Minari, adalah nama dari suatu tanaman khas Korea yang sengaja dibawa oleh Sang Nenek di film ini. Minari seperti rumput atau daun kucai ya di Indonesia. Minari bisa ditambahkan ke semua jenis makanan, begitu ucap si nenek.
Menariknya film ini bukan bercerita asal muasal Minari atau tahap menanam dan berbisnis tanaman Minari. Sebaliknya ini lebih menunjukkan kehidupan yang dialami sebuah keluarga asal Korea yang berkelana ke Amerika.
Berkelana itu tidak mudah. Dan itu benar ditampakkan dalam adegan dan gestur pemain film Minari ini dengan baik. Kesulitan dalam hidup, kurangnya uang, matinya pasokan air, pertengkaran suami istri, ini semua sejenak membuat saya dan suami "membeku" teringat masa lalu, masa perjuangan.
Sulit bekerja sesuai jurnal dan to do list ketat (masih belajar banget)
Sangat menomorsatukan keluarga
Pengenjadi Digital Nomad
Judulnya clickbait banget ya :)
Tapi benar kan?
Ketika melihat foto di atas, pasti pada mengira kalau karakter saya itu extrovert, suka main ke sana kemari, suka kumpul-kumpul dengan banyak orang, ramai, ceria, dan semacamnya.
Padahal aslinya saya introvert. Punya circle yang kecil. Kurang suka berkerumun dengan banyak orang, apalagi tidak kenal, apalagi kurang cocok ini itunya. Lebih suka menyendiri ketika harus recharge energy.
Namun ketika bertemu dengan saya, tidak akan ketemu sosok yang bete dan pendiam. Itu dulu waktu saya masih muda sih. Ketika sudah merantau jauh dari rumah, lalu berumahtangga, punya anak, lama kelamaan jadi terpaksa harus ramai dan ramah kepada semua orang. Dulu ya bisa disebut proses adaptasi untuk bertahan hidup. Alamiah saja bergerak seperti itu.
Begitu juga kemampuan saya untuk berbicara di depan umum. Di depan ratusan orang. Tanpa saya sadari itu muncul sebagai bentuk dari adaptasi. Ciri khas saya sebagai makhluk hidup.
Namun dari beberapa hal, dan juga hasil mengisi tes kepribadian beberapa kali, hasil yang muncul adalah porsi introvert saya ada 70%. Cukup besar kan?
Mau coba tes kepribadian juga? bisa ke tautan ini ya https://www.16personalities.com/id
Batal jadi peneliti biokimia. Malah jadi ibu rumah tangga. Drama banget kalau orang bilang ya :). Untung saja. Alhamdulillah beruntung. Belajar adalah senjata utama saya mengatasi ke-drama-an itu.
Pencapaian di Masa Pandemi: Bisa Membuka Kelas Online
Pagi ini saya baru saja mengirimkan tujuh file pdf sertifikat untuk anak-anak yang selesai ikut Kelas Creative Coding Scratch Programming di Kelasku Digital yang saya ampu.
Total murid kelas online saya sejak tahun 2020, sebenarnya sekitar 100 anak lebih. Bisa sampai 125 anak. Namun, baru tahun ini saya mengeluarkan sertifikat. Itu pun karena ada orang tua murid yang meminta. Bukan hendak kurang benar membuat kelas, namun saat itu niat saya sengaja tidak mengeluarkan sertifikat, supaya anak-anak lebih fokus pada proses belajarnya saja.
Dan sebenarnya di Kelasku Digital itu, selesai kelas resmi atau reguler, masih ada belajar coding bareng alumni bisa di Live Coding atau Code With Me. Namun dalam perjalanan waktu, saya pun paham pentingnya sertifikat ini sebagai dokumentasi bagi orang tua. Jadi mulai saya keluarkan bulan April 2021 ini, dan menunggu tiap anak mengisi form sertifikat yang sudah saya berikan.
Ini sebuah pencapaian besar di masa sulit karena wabah COVID19 ini.
Kalau melihat mundur, kesulitan saya untuk bekerja di lembaga formal setelah mampu lulus secara Cum Laude di S2 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya tahun 2015 lalu, bisa membuat kelas sendiri bahkan secara online ini sebuah pencapaian yang tidak terduga.
Bertahun-tahun saya merasa sulit sekali bergerak di dunia pendidikan jika tidak masuk lembaga resmi yang ada di bawah naungan Diknas (Pendidikan Nasional) di Indonesia. Entah menjadi guru atau dosen, atau staf ahli lainnya. Sulit sekali saya menembusnya. Sekaligus sulit sekali menjadi pendamping dari ranah non formal.
Kesulitan Diatasi dengan Belajar
Namun keputusan saya untuk BELAJAR LAGI terutama tentang teknologi digital dan coding, mampu membuka jalan bagi saya sendiri. Untuk bekerja secara mandiri di bidang pendidikan luar sekolah atau non formal.
Belajar juga trik jitu yang saya ambil ketika mengalami kesulitan sesuai kalimat pertama di postingan ini. Sempat berada di titik terendah karena merasa gagal meneruskan profesi sebagai Peneliti. Saya alihkan dengan mengisi waktu tunggu saat jadi ibu rumah tangga itu, dengan berbagai ilmu baru. Apapun bentuknya. Baik itu membuat cookies, perhiasan handmade, berjualan online, ngeblog dan juga ini yang paling membantu: belajar teknologi digital memanfaatkan laptop dan internet.
Dengan kembali BELAJAR LAGI sampai sekarang, saya bisa bergerak maju secara bertahap. Dan ini adalah pencapaian tertinggi saya sebagai pribadi. Apa pernah menang ini itu, atau terpilih dalam program besar? iya saya pernah. Akan saya tulis dalam daftar berikutnya, sekaligus untuk mengingatkan diri saya sendiri atas apa saja yang telah saya kerjakan sejak kecil sampai sekarang.
Bermanfaat sekaligus menghasilkan. Itulah konsep dari menjadikan BLOG sebagai sumber ilmu dan revenue (pendapatan).
Tak perlu sungkan atau segan menyebutkan blog sebagai salah satu "kolam" untuk mencari uang. Karena memang benar adanya blog bisa jadi sumber pendapatan bahkan sebagai mata pencaharian.
Kebetulan sekali, tempo hari saya mengikuti acara yang dibuat oleh komunitas BloggerHub tentang Multiple Stream Income as Blogger. Yang membahas tentang berbagai jalur mencari pendapatan untuk blogger. Berikut videonya, terima kasih sekali untuk Bloggerhub ini sudah ditayangkan live di Youtube.
Silahkan simak videonya dengan baik dan berbagi insight atau pandangan baru di sini bersama saya.
Kalau saya pribadi, dengan mengikuti langsung acara tersebut jadi tergugah. Dan menyadari ada hal yang terlewat selama saya mengenal blog belasan tahun itu. Bahwa sebenarnya saya bisa membuat berbagai jenis blog dan tidak harus saya sendiri yang menulisnya.
Mas Hadi, pembicara waktu itu bercerita bahwa dia mengelola 150 blog dengan belasan content writer yang bekerja di bawah perusahaannya. Sementara awalnya dia menulis sendiri blog yang berisi tips mengelola warnet dan tentang teknologi, bidang yang dikuasainya sebagai Sarjana Teknik Informatika.
Bukan gelarnya mas Hadi yang membuat saya tergerak. Melainkan bahwa selama ini saya terlalu sempit melihat diri sendiri dalam membuat blog. Tapi anggap saja ini adalah proses yang memang harus saya lalui.
Jadi, sejak mulai ngeblog sampai sekarang, saya sering membatasi diri pada satu NICHE dan PERSONAL BRANDING ketika ingin membuat sesuatu. Termasuk ketika ingin menulis di BLOG.
Sangat berhati-hati dan sengaja menutup diri atau membatasi diri. Demi menaikkan niche bertema PEREMPUAN DAN TEKNOLOGI, saya hanya menulis tentang perjalanan Coding Mum, belajar, pendidikan dan teknologi.
Saya sangat membatasi dalam menulis tentang Lifestyle, Kesehatan, Parenting, Kuliner, Memasak terlebih lagi Hiburan dan Travelling. Padahal sangat tahu bahwa ini adalah topik yang banyak disukai.
Dulu saya berdalih, tidak akan bisa menulis itu karena bukan hobi, bukan minat, bukan bakat dan terlebih lagi BUKAN GUE BANGET.
Jadi saya mengasosiasikan BLOG = SAYA. Dan ini saya asosiasikan sangat kuat.
Hal baiknya adalah benar PERSONAL BRANDING dan NICHE saya terbangun sangat kuat. Namun sebaliknya, saya mengabaikan potensi lain yang sebenarnya juga bisa saya eksplorasi dan kembangkan.
Dengan penuturan dari mas Hadi kemarin, saya sadarnya begini, oh iya ya, kan saya bisa membuat blog, dengan topik dan nama beragam, tanpa menampilkan diri saya sebagai penulisnya.
Saat ini saya sudah kenal beberapa penulis konten yang bagus, sudah tahu cara manajemen penulis blog dan juga bagaimana optimasi blog, media sosial dan digital marketing. Sekaligus dari pengalaman, jadi tahu apa yang disukai dan dibutuhkan oleh banyak orang. Yang kelak bisa membuat blog yang saya buat ini menjadi sebuah SUMBER INCOME atau REVENUE baru.
Pasti dan pasti, blog itu harus menjadi SUMBER ILMU yang baik dan bermanfaat.