Hi, I'm Heni, welcome to my blog

Sharing Tentang Coding Kids di SEA MORNING SHOW - SEA Today Channel

Pengalaman Ikut Pelatihan Menulis Jurnal Ilmiah Teknodik

2 komentar
Satu pengalaman saya lagi tentang MENULIS. Kali ini lebih dalam lagi dahi harus berkerut. Tak ada lagi kata romansa yang indah melambai dan menusuk kalbu sampai biru. Karena di Jakarta, saya mendapatkan pelatihan menulis jurnal ilmiah. Sebuah topik yang sudah mulai
hilang di radar otak saya.

Perlu diketahui, latar belakang pendidikan saya ada dua bagian. Pertama, Kimia FMIPA waktu sarjana, yang kedua adalah Teknologi Pendidikan ketika pascasarjana. Kedua bidang ilmu ini saya pikir bakal tergerus dengan aktivitas saya sebagai freelancer dan blogger yang lebih mepet-mepet ke ranah bisnis di era digital. Hampir saya 100% yakin kalau tugas hidup saya adalah ngajari orang jualan di internet. Apalagi ketika saya resmi jadi Trainer Gapura Digital, salah satu projeknya google untuk memfasilitasi UMKM di Indonesia bisa go Online dan jadi makin hebat bisnisnya.

Cerita jadi trainer Gapura Digital bisa dibaca disini: Seru, Jadi Trainer Gapura Digital Surabaya

Sempat saya was-was bakal bingung kalau misalnya kelak di akhirat akan ditanyai oleh malaikat, "Heni, ilmu Kimia dan Teknologi Pendidikan yang sudah kamu pelajari itu kamu buat apa saja? udah jadi manfaat apa saja? ingat itu sekolahan negeri, jadi kamu belajar juga dibiayai sama negara alias rakyatnya".

Nah loh, makin gemeter sebenarnya hati ini. Akan tetapi, apa mau dikata, waktu itu menurut saya menjadi pengajar digital marketing adalah pekerjaan yang ada di depan mata.

Mungkin karena saya terlalu gelisah, jadi Alloh SWT kasihan pada saya ya :)

Akhirnya kedua ranah keilmuan ini, pelan-pelan kembali lagi ke saya. Atau bisa dibilang, perlahan namun pasti saya diarahkan untuk kembali mengabdikan ilmu saya ini lagi.

Pertama, saya diarahkan kembali ke kimia dengan acara menulis marathon di Puspiptek dalam ajang writinghton. Lengkapnya bisa dibaca di artikel ini:
http://www.prasetyorini.com/2017/09/writingthon-1-di-puspiptek-membuatku-kembali-redirect-ke-sainstek.html

Kedua, dari informasi teman writingthon itulah saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan jurnal teknodik yang notabene adalah satu lini dengan bidang ilmu Teknologi Pendidikan yang saya pelajari di pascasarjana S2 kemarin di Unesa.

Nyambung banget ya, Alloh SWT memang Maha Baik dan super sekali dalam merencanakan jalur hidup umat-NYA. Kok ya bisa nyambung gitu loh. Saya jadi amazing sendiri.


Dan, disinilah saya. Di hotel Kristal Jakarta, dalam 3 hari 2 malam, saya mengikuti Pelatihan Penulisan Karya Tulis Ilmiah Jurnal Teknodik yang diselenggarakan oleh PUSTEKKOM KEMDIKBUD Indonesia.



Adalah saya sendiri takjub dan tak habis pikir, bahwa posisi saya sebagai freelancer ternyata bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan mereka. Alhamdulillah, jika melihat lagi banner awal pengumuman Audisi Penulis sebagai syarat diterima ke pelatihan ini, saya memang mendapatkan kesempatan mengisi profesi sebagai PRAKTISI PENDIDIKAN atau PEMERHATI PENDIDIKAN.

Karena saya beberapa kali sudah menjadi Training Digital Learning baik untuk sekolah ataupun UMKM, maka saya bisa mendaftarkan diri sebagai Praktisi Pendidikan. Alhamdulillah, disambut hangat juga disana.
wefie di saat  pembukaan pertama kali dengan mbak Diana dari LPMP Lampung
 Peserta pelatihan ini mayoritas diisi oleh guru, dosen dan beberapa  orang dari LPMP dan Pustekkom yang memang tugas bekerjanya untuk membuat media pembelajaran juga jurnal pendidikan. Ada juga yang dari bagian Evaluasi Pembelajaran. Pokoknya top-top banget deh. Saya keder sendiri ketika mendengar satu per satu berkenalan.

Yang makin bikin keki adalah setiap berkenalan selalu ditanya, "bu Heni, dari lembaga mana?"

Lalu saya nyengir sendiri, bingung menjawab. Apa saya jawab dari Google? karena terakhir klien saya itu :)

Ya, namanya freelancer gini kan lembaga yang menaungi bisa dibilang banyak. Tergantung siapa yang meng-hire kita to? hihihi

Akhirnya dengan tetap nyengir juga saya menjawab, " saya tidak punya lembaga pak/bu, saya freelancer independen".

Dan tau tidak bagaimana respon mayoritas mereka mendengar jawaban saya ini?

"Wiih enak mbak Heni, bu Heni, freelancer, bebas. Kita mah terikat tugas dan kantor."

Nah loh, pada envy sama freelancer :)

makanan di Hotel Kristal, enak-enak banget :)

Kekakuan saat perkenalan awal segera luntur, tak lain dan tak bukan karena makanan demi makanan yang disajikan. Hotel Kristal Jakarta ini, juara banget urusan makanan, service ramah dan ruangannya deh. Nanti saya tulis khusus ya review hotelnya, biar bisa share banyak foto. Kalau disini nanti kepanjangan.

 Pelatihan pun berlangsung dengan jadwal sangat padat, mulai pagi sampai malam hari. Bisa dibilang mulai jam 7 pagi dan bisa sampai jam 11.30 malam. Dan materinya "daging" semua. Mulai dari pengertian Karya Tulis Ilmiah, Teknik Penulisan, Cara menggunakan aplikasi Jurnal Teknodik terbaru, EYD dan materi lainnya.


Ruangan Shapire tempat pelatihan berlangsung 
Padatnya materi pelatihan tidak begitu terasa berat, karena suasana ruangan yang nyaman,  cahaya terang, LCD dan audio juga bagus plus makanan enak dan kopi yang selalu siap sedia.




Peserta yang diterima dan lolos uji artikel awal, usianya beragam. Mulai remaja mahasiswa ada sampai ke beberapa yang sudah sepuh seperti foto di atas. Walau begitu mereka rame banget loh. Dan lucu. Beberapa berkelakar tiap kali ada materi baru. Jadi sampai tengah malam pun rasanya nggak akan pingsan. Karena kita serius sambil santai.



Narasumber yang menyajikan materi berasal dari strata tertinggi tingkat kemahiran ilmu masing-masing. Pakar bisa dibilang begitu. Terbukti di setiap slide dan kalimat yang dipilih begitu sederhana namun bisa dicerna sedemikian rupa.

Biasanya yang sudah pakar yang bisa meramu ilmu menjadi sederhana. Dan mereka terbukti seperti itu. 


Satu demi satu narasumber menyajikan materinya dengan TEPAT WAKTU. Tiap akhir materi, langsung disambung materi baru. Narsum baru pasti sudah siaga di depan ruangan sambil membawa microphone dan menyajikan slide pertamanya.

Suasana dibuat santai dengan diperbolehkannya peserta hilir mudik mengambil kopi atau teh baru dan jajanan ke meja masing-masing. Suasana tidak tegang tapi ada yang pasti dilarang. Yaitu, dilarang mainan hape!

Lah, jiwa blogger mana tahan memasukkan hape ke dalam tas? secara kamera digital yang saya bawa memori cardnya terbatas sekali kapasitasnya. Baru motret dan rekam video dua biji, eh udah full memory.

Akhirnya saya nekad aja selalu majang hape di atas meja. Dengan tujuan untuk memotret slide yang penting dan tidak ada di dalam modul. Untuk jaga-jaga biar tidak ada protes dari mana-mana dan karena tujuan saya baik, maka setiap hasil potret slide materi itu langsung saya share ke grup whatsapp pelatihan yang sudah dibuat sejak kami mulai datang ke Jakarta di hari pertama. Aman kan :)

saya masuk kelompok bimbingan pak Sudirman - Mitra Bestari Jurnal Teknodik

Hari terakhir pelatihan diisi dengan bimbingan praktek menulis langsung jurnal ilmiah teknologi pendidikan yang dipimpin satu mitra bestari.

Mitra Bestari adalah para senior yang pekerjaannya me-review jurnal ilmiah yang masuk ke aplikasi jurnal teknodik, dan memutuskan apakah jurnal itu layak lolos dipublikasikan atau memerlukan revisi tertentu.

Suatu kebetulan bapak Sudirman adalah teman dari prof. Mustaji, dosen saya dan ketua jurusan S2 Teknologi Pendidikan Unesa. Pak Dirman orangnya kalem dan pandai humor. Kami dibimbing secara klasikal karena terbatasnya waktu.


teman sekamar saya nih :)
Sebelum pulang, saya dan teman sekamar menyempatkan diri berfoto bareng di ruangan makan hotel. Kelihatan banyak makanan ya? ada beberapa roti yang sengaja diambil dan rencana mau dibawa ke bandara buat bekal nunggu pesawat hahaha. Kakak saya bilang, itu trik kalau makan di hotel. Bungkus dengan tisue, masukkan ke dalam tas. Nanti bisa dimakan di kamar hotel, buat bekal kalau malem-malem kelaperan atau bisa juga dibawa ke bandara. Katrok yo ben wis talah. Saya manut aja dan pasang muka tembok ketika ngambil kuenya. Good bye gengsi . Teman sekamar saya juga seneng banget dengan trik itu, karena ada yang minta bagian hahaha.



Pelatihan menulis kali ini benar-benar membuka wawasan ilmiah saya deh. Malah jadi sadar dan malu sendiri ingat Tesis dan Skripsi. Kebayang berantakan banget ya garapan waktu mahasiswa itu. Malu pisan euy :)

Sepulang dari sini, saya bismillah mau berencana rutin menulis jurnal ilmiah terutama bagian Teknologi Pendidikan. Kok ya kebeneran, waktu S2 kemarin itu saya terobsesi banget dengan e-learning dengan segala atributnya. Mulai dari Learning Management System, Flipped Classroom, platform opensource e-learning dll.

Waktu kuliah bisa dibilang saya sendirian yang ngobrolin hal itu. Nggak ada yang interest hehehe. Eh, di pelatihan kemarin, disampaikan bahwa diharapkan tema yang dikirimkan kesana memasukkan hal tersebut. Isu terbaru pembelajaran di era digital. Termasuk hal-hal yang bikin saya kepo sejak kuliah pasca itu.

Lahdalah, apa bener itu kebetulan atau memang sudah di-setting sama TUHAN?

ALLAHU AKBAR ya....suka amazing sendiri kalau ingat.

Udah ngobrol panjang lebar, belum saya jelaskan tentang Jurnal Teknodik.
Jadi gini nih,

Jurnal Teknologi Pendidikan diterbitkan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan


Jurnal Teknodik adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pustekkom dengan satu bidang khusus tentang Teknologi Pendidikan. Inti materinya harus seputar Pembelajaran dan Teknologi Informasi yang mendukungnya.

Sebelumnya Jurnal Teknodik diterbitkan secara offline, kemudian kombinasi dengan terbit secara online.

Saat ini, jurnal teknodik akan diterbitkan berkala secara ONLINE. Dan untuk submit artikel dan lain-lainnya lebih mudah serta ada track recordnya. Karena sekarang di website-nya sudah dipasang fitur yang memudahkan hal tersebut.

Siapa saja yang bisa mengirimkan tulisannya?
SEMUA ORANG.

Jika anda tertarik, bisa membuka tautan berikut: http://jurnalteknodik.kemdikbud.go.id/index.php/jurnalteknodik

Di tautan tersebut lengkap sudah ada syarat dan template artikel yang diperlukan. Jika anda mempunyai minat tentang Teknologi Pendidikan dan mengetahui kaidah penulisan jurnal ilmiah, silahkan untuk mengirimkan artikelnya disana.

Jika ada pertanyaan bisa menghubungi admin yang online di website langsung.

Jadi, mari ikut meramaikan kancah pertarungan karya tulis ilmiah di nusantara :)

Salam,


Heni Prasetyorini

Writingthon #1 di Puspiptek Membuatku Redirect Kembali Ke Sainstek

4 komentar
"when I saw (again) a chemistry laboratory that day, I know I have to redirect my path"

Bau khas laboratorium kimia. Senyuman dan tutur kata yang runtut dari perempuan yang hamil tua dan menerangkan detil tentang konsep Meterologi. Istilah ilmiah, binar mata menyala dan bergairah dari para peneliti yang menceritakan kisahnya, membuatku menarik nafas berulang-ulang. Disinilah, disinilah, disinilah seharusnya aku mengabdikan jiwa raga. Di dunia penelitian sainstek dan pendidikan. Sesuai dengan latar belakangku mengambil kuliah sarjana kimia dan pasca sarjana Teknologi Pendidikan. Benar, inilah saatnya aku berpikir serius untuk REDIRECT.

Debaran Hati di Gedung Merah LIPI Kimia

Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu lagi dengan terminologi kimia. Bisa masuk ke gedung besar dengan petunjuk bertuliskan LIPI KIMIA. Apalagi bisa mendapatkan kontak langsung bu Zalinar Udin, Kepala Balai Laboratorium Biomolekul LIPI Kimia Bandung, yang sudah 16 tahun tak bersua.

Bu Zalinar, sangat membantuku di masa penelitian Tugas Akhir  dan setelah lulus kuliah Sarjana. Topik skripsiku termasuk dalam penelitian beliau di S3. Yaitu meneliti ada tidaknya interaksi antara ekstrak Gardenia Turbifera WALL dengan DNA bakteri Salmonella typhi.

Beliaulah yang akhirnya menerimaku untuk bekerja di LIPI dengan tangan terbuka lebar setelah lulus, juga mengijinkan mengundurkan diri ketika memilih kembali ke Surabaya ketika hamil anak pertama. Bahkan 2 tahun kemudian setelah anak pertamaku lahir dan besar, beliau masih dengan semangat menyuruhku kembali bekerja di sana, di LIPI Kimia Bandung.


Walaupun akhirnya aku tidak meneruskan rencana kembali ke LIPI, tapi bagaimana beliau menerimaku kembali, sangat berharga di hatiku ini. Pendek kata, Kimia berkesan di hati walaupun aku berusaha sekuat tenaga menguburnya dalam-dalam.

di depan gedung LIPI KIMIA

Laboratorium Kimia untuk bioenergi
Aku di depan Pilot Plan Bioetanol Generasi 2 LIPI Kimia




Bagaimana seorang "aku" bisa sampai kesana?
Jalan yang terbuka dan tak terduga berasal dari satu kata yaitu WRITINGTHON.

WRITINGTHON #1 : INOVASI ANAK NEGERI

Writingthon adalah ajang para penulis untuk bekerjasama mewujudkan satu buku. Proses penulisan dan pencarian sumber tulisan dilakukan secara marathon dalam batas waktu tertentu.

Diinspirasi oleh projeknya para programmer aplikasi mobile yaitu Hackathon. Bedanya, disini para programmer dan timnya harus bekerja selama 3 hari membuat sebuah aplikasi berbasis android yang bermanfaat.

Hackathon untuk programmer.

Writingthon untuk penulis.



Audisi penulis writingthon ini juga sama maratonnya. Hanya 1 minggu saja, Bitread, sebagai penyelenggara menggelar rekruitmen. Kami, para blogger, biasa menyebutnya sebagai kompetisi ngeblog atau menulis.

Biasanya satu banner kompetisi menulis akan beredar viral di komunitas blogger. Tapi kali ini tidak. Aku mendapatkan banner di hampir tengah malam. Saat itu, teman aku, Prita Hw, blogger dari Jember, sengaja mengirimkan banner ini secara pribadi di chat messenger.
Aku langsung terpana melihat syaratnya adalah penulis berbasis sains. Langsung juga berterima-kasih kepada Prita karena sudah memberitahukan hal itu.

“Ikut sana mbak, aku nggak punya background sains. Sampeyan saja yang maju,”begitu tulis Prita.

Aku sama sekali tidak tahu apa itu Puspiptek, Bitread dan Writingthon.
Sebelum bergerak selanjutnya, aku cari dulu kedua “kata kunci” itu di google chrome, browsing. Semacam naluri blogger yang menyelidiki apakah kompetisi ini beneran atau abal-abal. Dan hasilnya fix semua aman, benar dan bisa dipercaya.

Malam itu juga, aku lembur di depan laptop sampai menjelang dini hari. Segera mencari banyak literatur tentang ilmuwan yang harus menjadi topik artikel yang akan diaudisi. Pilihan pun jatuh pada bu Evvy Kartini, satu-satunya Ilmuwan Nuklir dari Indonesia, perempuan pula, hebat. Aku sengaja memilih beliau karena genre menulisku selama ini juga seputar perempuan dan teknologi. Pas banget.

Urusan tulis menulis pun harus berhenti sejenak, karena esok paginya, aku ke Jombang, mengantarkan si anak sulung kembali ke pondok pesantren. Aku bertekad menyelesaikan tulisan ini dan ikut audisi. Tapi sama sekali tidak berharap atau menganggap bisa lolos. Tulisan aku selesaikan di rumah ibu, dengan sedikit drama karena laptop harus di-service dan ibu tak suka aku “mainan laptop” di depan beliau. Terlebih jika ada juga suamiku disitu.

Perempuan Jawa haram hukumnya jika membiarkan suami tanpa kopi di sore hari, syukurlah ibu tidak terlalu bereaksi keberatan saat itu karena suamiku mengatakan sudah biasa menghadapiku seperti itu ketika sedang dikejar "deadline" untuk menulis sesuatu.

Sebenarnya kondisi kurang kondusif dan aku tidak yakin bakal lolos. Tapi aku nekad saja, menyelesaikan semaksimal mungkin di waktu mepet itu. Menuliskan esai tentang motivasi mengikuti audisi yang menyertakan kalimat “ingin membumikan hasil riset agar mudah dipahami orang umum”. Aku kirim email ke  penanggung jawab kompetisi. “Kirim dan Lupakan.” Itu mantraku saat menekan tombol SEND.

Alhamdulillah, ternyata aku diterima dan lolos audisi menjadi 10 Penulis terpilih dari 200 peserta yang mengirimkan tulisannya. Atas bantuan Alloh SWT.

Writingthon vs Puspiptek

INOVASI ANAK NEGERI. Writingthon yang pertama ini diadakan bertepatan dengan program Puspiptek Serpong Bogor yang akan mengadakan PIF (Pekan Inovasi Festival 2017). 10 penulis pilihan dari writingthon diberikan tantangan untuk menuliskan buku yang bisa mendeskripsikan tentang Puspiptek dan semua hal yang ada di dalamnya, misi visi, inovasi, kendala dan juga harapan yang dimiliki oleh lembaga penelitian terbesar di Indonesia ini.

Oleh karena itu, kali ini latar belakang penulis memang dipilih yang berbasis Sains dan Teknologi. Aku punya basis kimia karena kuliah S1 mengambil jurusan Kimia FMIPA di ITB. Teman aku lain ada yang dari Fisika, Biologi, Matematika dan juga yang aktif dengan kegiatan reservasi alam. Aku pun sangat intent, tekun dan aktif untuk terlibat dalam teknologi. Terutama teknologi digital untuk digunakan di pendidikan dan kreatifitas. Mungkin salah satu latar belakang ini yang menjadi nilai tambah dariku.


Sampai tiba di hari pelaksanaan. Urusan akomodasi sudah ditangani dengan baik oleh pihak Puspiptek. Aku hanya menyediakan biaya taksi untuk jarak rumah-bandara-lokasi acara. Di Wisma Tamu Puspiptek jadi base camp pelaksanaan. Kami tidak akan hanya duduk manis menulis disana. Sekali lagi, kami harus marathon keliling laboratorium dan gedung tertentu Puspiptek yang akan diangkat sebagai materi tulisan. 


ibu Sri Rahayu, Kepala Puspiptek Serpong

Acara dibuka resmi oleh kepala Puspiptek, ibu Sri Rahayu, yang gesture tubuh dan cara bertuturnya mirip banget dengan bu Risma, Walikota Surabaya. Sedangkan wajah beliau mirip banget dengan bude tetanggaku seberang rumah. I feels like home J

Baiklah untuk tiga hari ke depan, aku harus siap jiwa raga. Alhamdulillah saat itu aku sehat wal afiat. Dan tidak ada kendala baper atau mellow ala emak-emak yang melanda. I’m ready 100%. I’m on fire. Mungkin juga karena di sekelilingku ini anak-anak muda. Ya, bisa dibilang aku paling tua disana. Dan mereka pun satu persatu mulai memanggilku MAMA.

Menjadi paling tua, tidak ada halangan sama sekali. Kecuali sakit pinggang dan sakit kepala yang dating lebih cepat ketika hari lembur telah tiba. Ya, di hari ketiga, 10 penulis diletakkan dalam posisi berhadap-hadapan di dua sisi meja panjang. Seperti pemandangan kantornya media online, beneran deh. Kami bersepuluh dan beberapa tim Bitread terus berdiskusi, menulis dan ngakak bersama sampai lewat tengah malam. Inilah Menulis Marathon itu.

Ya, hari pertama dan kedua, kami marathon mewawancarai peneliti. Dating ke lokasi sampai ke tempat penyimpanan Reaktor Nuklir di Batan. Menyusun taktik penulisan dan memilih sudut pandang yang akan diambil. Baru di hari ketiga, setelah materi terkumpul, menulis di depan laptop dilakukan pol-polan. Lewat jam 2 dini hari, kepalaku sudah nggak kuat. Pusing bagian belakang. Bahaya kalau diteruskan nih, pikirku.

Mungkin dulu jaman masih unyu, aku berani saja nggak tidur seharian. Tapi aku dah sadar umur. Daripada dipaksa terus aku pingsan, mending aku menyerah dan tidur dulu saja. Teman sekamarku, si anak mahasiswa abege, Iiz , juga beberapa kali merengek mengajakku kembali ke kamar. Dia sudah nggak kuat juga. Bukan karena dia tua. Tapi karena kemarin malam dia juga begadang sampai pagi. Sepertinya ada tugas kuliah juga yang harus dia selesaikan. Fix, kami ke kamar. Dan satu per satu temanku pun kembali ke kamar. Hanya satu orang yang bertahan sampai shubuh dan selesai menulis 10 halaman, namanya pak Mul dari Semarang. Jagoan euy.

10 penulis pilihan Writingthon #1 , Pihak Puspiptek dan Bitread

Kita akan punya energi yang semakin kuat jika berada di lingkungan dengan frekuensi yang sama. Begitulah yang aku alami saat itu. Jika dihitung kasar, energi kami seharusnya habis karena harus lari kesana kemari dari satu laboratorium ke laboratorium lain. Lalu bertemu dengan narasumber yang kebanyakan para peneliti senior.

Peneliti senior yang sangat antusias menjelaskan detil konsep penelitian mereka, yang seringnya malah mengeluarkan istilah ilmiah yang kadang diluar pemahaman kami. Disaat yang sama, kami harus konsentrasi penuh menyerap penjelasan para peneliti sekaligus menyiapkan pertanyaan di waktu yang sama. Kalau bisa melihat alur kerja di dalam sel neuron kami, mungkin loncatan elektron dari satu synaps ke synaps lainnya seperti mereka lari Sprint ya, nggak cuma marathon. Cepet banget! 

Sedang mendengarkan paparan Peneliti di Puspiptek

Biasanya, orang akan mudah kelelahan bila digempur tuntutan harus berpikir keras sekaligus bergerak kemana-mana. Giliran menulis, hampir dipastikan langsung tumbang. Atau malah sama sekali nggak ada ide mau nulis apa karena kecapekan.

Tapi, ajaibnya, hal ini sama sekali tidak terjadi pada kami. Baik 10 penulis, pihak Puspiptek juga baladewa Bitread, semuanya antusias dan energik. Sampai tengah malam kami tak hentinya bergantian melontarkan pemikiran yang "berat".

Mengapa hal ini bisa terjadi?
Secara pribadi, kalau aku, alasannya adalah aku terperangah dan takjub. Bahwa negeri ini punya Pusat Penelitian sebesar Puspiptek dengan prestasi dan fasilitas yang sudah setara dengan kelas dunia internasional. Hanya saja, tidak banyak yang tahu.

Akhirnya, aku seperti kesetrum petir dan akhirnya ingin segera memberitahukan ke semua orang. 

"Haiii kita punya PUPSPIPTEK loohh gaeess....bangga banget deh!!"


Kegemasan untuk memberitahukan ke sebanyak mungkin orang melalui tulisan kami inilah yang membuat kami tak habis-habis energinya.

Terlebih lagi aku sendiri, seperti terhenyak ke masa lalu bergaul dengan larutan asam sulfat, laboratorium, elektroforesis dan lain sebagainya jaman kuliah di Kimia. Ketika merenung kembali, kenapa aku sampai di titik ini, akhirnya aku mengambil kesimpulan. Bahwa ini adalah tugasku ketika dilahirkan ke dunia ini. Istilahnya adalah Inilah Tujuan Penciptaanku.

Pundakku seperti ditepuk seseorang dengan mantap dan mendengarnya berkata, "ingat, ada ribuan materi sains yang sudah kau lahap bertahun-tahun ketika menempuh studi. Juga rangkaian berita sainstek yang suka kau baca di setiap ada kesempatan. Ingat bahwa itulah juga amanah dan tanggung jawab yang harus kau selesaikan di dunia ini."

Semacam itulah hasil perenunganku. Demi juga mendengar paparan beberapa peneliti dan teknopreneur di gedung TBIC Puspiptek (Technology Business Incubation Center) yang ingin agar kiprah mereka bisa semakin diketahui banyak orang untuk memberikan inspirasi. Saat itulah aku semakin yakin bahwa aku harus berbuat sesuatu untuk ranah ini: SAINS - TEKNOLOGI - RISET.

Ide yang pertama kali terbesit adalah membuat media online yang mengulas tentang 3 hal tersebut. Ide ini aku sampaikan ketika sesi berjumpa peneliti dan teknopreneur di TBIC waktu itu. Dan segera disambut baik oleh mereka. Humas Puspiptek, juga memberikan masukan bagaimana caraku bekerja nanti jika harus berhadapan dengan peneliti. 

Sebuah angin segar untuk ide berkutat dengan media online yang mengangkat hal yang tidak biasa. Sampai kembali ke Surabaya, ide ini terus aku gulirkan di setiap kesempatan. Aku sengaja mengikuti workshop cara merencanakan sesuatu menggunakan Business Model Canvas. Aku bertanya pada teman programmer yang ahli membuat website dan pengalaman mengelola media online. Kepada sebanyak mungkin orang, aku sampaikan niatkan ingin membuat sesuatu yang online untuk memfasilitasi keinginan para peneliti di Puspiptek tempo hari.

Akhirnya, aku dan teman-teman Writingthon memilih satu nama media yang bisa mewakili dan menjadi nama media online kami nanti. Namanya adalah RISETPEDIA. Banyak rencana yang berloncatan di kepala terkair Risetpedia ini. Risetpedia Go to School, Risetpedia Quote, Kompetisi, Seminar, Festival, Vlog, You Tube, Komik dan segala macamnya. 

Sebagai gerak cepat yang biasanya spontan dilakukan oleh blogger, khususnya aku, segera saja aku membuat akun username media sosial dan membeli domain. Tujuannya agar niat ini tidak keduluan orang. Karena sekali username dipakai orang lain, kita tidak bisa merebutnya kecuali dimodifikasi dengan kata dan huruf lain.


Jadi, mulai domain www.risetpedia.com dan username @risetpedia, semua sudah ada di dalam genggaman tanganku. 

Belum fix semua sudah melakukan itu semua?

Boleh kok, itu sah-sah saja di dunia digital seperti ini. Karena tumbuh dan mengembangkan suatu produk atau media bersama dengan "follower" kita malah akan saling menguntungkan. Kita bisa membaut produk yang tepat sasaran yang mereka butuhkan. Sekaligus mereka bisa merasa engage dan terkait emosional baik dengan kita.

Sekarang aku masih terus menggodok ide ini.
Karena setelah pulang dari Writingthon, ternyata aku tak hentinya juga terus menulis secara marathon. Pekerjaan terkait menulis, semakin datang. Bahkan saat ini aku terlibat Pelatihan Menulis Karya Tulis Ilmiah yang diadakan oleh Kemdikbud, untuk menjaring penulis yang paham teknologi dan Teknologi Pendidikan. Pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan menambah jumlah jurnal pada website Jurnal Teknodik yang akan go Online.

Sebulan setelah Writingthon, aku mengikuti pelatihan Jurnal Ilmiah di Jakarta

Alhamdulillah, disinilah aku berada sekarang.
Dan aku sangat yakin dengan keputusan untuk tekun di bidang penulisan, sains, teknologi dan pendidikan. Semoga semakin banyak kesempatan untuk berkolaborasi dengan semakin banyak orang hebat lainnya. Sehingga ide untuk mengembangkan RISETPEDIA berhasil menjadi inspirasi, informasi dan motivasi para generasi muda bangsa untuk menjadi peneliti, teknopreneur. Bangsa ini di masa depan akan makin banyak memiliki orang yang siap membuat sesuatu yang dibutuhkan bangsanya sendiri. Dan tidak melulu menjadi konsumen dari produk bangsa lain.

Di depan salah satu tembok di gedung TBIC Puspiptek Serpong
Di akhir tulisan ini, aku ingin kembali mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk BITREAD, PUSPIPTEK dan WRITINGTHON yang telah memberiku kesempatan untuk "kembali ke jalan yang benar" :)

Love you from my deepest heart.

Salam,


Heni Prasetyorini

Seru, Jadi Trainer Gapura Digital Surabaya

3 komentar
Sudah tahu kan tentang Gapura Digital? Sudah menggema ya nama ini di berbagai kota. 
Ya, kebetulan saya tergabung sebagai salah satu TRAINER di Gapura Digital kota Surabaya. 

Seru banget jadi trainer disini. Bertemu dengan berbagai pengusaha UMKM skala kecil sampai yang sudah besar sekali omsetnya. Mereka semua ingin mengembangkan bisnisnya menjadi online. Jika anda salah satu dari mereka, bisa segera gabung disini. It's 100% FREE.

Apa itu Gapura Digital?

Program yang mendukung Usaha Kecil Menengah Indonesia untuk memajukan bisnis melalui digital. Terdapat serangkaian topik yang lengkap mulai dari tren digital, membangun portal usaha hingga SEO/SEM. Anda dapat memilih topik yang diinginkan atau ikuti semua kelasnya untuk mendapatkan sertifikat dari Google.


Salah satu peserta Gapura Digital, Keren ya :)


Pelatihan Gapura Digital

Di Gapura Digital terdapat kelas-kelas gratis yang bisa anda ikuti dengan berbagai topik untuk mengenal lebih dalam bagaimana membangun usaha melalui digital. Kelas-kelas ini terbagi menjadi tiga kategori dari Siap Digital, Handal Digital dan Kelas Berbagi.
PILIH KOTA DAN DAFTAR KELASNYA







Jika ada kenalan dekat atau anggota komunitas ingin memajukan usaha dengan cara digital atau mulai bisnis online, silahkan ikut training ini. Gratis 100%, malah dapat jajan loh. Lumayan kan.
Jika jadwal tepat, bisa bertemu dengan saya :)

Ayo segera daftar di kota terdekat. Jangan lewatkan kesempatan.


Mindset Berubah Lebih Bermakna Setelah Membaca Buku Astra: on Becoming Pride of The Nation

2 komentar
Books don't change people: Paragraphs Do , Sometimes Even Sentences

Sebuah buku tidak akan bisa mengubah seseorang. Tetapi beberapa paragraf bahkan kalimat di dalamnya bisa mengubah seseorang. Makna quote di atas tepat sekali untuk menggambarkan isi buku Astra: on becoming Pride of The Nation.

Buku ini berisi tentang perjalanan perusahaan ASTRA International yang semua berawal dari usaha kecil, kemudian bisa berkembang pesat menjadi perusahaan multinasional. Gambaran perjalanan yang diberikan adalah bahwa semua itu bukan proses instan. Satu per satu tahapan harus dilakukan oleh pendiri dan semua karyawan yang biasa disebut insan ASTRA, sampai bisa menjadi sukses seperti sekarang.

buku ASTRA: on Becoming Pride of The Nation
buku ASTRA: on Becoming Pride of The Nation


Untuk generasi langgas, generasi millenial yang hidup dalam kondisi teknologi canggih dan terbiasa bergerak cepat sangat perlu membaca buku ini. Banyak studi kasus dan kisah sukses ASTRA yang diangkat di buku ini, bisa jadi landasan berpikir tentang bagaimana bersikap atau mengambil keputusan jika mengalami keadaan yang serupa.

Apalagi kisah manajemen ASTRA yang telah dibukukan ini, mengangkat begitu dalam filosofi CATUR DHARMA sebagai ideologi perusahaan. Jika semula mindset orang memandang bisnis dan perusahaan besar hanya dan hanya berorientasi pada peningkatan omset dan profit. Dengan membaca buku ini, mindset itu akan berubah.

Dalam filosofi CATUR DHARMA, pada dasarnya adalah semua tindak tanduk manusia harus kembali untuk kebaikan manusia lainnya, bahkan dalam bentuk bekerja di sebuah perusahaan. Tidak sekedar mengejar keuntungan material, ASTRA menanamkan kepada semua insannya bahwa perusahaan harus bisa memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa.

"Kebesaran Astra bukan pada jumlah profit atau inovasi teknologi baru yang dihasilkan, 
tetapi ketika bisnis baru dan lapangan kerja terus tercipta"


Menjadi sukses bukan untuk dirinya sendiri, hal menakjubkan ini dibangun dan dimulai oleh si Om, panggilan akrab dari bapak William Soeryadjaya, pendiri ASTRA. Kisah hidupnya yang sulit di masa muda, karena menjadi yatim sejak usia 12 tahun, malah bisa menempa ketangguhan dan intuisi bisnis dari pak William.

Terus bisa berpikir dan tekun bekerja di masa sulit, hal inilah yang bisa mengubah mindset generasi muda, bahwa untuk menjadi sukses harus dimulai dengan berbagai fasilitas yang lengkap. Pak William salah satu contoh nyata yang harus diteladani.

Meskipun dalam perjalanan hidup dan bisnisnya, pak William kerap jatuh bangun, bahkan sampai pernah masuk penjara karena difitnah, dia tidak pernah menyerah. Tanpa takut, dia terus membangun bisnisnya. Seperti halnya kisah ASTRA yang dimulai dari perusahaan kecil.

Bersama Kian Tie, adiknya dan seorang sahabat baiknya Liem Peng Hong, pak William membeli sebuah perusahaan kecil yang beralamat di Jalan Sabang No.36, Jakarta. Perusahaan ini diberi nama Astra, yang diambil dari nama Dewi Astrea, dari mitologi Yunani, yang artinya terbang ke langit menjadi bintang.

Awal bisnisnya Astra mengalami kegagalan sampai jutaan dollar Amerika. Namun pak William terus menerus bangkit, bekerjasama dengan Pemerintah dan berbagai pihak untuk mengembangkan bisnisnya. Beralih dari perusahaan manufaktur menjadi perusahaan otomotif karena terbukanya peluang yang ada saat itu.

REDIRECT itu tidak masalah. 

Jika kenyataan yang terjadi tak sesuai dengan tujuan awal kita, tak perlu putus asa. Tak perlu merasa gagal atau bodoh. Lakukan saja seperti yang pak William pilih, yaitu mengubah lini bisnisnya, menyambut peluang yang ada dan bersungguh-sungguh mengembangkan bisnis baru itu. Redirect, mengaatur ulang arah hidup baru dan ditekuni dengan sebaik mungkin.

Pernah suatu kali pak William nekad masuk ke industri baru tanpa penguasaan kompetisi. Hal ini membuat banyak orang sampai geleng-geleng kepala. Namun, otaknya lalu berpikir keras, siapa yang harus didekatinya untuk membantu merealisasikan mimpinya?

"terus berpikir keras dan mencari mitra kerja yang lebih hebat"

Ini adalah mindset yang sangat menarik. Jika ingin merencanakan sesuatu yang besar, jangan patah arang karena merasa tidak yakin atau tidak cukup pintar. Boleh saja mengerjakan sesuatu yang tampak di luar jangkauan namun peluang besar. Untuk mewujudkannya, kita bisa mencari mitra kerja atau pembimbing yang bisa menunjukkan arah mana yang harus dituju agar rencana kita berhasil. 


Ketekunan pun tak selalu langsung berbuah sukses. Ada kalanya terjadi kegagalan dan penolakan dari mitra kerja yang dibidik. Hal ini membuat pak William kembali masuk ke dalam situasi kritis. Untuk mengatasinya, dia berdoa dengan sungguh-sungguh agar diberikan jalan keluar.

"Terkadang kita menganggap kemampuan diri terlalu hebat dan melupakan khasiat DO'A"

Saya terperangah beberapa kali ketika membaca lembar demi lembar buku ini. Sama sekali tidak menyangka bahwa perusahaan sebesar ASTRA dibangun setapak demi setapak. Yang ada di kepala saya, pebisnis biasanya hanya fokus untuk mengembangkan usaha, karena profit. Ini karena informasi dari media yang pernah saya baca.

Sedangkan ASTRA, tidak hanya itu. Perusahaan ini sangat berkomitmen menjadi bagian dari kemajuan bangsa Indonesia dengan berbagai program. Salah satunya adalah program pengentasan kemiskinan melalui pendidikan, yang ditulis pada halaman 423 di buku ini. 

Yayasan Pendidikan Astra Michael D. Ruslin (YPA-MDR) mempunyai visi membantu sekolah tingkat dasar dan menengah di daerah pra-sejahtera. Programnya dalam bentuk pengembangan SDM, kurikulum dan manajemen sekolah yang profesional. Tujuannya adalah agar para siswa mampu meningkatkan kualitas hidup, serta memiliki karakter yang didasarkan pada nilai luhur bangsa Indonesia. Hingga tahun 2015, YPA-MDR telah membina 50 sekolah yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Sungguh menakjubkan kiprah ASTRA untuk kemajuan bangsa ini. Untuk kita yang belum mempunyai perusahaan sebesar ini, terus menanamkan mindset bahwa setiap tindak tanduk kita adalah juga untuk bangsa, adalah hal yang sangat bagus. 

Dalam buku ini, tujuan ASTRA 2020 "Pride of The Nation" merupakan wujud ASTRA membantu pemerintah dalam membangun negara, agar maju dan bisa sejajar dengan negara maju dan besar lainnya. Kita pun perlu juga menanamkan semangat menuju kebanggan bangsa: on Becoming Pride of The Nation, dalam segala tindak tanduk.

Buku setebal 518 halaman ini yang ditulis oleh Yakub Liman, yaitu orang yang pernah memimpin Astra Management Development Institute (AMDI) pada tahun 2000-2008. Untuk menulis buku ini, dilakukan riset dan wawancara mendalam selama lebih dari setahun. Hasilnya adalah buku yang berisi pokok bahasan praktik manajemn dan kepimpinan insan Astra, dan diharapkan menjadikan sumber ilmu dan inspirasi bagi generasi muda bangsa. 

Sungguh beruntung ada buku ASTRA: on Becoming Pride of The Nation yang memberikan saya semangat lebih tinggi lagi untuk bersungguh-sungguh berbuat sesuatu. Tidak ada kata terlambat untuk berbuat hal baru. Sama halnya seperti pak William yang masih bersemangat membangun bisnis baru di usia 70 tahun (hal.2). Buku ini rekomended banget untuk dibaca siapa saja, apalagi menjadi harta benda dalam keluarga. 

Selamat ulang tahun ke 60 ASTRA, semakin sukses, berjaya dan semakin bermanfaat untuk bangsa.

Semoga menginspirasi,


Heni Prasetyorini 

Anak Gamer Jadi Santri Programmer

9 komentar

Game. Gamer. You Tuber dan segala sebutan lain yang kesannya hanya main-main itu, sering menjadi momok bagi orang tua. Di segmen Millenial Motherhood kali ini, saya ingin berbagi cerita. Juga berbagi pengalaman, bahwa hal yang dianggap momok itu sebenarnya saya anggap momok juga. Wajar. Namun, saya tidak memilih jalur melenyapkan momok, melainkan cara lain.

Sebelum melanjutkan tulisan, saya sampaikan semacam disclaimer. Mungkin nanti yang saya tulis akan jauh berbeda dengan prinsip yang anda anut atau yang anda terapkan dalam keluarga anda sendiri. Untuk menghindari polemik dan segala bentuk medsos-war yang mungkin terjadi, maka saya mengajak masing-masing dari kita berlapang dada terhadap perbedaan.

Jika paparan saya nanti ini baik, silahkan diambil. Jika tidak, harus anda tinggalkan. Oke, sepakat ya :)

Anak saya gamer? iya.
Anak saya kecanduan game? bisa iya, bisa juga tidak.

Singkat cerita, saya punya dua anak laki-laki. Keduanya sudah menjelang remaja. Untuk tulisan kali ini, saya angkat cerita tentang anak pertama saya. Panggil saja dia, Maldoz. Itu nickname yang dia buat sendiri untuk profilnya di dunia maya.

Waktu umur 3 tahun, tanpa diajari siapapun, dan hanya dengan mengamati, Maldoz ini bisa mengganti screen saver layar komputer. Itu sekitar 11 tahun yang lalu. Sejak saat itu kecintaan bermain game, atau mengerjakan apapun di depan layar komputer mulai nampak.

Bakatnya pun mulai terasah dengan sendirinya. Dan semuanya itu berasal dari kegemarannya bermain game. Sudah beragam cara saya dan suami mengusahakan agar anak ini berhenti sama sekali bermain game. Bahkan berhenti sama sekali menggunakan komputer.

Sebenarnya mustahil bisa berhasil, karena saya dan suami bekerjanya menggunakan gadget, baik itu komputer maupun smartphone.

Untuk meminimalisir efek negatif, kami sepakat hanya menyediakan komputer atau laptop untuk bermain game. Tidak akan ada PS atau Nitendo di dalam rumah kami. Juga aturan jenis game yang dimainkan serta waktu bermainnya, semua kami bicarakan bersama anak.

Hidden agenda dari aturan ini adalah siapa tau berangkat dari suka main game, nih anak akan tertarik melakukan hal lain di komputer. Misalnya menggambar atau menulis. Sesederhana itu.

Selain memberikan aturan itu, saya pribadi, sebagai ibunya anak-anak, berusaha keras untuk masuk ke dalam hati anak. Dengan segala cara saya ajak mereka ngobrol, bicara, curhat tentang apapun. Tidak hanya tentang keinginan saya melarang mereka main game. Ngobrol ngalor ngidul lah pokoknya.


Setelah antara ibu dan anak sudah KLIK dan saling percaya, barulah pelan-pelan saya masukkan "doktrin" kepada anak-anak saya. "Doktrin" itu adalah:
 percuma jika cuma jago main game. Kalian juga harus jago bikin game.
Dari sini, saya mulai tekankan pentingnya menjadi KREATOR daripada sekadar menjadi PENGGUNA.

Mulailah hati anak saya tergerak. Agar antara saya dan dia tetep nyambung, kami harus satu bahasa. yang dia tahu, saya harus tahu, begitupun sebaliknya. Maka ketika membeli 2 buku tentang gamer, saya pun membaca bareng anak saya.


Buku itu adalah:
  1. Gamers Juga Bisa Sukses
  2. Awas Anak Kecanduan Games

Waktu itu, si Maldoz masih sekitar kelas 3 SD, namun sudah saya minta baca buku "seberat" itu. Buku motivasi dan buku parenting.

Hal kedua yang saya lakukan adalah gerilya dengan blusukan ke dunia para pembuat game. Maksud hati sebenarnya ingin bertanya dan melihat langsung tentang dunia gamer itu sebenarnya seperti gimana sih?

Bahkan sampai saya ikutan BEKRAF DEVELOPER DAY yang diselenggarakan di Surabaya beberapa waktu lalu itu. Lalu bersama anak sulung saya, si Maldoz ini join ke kelas Game Developer, kelasnya pembuat game.



Maldoz ini sama sekali tidak bisa lepas dari game satu hari pun. Jika listrik mati atau internet wifi mati, dia akan beralih melakukan hal lain asal di depan komputer, laptop atau ponsel. Bisa dibilang sama sekali tidak bisa lepas dari layar.

Apakah saya dan suami tidak cemas?
Jawabannya SANGAT CEMAS. 

Prestasi sekolahnya, cukup mencengangkan dengan ritme seperti dia. Pernah juara satu paralel. Hampir selalu juara kelas atau masuk the best 5 sampai the best 10. Padahal kalau sudah sampai rumah, tidak mau lagi mengulang pelajaran. Dia berkomitmen untuk serius belajar di kelas dan di sekolah. Kalau di rumah, khusus untuk game dan hal lain.

Hal lain yang bisa dipelajari Maldoz secara otodidak juga tak kalah mencengangkan saya dan suami. Dia bisa desain grafis, video editing, membuat logo, animasi. Juga berkolaborasi dengan desainer grafis dari luar negeri melalui deviant art dan email. Amazing.

Antara ketergantungannya terhadap layar serta prestasi akademisnya berbanding lurus. Kami sering mati kutu dan tidak tahu harus bagaimana lagi mengendalikannya. Hal yang mencemaskan adalah Maldoz semakin meninggalkan kehidupan sosial di luar aktivitas sekolah. Di rumah, di lingkungan perumahan, dia sama sekali tidak mau lagi berbaur. Bahkan untuk urusan keluarga besar, baginya tak penting lagi. Masih lebih penting berkolaborasi main game dengan teman lainnya.

Karena kecemasan ini dan kewalahan inilah maka saya dan suami mempertimbangkan anak saya untuk masuk pondok pesantren. Dan alhamdulillah wa syukurillah, kami sekaligus dipertemukan dengan ponpes yang menyediakan sekolah pemrograman untuk jenjang SMA.

Sekolah itu adalah SMK Telkom Darul Ulum yang ada di bawah naungan Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang.

Beberapa saat menjelang Ujian Nasional kelas 9 SMP inilah kami baru mendapatkan informasi adanya sekolah tersebut. Tanpa menunggu lama, kami pun melakukan obrolan yang sangat intensif dengan Maldoz, anak sulung kami itu.

Kami bicarakan panjang lebar tentang kecemasan kami. Tentang besarnya potensi minat bakat dan kecerdasannya. Tentang terbentangnya peluang lain bekerja dalam ridho Alloh SWT jika dia menekuni jalur kesukaan terhadap game menjadi pelajar di bidang pemrograman. Dan banyak hal lain yang terus kami bicarakan. Sampai akhirnya anak saya itu sepakat sekolah di Jombang.

Jadi beginilah, sekarang, anak saya yang gamer itu telah resmi menjadi Santri Programmer.

Semoga dalam studinya dan hasilnya kelak mendapatkan barokah untuk kebaikan, kebaikan dan kebaikan di dunia dan akhirat. Amin.

Masih banyak sekali hal yang ingin saya bagi, terkait menghadapi atau membesarkan dua anak lelaki kami di era digital ini. Terutama terkait dengan game, karena kalau punya anak perempuan mungkin tantangannya pada hal lain ya :)

Insya Alloh akan saya teruskan sharingnya melalui segmen Millenial Motherhood. Jika ada yang ingin ditambahkan atau ditanyakan, saya tunggu di komentar blog. Atau bisa langsung menuliskan email kepada saya, di: heni.prasetyorini@gmail.com.

Berikut saya berikan podcast dari soundcloud bagi anda yang lebih nyaman "membaca" secara audiotorial.

Semoga yang saya sampaikan bisa menjadi wawasan kebaikan untuk anda dan keluarga.

Salam,


Heni Prasetyorini

Top 5 Colourful and Creative Ladies

6 komentar
Colourful Creative Ladies 
Warna-warni selalu bisa memberikan energi. Tapi tak semua orang berani memadupadankan warna, motif, corak dan gaya berpakaian yang lain daripada yang lain. Orang-orang seperti ini, biasanya punya tingkat kreatifitas yang tinggi, sekaligus imajinasinya di luar dugaan orang awam (seperti saya).

Melihat instagram feed pribadi mereka, komposisi warna, konsep cerita, padu padan outfit dan properti begitu mengesankan. Saya seperti cuci mata bahagia kalau sedang stalking foto, desain dan video mereka yang unik ini.

Dari semua orang yang memang lahir dengan anugerah kreatifitas tersebut, saya punya pilihan 5 besar. Berikut profil singkat mereka.



1. Diana Rikasari


Orang sering heran kalau saya mengidolakan Diana Rikasari dan semua brand fashion yang dia ciptakan. Mungkin umur beda jauh ya? dan saya malah seringnya tampil dengan earth tone colour yaitu hitam, abu-abu, coklat, coklat, coklat dan coklat hehehe. Tapi itu dulu. Karena di masa depan, saya ingin menuruti kata hati terdalam ini yang jatuh cinta pada semua warna. Apalagi warna bold dan gonjreng.

Seperti halnya mbak, eh adek Diana ini. Stalking instagramnya di @dianarikasari selalu bikin saya heppi. Warnanya bagus, captionnya santun. Yes, she always share good vibes only. 

Dari Diana inilah pertama kalinya saya ketemu orang yang berani main tabrak warna. Dan itu bagus. 


2. Ghaida


Urutan kedua instagrammer yang saya idolakan adalah Ghaida, putrinya Aa Gym, da'i Indonesia yang waktu di Bandung sering saya ikuti pengajiannya. Sampai ikutan mabid (malam ibadah) juga deh di pondok Daarut Tauhid Geger Kalong Girang Bandung. Walah walah, jaman jadi mahasiswi saya sering melakukan wisata hati rupanya. Bismillah jadi amal penarik hidayah, semoga, amin.

Dek Ghaida ini jelas shalihah banget. Saya ikuti sejak jaman dia ngeblog deh, lalu bikin clothing sendiri dengan brand Gda's Gallery. Baju rancangannya lebih ke warna pastel. Semakin ke sini, warnanya semakin beragam. Ada bold juga. Ada warna berani juga seperti di foto. Mungkin itu efek juga dari anak lelakinya yang kembar dan lucu itu ya? 

Mamah muda dengan 4 anak ini kreatif dan aktif di instagram. Kalau stalking IG-nya di @gdaghaida saya jadi seru sendiri, kadang juga terharu. Captionnya sering memberikan tausiyah yang baik untuk jiwa. Jadi disini bisa cuci mata cuci hati gitu deh. 

Yang bikin amazing, si teteh ini aktif banget walau harus kesana kemari dengan 4 anaknya yang masih kecil-kecil, bahkan ada yang masih bayi. Kuaat kuat kuat deh ya teteh. Kalau mbakyu-mu ini udah ngerasa encok duluan ngelihat kamu nggendong bayi kesana kemari sambil poto-potoan, hehehe.

Pokoknya mbak doakan ya, bisnisnya sukses. Kalau makin sukses kan bisa makin banyak merekrut tenaga kerja. Apalagi tim kerjanya dari perempuan muslimah. Wis dobel super duper nanti rejekinya. Semoga barokah dan rejekinya bisa nular ke saya, #eh.


3. Hilda Ikka



Posisi ketiga di tempati oleh Hilda Ikka. Coba kepoin instagramnya di @newhildaikka dan blognya sekalian deh. Lalu baca tagline blog di headernya. Lucu pastinya. Ayo capcus dulu kesana. Nanti kita ngobrol lagi setelah kalian balik.

Oke, lanjut. Ikka ini, teman saya sendiri. Alias kenal gitu. Dia blogger, lebih tepatnya Lifestyle Blogger. Hal teristimewa yang saya tangkap dari Ikka adalah keberaniannya, kreatifitasnya dan ketulusannya dalam berkarya. 

Perempuan yang berani nikah muda ini, malah semakin melesat ide imajinatifnya setelah resmi berumahtangga dengan "muffin" julukan suaminya. Ketrampilan fotografi dan desain grafisnya semakin bagus juga (diajari suaminya sih kayaknya hehehe). 

Saya suka model orang yang berani tampil apa adanya kayak Ikka ini. Good work girl. Kalau udah longgar dari tugas kuliahmu, terus berkarya yang lebih unik lagi ya. Aku menunggu :)


4. Sara


Nah, profil ke-4 dan ke-5 ini, saya nggak kenal sama sekali *LOL. Mereka adalah profil yang saya dapatkan setelah stalking orang yang di-follow oleh Diana Rikasari. 

Setelah saya buka Ig-nya mbak Sara ini, di @saraisinlovewith ternyata beliau adalah blogger yang "aneh"nya memang saya cari. Rambutnya di cat pink, waduh bikin saya kepikiran melakukan hal yang sama buat nutup uban yang mulai mengembang nih hihihi. Tapi ya apa pantes kalau kulit wajah saya sawo matang di pohon kayak gini? *halah ngelantur. 

Sudah stalking instagramnya? coba deh mampir kesana. Bagus, warna warni, bersih, kreatif. Captionnya singkat namun lucu dan ngena. Yang dia mention juga unik-unik produknya.

Uniknya banget tuh, dia suka juga dengan Flamingo. Dianarikasari juga suka flamingo. Yang mereka follow juga pada suka warna pink dan flamingo. Ulalala, ternyata banyak juga manusia di bumi ini yang suka kedua hal itu ya. Baru tau saya. 

Kirain yang bikin demen cuma lipstik diskonan, tas gratis dari giveaway dan turunnya harga garam. *eh udah ah :)


5. Patricia



Yang terakhir dan pasti bisa mengguncang ketenangan jagad maya milik saya adalah Patricia. Saya nemu profilnya di feed Sara.

Amazing book... dari usianya dijamin ini udah diatas 50 tahunan. Tapi coba lihat kombinasi outfitnya. Juara lalalala. Beliau memang fashion designer. Karyanya bikin nganga. Apalagi karya bonnetnya yang dipasang sebagai hiasan di kepala itu, ada yang panjang menjuntai seperti yang biasa dipakai Jember Carnival. 

Yang bikin lebih kaget lagi adalah, Di instagram @purelypatricia miliknya, sering di-share kegiatan olahraga atau nge-gym. Aduh kalah bangeet sayaaa, yang olahraganya cuma melibatkan jari jemari tangan. Maluu malu. 

Pantesan Patricia ini kelihatan energik banget walau udah masuk usia senja. 

Kesimpulannya dari Top 5 Colourful and Crative Ladies ini adalah kreativitas itu tidak ada batasan. Daya tarik utama adalah ketulusan dan passion yang memang sudah ada terpatri dalam hati pelakunya. Jadi, nyentrik cuma demi eksis jadi selebgram padahal karakter aslinya beda, kayaknya nggak akan terlalu menarik atau bertahan lama.

Yang masih berputar-putar di benak ini adalah, saya pantes nggak ya kalau nurutin kata hati pengen tampil lebih warna-warni?

Bagaimana menurut anda?