5 Barang Wajib Ada Di Tas


Hiya, tas kuning mencrang selalu mencuri perhatian. Apalagi jika tabrak warna sama outfit yang saya pakai. Ini nyentrik karena tas-nya ya itu-itu aja. Saya juga heran kenapa dulu milih warna tas yang kuning, bukan hitam?
Entahlah hahaha.

Yang penting sesuai instruksi Blogger Perempuan challenge, saat ini membahas 5 barang yang wajib ada di tas ala saya.

1. Handphone dan Chargernya, diusahakan juga ada kuota data. Jaga-jaga jika jauh dari wifi.

2. Dompet dan segala isinya. Mulai duit, SIM, KTP sampai Kartu Nama.

3. Notebook kecil dan pulpennya. Buat mencatat cepat hasil olah pikir, biasanya berupa Mind Map. Dan timeline rencana program ke depan.

4. Tisue kering atau basah. Makin gede anakku, makin lupa bawa ini.

5. Air minum dalam botol. Bisa rada kuat nahan lapar, kalau haus wah wassalam. Beli air juga kadang rasanya aneh atau mahalnya nggak ketulungan. Mending bekal sendiri deh.

Dengan 5 barang ini, di manapun saya berada, bisa merasa aman.

Tempat Jual Makan Enak di Surabaya Barat


Teman saya mesti bete kalau nanya, "makan enak di Surabaya di mana ya?"

Soalnya saya mesti bingung menjawab. Padahal saya asli Surabaya dan sekarang tinggal di Surabaya. Merantau cuma 4 tahun di Bandung untuk kuliah.

Lah gimana bisa menjawab, saya bukan petualang kuliner. Jaman saya kecil, ibu rajin masak sendiri di rumah. Mau itu gado-gado kek, bakso, jajan apa aja deh wajib makan di rumah. Secara kita masuk umat Crazy Poor Surabayan. Kagak sanggup jajan di luar. Gitu lah :)

Nah setali tiga uang. Pas menikah dapat suami yang ga terlalu suka makan di luar rumah. Eh dua anak lelaki kami pun niru bapaknya. Jadi deh, mending milih bungkus makanan trus diserbu bareng di rumah, daripada kudu kemana-mana cuma sekadar untuk makan. Ada food delivery macam go-food melengkapi deh model keluarga kura-kura ini. Demennya di dalam rumah mulu hehehe.

Ya sudah karena topik blog challenge dari Blogger Perempuan kali ini tentang restoran yang saya artikan tempat jual makanan. Maka saya tulis saja 5 tempat jualan makanan favorit kami sekeluarga di Surabaya Barat, daerah sekitar rumah kami.

1. Depot Sate Sriwijaya
Lokasinya di depan pasar bawah Manukan. Jualan sate, gule, krengsengan daging dan rawon. Rasanya juara. Bumbune sedep, legit. Langganannya banyak banget. Pedagang lama. Rasa pun ga berubah. Sedap pokoknya.

2. Bakso Pak Min Solo
Lokasi di jalan Manukan. Bakso yang paling sedep kuahnya dan baksonya rada pedes karena banyak merica.

3. Depot Devie
Ini jualan gudeg Jogja dan rasnaya muantep. Anak saya suka beli bebek goreng di sini. Sedia banyak rupa makanan rumahan. Dan enak rasanya.

4. Terang Bulan Maknyuss
Lokasi dekat puskesmas Manukan. Buka sore mulai jam 4. Terang bulannya enak, banyak banget butternya. Anak saya kurang suka lelehan butter ini. Tapi saya suka hahaha. Martabak juga rnak. Antri terus yang beli.

5. Nasi pecel Karitas.
Lokasi jualan dekat sekolahan kristen Karitas di jalan Jelidro. Legendaris banget nih pecel. Bumbunya nomer satu rasanya. Konsisten pula. Penolong jika saya males masak dan mencari sarapan pagi. Cuma sebentar  bukanya. Khusus buat sarapan aja.

Berikut tempat enak beli makan di Surabaya Barat. Kalau dekat sini, bisa saya anterin deh hehehe.

More About Me


"Karepmu opo?"
Artinya, "Maksudmu apa?". Sebuah pertanyaan yang menyiratkan keheranan ketika saya memakai jas hujan, lalu bersiap mengendarai motor menembus hujan deras, untuk berangkat les bahasa Jepang.

Pertanyaan itu saya jawab dengan tatapan mata.

"Entahlah, pokoknya saya harus berangkat. Titip anakku sebentar ya pak....."

-----
"Halah mbak. Kalau aku jadi mbak ya milih enaknya saja. Gaji suami udah cukup. Duduk manis aja, ngurus anak, ngurus suami. Jadi ibu rumah tangga. Ngapain repot-repot."

Saya menjawab komentar ini dengan helaan nafas. Panjang dan berat. Kemudian melanjutkan langkah ke gedung kelas Pasca Sarjana.

-----

"Kenapa dia selalu dibantu? Saya pernah dalam posisi seperti dia. Lebih buruk malah. Tapi saya tak banyak bicara. Saya mengatasi persoalan itu sendiri, dengan berkarya. Dan itu bisa. Bisa."

Protes saya dijawab dengan kalimat, "itu kan kamu. Kamu pintar, dia nggak."

Hampir seumur hidup saya mendapatkan respon seperti ini. Dulu saya marah mendengarnya. Sekarang saya anggap itu sebagai DO'A.

---

"Stop. Aku tidak seperti kamu mbak. Aku beda."

"Seperti aku? Emang aku kenapa?"

"Mbak Heni hebat. Bisa melakukan semuanya. Bisa belajar hal baru. Bisa bicara di depan ratusan orang. Mau susah payah ini itu padahal ngurus anak, jadi ibu rumah tangga. Aku tidak bisa. Jangan suruh aku berusaha sekeras mbak, aku bukan mbak Heni."

Penjelasan singkat itu membuat denyut nadi saya bergerak perlahan.

Kawan. Nanti juga lo paham.

----
"Aku kecewa sama kamu Rin. Katanya kamu ibu rumah tangga."

"Loh, iya aku ibu rumah tangga. Aku bukan pekerja resmi kantoran kalau itu yang kamu maksud."

"Aku kecewa Rin. Aku bangga sekali sama kamu. Salut. Kamu meninggalkan karirmu yang kau impikan di LIPI dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Semua orang aku ceritakan tentang ini."

"Itu benar. Kecewamu karena apa? Tidak ada yang berubah dari aku. Tetep aku ibu rumah tangga."

"Tidak. Kamu tidak lantang menantang lagi seperti dulu."

Urat syaraf saya mengendur.

"Oh itu. Karena dulu aku tidak tahu, cerita di balik pintu perempuan. Aku baru tahu untuk beberapa perempuan, dia tidak bisa memilih menjadi ibu rumah tangga. Dia harus keluar rumah. Bekerja. Menghidupi keluarganya."

"Tidak Rin. Aku masih kecewa sama kamu."

Ah kawan. Sekali lagi. Nanti juga lo paham.

Geliat Media Sosial


Media sosial bak tongkat ajaib Nirmala, tokoh salah satu cerita anak di majalah Bobo yang berjudul Oki & Nirmala.

Media sosial, "medsos" saja kita menyingkatnya, seperti tongkat ajaib yang menyulap hal biasa menjadi luar biasa, seperti fenomena hadirnya Selebgram dadakan akhir-akhir ini.

Kamu kaget ketika menyanyikan lagu Abdullah saja, esoknya bisa masuk televisi. Ajaib. Satu video beredar viral di instagram, satu Indonesia mendadak kenal.

Kuatnya efek medsos ini jika dikelola dengan baik, bisa memberikan manfaat sekaligus dampak yang besar. Dengan konten menarik, strategi posting yang tepat, maka setiap tujuan bisa tercapai dengan lebih cepat, lebih mudah sekaligus meraih orang lebih banyak.

Terlihat pada kampanye kebaikan yang sekarang bisa mulai tampak hasilnya. Contoh kampanye pentingnya ASI untuk bayi. Dengan satu akun instagram, seseorang atau lembaga kesehatan resmi bisa mengajak setiap ibu untuk berusaha sekeras mungkin memberikan ASI untuk bayinya sampai usia tertentu. Dan hasilnya, bahkan sekarang ada larangan bagi pekerja bidang medis untuk mempromosikan susu formula. Sedahsyat itu efeknya.

Saya mengalami ketika menyusui anak sendiri, dianggap lebih receh daripada mereka yang menyusui anaknya dengan susu formula.

"Nggak punya uang mbak, ya disusuin sendiri aja, wong Heni ini nggak kerja kok. Cuma jadi ibu rumah tangga."

Tak perlu dibayangkan ini kalimat dari siapa. Tapi pada saat itu, saya tidak bisa membela diri. Menerangkan ASI itu bergizi buat bayi dan bla bla bla, susah.

Seandainya dulu ada media sosial, bisa tuh pembelaan diri saya berwujud dalam satu status facebook dengan kalimat yang lebih dari 500 kata. Dijamin rame komentarnya dan bisa saja status itu jadi viral, lalu saya masuk tivi :).

Nah, mudahnya satu status facebook untuk viral juga bisa berubah jadi bumerang.
Iya kalau statusnya benar, kalau salah?
Iya kalau berdasarkan fakta, kalau hoax?

Edukasi penggunaan media sosial yang sehat menjadi satu isu lagi yang diusung berbagai pihak yang menggiatkan literasi digital.

Berinternet memang harus hati-hati. Karena produk inovasi teknologi informasi ini punya dua sisi mata uang koin. Ada sisi baik, ada juga buruknya.

Bisa banjir rejeki dengan mudah.
Bisa juga kena UU ITE dan masuk penjara.

Menurut pengalaman saya, pengguna medsos ini punya 3 tahap dalam hidupnya.

1. Tahap bulan madu.
     Di tahap ini orang seneng banget ketemu medsos. Kontak dengan teman satu kos yang terpisah 20 tahun lamanya. Mencengangkan.
Bisa terhubung dengan pakar sesuatu, berskala Internasional pula, komentar kita dijawab pula, mengharukan.

Di tahap ini orang belum banyak tahu cara menggunakan medsos yang tepat. Semua dibagikan di medsos. Mau makan update status. Per detik. Per kegiatan.
Semua hal diceritakan, tentang keluarga, diri sendiri dsb. Tanpa sensor. Karena belum paham bahwa tulisannya dibaca banyak orang. Dan semua orang bebas membagikan ulang, meng-copy paste, dan juga bebas berkomentar.

...
Artikel bersambung....


Bergabung Blogger Perempuan


Di ilmu kimia dasar, ada konsep  Polar-Polar, Non Polar-Non Polar. Sifat yang sama akan mudah melebur, terlarut, menyatu, sederhananya begitu. Larutan non polar tidak akan bisa menyatu dengan larutan polar walaupun digabung dalam satu wadah dan dikocok sehari semalam. Mungkin tampak menyatu, tapi lama kelamaan bulir-bulir kecil non polar akan memisahkan diri dari yang polar. Lalu bulir kecil itu akan membesar karena menyatu pada senyawa yang bersifat sama.

Bingung ga sih bacanya gaes? :)

Senada dengan karakter manusia, dalam hal ini perempuan. Walau satu gender, tidak akan ada satu pun sangkalan jika satu perempuan tidak sama dengan perempuan lainnya. Begitu juga satu komunitas perempuan tidak sama dengan komunitas khusus perempuan lainnya.

Itulah yang saya rasakan ketika bergabung dengan Blogger Perempuan.

Dalam berjalannya waktu, terasa bahwa saya punya kepolaran yang sama dengan komunitas blogger khusus perempuan ini.
Cocok.

Selain cocok, saya mengapresiasi kerapian sistematik Blogger Perempuan (BP Network) dalam menjalankan komunitasnya secara online maupun offline.

BP Network ini sudah siap dari segi manajerial dan juga teknologinya. Untuk menata Lomba Menulis Blog, Membership, Blogging Generator atau Aggregator, juga Blogging challenge-nya, ada laman atau teknik pengarsipan yang rapi. Ini canggih menurut saya.

BP Network juga memberikan inspirasi bahwa sekelompok perempuan bisa juga berkolaborasi, tidak hanya sibuk berkompetisi atau melakukan "mom war" tiada henti.

Hal ini juga yang membuat saya optimis mampu mengemban amanah sebagai Presiden Komunitas Coding Mum Indonesia. Bergandeng tangan bersama untuk saling memberdayakan, menguatkan dan berpegangan tangan bersama sesama perempuan.

Kalau kalian, kenapa bergabung di Blogger Perempuan Network?

Domain Blog Nama Asli


Saya paham saja kalau Memilih DOMAIN itu topik yang ruwet sekali untuk blogger pemula. Karena saya pun mengalaminya. Memutuskan akan membeli domain .com atau .id atau web.id ataupun .net, itu juga mikir ... mikirin duitnya :)

Paling murah emang domain web.id, bayarnya hanya sekitar 50ribuan per tahun. Kalau lagi promo malah cuma 20-30ribuan setahun. Tapi domain ini gak familiar.

Yang paling disukai adalah domain .com. Orang awam malah akan mengira semua alamat situs pasti berakhiran .com.

Baiklah keputusan diambil, yaitu domain .com. Lalu nama apa yang akan saya daftarkan ke domain itu?

Widih ini mikirnya hampir sebulan lebih. Bikin rencana nama kayak mau milih nama bayi yang ada di perut dan bulan depan mau lahir. Inteeens banget mikirnya.

Nama yang muncul:
1. Orin (itu nama panggilan saya di Asrama Putri ITB),
2. Madoji, kepanjangan dari Mamanya Aldo dan Aji, kedua anak lelaki saya.
3. Heni PR, biar sama dengan twitter
4. Heni Pras
5. Ini Heni
6. Hand Heni
7. Mbak Heni
8. Halo Heni
9. Bu Heni

Daaan seterusnya.
Sampai akhirnyaaa nemu postingan fesbuknya mbak Shintaries, foundernya Blogger Perempuan tuh yang menyarankan memakai nama asli saja dan sama untuk semua media sosial.

Saat itu sempat amazing dengan nama dari content writer yang punya situs beradadisini.com. Nah itu dia nama aslinya jelas bukan Berada Di Sini. Tapi semua media sosialnya pake akun yang sama @beradadisini.

Saya tanyakan ini ke mbak Shintaries, senada dengan nama domain teman seperti Omah Antik, Kotak Warna, Rumah Inspirasi, yang mudah diingat daripada nama asli saya yang nJawani dan mbulet.

Coba silahkan baca cepat, Heni Prasetyorini.
Mbulet kan?

Tapi jawaban mbak Shinta begini, "boleh aja sih mbak. Pakai nama seperti itu. Tapi nanti kalau membranding diri sendiri, orang jadi nggak diingat nama kita sendiri."

Saya yang Nol Puthul tentang blogger profesional, ya wis manut saja. Lalu memutuskan membeli nama asli lengkap di domain. Yaitu heniprasetyorini.com.

Nah, masalah kedua muncul. Domain ini dicantolkan ke blog lama atau bikin baru? Tanpa ngeh ilmunya, saya putuskan untuk me-REDIRECT heniprasetyorini.blogspot.com ke heniprasetyorini.com.
Dan hasilnya adalah.....semua perhitungan traffic Kembali ke TITIK NOL.

Nangis boookkk.....

Harusnya saya bikin blog baru saja. Jadi blog lama ini tetap blogspot.
Ya sudahlah saya berusaha nggenjotntraffic dengan segala cara termasuk rajin Fetching di Google Webmaster. Yo wis pokoke ngono iku lah rek.

Berjalannya waktu, saya baru mengenal ada SUB DOMAIN, dan ini gratis bisa nebeng Domain lama.

Jadi mikir-mikir cara IRIT punya domain.
Wah misal aku beli domain prasetyorini.com bisa dibikin subdomain berikut:
1. heni.prasetyorini.com
2. akademi.prasetyorini.com
3. galeri.prasetyorini.com
4. etalase.prasetyorini.com
Dan seterusnya.
Jadi ibaratnya saya bisa punya 5 blog TLD dengan hanya bayar satu domain aja, 150ribuan per tahun. Irit to?

Atas pertimbangan ini, domain pertama saya bumihanguskan. Setahun aja lalu saya lapor ke provider domain untuk memutus langganan.

Nah, pilihan ini lumayan berhasil. Nama media sosial saya juga semuanya nyantol ke Heni Prasetyorini. Kecuali di twitter karena karakter huruf tidak cukup.

FB/IG/LINE/Telegram/Linkedin/Kompasiana/Medium: @heniprasetyorini
Kalau Twitter hanya @HeniPR.

Begitulah lika-liku memilih domain ala emak ngirit hahaha. Kalau kamu gimana?


---
Ini ngeblog dari hape. Di kamar anakku yang udah tidur dan ga demam lagi. Sekian.

Tema Blog Yang Saya Sukai


Bicara perempuan yang melek teknologi, itu topik yang saya genggam begitu erat untuk mengisi blog www.prasetyorini.com ini.

Niche blog ini saya rasa pas untuk terus digaungkan, terutama setelah selesai ikut program CODING MUM di Surabaya, tahun 2016.

Memberdayakan perempuan di ranah teknologi, kedengarannya sangat seksi. Maka sejak saat itu, topik seputar ini mengisi blog, status media sosial bahkan nafas saya sehari-hari. Huwih segitunya....

Untuk mendukung misi saya di dunia blogging ini, maka saya perlu asupan nutrisi berupa blog-blog, video You Tube dan juga podcast yang masih terkait dengan konsep edukasi, pemberdayaan perempuan, self improvement, mindset strategy bahkan sampai ke digital marketing.

Khusus untuk perempuan, saya suka berburu informasi tentang perempuan berprestasi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Oprah Winfrey adalah tokoh perempuan penting yang banyak memberikan insight bagus untuk saya pribadi. Jaman anak kunyil masih bayi, acara Oprah Show di televisi sangat saya nanti-nanti.

Untungnya walau acara itu sudah tak ada lagi di televisi, saya masih bisa mengaksesnya melalui You Tube, instagram dan websitenya.

Untuk tema edukasi, akun di twitter yang saya incar. Dengan hestek #digitallearning, saya sudah dapat banyak sumber informasi sekaligus sumber belajar.
Contohnya Shake Up Learning yang banyak membahas fitur Google Apps for Education (GAFE).

Tema teknologi, bisa ke lamannya Technopreneur atau IdTech Asia. Perkembangan yang mereka sampaikan sering membuat saya berdecak kagum. Woooww..woooww...suangaar mboiiss. Begitulah.

Untuk refreshing saya suka blog yang cara nulisnya lucu-lucu cerdas. Saya lupa nama blognya, biasanya saya klik karena link artikelnya udah beredar. Entah itu membahas film, drama Korea dan sebagainya. Just for fun.
Someday pengen deh nulis lucu kayak gitu.

Tema traveling bagi saya bikin harap-harap cemas. Karena makin ngiler sama postingannya bikin saya makin sedih. Sedih mikirin kapaaan bisa travelling kayak gini? Hahahaha.
Semoga aja bisa suatu hari. Karena untuk saat ini fokus keluarga benar-benar untuk pendidikan anak dan pendampingan orang tua/mertua. Hari indah itu akan tibaaaa ....

Terakhir tema parenting. Waduh ini ngeri-ngeri sedap. Apalagi anak udah remaja semua. Saya ini seringnya bilang ke teman-teman, waduh, jangan minta saya jadi narsum seminar atau talkshow tema parenting. Karena ga kompeten. Parentingku gaya koboy. Wis akeh salahe talah. Kuncinya cuma anakku kudu klik denganku dan menerimaku apa adanya sebagai manusia biasa.

Sebagai perempuan normal, mantengin konten kecantikan dan masakan juga jadi sasaran. Tapi masih sebagai hiburan. Karena nggak bisa prakteknya hahahaha.

Kalau kalian suka tema blog apa?


.....
Postingan ini ditulis sambil antri obat di stand Farmasi RS. Mitra Keluarga Darmo. Nungguin obatnya anak saya dan saya sendiri.

Rabu .21 November 2018

Awalnya Menulis Blog Untuk Hobi


Jika tidak ditemukan platform BLOG di dunia ini, mungkin di rumah saya bakal penuh kertas hasil tulisan saya.  Ya, menulis adalah hobi saya sejak kecil. Bahkan sampai jaman janin deh, begitu kelakar saya jika ada yang bertanya suka menulis sejak kapan.

Sejak menulis Diary yang digembok jaman SD, saya sudah jatuh hati dengan buku dan proses penulisan menjadi buku itu. Malah ketika masuk SMA, udah niat banget masuk jurusan Bahasa. Setiap hari membaca novel, cerpen, karya sastra lalu mempelajari seluk beluknya adalah impian saya waktu itu. Tapi keinginan saya dicegah keluarga.

Jangan masuk kelas Bahasa, masuk saja kelas IPA.

Patah hati?
Iyalah.
Tapi ternyata biarpun masuk IPA lanjut kuliah di Kimia, jari jemari saya tidak bisa berhenti menulis.

Ada aja puisi, cerpen atau curhatan yang nempel di berkas modul, lembar praktikum, teksbook sampai asisten dosen mengira saya menyontek. Lalu tersipu malu sendiri membaca tulisan saya berupa puisi cinta,hahaha.

Tahun 2009, barulah saya mengenal blog. Dan memilih ini sebagai tempat menulis yang keren. Sebelumnya saya menulis banyak di Facebook Note. Namun saya memilih blog karena lebih enak diaksesnya. Juga lebih banyak fitur yang ada. Jadi tulisn saya bisa warna-warni, tebal tipis, juga bisa memasukkan gambar, video dan sebagainya.

Yang paling demen lagi dari blog adalah bisa diganti templatenya sesuka hati saya.

Apa saja yang ditulis di blog?
Awalnya semua murni curhatan. Tentang bayi saya yang lahir prematur adalah judul pertama postingan blog. Kemudian menuliskan jejak parenting kedua anak saya. Juga menulis perjalanan saya mencari "pekerjaan" yang bisa saya kerjakan dari rumah saja.

Menjadi pebisnis online shop, saya catat. Kegagalannya saya catat di blog. Kesuksesan juga.

Selain untuk mendokumentasikan jejak hidup saya sendiri. Saya pikir mungkin ada seseorang yang membutuhkan informasi itu.

Jadi jika awalnya ngeblog hanyalah hobi. Sekarang ngeblog bisa jadi ladang amal hidup. Berbagi informasi, motivasi dan hal baik.

Dengan berjalannya waktu, ternyata ngeblog bisa jadi peluang kerja baru bagi saya. Yang menggembirakan adalah sebagian besar pekerjaannya bisa dikerjakan dari rumah saja.

Ah, banyak sekali akhirnya blog membuat saya mendapatkan hal baru. Teman-teman bisa berselancar di postingan lama saya ya.

Kalau anda ngeblog untuk apa saja?

Instagram Untukku

Sejak bikin akun di instagram, tiap waktu senggang hobi saya scrolling jari mengamati update postingan di teman atau orang yang saya follow.

Ketika teman masih hitungan jari dan semuanya memang saya kenal, momen ini menyenangkan. Kami saling berkomentar di foto yang dipajang. Kalau tidak bertanya, memberi pendapat dan yang lebih banyak adalah menuliskam candaan. Ya instagram untuk terhubung dengan teman dan melepas penat dengan tertawa bersama. Walau tawa itu hanya bertemu di "udara".

Saat memutuskan serius "kerja" jadi blogger, instagram berubah peran. Saya harus berusaha mencari follower sebanyak mungkin. 

Mengapa? 
Karena dalam beberapa syarat job buat blogger, biasanya disebutkan minimal follower 1000, 5000, 10.000 bahkan sampai 30.000. 

Dua angka terakhir biasanya syarat agency mencari influencer atau selebgram untuk mempromosikan produk atau jasanya.

Jadilah saya berusaha menaikkan jumlah follower dengan organik. Maksudnya tidak sengaja bayar ke seseorang sejumlah uang, lalu besoknya follower instagram saya sudah nambah jadi seribu atau seratus ribu. Sesuai nominal uang yang ditransfer. Ini namanya pengikut palsu atau fake follower. 

Saya tak tertarik beli fake follower karena bakal ketahuan juga sama pihak agency job blogger. Malu rek kalau ketauan. Mending follower dikit tapi beneran orang bukan robot.

Alhasil sampai detik ini, follower instagram saya sudah tembus lebih dari seribu orang.
Wow buanget, bagi saya. Bagi anda mungkin biasa saja :)

Beberapa job jadi buzzer pernah saya dapatkan berkat syarat minimal folower ini terpenuhi. Kalau seribuan gitu, fee saya mungkin masih puluhan atau ratusan ribu per postingan.

Kalau yang udah selebgram macam artis atau influencer ya sekali posting bisa jutaan. 

Dapat duit karena follower banyak di instagram ya seneng juga. Tapi ada efeknya. 

Salah satunya adalah dengan banyaknya teman itu, momen scrolling untuk refreshing jadi beda rasa.

Kadang yang terpampang adalah foto atau video orang yang tidak dikenal. Atau tak terlalu akrab. 

Mungkin juga yang bikin instagram mulai tanggap juga dengan hal ini. Akhirnya diberlakukanlah sistim algoritma konten di instagram, di mana yang "engagement"nya tinggi, baru tuh postingan muncul di timeline atau di kolom search. 

Akibatnya,buat teman akrab yang males posting, kontennya tenggelam. Kecuali dia juga rajin laporan aktivitas terkini di Instagram Stories atau disebut juga dengan Snapgram.

Ah, instagram pinter juga ya bikin taktik biar penggunanya nggak kabur. 

Snapgram dan Search adalah kolom instagram yang manjur banget buat hiburan saya. Tapi itu dulu. 

Sekarang cuci mata di Search pun tak enak lagi dipandang. Karena postingan popular nggak cuma yang asik, tapi juga ujaran kebencian atau segala bentuk konten negatif yang bikin males bacanya. Ya gimana mereka mau tenggelam, yang komen dan like banyak. Engagement tinggi. Muncul terus kontennya.

Karena jengah,  berkali-kali saya uninstall nih aplikasi. Tetapi di install lagi jadinya karena manjur untuk menyimpan kenangan. Foto, video saya bisa ada di situ dengan catatan tanggal. Hal ini manjur banget saat saya mau nulis blog dan butuh foto.

Atau ketika saya mencoba mengingat dulu ke Kediri tanggal berapa, tahun berapa, sama siapa?

Instagram lebih manjur daripada Google Keep atau Evernote dalam hal simpan memori ini. Mudah di scroll.

Scroll ya. Scroll.
Karena mencari dengan tanda pagar # sudah tak relevan lagi.

Ah, dipikir-pikir kok hidup saya dioncat-ancitne sama instagram to?

Hebatlah sama selebgram yang masih bisa memanfaatkan aplikasi ini untuk kepentingan hidupnya. Karena effortnya gede banget.

Cocok mungkin untuk millenials.
Gen Y coret gini, udah usia hampir 40-an lumayan ngos-ngosan ngikuti kinerja instagram.

Dengan alasan ini, saya masih pertahankan instagram di hape saya.

Karena anak saya, keponakan saya, anak-anak muda yang baru saya kenal, lebih mudah di chat dengan fitur DM instagram daripada lewat whatsapp.

Begitulah. Namanya teknologi, mau dipakai jadi apa, terserah penggunanya. Bagaimana instagram untuk anda?

HR Software dan Manfaatnya Untuk Perusahaan


Menggunakan HR Software Indonesia dapat menghemat biaya pengeluaran perusahaan. Itu hanya salah satu manfaat yang sering didengung-dengungkan oleh penyedia software HR (Human Resources), Tapi benarkah manfaat tersebut bisa dirasakan oleh perusahaan yang menggunakan software untuk divisi HR tersebut?

Klaim yang menyatakan bahwa software HR bisa menghemat pengeluaran perusahaan memang benar adanya karena perusahaan bisa meminimalisir setiap penggunaan tinta printer, kertas, klip, atau alat-alat lainnya yang sering digunakan untuk kebutuhan HR . Alat-alat tersebut biasanya digunakan perusahaan yang belum menggunakan software HR dan semua pekerjaan HR masih dikerjakan secara manual.

Pekerjaan - pekerjaan HR yang dikerjakan secara manual akan membuat pengeluaran perusahaan lebih besar karena harus membeli  alat-alat tersebut, Selain itu akan kurang efisien karena banyak sekali waktu yang terbuang hanya untuk mengerjakan pekerjaan HR secara manual.
Karena manual, tenaga manusianya juga pasti lebih banyak. Dengan banyaknya tenaga manusia, tentu saja menambah pengeluaran gaji karyawan yang dipekerjakan.
Karena itulah dengan menggunakan software HR, perusahaan akan bisa menghemat banyak hal. Salah satu yang utama adalah menghemat pengeluaran karena tidak perlu lagi mengeluarkan banyak uang untuk membeli alat-alat tersebut dan menggaji terlalu banyak karyawan di divisi HR.
Selain terbukti bisa menghemat pengeluaran alat dan gaji karyawan, masih ada beberapa manfaat lain yang bisa dirasakan bila perusahaan menggunakan HR software. Berikut ini adalah manfaat dari hr software yang bisa didapatkan perusahaan

1. Menghemat waktu
Sudah bukan rahasia lagi, pekerjaan di divisi HR itu sangat banyak. Jika semuanya dilakukan dengan cara manual maka akan banyak sekali waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya.
Divisi HR yang tugasnya meliputi perekrutan pegawai, penggajian pegawai, dan lain sebagainya ini akan merasa terbantu jika perusahaan menyediakan software HR.
Software HR adalah software yang digunakan oleh perusahaan untuk membantu mengatur dan mengelola data informasi pegawai.
Dengan software HR, sebagian besar pekerjaan sangat mudah dikerjakan dan waktu yang dibutuhkan juga tidak banyak.

2. Membantu Proses Rekrutmen Karyawan

Perusahaan yang menggunakan software HR untuk proses perekrutan memiliki peluang mendapatkan kandidat berkualitas lebih besar.
Kenapa bisa begitu? Hal ini karena sistem pada software HR biasanya sudah terkoneksi dengan situs dan akun media sosial para penyedia informasi lowongan kerja. Sehingga, akan lebih banyak kandidat yang akan mengetahui informasi tentang lowongan yang ada di perusahaannya.

Salah satu HR Software Indonesia yang dapat di andalkan saat ini adalah LinovHR . Kenapa LinovHR ?

Karena LinovHR memiliki semua Modul Dan Fitur lengkap yang sangat berguna bagi perusahaan, diantaranya adalah organization management, time management, personal administration, payroll, loan, benefit, employee self services (ESS), recruitment & talent acquisition, workflow . Semua modul dan fitur tersebut akan sangat bermanfaat bagi perusahaan terutama divisi hr .

Semoga informasi di atas bermanfaat dan semakin banyak perusahaan yang menggunakan HR software akan semakin memudahkan pekerjaan kantor, khususnya divisi hr.