tampak nyata dan kekuatan untuk bersaing
  • Bisa dilakukan dengan wawancara, ngobrol, membuka diari lama. Datang ke tempat asal. Bagian yang penting di diary, dikasih post it dan ditarik ke cerita fiksi novel. 
  • Detil bisa didapatkan apalagi berdasarkan pengalaman
  • Pengalaman bisa sangat personal


4. When 
Cicil setiap hari: sedikit lama-lama menjadi buku


Membuat awal adalah mencari cerita dari diri sendiri untuk UNLOCKED DIRI KITA. Nanti dilanjutkan bisa dijadikan di bagian mana pun dan tokohnya siapapun. 

Deskripsi cerita gunakan PANCA INDERA untuk memperkuat rasa. 

Ingin Berbagi Cerita Bersama Mamah Gajah Ngeblog

33 komentar


Blogging seperti aktivitas membuka pintu-pintu baru. Baik itu berupa kesempatan, pekerjaan, pertemanan dan pasti pengetahuan baru yang kadang tidak diduga bisa datang. 

Menjadi blogger curhatan doang sampai jadi blogger profesional yang murni mengandalkan penghasilan dari blog, sudah saya alami. 

Ingin menghapus blog, bingung memilih domain, hobi mengganti template, ikut lomba blog sampai meriang dan riuh rendah menghadapi warna-warni blogger di berbagai komunitas, juga saya alami sendiri. 

Bermodal BLOGSPOT, platform murah meriah gembira besutan Google ini, saya mendapatkan banyak hal dari blog. Banyak sekali. 

Mulai dapat hadiah ketika pertama kalinya menang lomba blog berupa PC All in One ukuran gede, 19,5 inch untuk juara 2, dan bendanya berfungsi sampai sekarang. Bisa beberapa kali terbang ke beberapa kota dan juga pulau di Indonesia, karena menang lomba menulis lewat blog juga. Mendapatkan pekerjaan tak terduga sebagai penulis buku biografi, manajer content writer, blog editor yang hanya dikerjakan online tanpa bertemu sama sekali dengan klien, juga dari blog. 

Mundurnya saya dari berbagai komunitas blogger demi menjaga kenetralan posisi, ketenangan diri dan juga untuk memusatkan energi pada Startup Pendidikan: Kelasku Digital yang sedang saya buat. Itu pun pengalaman ngeblog. 

Bisa membuat beberapa jenis bisnis, walaupun satu per satu gugur juga, itu cepet eksis dan laris, karena blog juga. 

Hobi gonta-ganti template blog, terutama kalau lagi galau dan gabut :). Yang akhirnya menambah keinginan untuk masuk ke dunia lainnya, yaitu CODING, itu juga dari blog. 

BLOGGING + CODING, membuat saya bisa membuat blogspot biasa menjadi website landing page yang cukup bagus untuk sekolah, bisnis, startup dan juga online shop. Tidak sekadar menulis dan mengisi blog. 

Ah, masih banyak lagi yang ingin saya ceritakan kepada grup MAMAH GAJAH NGEBLOG ini, tentang pengalaman saya nge-blog. Dan kembali mendapatkan pembaca blog yang organik.

Yang blogwalking dan membaca dengan sepenuh hati. Tidak memberikan komentar blog seperti template copy paste saja, demi hanya menaikkan traffic blog. 

Prestasi ngeblog saya tidak luar biasa. Tapi lumayan banyak ragamnya. 

Dan yang terpenting adalah, ketika kita menjadi blogger, itu beneran bisa menjadi blogger yang independen kok. Dengan mengikuti kata hati. Menulis hal yang penting dan sesuai dengan prinsip diri. Tidak harus kuatir jika menjadi blogger yang "sendirian" dan tidak ada di dalam kerumunan. 

Dan lagi, BLOG itu beneran bisa jadi kendaraan untuk kita berkarya dan bekerja. 

Ini adalah alat sederhana yang manfaatnya cukup besar, jika kita tahu cara menggunakannya. 

Semoga satu demi satu cerita saya nanti bisa berguna ya. 

Terima kasih sudah menerima saya di grup Mamah Gajah Ngeblog. 

Tempat alumni ITB yang suka blogging. Khusus perempuan ini tampaknya. Semoga kita akur-akur saja ya :)

Keep going adek-adekku...

Yakin, berasa dari angkatan tua saya di sana *LOL

Oh ya, blog pertama saya sebenarnya di MULTIPLY, tapi dah hilang nih platform. Ditutup sama providernya tanpa peringatan, jadi semua konten blog ilang. 

Blogspot pertama saya di sini, https://heniprasetyorini.blogspot.com