Navigation Menu

TIDAK JODOH

Sempat getaran hati pada saat itu kusampaikan kepada suami dan anak-anakku. "Di sana keren banget deh. Keren. Fasilitas bagus. Ini bagus. Aku yakin bakal bisa kerja di sana juga. Boleh kan?"

Suamiku mengangguk setuju dan antusias. Sama sekali tidak ada keraguan aku bisa berkarir di situ. Pasti aku bisa. Aku juga sangat optimis.

Tapi rupanya, keantusiasanku tidak bertahan lama. Perbedaan gaya hidup, cara hidup, cara bertingkah laku yang mencengangkan karena sama sekali berbeda. Itu mulai membuat resah.

Aku kadang berpikir sendiri, apakah aku sesempit ini?
Apakah aku yang kuper atau malah tidak punya kapabilitas sama sekali?
Aku tidak open minded person gitu, pikirane cupet mampet dan hanya mau bergaul sama yang sesuai dengan cara pikirku sendiri saja?
Lah kalau benar begitu, apa bisa maju?
Apa bisa go global?
Apa bisa toleran?
Apa bisa beradaptasi?
Dan terlebih lagi, apakah bisa mendunia?

Mana mungkin bisa mendunia, wong pikiran sempit gitu. Di dunia kan rupa dan tingkah pola orang macem-macem?

Entahlah aku berpikir keras mencari kenapa aku tidak nyaman sekali di tempat mewah itu. Sama sekali tidak ada klik di hatiku. Dan semakin hari aku semakin ingin menjauh menjauh dan hilang. Padahal peluang untuk maju dalam arti maju yang disepakati orang banyak itu sangat terbuka lebar. Ikutlah sedikit gaya hidup mereka, bicara gaya mereka, berpikir gaya mereka, maka kamu akan selamat Hen. Itu ada di benakku.

Tapi, yang melawan kata hatiku sendiri itu malah jauh lebih kuat.
Tidak. Itu bukan kamu Hen, kamu tidak cocok. Kamu bisa keblinger di situ. Atau malah keluargamu berantakan. Prinsip hidupmu tumbang. Yang ada di kepalamu hanya cuan cuan cuan.

Terus terus terus berpikir mencari tahu kenapa. Dan tidak ketemu juga apa yang menjadi titik penting ketidaksinkronan vibrasiku ini dengan mereka.

Akhirnya aku simpulkan sendiri, bahwa ini semua alasannya hanya satu yaitu TIDAK JODOH.

Mau dipaksakan segimana juga, kalau tidak jodoh ya tidak jodoh. Tidak cocok. Tidak match. Tidak satu vibrasi. Berbeda frekuensi. Jika dipaksakan bisa saling menyakiti. Maka pilihan terbaik adalah menahan diri dan menjauh pergi. Itu pilihanku.

Apakah ada rasa kecewa?
Hmm..kecewa meninggalkan sih tidak. Tapi kadang ada terbesit, mungkin aku bisa berkompromi di situ. Tapi ingat lagi masa lalu. Dan menjawab lagi, ah tidak, tidak jodoh.

Terbesit juga, ah sepertinya aku bisa di situ. Kapabilitasku sangat besar dan pantas ada di situ. Hanya kemarin stuck karena personality indiference.

Lalu kujawab lagi sendiri, ah tidak tidak itu tidak jodoh. Itu semu. Ingatlah kembali berbagai detil kecil yang membuat sesak hatimu. Membuat dada kirimu begitu nyeri dan semakin nyeri setiap hari.

Lalu rupanya, semesta selalu baik dan TUHAN SANGAT MAHA BAIK, ALLAHU AKBAR.

Allah SWT sangat baik dengan mengirimkan penggantinya yang satu frekuensi denganku. Allah SWT memperlakukan kesedihan dan keresahanku sebagai DO'A yang tak kuucapkan langsung. Kondisiku yang begitu ingin berbuat sesuatu di tempat yang tepat, diberikan jawaban di tempat yang tepat. Tidak di langit. Ada di bumi. Tapi makin ada peluang bisa menembus sampai langit.

Ah, hidup hanya sementara ini. Tak perlu memilih hal yang perlu bersolek sangat cantik jika melukai hati nurani sendiri. Biarlah dunia mereka untuk mereka. Duniaku untuk aku dan kami. Semoga tak ada lagi hal yang perlu kusesali. Dan tak juga aku mengasah semangatku dengan dendam atau membuktikan apapun kepada mereka. Tidak.

Aku hanya ingin lebih tenang, berpikir dalam dan bertindak khusyu' untuk menjalani hari-hariku selanjutnya. Di tempat yang jauh lebih sederhana namun terdapat banyak binar mata bahagia yang jujur, tulus dan berorientasi pada-NYA.