Live To The Max! Dari Perempuan Untuk Perempuan

10 komentar
Share your knowledge. It is a way to achieve immortality. - Dalai Lama

Dalai Lama, dalam quote yang saya kutip diatas menuturkan. Bahwa jika ingin hidup selamanya, berbagilah. Berbagi segala yang sudah ada di genggaman tangan ini. Apakah itu rejeki yang ada rupa dan bentuknya. Atau berbagi ilmu, pengetahuan, inspirasi dan motivasi kepada siapapun yang sekiranya membutuhkan.

Bagaimana caranya?
Jujur, saya pun sedang berpikir keras mengolah rasa, asa dan karsa. Tentang bagaimana saya harus memulainya dengan kondisi yang ada sekarang?


Perempuan Yatim Piatu Itu Lekat di Benakku

Sejenak saya ingin berbagi hati. Beberapa hari kemarin, ada acara buka bersama anak yatim piatu di perumahan tempat saya tinggal. Sebenarnya saat itu saya masih flu berat. Batuk tak henti-henti. Tapi saya ingin datang. Bagi saya, anak yatim piatu adalah hal istimewa. Dan entah kenapa, sampai detik ini saya belum percaya diri datang sendirian ke rumah singgah ataupun panti asuhan. Jadi hadir di acara bukber kali ini, penting untuk jiwa saya.

Benar kiranya. Disana saya lihat beberapa gadis muda dan anak perempuan kecil memakai seragam gamis dan jilbab berwarna pink salem, duduk di atas karpet berbentuk sajadah hijau. Wajah mereka teduh. Hati ini langsung menjadi pilu.

Tuhankuu, Rabb, apalah yang sudah kulakukan untuk mereka...

Desir hati berbisik pelan pada diri sendiri. Dengan hangat saya jabat tangan mereka satu per satu. Saya tajamkan benar pandangan ini pada raut wajah mereka. Saya ingin memotret mereka dan mengabadikannya dalam hati. Entah untuk apa, saya hanya ingin saja melakukannya.

Senyumnya. Tutur kata mereka yang lembut. Mata yang selalu menunduk dan menghindari tatapan saya. Ingin sekali saya ajak bicara ngobrol ringan. Menanyakan ini itu. Namun tenggorokan yang gatal membuat saya memilih menutup mulut dengan selembar tissue. Dan berusaha keras agar suara batuk tidak mengganggu ustadz yang sedang bertausiyah. 

Dalam diam itu, ribuan kalimat  tanya berebut memenuhi benak. 
"Mbak, di panti belajar apa saja? apa ingin belajar komputer? apa mau saya ajari? kalau nanti belajar di rumah saya, apakah bisa? apa ada yang mengantarkan? apakah boleh ke rumah saya? apakah di panti ada akses internet? apa suka bikin kerajinan tangan? saya bisa bikin bros, ini itu dan ini itu."

Dan pertanyaan itu lenyap dalam pikiran saya sendiri.
Tak satupun sempat saya lontarkan pada mereka.

Bayangan pun melayang pada sosok gadis muda yang menangis di televisi, karena begitu susahnya kehidupan ekonomi keluarganya. Sehingga dalam isak menahan air mata jatuh, dia harus menyanyi di depan mikrofon. 

Ah, saudari perempuanku. Adik-adikku. Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?



Sembuh Dulu. Sehat Dulu, Baru Mikir Solusi

Setelah acara bukber itu, flu saya belum reda juga. Karena sedang bulan puasa, saya enggan sekali ke dokter. Males banget antri dengan kepala nyut-nyutan. Jadi saya pilih menguatkan diri sendiri dengan segala cara. Saya minum obat flu dan menambah daya tahan tubuh dengan vitamin yang bagus untuk mempercepat penyembuhan

theragran m vitamin



Theragran-M, selalu jadi pilihan. Dan itu beneran manjur, satu per satu gejala flu hilang. Hidung tidak mbeler lagi, pileknya berhenti. Besoknya demam ilang. Kemudian batuk yang tersisa pun lenyap. 

Saya bertekad, setelah kondisi tubuh pulih. Kepala udah bisa diajak kompromi untuk berpikir lagi. Saya akan membuat konsep untuk mewujudkan keinginan, melakukan sesuatu untuk mereka yang saya ceritakan di atas. Para adik-adik dan saudari perempuan. 



Pemetaan Situasi, Kondisi dan Potensi

Dalam melakukan pemetaan ini, saya harus realistis. Saya sudah jadi istri orang dan ibu dari dua orang anak. Dan tipe keluarga saya adalah rumah-minded. Jadi akan lebih mudah dan baik untuk semuanya kalau semua kegiatan saya itu berbasis rumah. 90% dilakukan di rumah saya ini. 

Saya tidak berani berkomitmen sebagai mobile-person alias orang yang datang untuk mengajar ke satu tempat ke tempat lainnya. Karena prioritas utama saya adalah keluarga. Dan itu tidak perlu melemahkan motivasi diri, karena dari rumah saja pasti bisa melakukan sesuatu. Tinggal mengotak-atik strategi yang tepat.

Setelah renovasi dua tahun lalu, ruang tamu saya cukup untuk menampung 10-15 orang. Bahkan bisa lebih dengan syarat mau duduk berdempetan. Belum ada LCD Projector, akan tetapi saya bisa memanfaatkan TV Flat 23 inch yang nanti dihubungkan ke laptop kecil saya dengan kabel VGA. Untuk praktek peserta, saya baru punya satu PC All in One, hadiah menang lomba nulis blog tahun kemarin. 

Akses internet di rumah juga cukup mumpuni. Untunglah waktu pemasangan awal saya sudah memilih kapasitas 2 gigabyte untuk versi bisnis. Jika kelak butuh di-upgrade, ternyata mudah juga dilakukan. Tinggal lapor ke pusat provider dan menambah biaya per bulan. Listrik juga aman dan stabil, karena tinggal di kota besar, Surabaya. 

Baiklah, keputusan pertama adalah pusat kegiatan dilakukan di rumah.

Selanjutnya pemetaan potensi. Bisa dibilang pengalaman saya lumayan juga telah mencoba ini itu. Berikut daftar skill dan knowledge yang telah saya pelajari (walau belum expert tapi cukup layak untuk diajarkan ke orang lain):
  1. Handycraft: membuat aksesoris handmade berbahan kawat (wire jewelry), kain, kertas koran bekas. Membuat boneka jari dan kreasi lain dari flanel. Menghias jilbab dan kain menggunakan teknik sulam untuk kain perca (sulam perca). 
  2. Coding: saya mengenal cara membuat website menggunakan bahasa HTML 5, CSS3, javascript, bootstrap melalui program Coding Mum Surabaya, tahun lalu. Saya juga dua kali mengikuti kelas membuat aplikasi berbasis android dengan bahasa Java, melalui program Indonesia Android Kejar (IAK). Pasti saya belum ahli banget membuat aplikasi android, akan tetapi saya cukup tahu langkah-langkahnya. Dan jika ada yang berminat, saya bisa menarik mentor saya waktu itu untuk membantu. 
  3. Menulis: ini tidak diragukan lagi. Menulis saya lakukan sejak kecil.
  4. Blogging dan Optimasi Sosial Media: saya yakin sudah cukup mumpuni mengajarkan blogging. Dan untuk memaksimalkannya, teman di komunitas blogger di Surabaya pasti sangat bersedia jika saya mohon sebagai narasumber dan trainer untuk ilmu blogging lain yang belum saya kuasai. 
  5. Bisnis online: saya berpengalaman mengelola online shop Jilbab Orin. Juga beberapa kali terlibat dalam komunitas digital marketing. Sekaligus menjadi trainer Gapura Digital, yaitu projek Google untuk memfasilitasi UMKM Go Online. Saya juga tergabung dalam komunitas SCCF (Surabaya Creative City Forum) dan Rumah Bisnis Kreatif Mandiri. Saya yakin networking yang saya miliki, bisa membantu saya mengajar. 
  6. e-learning: sesuai dengan materi tesis saya waktu S2 kemarin. Saya ingin sekali menjadi fasilitator agar para guru dan murid di Indonesia, terbiasa menggunakan teknologi digital untuk belajar dan mengajar. Saya menguasai platform e-learning seperti Edmodo dan Course Networking. Saya pun tergabung di GEG Surabaya (Google Educator Group), karena saya pun terbiasa menggunakan produk Google Suite untuk bekerja dan belajar. 
  7. Teknologi Pendidikan; selain tentang e-learning, saya berbasis kimia dan juga Teknologi Pendidikan. Sungguh akan sangat puas kalau semua yang saya pelajari, bisa saya bagi. Untuk detil mengajar kimia lagi, mungkin waktu saya tidak cukup. Akan tetapi, mungkin saya bisa membagi dan mengintegrasikan kimia ini dengan teknologi pendidikan. Sehingga belajar kimia khususnya atau belajar pada umumnya bisa lebih mudah.

keputusan kedua, materi yang akan diberikan adalah seputar Kreasi, Bisnis dan Edukasi.

Lalu bagaimana saya mewujudkan semua hal itu?
Apakah perlu membuka kursus belajar resmi atau workshop berjadwal?
Apakah ini murni gratis atau berbayar? atau gabungan keduanya?
Sepertinya lebih realistis jika saya gunakan sistim sumbang silang. Ada sesi berbayar untuk peserta yang mampu. Dan ada sesi gratis untuk yang membutuhkan.


Saya kembali teringat konsep AKADEMI PRASETYORINI yang telah saya tulis beberapa kali, sejak saya mempresentasikan hal ini sebagai tugas akhir Coding Mum Surabaya.

akademi prasetyorini
prototype website Akademi Prasetyorini
[blog: http://akademi.prasetyorini.com]

Akademi Prasetyorini itu adalah tempat belajar sekaligus komunitas belajar untuk perempuan agar melek teknologi. Dan memang ada 3 materi utama yang ingin saya ajarkan disitu: kreatif, bisnis dan teknologi. Namun dalam perjalanannya, teknologi bisa masuk ke pendidikan. Maka konsep kreasi, bisnis dan edukasi adalah hal yang tepat. 


Saya menuliskan kembali konsep belajar untuk perempuan ini dengan dada yang berdegup kencang. Sungguh ingin sekali mewujudkan hal ini secepat mungkin. Kalau bisa besok sudah mulai.

Akan tetapi saya harus realistis. Dalam 2-3 bulan ini, ada pekerjaan menulis yang harus saya selesaikan dulu. Saya pun harus memastikan anak sulung saya yang akan masuk pondok pesantren dan belajar coding (pemrograman) di SMK Telkom Darul Ulum Peterongan Jombang, telah aman dan nyaman. Selain itu, kondisi anak kedua saya juga stabil walau tidak ada kakak yang selalu harus ada disampingnya itu.

Jadi, ada kemungkinan saya baru bisa mulai dengan pasti sekitar 4 bulan lagi. Dan itu masih dalam bentuk mini workshop atau short course. Lalu 2 bulan setelahnya, akan dievaluasi dan ditentukan strategi yang tepat. Semoga saja, 6 bulan sampai 1 tahun ke depan ini, ada rejeki dari langit sehingga saya bisa memenuhi fasilitas laptop untuk peserta didik yang memerlukan. Allahumma Amin. 

Sungguh rencana yang luar biasa untuk saya pribadi. Dari rumah, saya bisa mengoptimalkan diri bersama-sama dengan perempuan lainnya. Untuk itu, saya harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Selain terus mengasah kemampuan, saya juga harus menjaga kesehatan. 

Terutama untuk kesehatan, saya sadar sekali masih banyak PR yang belum saya lakukan. Olahraga saja masih jadi wacana. Namun, saya harus membulatkan tekad mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. 

Saya juga harus mengatur pola makan, sehingga tidak mudah tumbang karena salah makan. Saya pun harus tertib mengkonsumsi vitamin untuk mengembalikan daya tahan tubuh setelah sakit, seperti Theragran M

Selain itu, harus banget berlatih menyeimbangkan pikiran agar bisa tetap tenang walau banyak ide bersliweran di kepala. Meningkatkan ibadah sehingga terus terkoneksi dalam bimbingan-Nya , Rabbul Izzati, Sang Maha Kuasa. 

Saya sadar diri, udah jauh dari usia remaja *yaiyalah anaknya aja udah masuk SMK :D
Sebentar lagi sudah masuk usia 40 tahun *masih 2 tahun lagiiih. 

Kabarnya kan "Life Begin at 40".
Nah, sebelum saya 40 tahun, semoga saja rencana membangun Akademi Prasetyorini, untuk berbagi dari perempuan untuk perempuan ini sudah berjalan dengan baik. Sehingga, semua perempuan di negeri ini bisa hidup layak, bisa mandiri, bisa mengoptimalkan potensi diri.

Bisa LIVE TO THE MAX apapun situasi dan kondisinya.

Apakah sahabat mempunyai getaran hati yang satu frekuensi dengan saya?
Ayo mari bergandeng tangan. Berkolaborasi. Silahkan kontak saya melalui email atau link media sosial di blog ini.


Salam semangat!


Heni Prasetyorini




Disclaimer: Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Theragran-M.

Hobi Fotografi Bisa Jadi Selebgram, Begini Caranya

4 komentar
Hobi Fotografi Bisa Jadi Selebgram. Pernyataan ini bener banget. Peluang usaha di era digital sekarang sangat terbuka lebar. Ibaratnya, hobi apapun bisa jadi duit. Asal tahu caranya.

Termasuk hobi difoto alias jadi model. Atau hobi memfoto, yang kalau ditekuni bisa jadi fotografer profesional. Nah, yang lebih menarik lagi, dari kedua profesi itu, dua-duanya bisa menjadi selebgram. Begini caranya:


ribuan follower selebgram dengan celebgramme

Selebgram diambil dari akronim dua kata "selebriti" dan "instagram". Maka, jika anda ingin jadi selebgram, tentu saja anda harus punya instagram. Kalau anda sudah eksis di media sosial lainnya, misalnya twitter, maka sebutan anda bukan selebgram, bisa jadi disebut selebtwit *LOL.

Mengapa harus di instagram? karena disanalah cikal bakal istilah selebgram ini muncul. Jika diartikan selebriti adalah orang yang banyak penggemarnya di dunia nyata. Maka selebgram adalah orang biasa (bukan artis) yang banyak penggemarnya di dunia maya. Penggemar di media sosial ini biasa kita sebut sebagai follower.

Seseorang bisa disebut selebgram sekaligus influencer jika followernya mencapai minimal 10-20 ribu. Itu minimal ya. Rata-rata selebgram sudah mempunyai ratusan ribu follower.  Bahkan jika sudah sangat terkenal, bisa mencapai jutaan follower.


Bagaimana Caranya Dapat Ribuan Follower?


Sebagai orang awam, tentu rasanya kelabakan memikirkan cara mendapatkan ribuan follower ya? *sama dengan saya :)

Akan tetapi, jika diamati dengan baik para selebgram itu mempunyai kelebihan yang patut kita ATM biar bisa seperti mereka. Di-ATM ? maksudnya kita bayar untuk jadi selebgram?

Bukan, bukan itu maksudnya. ATM disini adalah Amati - Tiru - Modifikasi. 

Amati instagram mereka. Kalau dilihat timeline postingan mereka, dijamin pasti kontennya menarik. Gambarnya cakep. Videonya keren. Captionnya relevan banget dengan kita. 

Jadi, kata kuncinya adalah Konten visual kita harus baguuus banget. Nggak cuma bagus ajah. Artinya, harus ada effort atau usaha lebih untuk membuat konten yang bagus. Mau tidak mau, konsep fotografi dan desain grafis harus kita kuasai biar foto yang kita hasilkan bisa menarik dan disukai banyak orang. Kalau anda punya modal lebih, bisa menggunakan jasa fotografer profesional.

Setelah mengamati dan meniru, jangan lupa untuk memodifikasi. Lebih baik kita tetap jadi diri sendiri. Punya style sendiri. Entah itu dari tulisan di caption postingan kita. Atau dari tone warna gambar yang dipilih. Juga karakter yang ingin kita tampilkan dari foto atau video yang akan kita sebarkan di akun instagram.

Misalnya, jika ingin dikenal sebagai selebgram yang unik dan cerdas. Bisa saja di semua postingan, selalu ada buku, sedang membaca buku, atau ngoding dan nguprek sesuatu di laboratorium pakai mikroskop. Unik, bisa diambil dari dandanan kita, atau sudut foto yang mau diambil.

Apakah menjadi selebgram harus memajang foto diri saja, seperti model gitu?
Ternyata nggak juga. Ada orang yang hobi fotografer, lalu memajang hasil fotonya, juga bisa jadi selebgram. Karena followernya banyak banget. Artinya foto hasil jepretannya disukai banyak orang.


Apa Sih Untungnya Jadi Selebgram?

Apa keuntungan jadi Selebgram? Kalau mau jujur, ya UUD. Alias Ujung Ujungnya Duit. 
Tapi kan itu nggak salah? karena kita dapat duitnya juga dengan cara halal. Asal syarat dan ketentuan berlaku. Artinya, foto dan video yang kita buat dan sebarkan di instagram itu yang baik-baik saja. Tidak melanggar syariat agama atau norma kesusilaan di masyarakat. 

Tapi kan, ada selebgram yang "kurang baik", malah terkenal banget tuh. Bisa dapat endorse dari barang  iklan ini itu. Mahal pula bayaran endorsannya.

Nah, walaupun sebagian besar penghasilan selebgram adalah menjadi endorser produk atau brand tertentu. Jika hanya semata untuk duit, trus menghalalkan segala cara. Menurut saya pribadi loh, kayaknya percuma saja.

Biar kata, kita bisa cepat kaya atau kaya mendadak. Belum tentu berkah hidupnya. Belum tentu tenang. Belum tentu bisa tidur nyenyak, makan enak dan menjaga nama baik orang tua. 

Ah sudahlah, pilih postingan yang baik-baik aja oke. 

Oke, kembali ke masalah keuntungan. Selain mendapatkan financial benefit dari pihak pemberi endorse, selebgram bisa mendapatkan keuntungan lainnya yang lebih long-term

Jika selebgram ini, terus menerus mengasah skill-nya dengan sungguh-sungguh. Misalnya skill fotografi atau skill model. Maka kelak mereka bisa menjadi fotografer profesional atau model profesional. 

Ditambah, akan muncul berbagai peluang kerja baru yang menghampiri. Misalnya menjadi narasumber talkshow, atau trainer workshop fotografi dan tips jadi selebgram. Kalau sudah jago banget skillnya atau networkingnya, malah bisa membuat 'sekolah" khusus. 

Jika selebgram sudah sampai bisa bikin "sekolahan" dan semacamnya, akan semakin banyak manfaat yang bisa dia sebarkan. Kabarnya, manusia terbaik itu kan yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain dan semesta ini. Setuju kan ya?

Inti dari semua ini adalah, apapun hobi kita, jika digeluti dengan tekun dan sungguh-sungguh, akan bisa menjadi jalan kita untuk bisa mandiri dan bermanfaat bagi orang lain.

Nah, jika anda suka banget difoto atau memfoto, ayo lanjutkan. Tekuni teknik keterampilannya. Bikin konten visual yang bagus dan posting di instagram. Lalu terapkan langkah-langkah optimasi instagram yang bisa anda pelajari sendiri dari internet sekarang.

Semoga sukses ya.


Salam,


Heni Prasetyorini


Pengalaman Ikut Google Cloud Next 2017

4 komentar

Google Cloud Next 2017 itu cuma ngobrolin tentang google drive, pikir saya gitu awalnya. Kan judulnya ada "cloud"nya. Jadi dengan pede saya ikut daftar acara ini. Dan yakin bakal mudeng. Secara saya dengan google drive seperti bunga dan kumbangnya, selalu bersama. Eaa..


Ternyata eh ternyata, tidak sekedar itu. Intinya, ketakutan salah satu teman blogger saya terjawab sih. Katanya, mbak Heni aku ingin ikutan acara itu tapi takut plongah-plongoh alias gak paham. Dan itu saya alami sendiri.

Google Cloud ternyata gak sekedar nyimpen data segede gambar, tulisan dan video editan kita gaes. Tapi ada ukuran cloud yang jauh lebih besar, dan diperuntukkan bagi para programmer. Terutama untuk yang bikin game atau aplikasi berbasis android yang bisa di-publish di Google Play Store.



foto-foto lengkap bisa dilihat di instagram @heniprasetyorini

Acaranya cukup padat merayap. Para narasumber, MC dan pesertanya mayoritas programmer. Yaiyalah masak foodblogger. Yang menyenangkan adalah beberapa narasumbernya adalah perempuan.

Bukan maksud mengusung isu genre atau feminitas ya. Saya mudah terpesona kalau ada perempuan pinter suatu bidang, trus bisa sharing dengan cas-cis-cus-nya di depan orang banyak. Mulai dari narasumber pertama yang bicara tentang Admob untuk monetizing game atau software produksi kita. Sampai pada yang bicara tentang Internet of Things yang kalem dan manteb gitu ceritanya dia bikin alarm rumah yang bisa dikendalikan melalui smartphone.

Waktu itu, saya duduk bersebelahan dengan bu Farida, salah satu dosen informatika di universitas swasta di Surabaya. Karena dekat beliau, jadi saya bisa rada mudeng dikit jika ada yang lewat dari pemantauan saya selama ini.

Fiuh..namanya acara developer, ya mbahas coding dikit dikit lah. Atau bahasanya sekitar itu lah. Yang bisa saya tangkap sebagai orang awam adalah, ternyata produk google itu nggak cuma bisa dipakai untuk googling.

Google nggak cuma Google

Google menerapkan sistim kerja berbasis komunitas dengan dibuatnya GDG (Google Developer Group) yang dikelola di tiap kota besar. Dari GDG ini, google mengembangkan produknya atau aplikasinya melibatkan developer (programmer) lokal. 

Ide ini keren banget deh menurut saya. Membuat manusia terlibat itu bisa menciptakan keterikatan yang kuat dan malah everlasting untuk menggunakan suatu produk tertentu.

Ya, begitulah sedikit sharing pengalaman saya ikutan Google Cloud Next 2017 di Surabaya. Cukup menambah wawasan tentang dunia teknologi. 

Apakah teman-teman ada yang pernah ikutan?

Kopi Dan Drama Korea: Mood Booster Blogging dan Coding

1 komentar
Kopi? Maklum banget jadi jimatnya blogger atau pekerja lainnya.
Tapi, drama Korea?
Nonton drama sambil nge-blog, sambil ngoding, bisa?
Beneran? Serius?

Jawabannya adalah. BENER. SERIUS.

FYI. Saya nih, hidupnya bisa dibilang 90% ada di dalam rumah. Selama 7 hari seminggu, 30 hari sebulan. 10% sisanya untuk antar jemput anak, ke pasar, ke ATM bank atau minimarket.

Is it real?
Yes.
Biar ga umum, itu real story.

Jika ada kerjaan atau acara lain, barulah porsi keluar rumah naik beberapa persen.

Kalau duluu, saya di rumah bareng anak yang kunyil, anak kedua. Jadi masih rame. Lah, sekarang dia udah gede, klas 4 SD, yang pulangnya sore, selisih dikit dengan kakaknya.

Jadi, sejak suami ke kantor, praktis saya sendirian di rumah. Pagi sampai sore. Dan itu sepiii loh rasanya sodara-sodara.

Yang komen bikin anak lagi mbak Hen, bakal saya kasih voucher jilbab hahaha.

Karena sepii, saya suka bikin rumah jadi rame pas kerja ber-digital ria. Kadang denger radio, kadang lagu di you tube. Tapi lebih sering muter drama Korea sih ya.


Kenapa?
Karena aku suka intonasi suara dari bahasa Korea. Apalagi jika filmnya ngehits dan menohok hati kayak Goblin. Untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan dalam persinyalan internet nusantara, maka saya donlot semua episode Goblin ini di laptop. Biar ati tenang, wkkk.

Jika udah juenuh banget atau mental block, ga tau mau nulis apa, saya tinggal brenti trus nonton dramanya deh. Kalau udah ngakak sebentar lihat ulah Gong Yoo dan Eun Tak, baru mulai lagi.

Dibilang multitasking, bolehlah. Ini cuma kebiasaan.
Jaman sekolah dulu, saya sering belajar di depan tivi menyala. Rame aja gitu. Tapi bukan rame orang ngobrol.

Ya, bisa konsen tuh ya waktu itu.

Kalau sekarang saya ga bisa konsen depan tivi. Terlalu banyak iklan dan acaranya ga sreg di telinga juga hihihi. Di telinga, bukan di mata.

Kalau tentang kopi, itu sudah wajibun wajiiib.
Biar kata saya dinasehati jangan ngopi dll, tetep ga bisa.
Tapi sekarang udah jauh berkurang sih dibanding jaman perjuangan sekolah. Sekarang paling segelas kecil sehari. Pagi terutama. Biar ga salah paham dan kroso urip, heheh.

Camilan temannya kopi  ga terlalu wajib ada. Kalaupun ada kue, saya biasanya nggigit diki doang. Karena saya ini makhluk nyemego alias pecinta nasi. Jadi mending makan nasi daripada nyamil jajan. Jowo banget wis.