HARI JAMBAN SEDUNIA, Anda Sudah Pernah Dengar Hal Ini?

Saturday, November 18, 2017

"Apa yang ada di benak anda tentang sanitasi?", kalimat pertama dilontarkan mbak Fay kepada kami.
Suasana setelah makan malam di Bujana Coffe Shop, Hotel Aston Bojonegoro itu menjadi sedikit "panas". Beberapa peserta acara kemudian merapat dengan mengangkat kursi masing-masing menjadi lebih dekat ke arah sang Pembicara.


"Sanitasi bukan sekedar urusan JAMBAN," mbak Fay melanjutkan. "Ini juga melibatkan tentang ketersediaan air bersih. Coba bayangkan, ngapain mikirin ada jamban kalau air untuk membersihkan diri saja tidak ada? Iya kan?"



Kami mengangguk kompak dengan pernyataan mbak Fay.



Aih, ngobrolin jamban di tempat makan? yang benar saja mbak....*sebenarnya saya pengen teriak gitu sih dalam hati, tapi sungkan jadi diem aja hueheheh.



"Kita biasa aja ya ngobrolin beginian," mbak Fay menegaskan bahwa "ketidaknyamanan" saya seharusnya tidak perlu diteruskan.



Karena urusan jamban tidak hanya melulu tentang kotorannya. Kenapa juga harus risih dengan sesuatu yang bahkan kita bawa setiap detik di badan ini? Laiya to, kemana-mana kita kan bawa "kotoran di usus".



Kenapa juga repot-repot ngobrolin hal yang tidak menarik di pandang ini?

Nggak mending ngobrolin artis drama baru yang luka parah setelah mobilnya nabrak tiang listrik aja? lebih viral deh #eh.


Nah, that's also the poin.

TIDAK VIRAL BUKAN BERARTI TIDAK PENTING.


Ya, saya mengikuti program Advokasi yang diselenggarakan oleh WATER.ORG dan KOMIDA (KOPERASI MITRA DHUAFA) untuk memperingati Hari Jamban Sedunia. Program advokasi ini dilaksanakan dalam bentuk Media Visit dan Workshop II Jurnalis Jatim, mengambil topik tentang Peran Lembaga Keuangan Untuk Akses Air Bersih dan Sanitasi yang berlokasi di Bojonegoro.

Bersama 2 blogger profesional mbak Avy dan mbak Nurul Rahma, saya akan mengikuti acara itu selama 3 hari kedepan. Mulai tanggal 17 - 20 November 2017.


HARI JAMBAN SEDUNIA
Kenapa Jamban sedunia perlu diperingati? karena masih ada 28 juta orang Indonesia masih buang air besar sembarangan, dan 28 juta sama dengan jumlah populasi penduduk di Australia. Hingga kini kita masih dikenal sebagai negara yang masyarakatnya buruk kedua di dunia (setelah India) dalam sanitasi. Sementara pemerintah kita mentargetkan Universal Akses untuk 100-0-100 hingga 2019, untuk 100% seluruh masyarakat Indonesia mendapatkan akses air bersih dan sanitasi, dan 0% daerah kumuh. Kerja ini berat dilakukan pemerintah sendiri. Bahkan anggaran nasional apalagi APBD juga tidak mencovernya. Karena itu perlu ada solusi. Salah satu Inovasi solusi yaitu dengan menyertakan lembaga keuangan terlibat. Bagaimana dan seperti apa, untuk itulah kami mengadakan acara ini, jelang Hari Jamban Sedunia tanggal 19 November.

Ini adalah penggalan briefing email yang saya dapatkan dari pihak Water.org Indonesia. Cukup mengejutkan juga bagi saya ketika pertama kali mendapatkan undangan ini. 

Hari Jamban? 

Jamban aja diperingati? Give me a break! :)
Apalagi ini sedunia. 

Tapi ya, namanya tak kenal maka bisa buruk sangka. Awalnya saya pikir ini adalah hari perayaan desain toilet terbaik sedunia, atau perayaan apalah yang berkaitan dengan toilet alias wc alias jamban. 

Sempat juga muncul imajinasi liar di kepala saya, ketika ada Hari Batik Nasional maka semua orang memakai batik di hari itu. Nah, jika hari Jamban Sedunia, apakah semua orang akan serentak bersamaan untuk buang air besar  (BAB) di jamban? #ups.

Oke, segera hapus gambaran liar itu ya, maaf jika kalau bacanya sambil makan siang. *Padahal saya nulis ini juga sambil sarapan di Hotel Aston Bojonegoro, tempat saya menginap untuk acara ini. 

Sebenarnya Hari Jamban Sedunia ini adalah alih bahasa dari World Toilets Day. Yang pada intinya berkaitan dengan ISU SANITASI.

Bicara sanitasi tidak melulu hanya membahas Toilet alias Jamban alias BAB. Akan tetapi ada keterkaitan luas pada ketersediaan air bersih, kesehatan, pembangunan infrastruktur dan juga masalah keuangan atau ekonomi. Kesemua topik itu akan kamu ulas, ulik dengan detil dan lengkap bersama blogger, tim jurnalis dan praktisi profesional terkait di Bojonegoro. Untuk melengkapi semua data, kami pun datang langsung ke lokasi yang mengalami masalah sanitasi buruk, kesejahteraan ekonomi rendah sekaligus masih tidak adanya jamban di sana. 

Hari gini masih ada orang yang tidak punya jamban di rumahnya?
Ya, bagi orang kota anda akan mengernyitkan dahi tak percaya. Tapi ini nyata, di sebuah desa di Bojonegoro, masyarakatnya terbiasa untuk buang hajat di hutan atau kebun dan mandi bersama di sebuah "sendang". Karena di rumah mereka tidak ada kamar mandi, apalah lagi jamban. 

Tulisan terkait ini akan saya buat dalam beberapa blogpost, dalam label "sanitation4all" untuk memberikan informasi lebih detil tentang water.org, KOMIDA,  bagaimana isu sanitasi ini mempengaruhi dan juga melibatkan PEREMPUAN di dalamnya dan pasti tentang HARI JAMBAN SEDUNIA. 

Bersiaplah,

Salam Jamban Berfaedah :)


You Might Also Like

2 comments

  1. Wowww mba Heni you rockkk!! Bersyukur banget bisa ikut ambil.bagian utk mensosialisasikan seputar signifikansi jamban dan sanitasi

    Semoga ini jadi amal jariyah as bloggers. Aamiiin
    -bukanbocahbiasa(dot)com-

    ReplyDelete
  2. Kerennn....
    sukses selalu ya mba heni..ta tunggu tulisan-tulisan selanjutnya.
    saya menjadi pembaca setiamuu ni..xixixixi

    ReplyDelete

Thanks For Your Comment :)

Sahabat

Twitter @buhenipr