[Review Jujur] Mengatasi Kulit Wajah dan Bibir Yang Super Kering Setelah Menggunakan Masker Kefir

Tidak ada komentar
Widih judulnya panjang banget ya.
Ya karena memang itu pengalamannya. Jadi begini, ceritanya, langsung saja ya emak-emak yang jarang nulis tentang pengalaman merawat wajah ini bikin postingan yang beda dari biasanya.

Sama saja seperti emak-emak lainnya yang menjelang usia 40 tahun, pada mulai terasa ada yang nggak bisa dikendalikan dari badan kita sendiri. Misalnya bangun tidur udah pegel aja nih telapak kaki, padahal semalam nggak pulang dari acara mendaki gunung atau keliling pusat grosir. Linu aja gitu untuk beberapa menit. Selanjutnya setelah rerempongan di dapur sih, udah biasa aja rasanya.

Perkara badan linu, apalagi sakit pinggang atau perut yang mudah kram ketika mengangkat barang yang menurut kita dulu, nggak terlalu berat, ini ternyata dialami juga oleh beberapa teman seangkatan saya. Artinya saya nggak sendirian juga ya.

Yang rada sendirian itu perkara kulit wajah saya yang mau nggak mau ternyata harus dipedulikan. Oh ya, jaman masih muda, cuek aja, cuci muka pakai sabun mandi trus pakai bedak bayi, semuanya terasa sempurna-sempurna saja tuh. Kulit pipi kenyal juga. Wajah seger. Tak ada jerawat atau komedo atau bintik hitam yang disebut sprutum itulah. Pokoknya pipi bebas dosa gitu.

Eh sekarang kok lain. Dengan pola yang sama nih wajah saya pribadi ya, langsung aja muncul putih-putih ala kulit yang mengelupas. Apalagi bagian hidung dan sekitar bibir. Kering gitu tipe wajah saya ternyata.

Ya namanya kulit kering, pakai logika biasa ya saya cari pelembab aja dong. Asal aja beli lagi pelembab yang sering dipakai. Contohnya pakai merk wardah. Eh nggak nendang juga, kering aja nih wajah.

Lalu browsinglah ke segala blog milik beauty blogger atau female daily yang suka share review skin care. Beli deh pelembab merk citra white, green tea, yang katanya cocok untuk kulit kering. Hasilnya, tetep kering banget.

Lanjut lagi bertualang, kali ini mikirnya pengen yang organik tapi hasilnya cepet gitu. Nggak mau repot anaknya. Sampailah pada kata kunci MASKER KEFIR.



Beli deh saya masker itu, dengan yakinnya memakai masker sesuai ketentuan, dan pasti hasilnya sama kayak testimoni yang saya baca di instagram olshop penjual masker kefir ini. Hanyak 3 hari saja, kulit udah kenyal dan lembab. Sip. Pasti cocok.

Langsung deh, setelah masker kefir diterima, saya cuci muka bersih dan memakainya. Saat memakai masker yang bentuknya pasta susu ini, emang terasa licin wajah, kayak ada minyak-minyaknya gitu. Baunya rada kecut asem yogurt dan juga bau susu sapi banget. Yakin, masker kefir organik homemade ini akan melembabkan kulit wajah saya dengan sekejap, jadi tak perlu lagi beli pelembab dan segala bentuk skin care lainnya.

Wuih happy dong pede, akhirnya nemu solusi wajah kering saya. Setelah 15 menitan, lalu saya bilas wajah dengan air biasa sampai bersih. Dikeringkan dengan handuk. Hasilnya adalah, tralala wajah saya rasanya kering banget dan sampai ketarik gitu. Putih-putih seperti kulit mengelupas, nggak hanya ada di hidung dan sekitar bibir, ini sampai ke pipi juga. Kering gitu. Kalau nekad di kasih bedak langsung, hasilnya noda-noda bulat putih kayak sisik ikan itu ada di hampir seluruh wajah saya. Waduh kok gini hasilnya. Langsung saya cuci muka lagi. Daripada pake bedak malah ketauan "mbesisik" gini.

Kecewa dong dengan harapan setinggi langit pada masker kefir yang katanya begini begitu itu. Mulai buruk sangka bahwa ini kefir buatan "mbak itu" kayaknya nggak bener deh. Dan segala prasangka lainnya muncul. Padahal ini bulan puasa loh mbakyu, astaghfirullah.....dosa saya.

Biar nggak dosa terus, saya laporan aja ke penjual masker kefir, yang kebetulan memproduksi sendiri semua susu kefir dan produk skin carenya. Saya ceritakan detil, kenapa wajah saya kok malah kering?
Ternyata dia belum bisa menjawab, karena testimoni pembelinya selama ini baik-baik saja.
Waduh, kebuang dong itu produk skin care kefir dan susunya yang udah kebeli kemarin sekitar 230ribuan. Eman kan ya, mending buat beli gamis dapat sebiji. Atau beli sandal dapat 2 biji. Atau beli 1 biji tunik dan 1 biji sandal. hadeh khas itungan emak-emak kan.

Akhirnya saya iseng aja browsing dengan kata kunci, "kulit wajah kering setelah memakai masker kefir".

Dan, ealaahh...ada juga loh hasilnya ditulis di blog orang. Wis...blog emang powerful deh.

Jawabannya adalah masker kefir itu akan berakibat beda-beda sesuai kulit bawaan pemakainya. Nah, singkatnya, untuk saya dengan wajah yang kulitnya kering banget ini, jika memakai masker kefir murni, maka jadinya akan kering juga. Malah jika makenya terlalu banyak, lama atau sering, ya makin kering.

Solusinya gimana? ya ketika memakai masker kefir harus dicampur bahan organik lain yang bisa memberikan nutrisi untuk kelembaban kulit. Di blog itu dituliskan untuk dicampur dengan olive oil dan egg yolk alias kuning telur. Nah...ada solusinya, tapi belum saya coba. Karena males ributnya pakai kuning telur sebiji untuk masker kefir sesendok, kebayang hasilnya jadi terlalu banyak untuk sekali pakai.

Karena nggak sabaran, saya pun berburu pelembab wajah aja ke toko kecantikan. Pertama saya ingin mencari merk Cetaphil, sesuai anjuran keponakan saya. Ternyata nggak ada. Lalu saya bilang aja ke mbak penjaganya.

"Pelembab untuk kulit kering banget, ada nggak mbak?"

Trus mbak itu menatap wajah saya dengan pilu dan prihatin. Sambil berkata, "ya ampun bu, wajahnya sampai kering begitu."

Saya jadi merasa hampa.... :D

Lalu dianjurkannya merek pelembab ini, PIXY WHITE AQUA GEL CREAM. harganya 23 ribu.

Saya pegang bolak-balik dengan setengah percaya. Karena selama ini nggak pernah pakai skin care merk pixy. Pernah beli bedak padat doang sekali, trus kecewa karena hasilnya nggak enak dipakai.

Melihat saya ragu, mbak penjaganya dibantu satu masnya juga terus meyakinkan saya. Sekaligus memberikan sample produk dan dioleskan ke tangan saya.

"Kalau ini bukan krim bu, tapi gel. Jadi nanti hasilnya nggak bikin kering. Bedak juga nempel. Rasanya adem."

Masih ragu juga sih saya, tapi ya sudahlah coba aja. Harganya juga murmer.

"oke deh mbak, satu ya."

Semoga ini cocok deh, gitu batin saya.

Selain pelembab wajah, saya di toko itu juga mencari lip balm untuk melembabkan bibir. Salah saya sendiri juga sebelumnya. Nih bibir saya olesi juga masker kefir. Maksud hati sekalian bisa kenyal dan lembab gitu. Eh ya hasilnya malah kering dan pecah-pecahlah.

Saya maunya minta yang merk Nivea, karena lihat iklannya bagus dan pernah baca review teman, katanya bagus banget. Eh di toko itu nggak ada.

Ya sudah, saya minta merk wardah aja. Dan ternyata ada nih, lip balm rasa orange, harganya cuma 17ribu.

LIP BALM WARDAH



Baiklah, saya pulang ke rumah dengan dua pelembab ini. Langsung ingin mencobanya, cuci muka bersih, oles pelembab wajah dan juga lip balm.

Hasilnya, ajaib bener ajaib deh. Wajah saya ngga kering lagi. Dan pelembab Pixy itu beneran adem di wajah. Cepet meresapnya dan stay lembabnya. Kemudian di hari itu, tiap selesai wudhu, saya ulangi lagi pakai pelembab dan lip balm.

Sampai esoknya, setelah wudhu untuk solat Shubuh, saya pakai pelembab dan lip balm lagi. Lalu setelah beres ngaji dan lain-lain, sekitar setengah jam kemudian, saya iseng pakai bedak bayi ke wajah saya. Dan hasilnya, tralalal...nggak ada lagi noda putih macam kulit mengelupas di wajah saya. Artinya wajah saya beneran lembab.

Alhamdulillah, nemu deh 2 skin care yang murah meriah dan bermakna untuk mengatasi kulit wajah saya yang kering ini. Kata satu teman saya, skin care itu cocok-cocokan. Biar mahal kalau nggak cocok, ya kulitnya rusak. Biar murah kalau cocok, ya bagus.
Jadi semacam jodoh gitu lah ya, hehehe

Begitulah pengalaman saya ya. Jika ada emak-emak yang mengalami hal sama, semoga bisa jadi masukan.

Menjadi Koordinator Coding Mum Disabilitas Surabaya 2018

3 komentar
Sebuah pengalaman yang menarik menjadi Koordinator Daerah Coding Mum Disabilitas.

Coding Mum Disabilitas adalah sebuah program belajar coding untuk sahabat disabilitas atau difabel yang diselenggarakan oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif) Indonesia. Sebelumnya Bekraf membuka Coding Mum yang menyasar target ibu rumah tangga yang bekerja di rumah. Keduanya mengusung tema yang sama yaitu melek digital literasi. Artinya program belajar ini mencoba mengenalkan sebuah dunia baru di era digital yaitu bahasa pemrograman. Nah, materi awal yang coba dikenalkan adalah pemrograman untuk membuat website dari nol. Atau bisa dibilang dengan istilah Make A Website from Scratch.

Saya sendiri adalah alumni dari Coding Mum Surabaya Batch 1 tahun 2016. Setelah mengikuti program ini, saya dan beberapa teman membuka kelas belajar coding untuk ibu-ibu dan selanjutnya juga untuk anak-anak.

Mungkin melihat konsistensi saya untuk menggulirkan kembali semangat belajar coding untuk berbagai kalangan terutama perempuan dan anak, maka pihak Bekraf menghubungi saya dan mengajukan tawaran untuk menjadi koordinator daerah Coding Mum Disabilitas Surabaya 2018.

Tentu saja, tanpa berpikir lama saya langsung mengiyakan tawaran itu dan tak peduli akan sesulit apa atau bakal seberhasil apa. Pokoke budal, kalau kata orang Surabaya ya.

Kinerja saya dimulai dengan tugas mencari lokasi belajar yang nyaman dan fasilitasnya cocok untuk pelatihan coding. Lalu publikasi program dalam rangka rekruitmen mentor dan mencari peserta. Untuk melakukan hal ini saya dibantu oleh pihak Kolla dari Jakarta, yang merupakan event organizer dari pihak Bekraf.

Mencari peserta difabel itu PR banget bagi saya yang sama sekali tak pernah bersinggungan dengan pihak mereka dalam acara apapun selama ini. Karena tidak punya koneksi awal, saya pun mengirimkan pesan broadcast ke berbagai grup whatsapp yang saya ikuti. Mulai SCCF, UMKM Surabaya, Blogger, Grup Guru Belajar Surabaya, alumni sekolah dan bahkan wali murid sekolahan anak-anak saya.

Alhamdulillah dengan cara ini, saya mendapatkan satu per satu nomor kontak pihak terkait yang bisa dihubungi. Mulai dari guru SLB, interpreter bahasa isyarat, ketua komunitas disabilitas dan dosen PLB (Pendidikan Luar Biasa). Semuanya saya hubungi dengan sangat intens. Termasuk satu per satu nama yang mendaftar di link google form yang dibuat oleh pihak Kolla.

Deg-degan tiada tara. Dan di awal kerja saya mendapatkan pengalaman sangat berharga tentang perbedaan gaya bahasa ketika berhadapan dengan teman difabel. Intinya saya harus berhati-hati dalam menulis kata demi kata, sehingga tidak ada salah paham.

Karena menulis chat kepada teman tuli berbeda jauh dengan teman yang tuna netra. Cara menulisnya, susunan bahasanya, bahkan tanda baca yang digunakan sempat membuat saya kaget.
Tapi, mbak Gita, mentornya mentor dari pihak Kolla memberikan masukan bahwa itulah yang harus saya hadapi. Saya harus bisa menyesuaikan diri.


Training of Trainer

Program CM Disabilitas ini dimulai dengan 2 hari pelatihan untuk calon trainer  yang disebut ToT (Training of Trainer). Isi pelatihan bukan semata mengajarkan tentang coding, karena tentu saja calon mentor sudah paham semua karena rata-rata mereka adalah programmer dan web designer. 

Pelatihan lebih ditujukan cara mengajar kelas yang harus berdampingan dengan interpreter bahasa isyarat untuk teman tuli. 

Berikut adalah contoh ketika mbak Gita memberikan arahan kepada calon mentor, 





Selama proses ToT, calon mentor saling berdiskusi tentang bagaimana agar pelatihan selama 8 hari ke depan itu berjalan lancar, menyenangkan dan semua peserta utuh sampai akhir. Tidak mrotoli satu per satu di tengah jalan. Nah, mbak Balqis, guru SLB dan interpreter bahasa isyarat memberikan ide bahwa suasana harus menyenangkan dan kita, calon mentor, harus bersikap layaknya keluarga kepada para teman difabel. Untuk itu dia dan mbak Ani, seorang programmer yang akhirnya menjadi asisten mentor, membuat video untuk mengajak teman tuli bersemangat belajar coding. Inilah videonya,




Setelah dua hari ToT , langsung dilanjutkan dengan pelatihan reguler Coding Mum Disabilitas Surabaya 2018. Peserta sejumlah 20 orang, terdiri dari teman disabilitas tuli, tuna daksa dan slow learner, serta beberapa guru SLB dan pemilik yayasan peduli ABK sebagai perwakilan dari pemerhati disabilitas. Di program kali ini, kami belum bisa memfasilitasi teman dari tuna netra karena terbatasnya fasilitas dan sumber daya manusia. Mohon maaf untuk teman tuna netra. Semoga ada program Blind Coding nanti yang bisa diselenggarakan di lain waktu. 





Cara mengajar adalah seperti di bawah ini, ada mentor utama yaitu kak Korniawan serta satu interpreter bahasa isyarat di depan kelas. Mereka bergantian "bicara" menerangkan isi materi. 




Jika ada peserta yang kesulitan, maka ada 3 asisten mentor yang siap membantu, yaitu kak Tika, kak Ani dan kak Yakup. Bahkan ada 2 asisten mentor volunteer, kak Yudhi dan kak Qurin,  yang baik hati mau datang dan juga membantu dalam beberapa hari. 





Berikut gambaran pembelajaran coding dengan interpreter mbak Balqis dan mentor kak Korniawan.



Alhamdulillah CM Disabilitas ini selesai pas waktunya dan hampir semua pesertanya selalu masuk kelas. Ada beberapa yang absen karena harus menempuh ujian di sekolah. Atau peserta tuna daksa yang absen karena pendampingnya tidak bisa mengantar. 

Untuk mengatasi absennya peserta, kami memberikan forum tanya jawab di grup whatsapp. Dan saya berusaha merekam dengan baik sesi pelajaran yang diberikan, lalu membaginya di grup. Jadi saya selama pelatihan kerjanya jadi tukang foto dan tukang rekam video. Selain juga mengurusi printilan kebutuhan logistik dan harian selama acara. Misalnya kabel olor colokan listrik, tatanan kursi, layar dan projectornya, air minum, permen dan beberapa jajanan yang bisa dikunyah dan lain sebagainya. Ya namanya juga koordinator :)

tukang foto modal hape dan tripod dari jaknot 

Di sesi akhir pelatihan adalah presentasi. Semua peserta maju untuk presentasi. Sungguh mengharukan tapi tak ada satu pun yang berlinang air mata. Karena suasana begitu meriah dan rame. Khas Suroboyoan banget. 



Semua bersemangat dan bahkan presentasi kami diposting di instagram pribadi bapak Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF).


Coding Mum Disabilitas: Coding Mum Disabilitas Surabaya telah ditutup hari ini. Sebanyak 18 peserta Coding Mum Disabilitas mempresentasikan website hasil pelatihannya selama ini. Pelatihan coding yang diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerjasama dengan PT Kolaborasi Ide Kreatif (Kolla Space) sudah dimulai sejak tanggal 19 April hingga 3 Mei 2018 di Rumah Kreatif BUMN Mandiri Surabaya. Kegiatan diikuti oleh peserta disabilitas yang memiliki minat untuk mempelajari coding. Ketiga juri yang hadir adalah Ibu Farida dari ITATS, Bapak Amin dari perwakilan BEKRAF dan Ibu Gita Citra dari Kolla Space. Peserta mayoritas adalah siswa SLB yang berasal dari Gresik dan Surabaya. Peserta dari Gresik setiap hari pulang pergi dari Gresik ke Rumah Kretif BUMN Surabaya dengan jarak tempuh lebih dari 1 jam. Berikut video pendek dari salah satu peserta dan beberapa foto.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Triawan Munaf (@triawanmunaf) pada


Beberapa hari sebelum akhir pelatihan, kami mendiskusikan tentang program selanjutnya dari pelatihan ini. Dan alhamdulillah, mentor dan peserta sama antusiasnya ingin belajar terus. 

MENTOR, JURI, PESERTA Coding Mum Disabilitas Surabaya 2018

Begitulah secuplik pengalaman berharga saya ketika meng-handle Coding Mum Disabilitas Surabaya 2018. Cerita lengkapnya banyak banget sebenarnya. Bahkan layak dijadikan novel atau drama beberapa episode. Karena banyak sekali yang terjadi saat itu. Termasuk adanya visualisasi kepala perempuan tanpa jasad, yang sedang ikut kelas Coding Mum mulai awal sampai akhir, tapi hanya bisa disaksikan oleh satu peserta tuli . Hiyyy.... 






Kini Anak Bisa Bikin Game Sendiri di Kelasku Digital

1 komentar
Suasana Coding Kids di Kelasku Digital
"Aduh, anakku kecanduan game. Bisa hancur masa depannya nanti!"

Ekspresi putus asa dan greget ini biasanya diungkapkan orang tua ketika mereka merasa tidak bisa berbuat apapun untuk MENGHENTIKAN kegemaran anak-anaknya bermain game.
Saya sendiri pun mengalaminya. Dengan hadiah berupa 2 anak laki-laki yang gemar sekali main game, masa saya jadi mamah muda, harus mati-matian mencari cara untuk menghentikan anak main game tadi.

Wih kalimat ini panjang bener ya. Maaf. Sekarang pada tarik nafas deh.
Usaha saya yang bertahun-tahun itu, ga ada hasilnya. Anak saya tak bisa lepas dari game. Dan malah emosional, gampang ngamuk kalau ada masalah keciiil banget di rumah.
Saya nyaris menyerah, mau membiarkan saja anak berbuat sekehendak hatinya. 

Dalam bahasa Spanyol bisa disebut, "Sak karepmu wis nak!!!"

Untunglah, ada sejumprit sel neuron di otak saya dan seimprit bisikan hati saya yang mengatakan, "bagaimana kalau nih bocah diarahkan untuk MEMBUAT GAME".

Dan lalu, bergerilyalah saya di jelajah mbah Google, mencari "tempat kursus game anak Surabaya murah meriah bahagia".
*google bete kali ada yang search dengan kata kunci sebanyak itu :)

Dan hasilnya adalah...<<<<zonk>>>

Ada studio animasi, tapi ga nerima peserta anak kecil. Atau ada kursus komputer anak, tapi bayarnya harus satu paket yang nilainya jutaan rupiah.

Akhirnya, saya dan suami mencari cara yang paling bisa kami lakukan, yaitu:
1. Membelikan komputer
2. Memberi aturan bahwa:
A. Hanya boleh main game di komputer
B. Game harus tidak porno, sadis, horor
C. Dilarang main game di PS, Nitendo, dll

Tujuan kami adalah agar setelah capek main game, anak bisa nguprek komputer itu untuk belajar hal lain. Minimal buka ms.words atau Paint.
Sekitar 9-10 tahun lalu, 2007, untuk mendapatkan game "berat" harus beli CD di THR (sekarang disebut Hi Tech Mall).
Untuk main game online, masih terbatas karena belum punya modem apalagi wifi.

Waktu berlalu, ternyata anak saya beneran nguprek komputer selain main game. Singkat cerita, si sulung memilih sekolah di SMK jurusan pemrograman, karena ingin jadi programmer.

Alhamdulillah strategi berhasil.
Saat ini, saya masih melihat masalah yang sama untuk anak-anak kecil terhadap game yang makin canggih dan menarik. Orang tua makin panik, tak tahu bagaimana membendung kehebatan anaknya memainkan gadget untuk gaming.

Dengan niat menjadi bagian dari solusi dan kebetulan bertemu dengan penggagas kursus game anak, maka saya membuka Kelasku Digital di Surabaya. Update informasi bisa dilihat di instagram @kelaskudigital

Dengan pengalaman yang sama, saya yakin program coding kids di Kelasku Digital ini, bisa jadi jalan anak-anak gamer mengasah kreatifitasnya. Dan tidak ada lagi kalimat pedas ortu yang panik ketika melihat anaknya bermain game. Melainkan ortu bisa seiring sejalan mengenal kemajuan teknologi bersama si buah hati.

Ayah, bunda, kini saatnya mengarahkan putra putri kita menjadi Pembuat Game, bukan hanya Pemain game. Semoga dari sana, mereka mulai tertarik dengan dunia pemrograman. Sehingga kelak mereka bisa menjadi TEKNOPRENEUR yang andal. Amin.

Ingin tahu detil kelasnya?
Chat langsung di bit.ly/infokelasku

ROADSHOW CODING MUM SURABAYA

1 komentar
Coding Mum itu ngapain sih mbak Hen?
Emak-emak ngoding beneran?
Dari nol gitu?
Pake HTML, CSS gitu?
Ngoding apa saja?

Kalau mau didaftar lagi, masih panjang pertanyaan tentang Coding Mum ya. Jawaban yang terus saya ulang adalah. "Lah namanya juga Coding Mum. Ya ngoding. Iya coding beneran. Masak ya di sana kita rujakan?" *ngikik

Emang sih, masih belum familiar gitu dengar ada Emak-emak bisa ngoding. Bisa bikin website dari nol. Apalagi bisa bikin aplikasi android/ios sendiri. Kata "CODING" aja menurut teman-teman, yang bapak-bapak programmer pun tampak berat. 

"Jangan ngerjain CODING, itu berat. Aku saja" 

Nah loh, ter-Dylan 1990-an :)

Jadi, supaya CODING ini terdengar familiar dan biasa-biasa saja, kami berinisiatif mengadakan 

ROADSHOW CODING MUM SURABAYA

roadshow coding mum surabaya
Ingin bisa membuat website anda sendiri?
Atau ingin tahu lebih lanjut cara membuatnya dengan HTML5 dan CSS3?
Sekaligus makin penasaran, Coding Mum itu ngapain aja?
Acara ini paling cocok untuk anda ikuti.
Roadshow Coding Mum Surabaya.
Anda akan bertemu alumni Coding Mum Surabaya Batch 1, yang ramenya ngangenin.
Mereka akan menularkan antusiasme belajar coding dan nguprek teknologi untuk kegiatannya sehari-hari. Ada dosen, guru, freelancer dan yang pasti para ibu rumah tangga yang sudah mulai melek teknologi, serta dapat job dan income baru setelah lulus dari sini. .
.
Tidak hanya itu, kita akan praktek bareng bikin website dasar bersama salah satu dari mereka. Jadi, ingat bawa laptop dan chargernya ya.
.
.
Kalau sudah kenalan sama HTML5 dan teman-temannya, dijamin jadi jatuh cinta. Tunggu apa lagi, langsung daftar. Dan, Ayo Ngoding Mak! .
.
Detil acara:
Roadshow Coding Mum Surabaya
Minggu, 11 Februari 2018
Pukul 09.00 – 13.00 WIB
Di Rumah Kreatif BUMN Bank Mandiri Surabaya
Jl. Chairil Anwar 20 Surabaya (dekat Masjid Rahmad Kembang Kuning). .
.
Fasilitas:
- Snack
- Makan siang
- Soft file modul
Investasi edukasi : Rp. 75.000,-
.
.
Info dan pendaftaran:
- 0878-5178-1356 (WA only)
- Klik langsung http://bit.ly/codingmumsurabaya
Instagram official: @codingmumsurabaya
(www.instagram.com/codingmumsurabaya)

APA ITU CODING MUM?

Coding Mum Surabaya Batch 1, tahun 2016

Coding Mum adalah sebuah program belajar coding untuk perempuan, yang diinisiasi oleh BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif). Program ini ingin memfasilitasi perempuan produktif di Indonesia, agar mempunyai skill di ranah digital dan pemrograman. Supaya kelak mendapatkan peluang baru untuk berkarya dan bekerja, dari rumah atau sebagai WORKING AT HOME MOM. Hal ini berkaitan erat dengan semangat pemberdayaan perempuan atau bahkan pemberdayaan ibu rumah tangga.

Dengan punya skill coding, para lulusan Coding Mum, bisa bekerja sebagai Web Designer atau Front End Programmer, baik secara freelancer (individu) atau bekerja di tempat lain yang membutuhkan. Coding Mum Batch 1, diadakan oleh Bekraf di beberapa kota besar di Indonesia. Lulusan dari batch 1 ini diharapkan akan membuka kelas belajar mandiri di kotanya masing-masing. Nah inilah yang sedang kami lakukan di Surabaya. 


Meet The Fasilitators

di meja depan (kiri ke kanan): Jelita, Tika, Heni, Lulus

4 orang lulusan Coding Mum Surabaya batch 1 ini, kemudian bersinergi menjadi FASILITATOR CODING MUM SURABAYA. Mereka adalah:
  1. Bu Jelita (dosen UNIPA)
  2. Bu Tika (Full time freelancer)
  3. Bu Heni (Blogger)
  4. Bu Lulus (Guru SD Muhammadiyah)
Keempat orang ini, yang akan menyediakan energi, waktu dan pikirannya untuk bisa mengembangkan komunitas belajar coding dan pemrograman yang ramah untuk perempuan dan anak-anak di Surabaya dan sekitarnya.

Coding Mum Surabaya, mempunyai rencana besar membuka kelas belajar:

  1. Web Design
  2. Mobile App (android/ios)
  3. Coding Kids (game & animasi)
  4. Coding Camp (why not? *big dream nih) 
Untuk bisa mewujudkan rencana ini, para fasilitator harus berkolaborasi dengan berbagai pihak. Jika anda tertarik dengan program ini, baik sebagai peserta atau pengajar, silahkan langsung kontak kami ke Coding Mum Surabaya.