Pertama Naik Kereta Api Lagi Setelah 15 Tahun Di Rumah Saja

Ini cerita beberapa tahun lalu. 2016. Jadi sekitar 4 tahun yang lalu kalau dihitung dari sekarang tahun 2020. Ini cerita ketika pertama kali saya naik kereta api lagi, setelah berhenti sejak lulus kuliah di Bandung, tahun 2001.

Perjalanan kali ini karena undangan dari BEKRAF bagi saya untuk datang ke acara Sosialisasi Coding Mum di Tulungagung.

Perlu diingat, bahwa sebelumnya saya adalah ibu rumah tangga yang hampir 100% hanya di rumah saja. Jarang sekali bepergian. Kalaupun pergi pun bersama keluarga. Dan sama sekali tidak pernah keluar rumah, apalagi ke luar kota sendirian.

Nah, undangan ini mengharuskan saya pergi sendiri. Pertama kalinya sejak menikah. Jadi 15 tahun tidak pernah pergi sendiri dan tidak pernah naik kereta api lagi sama sekali.

Bayangkan bagaimana rasanya?

pertama naik kereta api lagi setelah 15 tahun di rumah saja
sumber foto: pexels.com


Sama sekali tidak tahu bagaimana prosedur membeli tiket terbaru. Dan juga harga tiketnya. Pergi sendiri ke Stasiun Gubeng juga ribet sendiri. Bentrok dengan jadwal menjemput anak sekolah. Perginya juga kudu naik bemo alias angkot beberapa kali. Kalau naik sepeda motor sendiri, takut nyasar karena udah lama banget nggak pergi jauh dari rumah. Selain track motoran adalah ke pasar, sekolah anak atau ke ATM bank untuk mengambil jatah bulanan dari gaji suami.

Tahun 2016 itu belum ada ojek online. Dan belum ada aplikasi KAI untuk pesan tiket seperti sekarang. Semua masih serba manual. Tapi saya udah dengar bahwa naik kereta api sekarang udah jauh lebih enak daripada jaman saya sekolah dan kuliah dulu.

Suami meyakinkan akan membelikan tiket ketika istirahat kerja. Karena dia yang selama ini bisa ke sana ke mari, saya iyakan saja. Ternyata pekerjaannya banyak dan dia baru bisa ke stasiun sore hari, sementara loket tiket tutup.

Panik dan bete juga saya. Udah hanya bergantung pada doi, eh kok gagal gini. Mendingan saya nekad naik bemo pagi-pagi, pasti loket masih buka dan saya bisa pulang ke rumah sebelum jadwal menjemput anak sekolah.

Tapi ya sudah, nasi sudah jadi bubur. Saya berbekal browsing di google dan tanya ke teman-teman di grup whatsapp blogger yang terbiasa travelling. Katanya bisa beli tiket Go Show alias saat itu juga. Dan usahakan sebelum jadwal kereta berangkat.

Undangan saya jam 10 pagi dimulai di Tulungagung. Dan hasil browsing menunjukkan kereta api ke Tulungagung berangkatnya shubuh, sekitar jam 5 pagi. Maka untuk dapat tiket Go Show, saya harus ke Stasiun jam  4 pagi. Dan sholat Shubuh dulu di stasiun.

Suami menghitung perjalanan dan kemungkinan telat karena harus prepare Shubuhan di stasiun, maka diputuskan kami berangkat dari rumah jam 3 pagi. Byuh kayak mau sahur.


Dan bener, kami berangkat jam 3 pagi, kami sampai stasiun sekitar jam 4 kurang sedikit dan loket belum buka :). Jarak rumah saya ke stasiun lumayan jauh, karena lokasi di Surabaya Barat. Dan stasiun ini di Surabaya Utara mungkin ya, atau Timur. Entahlah saya ga terlalu ngeh arah.

Singkat cerita urusan beli tiket beres. Saya berbekal roti dan minuman untuk sarapan di jalan. Wajah suami rada panik gimana gitu tapi dipendam aja. Kebayang juga gak pernah ngelepas istrinya pergi sendirian sejak dia nikahi.

Saya juga antara deg-degan, juga seneng bisa pergi sendirian setelah belasan tahun digandolin dua anak lelaki saya itu kan. Ditambah kagum dengan perubahan stasiun dan kereta api.

Stasiun bersih banget. Ada tempat wudhu dan sholat. Walau toilet ada di tempat lain di bagian dalam dekat rel kereta. Kalau di Stasiun Gubeng ada musholla dan kamar mandi di luar stasiun, cuma rada kotor sih.

Proses beli tiket juga pakai kertas kecil dan scanning. Lalu sedia KTP juga gitu. Ada sistim boarding macam mau naik pesawat terbang. Pengantar tidak boleh masuk kecuali bawa tiket. Jadinya masuk depan gerbong dan rel kereta itu sepi tidak uyel-uyelan. Wah hebat nih. Ingatan memori jaman antri beli tiket di stasiun dengan kondisi tak karuan pun muncul.

Pas masuk kereta api juga kaget, wah ini kereta ekonomi tapi ada AC-nya dong. Adem. Bersih. Nyaman. Ada charger listrik pula. Kaget banget. Katrok aku....

Perjalanan ke Tulungagung sekitar 4 jam. Dalam perjalanan juga nyaman banget. Tidak ada satu pun penjual yang masuk ke gerbong. Tidak ada juga orang yang berdiri atau duduk di lorong gerbong. Di dalam kereta bersih dan segar.

Beberapa kali turun di Stasiun pun, saya terpana-pana dengan adanya tampilan Stasiun kecil-kecil yang bagus-bagus, toiletnya juga bagus-bagus.

Sampai di Stasiun Tulungagung, saya tahu dari google dan teman kalau menuju Hotel Kristal tinggal naik becak saja. Dan itu benar. Tidak sampai 15 menit naik becak, saya sudah sampai di lokasi.

Nah di sini, ada kejadian lucu.
Saya yang masih kagak pede dan kagetan kalau diundang ginian, kagak berani tanya terlalu banyak ke panitia Bekraf. Jadi saya tidak tahu disuruh ngapain di sana.

Saya pikir hanya duduk menemani para ibu-ibu untuk belajar coding, seperti kelas Coding Mum Surabaya yang saya ikuti. Jika ada pihak Bekraf datang, mereka cuma duduk saja mengamati kami.

Ternyata, saya di sana hadir dan diundang sebagai narasumber alias pembicara.
Waduh grogi. Tahunya pas mau tanda tangan absensi di hotel itu.


Jadi, ketika sampai hotel, saya kagum ternyata hotelnya mewah bagus gitu. Pas saya tanya ada kegiatan Coding Mum Bekraf?. Ditanya balik oleh resepsionis hotel, "oh acaranya Venna Melinda bu?".

Saya jawab bukan, tapi Coding Mum. Dan mereka menunjukkan saja ke lantai 3 atau 6 saya lupa. Di depan pintu lift bertemu sekelompok ibu-ibu menanyakan hal yang sama pada saya. "Mau ke acara Venna Melinda ya?". Saya diam saja, mengikuti mereka.

Di benak ini heran juga. Apakah ada acara kampanye? karena saya tahu Venna itu kan sekarang ikutan di parpol.

Ndilalah beneran. Jadi Sosialisasi Coding Mum di Tulungagung ini termasuk acara yang digagas oleh Venna Melinda. Jadi saya dapat tuh merchandise, mug bergambar beliau dan sempat berfoto juga.

Saya berangkat itu, dengan pakai sepatu kets biru tua bulukan yang udah saya gambar warna-warni garis-garis dengan cat aga. Pakai celana jins biru tua. Hem putih bahan kain rayon bali yang adem. Dan blazer hitam dengan jilbab berwarna ungu motif. Gak matching pokoknya dah. Eh hem putih saya ganti  dengan baju kemeja merah yang saya bawa. Saya ganti baju ini di stasiun Tulungagung deh kalau ga salah.

Waktu maju ke meja pendaftaran, ketika saya sebutkan nama dan asal, panitia langsung panik bahwa pembicara sudah datang. Lalu berlari mencari anak Bekraf.

Batin saya, "haa? aku jadi pembicara? gila nih, saltum sepatuku gak pokro ngene rek. Alias nggak bener gini euy. Kagak resmi."

Di toilet hotel, ketemu dengan alumni Coding Mum dari Malang. Mbak Christinna kalau ga salah namanya. Dan dia berganti baju resmi banget. Byuhh, grogi saya makin kerasa salah kostum. Masuk ke ruangan hotel, melihat pak Boy (almarhum) - Deputi Bekraf memakai baju batik.

Haduh ampun dije. Udah kadung ngerasa saltum gimana dong?

Ya udah, bergaya sok nyentrik dan tomboy aja. Padahal ga pede aslinya, apalagi ibu-ibu Tulungagung pada heran gitu ngelihatnya.

Saya pun diminta duduk dekat tim Bekraf di salah satu meja bundar besar.

Mas Ardan, kalau ga salah, anak Bekraf, berbisik ke saya kalau meminta flashdisk file presentasi yang akan saya tampilkan nanti biar dimasukkan ke laptop panitia.

Kaget lagi sayaa. Kagak bilang harus pakai slide. Saya nggak bikin gitu. Wong di rumah dah bingung sendiri tentang beli tiket dan gimana ngatur rumah kalau saya tinggalkan.

Saya memandang mbak Christina, dan dia pun tidak membuat slide.

Ya sudahlah pasrah. Saya bersiap saja nanti bicara berdasar pengalaman pribadi. Opo jare.
Nanti menampilkan blog pribadi saja, menunjukkan beberapa artikel tentang Coding Mum yang saya tulis satu per satu dengan tekun, setiap hari selama ikut kelas Coding Mum Surabaya. Dan juga cerita saya bingung ketika anak suka main game. Disambungin ke situ lah.

Jadwal maju saya setelah sesi Pak Boy dari Bekraf, Venna Melinda yang punya gawe dan pak Zaenal Arifin sang koordinator Coding Mum Surabaya.



Sebelum ini juga diselingi shooting SBO TV atau TV lokal antara saya, Venna Melinda dan alm. Pak Boy dari Bekraf. *aduh saya masuk TV lagi nih, gitu batin saya GR :)

Akhirnya terjadilah dan tibalah waktunya saya maju.
Bicara di depan 200 audience tanpa persiapan, pertama kalinya. Dan eh ternyata lancar-lancar saja. Ibu-ibu menyimak. Dan beberapa menghampiri setelah saya selesai bicara. Ada yang kenalan. Ada yang curhat. Senang.

ketika bicara di depan 200 ibu-ibu di Tulungagung



Selesai acara, niatnya  saya langsung kembali ke stasiun. Sambil sholat dhuhur - jama' dengan ashar, saya berbincang sebentar dengan ibu - istri ketua DPRD Tulungagung. Beliau awalnya menawarkan untuk jalan-jalan sebentar ke mall Tulungagung.

Tapi saya tolak karena takut telat kereta api. Oh ya tiket pulang langsung saya beli dari Stasiun Gubeng shubuh tadi. Jadi sudah tahu jadwalnya. Sekitar jam 3 sore lebih. Waktu tunggu masih lama, tapi tak apa daripada telat. Nanti bengong dong sendirian di Tulungagung? bisa panik luar biasa anak dan suami di rumah. Udah saya nggak mau ambil resiko.

Ketika di stasiun, saya terkagum-kagum dengan penampilan Tulungagung. Kota dan orangnya keren kekinian semua. Baju-baju juga ala orang Jakarta dan model kekinian yang banyak eksis di instagram.

Gabut menunggu lama dan kelaparan, saya pun pergi keluar stasiun sebentar lalu membeli nasi bebek goreng yang dibungkus. Nanti akan saya makan di kereta api jika udah nggak tahan lapar.

Lalu saya beli juga beberapa potong Roti O sebagai oleh-oleh ke anak. Kebayang itu bau sedep rotinya mulai dari stasiun sampai di dalam gerbong.

Jadwal naik kereta pun datang. Saya duduk dekat pintu gerbong. Dan kalau malam itu ternyata kereta api padat sekali. Banyak sekali yang naik. Juga kereta lajunya lebih lama karena beberapa kali berhenti di stasiun, menunggu lama seperti menunggu giliran gitu. Sumpek, capek, laper, ngantuk, takut juga malam-malam. Tumpuk jadi satu.

Perut lapar tapi sungkan mau makan. Tapi akhirnya nggak tahan juga. Saya makan nasi bebek goreng yang udah dibeli tadi. Ternyata bebek gorengnya kurang mateng tanek gitu masaknya. Jadi alot dan susah digigit. Udahlah makan sungkan, ini susah pula nggigit bebeknya hahah. Udah cuek aja dah terlatih menjadi anak kos bertahun-tahun. Makan asal kunyah telan kenyang.

Nggak sempat juga cuci tangan ke toilet. Karena printilan bawaan banyak, mulai tas ransel penuh, ada laptop netbook mini juga, roti O dan tas totebag merchandise.

Sampailah juga di Stasiun Gubeng sekitar jam 10-11 malam. Dan suami saya udah standby menunggu di pintu keluar stasiun dengan seringai lebar dalam balutan sweater coklatnya.

Ih, rasanya kayak jaman masih pedekate pas masih kuliah dulu deh.

Di mobil saya bercerita panjang lebar. Termasuk kaget juga ternyata dapat amplop berisi uang 6 digit sebagai pembicara.

Nah perjalanan saya sebagai narasumber seminar atau pembicara, dimulai hari itu ternyata.