More About Me


"Karepmu opo?"
Artinya, "Maksudmu apa?". Sebuah pertanyaan yang menyiratkan keheranan ketika saya memakai jas hujan, lalu bersiap mengendarai motor menembus hujan deras, untuk berangkat les bahasa Jepang.

Pertanyaan itu saya jawab dengan tatapan mata.

"Entahlah, pokoknya saya harus berangkat. Titip anakku sebentar ya pak....."

-----
"Halah mbak. Kalau aku jadi mbak ya milih enaknya saja. Gaji suami udah cukup. Duduk manis aja, ngurus anak, ngurus suami. Jadi ibu rumah tangga. Ngapain repot-repot."

Saya menjawab komentar ini dengan helaan nafas. Panjang dan berat. Kemudian melanjutkan langkah ke gedung kelas Pasca Sarjana.

-----

"Kenapa dia selalu dibantu? Saya pernah dalam posisi seperti dia. Lebih buruk malah. Tapi saya tak banyak bicara. Saya mengatasi persoalan itu sendiri, dengan berkarya. Dan itu bisa. Bisa."

Protes saya dijawab dengan kalimat, "itu kan kamu. Kamu pintar, dia nggak."

Hampir seumur hidup saya mendapatkan respon seperti ini. Dulu saya marah mendengarnya. Sekarang saya anggap itu sebagai DO'A.

---

"Stop. Aku tidak seperti kamu mbak. Aku beda."

"Seperti aku? Emang aku kenapa?"

"Mbak Heni hebat. Bisa melakukan semuanya. Bisa belajar hal baru. Bisa bicara di depan ratusan orang. Mau susah payah ini itu padahal ngurus anak, jadi ibu rumah tangga. Aku tidak bisa. Jangan suruh aku berusaha sekeras mbak, aku bukan mbak Heni."

Penjelasan singkat itu membuat denyut nadi saya bergerak perlahan.

Kawan. Nanti juga lo paham.

----
"Aku kecewa sama kamu Rin. Katanya kamu ibu rumah tangga."

"Loh, iya aku ibu rumah tangga. Aku bukan pekerja resmi kantoran kalau itu yang kamu maksud."

"Aku kecewa Rin. Aku bangga sekali sama kamu. Salut. Kamu meninggalkan karirmu yang kau impikan di LIPI dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Semua orang aku ceritakan tentang ini."

"Itu benar. Kecewamu karena apa? Tidak ada yang berubah dari aku. Tetep aku ibu rumah tangga."

"Tidak. Kamu tidak lantang menantang lagi seperti dulu."

Urat syaraf saya mengendur.

"Oh itu. Karena dulu aku tidak tahu, cerita di balik pintu perempuan. Aku baru tahu untuk beberapa perempuan, dia tidak bisa memilih menjadi ibu rumah tangga. Dia harus keluar rumah. Bekerja. Menghidupi keluarganya."

"Tidak Rin. Aku masih kecewa sama kamu."

Ah kawan. Sekali lagi. Nanti juga lo paham.

Comments

back to top