Koyo Demam, Pertolongan Pertama Untuk Si Kecil yang Panas

Sebagai orang tua, bunda tentu tidak ingin melihat si kecil sakit. Tetapi itulah proses perkembangan dirinya dimana mengalami sakit adalah hal yang wajar terjadi pada si kecil. Demam merupakan suatu kondisi dimana suhu tubuh lebih dari 370 C. Tubuh si kecil menjadi panas dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Apalagi jika si kecil sedang berada di masa emas pertumbuhan, keceriaan dan aktivitasnya tentu terganggu karena mengalami demam.

Selain sebuah penyakit, demam ternyata juga menjadi salah satu dari pertanda penyakit lain yang ada di dalam tubuh. Demam bisa menjadi reaksi atau sinyal bahwa tubuh sedang terserang virus yang bisa menyebabkan flu, batuk, pilek dan penyakit lain. Anak – anak yang masih kecil tentu memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih rentan dari orang dewasa. Sehingga, jika demam terjadi, sebaiknya segera lakukan penanganan yang tepat.

koyo demam hansplast
credit: id.hansaplast.co.id

Berikut langkah yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi demam pada si kecil :

1. Mengenali Gejala Demam 
Langkah pertama yang bisa Anda lakukan yaitu mengetahui gejala yang terjadi. Misalnya seperti :
  • Mengeluh Pusing : selain demam, anak-anak biasanya juga akan mengalami pusing sebagai gejala lain yang terjadi. Karena suhu tubuh yang tinggi dan rasa panas di tubuh inilah yang menjadi penyebab anak-anak menjadi pusing.
  • Bernafas Menggunakan Mulut : Demam yang terjadi saat tubuh panas biasanya juga akan menyebabkan anak-anak sulit bernafas. Sehingga, mereka biasanya akan bernafas menggunakan mulut.
  • Wajah yang Berubah Menjadi Memerah : karena suhu tubuh yang dalam kondisi panas, bisa membuat wajah si kecil menjadi memerah.

2. Tidak Membiarkan Anak Menggunakan Pakaian Terlalu Banyak
Saat anak mengalami demam, suhu tubuh tentu berada di kondisi yang panas. Menggunakan jaket saat tubuh panas adalah sebuah mitos, maka bunda harus mengurangi penggunaan pakaian yang tidak perlu. Gunakan pakaian yang tipis dan ringan sehingga saat anak berkeringat, bunda dengan mudah bisa mengganti pakaian pada anak

3. Memberi Minum
Setelah memastikan anak menggunakan pakaian yang nyaman, selanjutnya berilah dia minum air putih yang cukup. Karena saat suhu tubuh panas, maka dehidrasi mudah terjadi. Suhu tubuh yang panas dan terus menerus dan berkeringat bisa menimbulkan kekurangan cairan atau dehidrasi.

4. Mengambil Tindakan Pertama
Setelah mengetahui gejala yang dialami, bunda tidak perlu bingung dan khawatir. Mengambil tindakan pertama yang tepat adalah penting. Jika biasanya bunda mengompres si kecil yang sedang demam, nah, kini bunda tidak perlu repot lagi. Bunda bisa menggunakan koyo demam sebagai solusi mengatasi panas pada anak. Sebaiknya bunda menghindari penggunaan obat karena lebih baik menggunakan koyo demam yang lebih praktis.

Nah, bagi bunda yang sedang mencari koyo demam dengan kualitas terbaik, Hansaplast solusinya. Koyo ini berbentuk seperti plester atau patch yang berbahan gel. Tak hanya itu, keunggulan lain dari koyo demam dari Hansaplast yaitu memberikan efek dingin yang bisa membantu menurunkan panas pada si kecil.


Cara penggunaannya pun cukup mudah, yaitu :

1. Pastikan bagian dahi dalam keadaan bersih dari keringat sebelum koyo demam digunakan
2. Buka bagian lapisan plester kemudian tempelkan pada dahi anak
3. Penggunaan koyo demam tidak boleh lebih dari 8 jam sehingga harus dilakukan penggantian berkala

Koyo demam ini bisa digunakan oleh anak – anak mulai dari usia 1 tahun dan orang dewasa juga bisa memakainya. Untuk menjaga khasiatnya, simpanlah produk ini di suhu ruangan. Koyo ini hanya produk yang bisa digunakan untuk penggunaan luar dan tidak boleh ditempel di bagian kulit yang terluka. Agar efek dingin segera meresap, sebaiknya segera gunakan koyo sesaat setelah dibuka. Pemakaian harus dihentikan apabila terjadi reaksi seperti alergi dan munculnya kemerah – merahan. Produk ini tidak disarankan digunakan oleh ibu hamil. Untuk mendapatkannya pun cukup mudah karena tersedia di apotek dan minimarket terdekat.

Doji 123: Ios App Untuk Belajar Menulis Angka

Inilah hasil draft ios apps yang saya buat ketika tugas akhir, atau final project.





Berikut Video penggunaan apps ini untuk belajar menulis angka







Kalau ingin tahu bentuk sketsa UI/UX design dan codingannya di Xcode, bisa dilihat di video ini. Sayangnya kurang jelas sih. Kalau ada waktu nanti saya bikin yang baru



Sebelumnya, ide apps ini sudah saya ujikan ke keponakan cilik saya






Nah saya pun meminta masukan dari teman-teman yang menjadi GURU PAUD, orang tua anak-anak yang masih kecil atau usia dini dan siapapun yang ingin memberikan masukan tentang aplikasi di hp itu mau kayak gimana jika digunakan untuk membantu anak belajar menulis huruf dan angka.


Kerja Di Rumah: Bisa Segitu Banyaknya

3 komentar
Kalau dari foto ini, saya tuh sedang menyapa secara Live di Grup Facebook Komunitas Coding Mum Indonesia. Sebagai Presiden alias Ketua Umum, ya harus menjaga ikatan batin antar anggota. Setelah itu, membuat video untuk mengais data perihal hal yang dibutuhkan anak usia dini jika diajak belajar menulis menggunakan aplikasi di handphone. Ketika semua urusan depan kamera selesai, blazer dan jilbab saya lepas (karena gerah), dan saya meneruskan menulis buku biografi pesanan klien di laptop.

ibu rumah tangga digital : Heni Prasetyorini
Mengisi Live Webinar Dari Handphone di rumah
Saat lelah ngetik, saya buka peralatan handmade dan mulai membuat satu demi satu prakarya berupa tali kacamata, bros, gelang dan kalung. Yang hasilnya kalau sudah jadi, bisa saya pakai sendiri atau jual. Koleksi bisa dilihat di www.instagram.com/percamanik.
Habis gitu, ke dapur (untuk cari bahan yang bisa dikunyah 😁). Mungkin lanjut menggoreng ikan bandeng, tahu dan tempe. Dilanjutkan lagi buka laptop untuk menulis konten baru di blog. Nge-blog itu sudah saya mulai sejak 10 tahun lalu, tepatnya tahun 2009. Awalnya cuma untuk curhatan aja dan latihan menulis. Saat ini, dari blog saya dapat banyak kejutan. Bisa terbang atau naik pesawat pertama kali juga karena tulisan di blog saya menang lomba.Lalu diundang jadi pembicara, trainer dan hal lainnya, termasuk diminta menulis buku biografi dosen ini, juga karena yang mengajak kerjasama telah melihat rekam jejak saya di blog. Baru-baru ini malah saya dapat sepatu dan sepatu sandal baru dari ngeblog. Cuma harus nulis artikel blog sebiji aja loh, http://www.prasetyorini.com/2020/01/shoesmart-marketplace-sepatu-terbesar-pengusung-brand-lokal-indonesia.html?m=1 Hampir semua pekerjaan itu saya lakukan dari rumah dan di dalam rumah saja. Kecuali memenuhi beberapa undangan. Pengalaman saya ini menarik sekali untuk saya bagikan. Karena saat ini, memilih jadi ibu rumah tangga atau working at home mom, sudah makin keren aja kedengarannya.
Selain keren juga makin mudah. Ada internet, ada platform digital. Ada teman dan komunitas tempat belajar bareng. Bahkan saya ikutan komunitas ibu-ibu dari luar negeri. Terkadang juga menyapa para pakar pendidikan dari luar negeri juga.Bahasa Inggris saya tidak terlalu fluent atau fasih. Saya bisa paham membaca dan mendengarnya. Cuma untuk menulis dan mengucapkan lagi, rada mikir. Tapi kalau sekadar berbalas chat dan mengirim pesan, kan bisa mengandalkan google translate? Jadi ga ada batas. Sharing saya kali ini, untuk memberi semangat pada ibu-ibu ya. Sehingga ke depannya juga, tidak kaget dan shock misalkan anak gadisnya atau menantunya memilih jadi ibu rumah tangga. Jangan cemas ilmunya bakal sia-sia.

Memberikan kelas online pun bisa. Itu rencana saya di startup teknologi pendidikan yang saya rancang dengan anak dan suami, di www.kelaskudigital.com Berbasis dari rumah, bekerja bisa begitu banyak ragamnya. Bahkan tahun 2009 itu saya mulai jualan jilbab online modal nekad, tapi bisa tembus diliput oleh Metro TV Jawa Timur. Ah nantilah, saya banyak cerita tentang ini https://www.facebook.com/pg/koleksijilbaborin/ Gimana, mau lanjut diceritani lagi?

Shoesmart Marketplace Sepatu Terbesar Pengusung Brand Lokal Indonesia

Tidak ada komentar
Keluarga saya ini makin hari makin suka beli online. Apapun itu. Mulai dari celana pendek, kaos, aksesoris laptop yang ada aja itu butuhnya dan juga alas kaki seperti sandal dan sepatu.

Langsung pergi ke mall, udah jarang banget kami lakukan. Kedua anak lelaki saya kalau diajak makan keluar pun juga ada aja alasan menolaknya. "Beli food delivery aja lah ma. Makan di rumah bareng, enak", begitu alasan mereka.  

Ya, you can call us Online Freak Family
Segala-galanya mending milih yang online deh. 

Urusan beli makanan secara online, udah ga ada masalah. Karena hanya tersedia satu dua aplikasi. Pinter-pinter aja baca review atau memilih yang brand-nya udah bagus dan teruji. Saya sih lebih sering beli di fitur nearby alias di sekitar rumah saja. Selain ingin cepet dan ongkos kirim murah, juga bisa saling membantu sesama tetangga, bisa dibilang begitu. 

Nah lain halnya jika butuh produk lain seperti  sepatu. Saya dan suami bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih online shop yang verified, review bagus, dapat dipercaya dan produknya beneran bagus. Lumayan menghabiskan waktu. 

Untung saja mulai bermunculan marketplace yang fokus menjual satu jenis produk. Ada yang khusus jual baju saja, skin care dan kosmetik saja dan satu lagi yang khusus menjual sepatu dan sandal saja. Dan menurut saya ini jauh lebih menghemat waktu dan tenaga untuk memilihnya. 

SHOESMART: Marketplace Sepatu Terbesar


Saya menemukan marketplace sepatu ini, dari postingan instagram story teman baru. Jujur saja, dari rekomendasi teman bisa membuat saya lebih cepat dan percaya dalam mengambil keputusan, dibandingkan browsing sendiri.

Setelah sekilas melihat postingannya, langsung saja saya masuk ke instagram @shoesmart.id dan membuka websitenya www.shoesmart.co.id.

Sebagai Coding Mum dan juga blogger, membaca ekstension domain saja sudah bisa menebak kalau ini bukan sekadar olshop kecil-kecilan biasa. 

Domain co.id menunjukkan jika website tersebut milik company  atau perusahaan resmi di Indonesia. Untuk mendapatkan domain itu harus menyerahkan bukti usaha dan dokumen resmi lainnya kepada provider domain. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan domain co.id ini. 

Jadi kesan pertama, shoesmart ini adalah perusahaan resmi dan terpercaya. Dan bener, setelah ditelusuri ternyata foundernya sudah berpengalaman bisnis bidang sepatu ini sejak tahun 1985. 

Setelah membuka website-nya, kesan kedua bertambah. Deretan foto dan gambar cantik tertera di sana. Lengkap dengan jenis sepatu, brand atau merk dan harga sepatu. Desain websitenya juga bagus dan profesional. 

Saya upreklah itu semua navigasi dan button yang tersedia. Udah bawaan sejak mengenal coding dan website development soalnya. Selalu ingin menguji website orang :).

Shoesmart: Marketplace Sepatu Terbesar


Baiklah, anda pun bisa mencoba membuka websitenya www.shoesmart.co.id sekarang.  

Dan ya, anda akan mendapatkan pengalaman pengguna atau user experience yang mudah dan menyenangkan. 

Di kolom navigasi, anda bisa memilih sepatu sesuai kebutuhan. Apakah untuk pria, wanita, orang dewasa ataupun anak. Jenis sepatu juga dibedakan  menurut:
  • kategori
  • brand
  • ukuran
  • warna
Produk Best Seller juga ditampilkan dengan manis berupa slider, sehingga pelanggan bisa mendapatkan masukan jenis produk yang sedang trend dan banyak digemari sekarang.  

Setelah ada satu model sepatu yang sudah nyangkut di hati, maka bisa langsung juga dilakukan pembelian di website tersebut. Tentu saja, harus lebih detil memperhatikan Ukuran sepatu, warna, jenis bahan sepatu yang sudah tertera di setiap produk. 


PENGUSUNG BRAND LOKAL

Kebetulan saya juga sedikit malang melintang di dunia startup dan e-commerce atau digital marketing. Pernah menjadi mentor anak-anak muda yang ingin membangun startup, membawa wawasan baru bagi saya, bahwa mempunyai bisnis tidak hanya berpikir High Profit untung banyak tapi juga High Impact yaitu memberikan dampak yang baik untuk sekitar. 

Menjadi pengusung brand lokal seperti yang dilakukan oleh Shoesmart, adalah praktek mewujudkan konsep High Impact tersebut. Menarik. Dan salut untuk keberaniannya tampil berbeda demi kontribusi untuk kesejahteraan UMKM dan Pengrajin sepatu dari negeri sendiri dengan kualitas produk yang sudah teruji. 




Brand Lokal yang sudah tergabung saat ini, untuk sepatu Pria adalah Tony Perotti, Alseno, Alseno Kids dan Fransisca Renaldy Kids. Sedangkan untuk sepatu wanita, brand yang sudah masuk menjadi produk ready stok adalah Austin, Bettina, Clarette, Inside dan lain sebagainya bisa dilihat langsung di website.

Setiap brand menampakan keunggulan dan keunikan masing-masing. Hal ini sangat menguntungkan calon pembeli karena jenis sepatu yang ditawarkan cukup banyak. Dan proses memilih sepatu ini tidak memakan waktu banyak karena cukup dilakukan secara online di mana saja dan kapan saja menggunakan gawai masing-masing.


SEPATU BETTINA BARU SAYA

Nah, ketemu Shoesmart ini tidak hanya sambil lalu saja, Tapi saya pun membuktikan diri untuk berbelanja sepatu dan sepatu sandal di situ.

Kalau anda amati di setiap foto saya di media sosial, seringnya pakai sepatu sneaker hitam dan goresan pink yang itu-itu saja. Kali ini saya membutuhkan sepatu yang lebih formal namun ringan jika disimpan di dalam koper jika nanti ada undangan seminar atau mengisi training di luar kota.

Dalam beberapa suasana, seperti waktu saya di Palangkaraya itu, rasanya saltum alias salah kostum. Saya memakai celana jeans dan sepatu sneaker. Ternyata para dosen dan tim kampus menggunakan batik resmi Kalimantan dan bersepatu flat. Jujur saja, saya jadi kikuk karena kuatir dirasa kurang sopan di hadapan mereka. Maklum udah terbiasa santai kalau ngisi acara di Surabaya, Jakarta atau sekitar pulau Jawa.

Nah, karena tidak ingin mengulang hal yang sama, maka saya harus punya sepatu formal. Warna hitam jadi pilihan karena netral dan bersih banget tampaknya. Dan satu lagi, wajib untuk flat atau teplek dan empuk sol-nya.

Saya udah takut pakai wedges atau sepatu dengan hak sependek apapun. Karena beberapa kali jatuh terkilir dan sempat satu tulang telapak kaki retak. Lingkaran kawat tembaga yang dipasang di tulang retak itu juga masih ada di kaki saya sampai sekarang. Maka jenis sepatu yang berani saya pakai ya sneaker atau flat dan sepatu sandal.

Kebutuhan macam ini, bisa dicari asal kita mau baca detil keterangan produk di setiap gambar sepatu yang ada di website Shoesmart.Co.id.

Saya memilih brand Bettina, karena sesuai dengan kebutuhan saya dan alhamdulillah pas barangnya datang pas banget mulai ukuran dan keempukan sol yang ditawarkan. Sepatu dan sepatu sandalnya pun ringan. Cocok nih.

Shoesmart: Marketplace Sepatu Terbesar
Cocok kan sepatunya dengan dress batik hijau mencrang ini?

Shoesmart: Marketplace Sepatu Terbesar
 Sepatu dan Sepatu Sandal brand Bettina Jadi Modal Kerja Saya :)



BISA RETUR JIKA SEPATU TIDAK COCOK

Nah, iya kalau cocok. Keengganan beli sepatu atau sandal online adalah jika ukuran tidak cocok. Karena beda brand beda ukuran biasanya. 

Sebenarnya di tiap detil bahan di website ini, kalau diamati, tiap brand memberikan satuan yang berbeda dari ukuran sepatunya. Misalkan untuk ukuran 40, ada yang dikonversikan menjadi 39.5 cm; 40 cm atau bahkan 42 cm. 

Sebaiknya kita mengukur kaki sendiri juga di rumah, bisa menggunakan penggaris biasa atau meteran kain. Jadi tahu ukuran kaki kita sendiri.

Jika terlanjur salah memilih ukuran sepatu, misalkan untuk memberikan hadiah kepada seseorang, jangan sedih dulu. Di Shoesmart ada fitur PENGEMBALIAN atau RETUR sepatu dengan syarat dan kondisi tertentu. Untuk lebih detilnya bisa dibaca di tautan berikut: https://shoesmart.co.id/return_policy

Begitulah beli sepatu dan sandal sekarang jadi jauh lebih mudah. Jika ada kesulitan pun tersedia Customer Service chat yang selalu siaga di sisi kanah bawah website Shoesmart. 

Oke selamat berselancar cuci mata memilih sepatu yang dibutuhkan. Dan semakin semangat belajar, bekerja dan berkarya dengan langkah yang semakin ringan dan menyenangkan. Gunakanlah sepatu buatan anak negeri sendiri, Cintailah produk Indonesia. 

Semoga menginspirasi.
Heni Prasetyorini

Catatan Singkat Perjalanan Hidup Menjelang Tahun Baru 2020

Tidak ada komentar

Beberapa orang di twitter membuat catatan perjalanan hidupnya dalam satu dekade (10 tahun) dengan satu kata singkat di tiap tahunnya.

Saya jadi kepincut juga ingin membuat catatan perjalanan singkat, tapi tidak singkat. Eh gimana. Begini saja, sebut saja catatan singkat yang teringat selama jadi "dewasa".



1997 Masuk ITB, tanpa ada saudara atau kenalan di Bandung dan sekitarnya. Malah ketemu jodoh di kereta api.

2001
- Menikah 3 bulan sebelum sidang sarjana. LDR 4 tahun tanpa putus sambung.
- Kembali ke Surabaya, meninggalkan LIPI. Hamil anak pertama.
- Merasa gagal menjadi anak perempuan yang punya karir cemerlang seperti yang diinginkan ibu.
- Melamar menjadi tutor Kumon: gagal [mungkin ketahuan kalau sedang hamil muda, karena kebelet pipis terus saat menunggu tes dan wawancara].
- Membuka jasa pengetikan dan bimbel di rumah ibu, lumayan pelanggannya.
- Menulis novel untuk lomba majalah Kartini: gagal
-

2002 Melahirkan anak pertama. Kerja singkat-singkat saja, trus resign.

2006 Melahirkan anak kedua, prematur. Total jadi ibu rumah tangga di dalam rumah.

2009 Bisa ke warnet, membuat email, blog dan ikut mailing list penulis

2010 - 2013
- Nekad jualan jilbab online, modal dan peralatan pinjam.
- Hampir setiap hari ke warnet dengan anak kedua yang berumur 3 tahun.
- Belajar mandiri digital marketing dll
- Belajar mandiri membuat wire jewelry

2013
- Masuk Metro TV Jatim karena jualan online dan ngeblog. Coba kerjasama bisnis jilbab online dengan wali murid sekolah anak: gagal. Memutuskan berhenti jualan.
- Ada wacana lanjut kuliah saja dari suami, tapi saya bingung memilih lanjut S2 jurusan Kimia di ITS atau yang lain?
- Akhirnya lanjut Kuliah S2.
- Jam 1 dini hari, ketemu website UNESA Pascasarjana Teknologi Pendidikan dan memilih itu.
- Berurut-turut dua anak dan suami opname. Padahal sudah mendaftar dan bayar biaya kuliah S2 sebanyak 4 juta.
- Hari pertama kuliah, menangis naik motor di Gunung Sari ingat almarhum bapak dan deg-degan luar biasa karena sudah belasan tahun tidak naik sepeda motor sendiri track jauh dari rumah.
- Di kelas metodologi penelitian, karena bingung menjawab, Bu Heni kerja di mana? saya ucapkan sebagai Ibu Rumah Tangga Digital

2015.
- Renovasi rumah dengan banyak kendala ditambah isu medis, ingin berhenti kuliah.
- Bicara ke ibu: "lanjut saja kuliah, ibu jauh lebih susah hidupnya dari kamu. Kesusahanmu tidak ada apa-apanya."
- Lanjut kuliah, mengerjakan tesis, seminar dan sidang disambi menjadi mandor tukang di rumah.
- Lulus S2 Cum Laude.
- Melamar ke beberapa sekolah dan kampus, tidak lolos.
- Mulai serius ngeblog, setelah ikutan workshop Fun Blogging berbayar 100 ribu: makan Hokka Bento di kantor Qwords Intiland Sby.
- Membuka Kelasku Digital di facebook page, tidak tahu meneruskannya. Tidak percaya diri menjadi trainer teknologi pendidikan. Mendapat komentar dari teman sendiri, "kami tidak butuh orang seperti bu Heni."

2016 Ikutan Coding Mum.
- Membuat konsep Akademi Prasetyorini sebagai tugas akhir Coding Mum.
- Menang ngeblog dapat PC All in One Asus, berkat konsep Akademi Prasetyorini
- Pertama kali ke luar kota sendirian naik kereta api ke Tulungagung (sosialisasi coding mum)
- Pertama membuat kelas Membuat website : gagal (peserta hanya 3 orang dari 30 pendaftar)
- Beberapa alumni coding mum yang dekat, berguguran sampai pada tiga titik utama = TRIOBOLOLO

2017
- Menang Puspiptek #1 dan pertama kali naik pesawat terbang ke Serpong.
- Sosialisasi Coding Mum ke Kediri
- Menjadi narasumber radio Suara Muslim Surabaya dan Senora FM

2018
- Ke Bali, setelah gempa Lombok
- Menang Puspiptek #2
- Terpilih jadi Presiden Coding Mum.
- Start Coding Kids Kelasku Digital, lalu berhenti karena merasa perlu memikirkan ulang konsep kelas untuk anak dan waktu yang tepat.
- Menjadi koordinator Coding Mum Disabilitas Surabaya 2018
- Menulis buku biografi dosen Teknik Fisika ITS #1
- Co Writer buku tentang migas berdasar orasi Profesor di ITB
- Membuat


2019
- Lolos dan graduate dari Apple Developer Academy 2019.
- Mengajar mahasiswa Universitas Hang Tuah Surabaya.
- Menjadi Mentor Dilo PAD Surabaya 2019
- Menjadi trainer di Substitute Makerspace
- Mengajar dosen di Palangkaraya: pertama kali ke luar pulau Kalimantan.
- Menjadi narasumber KLIK BSSN di Graha ITS di depan seribu audience.
- Sedang menulis buku biografi dosen Teknik Fisika #2
- Menjadi narasumber Pojok Inspirasi BPMTP Kemdikbud di Sidoarjo
- Membuat kelas online Scratch dan Kodu di Fanpage Kelasku Digital



*catatan ini akan terus diperbaiki dan dilengkapi sesuai dengan memori yang mampir ke isi kepala dan hati. Semoga bisa menjadi inspirasi.

Catatan Singkat di Apple Developer Academy | UC

11 Desember 2019, Saya lulus dari 10 bulan program Apple Developer Academy di Universitas Ciputra (UC) Surabaya angkatan pertama atau disebut juga Cohort 1.

 Beberapa hari kemudian baru dilakukan penyerahan Sertifikat - Certification of Completion - resmi di Flexible Space gedung Apple Academy di kawasan kampus UC, seperti yang tampak di foto saya tersebut.
photo credit: Thenar Visual

Sudah kurang lebih 10 bulan sejak hari pertama mengikuti program ini. Dan sampai kemarin, masih ada anak-anak muda, terutama mahasiswa yang mengirimkan pesan pribadi ke media sosial saya. Tentu saja ingin bertanya tentang pengalaman dan cara biar lolos diterima di Apple Developer Academy|UC.Untuk singkatnya, sekaligus akan saya jawab di sini:

Sebelum mendaftar, saya mencari dulu informasi sebanyak-banyaknya tentang Apple Developer Academy, baik yang di Indonesia maupun di beberapa negara lainnya. Untuk mengetahui konsepnya apa sih, tujuannya apa, dan apakah saya bakal diterima jika mendaftar, juga apakah sanggup menjalani proses di akademi selama berbulan-bulan?

Setelah hasil pencarian menunjukkan bahwa ada peluang untuk masuk, maka saya persiapkan dokumen CV untuk mendaftar sebaik mungkin. Jejak rekam, prestasi, hasil karya dan sebagainya diperbarui di semua lini pribadi yang saya punya: blog, instagram, facebook, twitter, linkedin. Supaya apapun tautan yang saya tulis di CV, ketika dicek ulang memang benar isinya dan sudah ter-update.Setelah tahap dokumen lolos dan masuk ke pembuatan video profil, saya lakukan lagi riset kedua. Yaitu riset video profil teman yang memang juga baru mendaftar, dengan cara mengikuti tanda pagar (#) yang sudah diatur tersebut di You Tube, yaitu #uc.apple.academy.2019.

Nah, dari situ ditarik benang merah, kira-kira Pesan apa yang mau disampaikan di video profil, supaya bisa sesuai dengan isi CV dan personal branding yang sudah dibangun sebelumnya. Karena aktivitas saya beberapa tahun ini seputar pemberdayaan perempuan di ranah teknologi juga teknologi pendidikan untuk kelas belajar anak, maka itulah yang saya tampilkan.

Video saya berjudul "Impactfull: Dari Apple Academy Untuk Coding Mum & Coding Kids Indonesia" bisa disimak di sini:


video


Ketika membuat video, usahakan dengan intonasi suara yang keras, jelas dan bersemangat. Ini pasti terpancar otomatis jika kalian punya karakter motivasi diri yang kuat. Kalau sedang baper dan bad mood, lebih baik jangan bikin video dulu ya. Makan bakso pedes dulu biar muncul lagi semangat membaranya :)

Seharusnya video profil ini hanya dibatasi 1 menit. Tapi saya keblabasan lebih dari 3 menit. Dan ketika masa rekam video itu ada drama listrik di rumah mati berjam-jam, maka ketika listrik nyala wifi nyala, tanpa babibu lagi, langsung saya posting videonya ke You Tube, karena memang deadline sampai jam 12 malam itu. Pokoke budal, kalau kata orang Surabaya.

Dokumen dan video lolos, selanjutnya adalah tahapan Tes Tulis yang langsung dikerjakan di Universitas Ciputra. Apa saja bahan materi tes tulis? Nah ini semua juga saya riset dan pelajari sendiri, sebisa mungkin, semaksimal mungkin. Mulai dari konsep Coding : OOP, Swift Programming, lalu tentang design dan juga bisnis. Ditambah lagi karena tes tulis ini waktu saya daftar disebut Tes Potensial Akademik, maka saya pun mengulang lagi materi TPA yang sekarang banyak bertebaran model soal online yang bisa dikerjakan sambil nungguin dadar jagung yang sedang digoreng matang sempurna di dapur :). Kalau ingat TPA harus ingat lagi model tes kalau mau masuk sekolah negeri reguler atau mendaftar jadi dosen. Yaitu ada Deret Hitung, Deret Ukur, Sinonim, Pola dan sebagainya.

Waktu tes tulis ini, dilakukan di Lab. Komputer UC. Soal berjumlah 100 butir dan nilai saya 65. Lumayan dan ternyata memenuhi kredit minimum untuk bisa lolos tahap selanjutnya yaitu interview.
Nah, terakhir persiapan interview, maka persiapannya tidak lain dan tidak bukan adalah menampilkan diri sendiri sekeren mungkin. Jangan sampai kelihatan gembos, ngglembosi atau males-malesan aja gitu ya.

Oke, semua tahap terlampaui dan saya lolos diterima. Cerita lengkapnya bisa dibaca di blog pribadi saya berikut ini: 




Berlanjut menjawab model pertanyaan anak muda tentang pengalaman saya di program ini, berikut jawabannya.

Sebagai informasi awal, profil saya adalah ibu rumah tangga yang punya beberapa aktifitas dan jenis pekerjaan remote work atau sebagai freelancer. Sebagai IBU RUMAH TANGGA perlu digarisbawahi, karena itu mempengaruhi rekam jejak saya sebagai satu-satunya ibu-ibu dan satu-satunya peserta perempuan dari Public Participant.

Menjadi ibu rumah tangga (model saya), artinya mengantar jemput anak, mengurus rumah dan lain sebagainya adalah tugas saya. Ketika ikutan program ini, dan kebetulan masuk ke shift sore dimana harus datang pukul 13.30 WIB siang, dan pulang saat maghib pukul 17.30 WIB petang, itu bukan hal yang biasa-biasa saja. Melainkan suatu keadaan antimainstream yang luar biasa di mana harus ada banyak sekali perubahan dalam struktur yang sudah aman dan nyaman di dalam rumah tangga saya.
Menjemput anak pulang, misalnya, tidak bisa saya lakukan sendiri karena bentrok jam. Maka harus dialihkan ke pihak lain.

Di awal akademi, anak saya titipkan ke tetangga perumahan sebelah yang juga mempunyai usaha laundry kecil-kecilan. Ternyata berjalan 3 bulan, beliau mundur karena kecapekan dengan jalur dari rumahnya ke sekolahan anak saya yang cukup jauh menurutnya (Sambikerep - Lidah Kulon). Apalagi waktu jemput sekitar jam 3 sore, di masa kemarau di mana matahari lagi panas-panasnya juga. Wajar kalau mbak penjemput jadi jatuh sakit. Dengan kondisi ini, saya coba menjadi pengganti, tapi sama juga, nggak sanggup. Jadi migren kepala karena harus riwa-riwi dari UC - Lidah Kulon - Sambikerep - UC untuk sekali jalan.

Maka opsi kedua diambil yaitu menggunakan jasa ojek online. Walau di awal cukup bikin deg-degan karena anak saya masih SMP kelas 7, alhamdulillah berjalan waktu, cukup aman dan lancar.

Ini bentuk struggle saya yang pertama.

Di Apple Developer Academy|UC, kita tidak diberikan jadwal belajar yang ketat, saklek dan padat berjam-jam duduk di meja menghadap komputer saja. Melainkan bentuk belajar yang dinamis dan mandiri (self directed learning). Konsep ini sangat bagus terutama untuk generasi muda, gen Z yang punya karakter jauh berbeda dengan saya si Gen X. Dan ini lagi yang menjadi bentuk struggle saya yang kedua.

Saya mengalami proses adaptasi yang cukup sulit dalam beberapa hal. Ada momentum di mana fokus saya benar-benar terbelah karena hal keluarga. Dan jadwal saya untuk fokus dan mengerjakan sesuatu, belum tentu sinkron dengan jadwal dari teman-teman satu tim, yang usianya jauh lebih muda, yaitu setengah dari usia saya. Ya, di hari penerimaan program ini, usia saya tepat 40 tahun, sedangkan mayoritas peserta di akademi berusia 18-22 tahun. Walau ada beberapa yang juga seumuran dengan saya, namun belum pernah satu tim :)

Keterbatasan ini, cukup berdampak juga dalam kinerja saya di akademi. Bahkan hasil kontemplasi atas kondisi itu, menjadi bentuk satu podcast ini:



Dengan pengalaman saya tadi, pelajaran yang bisa diambil untuk teman-teman yang ingin masuk ke Apple Developer Academy adalah sebagai berikut:
  1. Jika mengalami kesulitan, sampaikan kepada mentor pribadi, mentor akademi, teman atau siapapun yang bisa menjembatani. Karena sebenarnya di apple developer academy, diterapkan model interaksi yang bebas, cair dan dinamis. Tell somebody that you have a problem and you need help. Saya ditempa bertahun-tahun untuk tidak mudah minta tolong, jadi lumayan keteteran di akademi. Just don't act like me there.
  2. Dokumentasikan dengan baik perjalanan belajar (learning Journey) dan refleksi. Setelah di akhir akademi, saya menggunakan tools bernama Airtable (bisa dicari dan diunduh sendiri ya). Dengan fitur Calendar di Airtable, lebih mudah bagi saya mencatat kegiatan sehari-hari, sekaligus memasukkan Learning Evidence atau bukti belajar, baik dalam bentuk gambar screenshot, dokumen ataupun video. Coba deh di www.airtable.com

Baiklah itulah catatan singkat saya. Semoga bisa menginspirasi.

Tak lupa saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk keluarga baru saya di Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya. Juga pihak Apple yang bertukar username, saling follow dan sesekali ngobrol di inbox media sosial. Serta beberapa narasumber yang hadir di Sharing session atau Training session, dan masih terus berkomunikasi dengan saya. Terima kasih banyak. Semoga ke depan bisa saling memberikan manfaat dan kebaikan.

Jika ingin melihat informasi lengkap tentang Apple Developer Academy | Universitas Ciputra Surabaya, silahkan di baca di website officialnya berikut ini:
https://developeracademy.uc.ac.id/id/landing/