Study Quill, Channel You Tube Tentang Cara Belajar Anak Remaja

Tidak ada komentar
Menarik sekali, menemukan channel ini. Ada seorang gadis remaja yang antusias tentang belajar dan mendokumentasikannya dengan asik. Channel ini bernama STUDY QUILL.

Kalau melihat videonya, saya jadi membatin, "Seandainya dulu jamanku sekolah sudah ada You Tube, mungkin aku akan juga bikin ginian ya."


Coba lihat video di atas. Isinya tentang cara dia mencatat di buku dengan gambar dan tulisan yang menarik. Bukan sekadar memindahkan isi textbook, tetapi dia membuat rangkuman dan beberapa poin penting. 

Kagum dengan tulisannya yang rapi? apalagi di tambah gambarnya yang bagus dan jelas dengan warna-warni. 

Cara mencatat ini bisa kalian tiru, dengan gaya mencatat sendiri di buku. Tidak harus serapi itu. Bisa dengan MIND MAP atau catatan ruwet yang kalian bisa pahami sendiri. 

Yang penting dari channel ini adalah SEMANGAT BELAJAR MANDIRI. 

Ini adalah kunci penting untuk kita semua yang akan terus berlaku sampai akhir hayat nanti.

DARI CODING MUM KE AKADEMI PRASETYORINI

Tidak ada komentar

Berdiri di hadapan 200 ibu-ibu di Tulungagung, membuat hati saya berdesir sendiri. Siapalah saya ini? Programmer bukan, motivator sukses juga bukan. “Saya hanya ibu rumah tangga yang suka internetan”, begitulah satu kalimat yang saya ucapkan tiap kali memperkenalkan diri jika diundang sebagai pembicara. Seperti juga kala itu, ketika berada di Tulungagung di acara Sosialisasi Coding Mum. Bagaimana bisa seorang ibu rumah tangga murni, satus persen, tiap hari megang sapu dan pel, bisa mendadak jadi pembicara? Bahkan pengajar atau trainer? Lah kok bisa? Nah, begini ceritanya.

Perkenalkan, nama lengkap saya Heni Prasetyo Rini. Saya termasuk salah satu alumni Coding Mum Surabaya Batch 1. Sebelum mengikuti kelas belajar membuat website ini, saya adalah emak-emak yang aktif di jagad maya. Ingat, “jagad maya” loh ya, bukan mulan jamila  #eh.

Saya aktif di dunia digital sejak tahun 2010, tapi masih sebatas menulis dan mencari informasi.Selain menulis di blog dan menjadi pegiat digital, saya juga sempat mencoba peruntungan membuka sebuah onlineshop jilbab. Jika anda pernah mengenal olshop bernama “Jilbab Orin” sekitar tahun 2010, nah itu punya saya. Saya murni ibu rumah tangga dengan segala rutinitas domestic. Terlebih ketika anak kedua saya lahir premature, saya total ada di dalam rumah saja.

Teknologi digital membantu saya untuk belajar, berkarya dan eksis walaupun dari rumah saja. Apalagi ketika saya mengenal CODING MUM. Ini seperti sebuah PINTU AJAIB yang membuat saya masuk ke sebuah dunia baru, seru, menarik dan ternyata bisa juga menghasilkan.

meja paling depan kelas Coding Mum Surabaya 2016

Saya termasuk emak-emak yang sangat aktif di Coding Mum Surabaya. Saya berusaha untuk tidak bolos kelas satu kalipun. Setiap kali selesai kelas, sesampai di rumah, saya langsung membuka laptop di malam hari. Kemudian membuat grup whatsapp coding mum Surabaya rame dan panas karena pamer hasil belajar secara online itu. Saya bersungguh-sungguh ingin menguasai cara membuat website untuk pemula ini. Dan sampailah saya di tugas akhir untuk presentasi.

Semula saya akan membuat website Studio Belajar Doji, untuk menyimpan hasil browsing sumber belajar anak-anak saya. Akan tetapi, di hari akhir kelas, saya mulai ngeh bahwa misi dari kelas belajar ini adalah memberdayakan perempuan. Maka saya pun mengangkat kembali rencana yang ingin saya buat bersama beberapa teman sebelumnya. Yaitu membuat kelas belajar khusus perempuan bernama AKADEMI PRASETYORINI. Ini adalah konsep yang terus menerus saya bawa dan dengungkan

AYO NGODING REK !

Tidak ada komentar

Siapa yang mau kerja pake daster trus dapat transfer? Yang mau mana suaranyaaaa?.

Ya siapa juga yang tidak mau, betul tidaakk?.

Bisa kerja di rumah, nggak ribet kena macet, nggak heboh jika pensil alis patah atau lipstick hilang entah kemana karena dibuat mainan sama si kecil.

Tinggal nyalain laptop, mainin mouse dan dikit-dikit aja ngetik kode HTML5, CSS3 atau Javascript. Kemudian menghias isinya dengan memasukkan gambar, file pdf atau video di hyperlink. Lalu tinggal save dan tralala trilili sebuah website sudah siap digunakan sesuai keperluan.

Ya benar, pekerjaan para cyber daster ini adalah menjadi pembuat website. Loh kok bisa emak-emak dasteran bikin website? Siapa yang ngajarin? Emang ada lembaga kursus yang nerima emak-emak belajar bikin website sambil rempong ngajak anak-anaknya? Kan biasanya dimana-mana ditolak tuh.

Walah rek, ada wistalah tempat belajar semacam itu ada. Namanya adalah CODING MUM. Ini adalah kelas belajar yang digagas oleh BEKRAF. Sekitar pertengahan tahun 2016, saya dan hampir 10 emak lainnya dapat kesempatan ikutan CODING MUM SURABAYA (CMS), yang lokasi belajarnya ada di DILO SURABAYA.

suasana di kelas Coding Mum Surabaya 2016, selalu ada selipan kids :)


Baiklah, sekarang silahkan duduk manis dulu sambil ngemil donat dan kopi hangat. Saya mau berbagi cerita bagaimana super dupernya saya ketika mengikuti program CMS itu dan betapa ajaibnya alur kehidupan saya kemudian setelah lulus dari tugas akhir di CMS.

Jadi begini, awalnya saya tak sengaja menemukan banner Coding Mum Surabaya Batch 1, di wall facebook seorang teman. Tanpa banyak cangcimen saya langsung daftar program itu, dan berusaha membagikan informasinya ke media sosial pribadi. Dengan harapan, biar yang ikut makin banyak. Singkat kata, saya diterima menjadi peserta dan berhasil mengikuti semua jadwal belajar dan tugas akhir untuk presentasi website. Saat tugas akhir itulah saya mempresentasikan single web dari Akademi Prasetyorini, yaitu sebuah akademi khusus perempuan yang mengajarkan tentang materi yang sama dengan coding mum, ditambah dengan materi bisnis kreatif serta digital marketing. Sajian ini tak sekedar untuk menggugurkan kewajiban tugas akhir di coding mum. Akan tetapi ada misi visi pribadi dalam hari saya, agar ide ini akan terwujud suatu hari nanti. Sejak saat itu, konsep Akademi Prasetyorini, saya sebutkan kemana-mana, bahkan saya masukkan dalam materi lomba menulis di blog. Syukurlah, dengan konsep rancangan Akademi Prasetyorini itu, saya mendapatkan juara dua dengan hadiah sebuah computer PC All in One dari ASUS. Inilah keajaiban pertama yang saya dapat setelah lulus dari Coding Mum Surabaya.

Kenapa saya bilang ajaib? Karena setelah ikutan Coding Mum saya tidak hanya paham cara membuat website. Saya dapat computer canggih gratis, menjadi narasumber seminar dan radio, diterima menjadi trainer dan beberapa program terkait dunia digital atau startup. Padahal jika ditelisik saya tidak punya latar belakang pendidikan di dunia IT atau pemrograman. Saya juga tidak pernah ikut kursus website atau apapun selain belajar 3 bulan di Coding Mum Surabaya.

Dari sini saya semakin yakin untuk terus mengambil bagian dalam program pemberdayaan perempuan untuk melek teknologi. Karena saya sendiri mendapatkan hasil yang nyata-nyata positif dikarenakan telah melek teknologi. Melek internet. Bisa mengoptimalkan aneka bentuk platform digital yang tersedia di internet dalam bentuk kegiatan yang positif. Bahkan dari sini saya mendapatkan tawaran pekerjaan yang bahkan sering diluar dugaan saya.

Yang lebih ajaib lagi, saya bisa menjadi sahabat bagi kedua anak lelaki saya yang punya ketertarikan luar biasa pada dunia digital dan internet. Baik itu dunia pemrograman, media sosial dan uprekan lainnya. Saya pun, Alhamdulillah, bisa mencarikan informasi dan jalan yang harus ditempuh anak saya ketika memutuskan ingin menekuni dunia pemrograman. Jadi anak sulung saya, tanpa ragu kemudian memilih untuk melanjutkan sekolah di sekolah kejuruan bagian pemrograman atau SMK jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Semula dia ingin mengulik tentang website dan animasi. Ternyata sekarang dia lebih tertarik pada pemrograman terkait Big Data.

Well, ketika anak saya bicara tentang Big Data, Internet of Things (IOT) saya bisa mengimbanginya dengan baik dan memberikan informasi yang paling update. Bahkan saya bisa mengarahkan anak saya untuk kontak dengan salah satu ahli yang kebetulan saya kenal. Perkenalan dengan para pakar pemrograman ini saya peroleh ketika saya “nekad” untuk mengikuti aneka bentuk acara dan komunitas para programmer dan startup. Bahkan saya sering dibilang sangar karena ibu-ibu blusukan ke acaranya Google Developer Group (GDG). Padahal jelas-jelas saya tidak paham apa yang dikatakan oleh narasumber. Akan tetapi niat saya adalah mencari informasi sebanyak mungkin untuk bisa mengarahkan kedua anak lelaki saya tersebut. Alhamdulillah hasil blusukan saya mulai menampakkan hasilnya. Selain anak saya semakin terarah, saya pun semakin tersedot dengan indahnya ke dunia digital, startup dan pemrograman.

Saat ini saya menjadi Trainer Gapura Digital, yaitu salah satu projek Google untuk memfasilitasi para pebisnis UMKM agar bisa go online. Sebagai blogger pun saya sangat aktif menulis dan nyaring untuk bicara kesana kemari tentang pentingnya perempuan melek teknologi. Bersama beberapa alumni Coding Mum Surabaya, kami berembuk dan punya tekad bersama untuk kembali membuka kelas belajar bagi perempuan dan anak-anak. Ya, kami tidak hanya menyasar ibunya, tapi sekaligus juga anaknya. Karena kebetulan kami juga punya partner yang sudah mempunyai program Coding Kids untuk membuat game dan animasi sederhana. Rencana kami ini didukung dan disambut dengan baik oleh rekan-rekan di Surabaya dan sekitar Jawa Timur seperti Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Jombang dan lain sebagainya. Misi kami sederhana saja, kami ingin bisa berkontribusi untuk membuat para ibu rumah tangga khususnya agar lebih berdaya di bidang digital yang relative minim modal.

Dalam setiap kesempatan menjadi narasumber, saya menyampaikan ide ini dan alhamdulilah semakin banyak dukungan yang mengalir. Dari sini saya lihat, bahwa ide awal Bekraf untuk membuat program Coding Mum itu memang baik dan tepat sasaran. Tinggal meningkatkan kualitas kelas belajar, strategi pembelajaran yang lebih efektif dan jenis materi apa saja yang nanti diperlukan. Selain itu, perluasan sasaran juga bisa dilebarkan, tidak hanya ke ibu rumah tangga melainkan ke jenjang yang lebih muda. Misalnya pada anak lulusan SMP atau SMA yang putus sekolah atau bahkan bisa masuk ke sekolah, universitas dan komunitas sebagai mata pelajaran ekstra.

Menarik sekali membicarakan pemberdayaan perempuan melalui teknologi ini. Misi besar saya pribadi saya, sekali lagi, adalah mengembangkan Akademi Prasetyorini menjadi sebuah training center untuk belajar tenang digital creative. Lulusan dari sini diharapkan bisa mandiri dan bekerja sendiri sebagai self employee atau freelancer di ranah digital. Sehingga kelak semakin banyak para creativepreneur yang menjadi profesi alternative yang patut diperhitungkan saat ini, apalagi di masa depan.

Motivation Letter Saat Mendaftar Coding Mum Surabaya 2016

Tidak ada komentar
Sewaktu mendaftar, saya harus memasukkan satu dokumen Motivation Letter atau surat motivasi yang menunjukkan misi dan motivasi mengikuti Coding Mum Surabaya tahun 2016. Saya menemukan file ini di folder google drive saya. Jadi sebaiknya disimpan juga di sini, sebagai bahan inspirasi teman lainnya dan bahan refleksi untuk saya sendiri. Berikut saya copy paste kan persis tanpa perubahan sama sekali.
saat di kelas Coding Mum 2016 di Dilo Surabaya Jl. Ketintang

MISI DAN MOTIVASI
Mengikuti kelas CODING MUM

Saya  tertarik di bidang pendidikan, terutama pembelajaran online. 

Ketertarikan saya itu bermula ketika saya memutuskan menjadi ibu rumah tangga penuh dan mengenal internet. Dari internet saya bisa belajar banyak hal termasuk menjadi blogger dan berbisnis online. Dari sini saya melihat betapa internet bisa sangat bermanfaat jika bisa digunakan dan dikelola dengan baik. 

Minat saya tersebut semakin berkembang ketika meneruskan studi S2 di UNESA jurusan Teknologi Pendidikan (2013-2015). Saya mempelajari platform e-learning dan menjadikannya topik di setiap mata kuliah terkait dan tugas akhir. Platform berbasis Learning Management System yang saya pelajari adalah Edmodo, Schoology, Course Networking. 

Sewaktu PPL di Jombang,  saya menjadi trainer guru MTsN Wonosalam untuk penggunaan applikasi berbasis Google sebagai sumber belajar. Antara lain google drive, google form, dan blog. 

Dari sini saya melihat, betapa teknologi berbasis internet bisa sangat memudahkan kinerja belajar mengajar. Terbesit keinginan untuk bisa membuat software atau aplikasi untuk memudahkan pendidikan. Seperti laboratorium kimia virtual, permainan kartu memori untuk menghafal tabel perkalian, aplikasi untuk membuat soal online dengan mudah, dsb.

Jadi, saya bersyukur sekali dan sangat tertarik dengan diadakannya  kelas Coding Mum ini. Dan berharap bisa belajar sampai piawai membuat sebuah pemrograman. 

Kebetulan anak sulung saya juga tertarik dunia coding dan game developer. Sejak kecil dia belajar otodidak mengotak-atik komputer, internet, mengenal istilah hacker, membuat MOD di game Minecraftnya dll yang menurut saya itu berbasis kode pemrograman juga. Agar produktif dalam main game, saya arahkan dia membuat review game di You Tube channel: Maldoz Zulhaq.


Keluarga kami tertarik di dunia pendidikan. Jadi penguasaan coding akan kami arahkan ke sana. Insya Alloh ke depannya nanti kami ingin membuka kelas belajar di rumah, baik untuk anak-anak maupun dewasa. Terutama saya akan menggerakkan ibu-ibu atau perempuan supaya melek internet. 

Saya juga ingin bisa membuat aplikasi tutor online sehingga anak bisa belajar dengan mudah, murah dan dimana saja.  Saya juga akan terus mengupdate diri dan menangkap peluang apa saja yang bisa dilakukan berbasis pemrograman dan teknologi internet, yang bisa meningkatkan pendidikan dan kreatifitas sebanyak mungkin orang. 

Jika kapabilitas dan kompetensi saya sudah memenuhi, maka saya juga bersedia menjadi trainer dan terlibat untuk gerakan mengajarkan coding di sekolah seperti yang saya baca di beberapa komentar di bawah pengumuman kelas Coding Mum ini. 

Karena ketika saya pernah baca juga di luar negeri program ini sudah berjalan. Seperti di www.code.org , mereka menyebarluaskan ketrampilan coding untuk semua orang sehingga bisa memudahkan kinerja mereka dalam segala profesinya. 

Jika hal ini bisa terjadi, maka pendidikan dan perekonomian di Indonesia bisa mendapat kesempatan untuk lebih baik dan berkualitas. 

Berikut motivasi dan misi saya mengikuti kelas Coding Mum. Besar harapan saya bisa ikut sampai selesai. Dan mendapatkan solusi dan pemakluman, jika perangkat laptop (netbook) saya di rumah masih kurang mumpuni spesifikasinya untuk coding. Mungkin komputer anak saya cukup memadai untuk sementara ini.  Ke depannya akan kami siapkan perangkat sesuai kebutuhan. 

Dan spesifikasi itu akan kami ketahui setelah saya mengikuti pertemuan pertama kelas Coding Mum tanggal 27 April 2016 nanti.

Terima kasih sebesar-besarnya dan saya dukung program Coding Mum ini semoga semakin lancar dan sukses sesuai target yang dicanangkan. 

Wassalamualaikum Wr.Wb

Heni Prasetyorini
Twitter : @HeniPR

TIDAK JODOH

Sempat getaran hati pada saat itu kusampaikan kepada suami dan anak-anakku. "Di sana keren banget deh. Keren. Fasilitas bagus. Ini bagus. Aku yakin bakal bisa kerja di sana juga. Boleh kan?"

Suamiku mengangguk setuju dan antusias. Sama sekali tidak ada keraguan aku bisa berkarir di situ. Pasti aku bisa. Aku juga sangat optimis.

Tapi rupanya, keantusiasanku tidak bertahan lama. Perbedaan gaya hidup, cara hidup, cara bertingkah laku yang mencengangkan karena sama sekali berbeda. Itu mulai membuat resah.

Aku kadang berpikir sendiri, apakah aku sesempit ini?
Apakah aku yang kuper atau malah tidak punya kapabilitas sama sekali?
Aku tidak open minded person gitu, pikirane cupet mampet dan hanya mau bergaul sama yang sesuai dengan cara pikirku sendiri saja?
Lah kalau benar begitu, apa bisa maju?
Apa bisa go global?
Apa bisa toleran?
Apa bisa beradaptasi?
Dan terlebih lagi, apakah bisa mendunia?

Mana mungkin bisa mendunia, wong pikiran sempit gitu. Di dunia kan rupa dan tingkah pola orang macem-macem?

Entahlah aku berpikir keras mencari kenapa aku tidak nyaman sekali di tempat mewah itu. Sama sekali tidak ada klik di hatiku. Dan semakin hari aku semakin ingin menjauh menjauh dan hilang. Padahal peluang untuk maju dalam arti maju yang disepakati orang banyak itu sangat terbuka lebar. Ikutlah sedikit gaya hidup mereka, bicara gaya mereka, berpikir gaya mereka, maka kamu akan selamat Hen. Itu ada di benakku.

Tapi, yang melawan kata hatiku sendiri itu malah jauh lebih kuat.
Tidak. Itu bukan kamu Hen, kamu tidak cocok. Kamu bisa keblinger di situ. Atau malah keluargamu berantakan. Prinsip hidupmu tumbang. Yang ada di kepalamu hanya cuan cuan cuan.

Terus terus terus berpikir mencari tahu kenapa. Dan tidak ketemu juga apa yang menjadi titik penting ketidaksinkronan vibrasiku ini dengan mereka.

Akhirnya aku simpulkan sendiri, bahwa ini semua alasannya hanya satu yaitu TIDAK JODOH.

Mau dipaksakan segimana juga, kalau tidak jodoh ya tidak jodoh. Tidak cocok. Tidak match. Tidak satu vibrasi. Berbeda frekuensi. Jika dipaksakan bisa saling menyakiti. Maka pilihan terbaik adalah menahan diri dan menjauh pergi. Itu pilihanku.

Apakah ada rasa kecewa?
Hmm..kecewa meninggalkan sih tidak. Tapi kadang ada terbesit, mungkin aku bisa berkompromi di situ. Tapi ingat lagi masa lalu. Dan menjawab lagi, ah tidak, tidak jodoh.

Terbesit juga, ah sepertinya aku bisa di situ. Kapabilitasku sangat besar dan pantas ada di situ. Hanya kemarin stuck karena personality indiference.

Lalu kujawab lagi sendiri, ah tidak tidak itu tidak jodoh. Itu semu. Ingatlah kembali berbagai detil kecil yang membuat sesak hatimu. Membuat dada kirimu begitu nyeri dan semakin nyeri setiap hari.

Lalu rupanya, semesta selalu baik dan TUHAN SANGAT MAHA BAIK, ALLAHU AKBAR.

Allah SWT sangat baik dengan mengirimkan penggantinya yang satu frekuensi denganku. Allah SWT memperlakukan kesedihan dan keresahanku sebagai DO'A yang tak kuucapkan langsung. Kondisiku yang begitu ingin berbuat sesuatu di tempat yang tepat, diberikan jawaban di tempat yang tepat. Tidak di langit. Ada di bumi. Tapi makin ada peluang bisa menembus sampai langit.

Ah, hidup hanya sementara ini. Tak perlu memilih hal yang perlu bersolek sangat cantik jika melukai hati nurani sendiri. Biarlah dunia mereka untuk mereka. Duniaku untuk aku dan kami. Semoga tak ada lagi hal yang perlu kusesali. Dan tak juga aku mengasah semangatku dengan dendam atau membuktikan apapun kepada mereka. Tidak.

Aku hanya ingin lebih tenang, berpikir dalam dan bertindak khusyu' untuk menjalani hari-hariku selanjutnya. Di tempat yang jauh lebih sederhana namun terdapat banyak binar mata bahagia yang jujur, tulus dan berorientasi pada-NYA.



Membuat Website di Wix

Iklan wix sering banget kan muncul? Terutama di you tube. ⁣
Akibatnya saya jadi penasaran juga. Lalu mencoba membuat website dari wix. ⁣

Setelah bikin dua kali, sepertinya bagus juga kalau wixsite ini dibuat mereka yang butuh landing page untuk portfolio, CV atau bisnisnya. ⁣

Pilih yang Free saja dulu, bentuk sama bagusnya, cuma nama websitenya ya sesuai bikinan wixsite, diambil dari alamat email yang digunakan untuk register di akun wix.⁣



Hasilnya yang saya bikin tadi tuh, url websitenya: www.kelaskudigital.wixsite.com/rumahdigitalkreatif⁣

Saya coba nulis postingan baru blog, bisa juga. Tampilannya sudah responsive, menyesuaikan ukuran layar gadget kita. ⁣

Pas buka di hape, eh ada apps-nya juga. Saya coba install juga tentu saja. Lalu membuat satu postingan blog di sana. Cukup mudah menulis dan memasukkan gambar. Sama seperti saat menulis blog di platform blogger ini. Cuma tampilan nulisnya udah gede responsive juga. Enak di mata.

Sayangnya setelah blogpost dibagikan, ketika tautan di klik, diarahkan untuk mengunduh dan menginstall Wix Apps dan hanya bisa membaca postingan blog di apps itu.

Wah kok bisa otomatis buka wixsite kita di desktop hape ya?

Nah di Wix apps juga ada fitur untuk saling follow gitu. Juga ada forum chat atau ngobrol antar sesama penggunanya.

Jadi ini kayak gabungan: website bulider, nulis di blog dan media sosial di dalamnya.