Hobi Fotografi Bisa Jadi Selebgram, Begini Caranya

4 komentar
Hobi Fotografi Bisa Jadi Selebgram. Pernyataan ini bener banget. Peluang usaha di era digital sekarang sangat terbuka lebar. Ibaratnya, hobi apapun bisa jadi duit. Asal tahu caranya.

Termasuk hobi difoto alias jadi model. Atau hobi memfoto, yang kalau ditekuni bisa jadi fotografer profesional. Nah, yang lebih menarik lagi, dari kedua profesi itu, dua-duanya bisa menjadi selebgram. Begini caranya:


ribuan follower selebgram dengan celebgramme

Selebgram diambil dari akronim dua kata "selebriti" dan "instagram". Maka, jika anda ingin jadi selebgram, tentu saja anda harus punya instagram. Kalau anda sudah eksis di media sosial lainnya, misalnya twitter, maka sebutan anda bukan selebgram, bisa jadi disebut selebtwit *LOL.

Mengapa harus di instagram? karena disanalah cikal bakal istilah selebgram ini muncul. Jika diartikan selebriti adalah orang yang banyak penggemarnya di dunia nyata. Maka selebgram adalah orang biasa (bukan artis) yang banyak penggemarnya di dunia maya. Penggemar di media sosial ini biasa kita sebut sebagai follower.

Seseorang bisa disebut selebgram sekaligus influencer jika followernya mencapai minimal 10-20 ribu. Itu minimal ya. Rata-rata selebgram sudah mempunyai ratusan ribu follower.  Bahkan jika sudah sangat terkenal, bisa mencapai jutaan follower.


Bagaimana Caranya Dapat Ribuan Follower?


Sebagai orang awam, tentu rasanya kelabakan memikirkan cara mendapatkan ribuan follower ya? *sama dengan saya :)

Akan tetapi, jika diamati dengan baik para selebgram itu mempunyai kelebihan yang patut kita ATM biar bisa seperti mereka. Di-ATM ? maksudnya kita bayar untuk jadi selebgram?

Bukan, bukan itu maksudnya. ATM disini adalah Amati - Tiru - Modifikasi. 

Amati instagram mereka. Kalau dilihat timeline postingan mereka, dijamin pasti kontennya menarik. Gambarnya cakep. Videonya keren. Captionnya relevan banget dengan kita. 

Jadi, kata kuncinya adalah Konten visual kita harus baguuus banget. Nggak cuma bagus ajah. Artinya, harus ada effort atau usaha lebih untuk membuat konten yang bagus. Mau tidak mau, konsep fotografi dan desain grafis harus kita kuasai biar foto yang kita hasilkan bisa menarik dan disukai banyak orang. Kalau anda punya modal lebih, bisa menggunakan jasa fotografer profesional.

Setelah mengamati dan meniru, jangan lupa untuk memodifikasi. Lebih baik kita tetap jadi diri sendiri. Punya style sendiri. Entah itu dari tulisan di caption postingan kita. Atau dari tone warna gambar yang dipilih. Juga karakter yang ingin kita tampilkan dari foto atau video yang akan kita sebarkan di akun instagram.

Misalnya, jika ingin dikenal sebagai selebgram yang unik dan cerdas. Bisa saja di semua postingan, selalu ada buku, sedang membaca buku, atau ngoding dan nguprek sesuatu di laboratorium pakai mikroskop. Unik, bisa diambil dari dandanan kita, atau sudut foto yang mau diambil.

Apakah menjadi selebgram harus memajang foto diri saja, seperti model gitu?
Ternyata nggak juga. Ada orang yang hobi fotografer, lalu memajang hasil fotonya, juga bisa jadi selebgram. Karena followernya banyak banget. Artinya foto hasil jepretannya disukai banyak orang.


Apa Sih Untungnya Jadi Selebgram?

Apa keuntungan jadi Selebgram? Kalau mau jujur, ya UUD. Alias Ujung Ujungnya Duit. 
Tapi kan itu nggak salah? karena kita dapat duitnya juga dengan cara halal. Asal syarat dan ketentuan berlaku. Artinya, foto dan video yang kita buat dan sebarkan di instagram itu yang baik-baik saja. Tidak melanggar syariat agama atau norma kesusilaan di masyarakat. 

Tapi kan, ada selebgram yang "kurang baik", malah terkenal banget tuh. Bisa dapat endorse dari barang  iklan ini itu. Mahal pula bayaran endorsannya.

Nah, walaupun sebagian besar penghasilan selebgram adalah menjadi endorser produk atau brand tertentu. Jika hanya semata untuk duit, trus menghalalkan segala cara. Menurut saya pribadi loh, kayaknya percuma saja.

Biar kata, kita bisa cepat kaya atau kaya mendadak. Belum tentu berkah hidupnya. Belum tentu tenang. Belum tentu bisa tidur nyenyak, makan enak dan menjaga nama baik orang tua. 

Ah sudahlah, pilih postingan yang baik-baik aja oke. 

Oke, kembali ke masalah keuntungan. Selain mendapatkan financial benefit dari pihak pemberi endorse, selebgram bisa mendapatkan keuntungan lainnya yang lebih long-term

Jika selebgram ini, terus menerus mengasah skill-nya dengan sungguh-sungguh. Misalnya skill fotografi atau skill model. Maka kelak mereka bisa menjadi fotografer profesional atau model profesional. 

Ditambah, akan muncul berbagai peluang kerja baru yang menghampiri. Misalnya menjadi narasumber talkshow, atau trainer workshop fotografi dan tips jadi selebgram. Kalau sudah jago banget skillnya atau networkingnya, malah bisa membuat 'sekolah" khusus. 

Jika selebgram sudah sampai bisa bikin "sekolahan" dan semacamnya, akan semakin banyak manfaat yang bisa dia sebarkan. Kabarnya, manusia terbaik itu kan yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain dan semesta ini. Setuju kan ya?

Inti dari semua ini adalah, apapun hobi kita, jika digeluti dengan tekun dan sungguh-sungguh, akan bisa menjadi jalan kita untuk bisa mandiri dan bermanfaat bagi orang lain.

Nah, jika anda suka banget difoto atau memfoto, ayo lanjutkan. Tekuni teknik keterampilannya. Bikin konten visual yang bagus dan posting di instagram. Lalu terapkan langkah-langkah optimasi instagram yang bisa anda pelajari sendiri dari internet sekarang.

Semoga sukses ya.


Salam,


Heni Prasetyorini


Pengalaman Ikut Google Cloud Next 2017

4 komentar

Google Cloud Next 2017 itu cuma ngobrolin tentang google drive, pikir saya gitu awalnya. Kan judulnya ada "cloud"nya. Jadi dengan pede saya ikut daftar acara ini. Dan yakin bakal mudeng. Secara saya dengan google drive seperti bunga dan kumbangnya, selalu bersama. Eaa..


Ternyata eh ternyata, tidak sekedar itu. Intinya, ketakutan salah satu teman blogger saya terjawab sih. Katanya, mbak Heni aku ingin ikutan acara itu tapi takut plongah-plongoh alias gak paham. Dan itu saya alami sendiri.

Google Cloud ternyata gak sekedar nyimpen data segede gambar, tulisan dan video editan kita gaes. Tapi ada ukuran cloud yang jauh lebih besar, dan diperuntukkan bagi para programmer. Terutama untuk yang bikin game atau aplikasi berbasis android yang bisa di-publish di Google Play Store.



foto-foto lengkap bisa dilihat di instagram @heniprasetyorini

Acaranya cukup padat merayap. Para narasumber, MC dan pesertanya mayoritas programmer. Yaiyalah masak foodblogger. Yang menyenangkan adalah beberapa narasumbernya adalah perempuan.

Bukan maksud mengusung isu genre atau feminitas ya. Saya mudah terpesona kalau ada perempuan pinter suatu bidang, trus bisa sharing dengan cas-cis-cus-nya di depan orang banyak. Mulai dari narasumber pertama yang bicara tentang Admob untuk monetizing game atau software produksi kita. Sampai pada yang bicara tentang Internet of Things yang kalem dan manteb gitu ceritanya dia bikin alarm rumah yang bisa dikendalikan melalui smartphone.

Waktu itu, saya duduk bersebelahan dengan bu Farida, salah satu dosen informatika di universitas swasta di Surabaya. Karena dekat beliau, jadi saya bisa rada mudeng dikit jika ada yang lewat dari pemantauan saya selama ini.

Fiuh..namanya acara developer, ya mbahas coding dikit dikit lah. Atau bahasanya sekitar itu lah. Yang bisa saya tangkap sebagai orang awam adalah, ternyata produk google itu nggak cuma bisa dipakai untuk googling.

Google nggak cuma Google

Google menerapkan sistim kerja berbasis komunitas dengan dibuatnya GDG (Google Developer Group) yang dikelola di tiap kota besar. Dari GDG ini, google mengembangkan produknya atau aplikasinya melibatkan developer (programmer) lokal. 

Ide ini keren banget deh menurut saya. Membuat manusia terlibat itu bisa menciptakan keterikatan yang kuat dan malah everlasting untuk menggunakan suatu produk tertentu.

Ya, begitulah sedikit sharing pengalaman saya ikutan Google Cloud Next 2017 di Surabaya. Cukup menambah wawasan tentang dunia teknologi. 

Apakah teman-teman ada yang pernah ikutan?

Kopi Dan Drama Korea: Mood Booster Blogging dan Coding

1 komentar
Kopi? Maklum banget jadi jimatnya blogger atau pekerja lainnya.
Tapi, drama Korea?
Nonton drama sambil nge-blog, sambil ngoding, bisa?
Beneran? Serius?

Jawabannya adalah. BENER. SERIUS.

FYI. Saya nih, hidupnya bisa dibilang 90% ada di dalam rumah. Selama 7 hari seminggu, 30 hari sebulan. 10% sisanya untuk antar jemput anak, ke pasar, ke ATM bank atau minimarket.

Is it real?
Yes.
Biar ga umum, itu real story.

Jika ada kerjaan atau acara lain, barulah porsi keluar rumah naik beberapa persen.

Kalau duluu, saya di rumah bareng anak yang kunyil, anak kedua. Jadi masih rame. Lah, sekarang dia udah gede, klas 4 SD, yang pulangnya sore, selisih dikit dengan kakaknya.

Jadi, sejak suami ke kantor, praktis saya sendirian di rumah. Pagi sampai sore. Dan itu sepiii loh rasanya sodara-sodara.

Yang komen bikin anak lagi mbak Hen, bakal saya kasih voucher jilbab hahaha.

Karena sepii, saya suka bikin rumah jadi rame pas kerja ber-digital ria. Kadang denger radio, kadang lagu di you tube. Tapi lebih sering muter drama Korea sih ya.


Kenapa?
Karena aku suka intonasi suara dari bahasa Korea. Apalagi jika filmnya ngehits dan menohok hati kayak Goblin. Untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan dalam persinyalan internet nusantara, maka saya donlot semua episode Goblin ini di laptop. Biar ati tenang, wkkk.

Jika udah juenuh banget atau mental block, ga tau mau nulis apa, saya tinggal brenti trus nonton dramanya deh. Kalau udah ngakak sebentar lihat ulah Gong Yoo dan Eun Tak, baru mulai lagi.

Dibilang multitasking, bolehlah. Ini cuma kebiasaan.
Jaman sekolah dulu, saya sering belajar di depan tivi menyala. Rame aja gitu. Tapi bukan rame orang ngobrol.

Ya, bisa konsen tuh ya waktu itu.

Kalau sekarang saya ga bisa konsen depan tivi. Terlalu banyak iklan dan acaranya ga sreg di telinga juga hihihi. Di telinga, bukan di mata.

Kalau tentang kopi, itu sudah wajibun wajiiib.
Biar kata saya dinasehati jangan ngopi dll, tetep ga bisa.
Tapi sekarang udah jauh berkurang sih dibanding jaman perjuangan sekolah. Sekarang paling segelas kecil sehari. Pagi terutama. Biar ga salah paham dan kroso urip, heheh.

Camilan temannya kopi  ga terlalu wajib ada. Kalaupun ada kue, saya biasanya nggigit diki doang. Karena saya ini makhluk nyemego alias pecinta nasi. Jadi mending makan nasi daripada nyamil jajan. Jowo banget wis.



Sharing Tentang Digital Learning di Radio

Tidak ada komentar


Kamis, 20 April 2017 kemarin saya diundang di radio Suara Muslim Surabaya untuk sharing Mengenal Digital Learning Sebagai Cara Pembelajaran Sesuai Perkembangan Jaman.

Seneng banget kali ini bisa ngobrol tentang hal-hal yang sudah saya "kepo-in" sejak dulu kala. Apalagi sejak mengambil kuliah Teknologi Pendidikan di Pasca Sarjana Unesa dengan topik e-learning untuk tesis.

Sebelumnya saya ajukan judul tema tentang mudahnya memulai bisnis online. Kok bisnis? ya maksud saya masuk ke ranah muslimahpreneur gitu, dan yang masih nyambung dengan segala hal per-digital-an.

Akan tetapi setelah saya telaah lagi, kayaknya kok belum kompeten banget ngobrolin bisnis. Takutnya nanti nggak bisa jawab pertanyaan. Saya memang pernah mulai buka online shop dan di tahun ketiga sampai ada media televisi yang meliput. Tetapi selanjutnya bisnis saya nggak jalan. Brenti karena kuliah lagi. Nggak pede lah bicara bisnis, hihihi.

Akhirnya saya ajukan tema tentang Digital Learning, yang lumayan sudah saya kuasai. Hal ini juga diperkuat, setelah saya chit-chat dengan teman yang menjadi dosen dan mengeluh susahnya menerapkan digital learning untuk mahasiswanya. Sementara saya diajak seorang Kepala Sekolah Dasar untuk membantu keinginan beliau menerapkan digital learning untuk kelas 1-2 SD.

Klop deh, pembahasan Digital Learning adalah pilihan topik yang tepat.
Sebelum ke radio, saya sudah menyiapkan materi. Namun karena keterbatasan ada beberapa materi yang belum tersampaikan. Jadi, saya share saja disini.

Mengenal Digital Learning Sebagai Cara Belajar Sesuai Jaman

Ketika era digital sudah tiba, siapa yang tidak mau menyesuaikan diri bisa ketinggalan.
Adalah salah satu karakter makhluk hidup untuk bisa beradaptasi.
Begitu juga manusia. Mau tidak mau, harus bisa beradaptasi dengan perubahan yang terjadi
apalagi perubahan di bidang teknologi.

Perlu juga digarisbawahi bahwa karakter tiap generasi itu berbeda-beda.
Ada istilah generasi X, Y dan Z.
Generasi X bisa dibilang generasi jadul dan gaptek.
Generasi Y dan Z adalah generasi yang sejak jadi embrio sudah mengenal gadget dan internet.
Generasi ini sudah lazim disebut generasi Millenials atau generasi Langgas.

Millenials punya sifat yang harus selalu connected, atau berhubungan dengan dunia luar.
Media sosial bisa menyediakannya.Itulah kenapa mereka harus selalu update dan kemana-mana megang gadget.

Bagaimana jika, fenomena ini ditangkap dengan positif di ranah pendidikan.
Bagaimana caranya agar belajar baik di sekolah formal atau non formal bisa sesuai dengan karakter generasi millenials.

Caranya adalah menerapkan teknologi digital dalam pembelajaran yang biasa di sebut e-learning atau digital learning.

Segmen 1: Mengenal Digital Learning

1.       Apa itu digital learning?

eLearning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone. (LearnFrame.com).

Digital Learning System (DLS) merupakan suatu terobosan baru dalam teknologi pembelajaran yang diterapkan bagi para pelajar untuk belajar secara digital melalui pemanfaatan teknologi baik software (perangkat lunak) maupun hardware (perangkat keras), online maupun offline yang dikemas secara menarik dan interaktif (Sugema)

2.       Apa manfaat digital learning?
Penerapan digital learning ini menjadikan pelajar lebih mandiri belajar dan mendalami materi bahan ajar, karena pelajar dapat belajar kapan saja dan di mana saja, baik secara online maupun offline. Dan evaluasi pembelajaran dilakukan oleh guru secara otomatis melalui proses digital, sehingga tidak perlu pengoreksian secara manual melalui kertas. Hasil evaluasi yang diperoleh pun akan lebih cepat, akurat dan objektif. Digital learning juga dapat menyatukan semua kegiatan belajar mengajar yang biasa dilakukan secara konvensional ke dalam bentuk digital. Di dalam DLS ini, dapat mencantumkan beberapa bahan ajar sebagai referensi yang dapat mempermudah pelajar dalam memahami pelajaran seperti: e-book teori, video tutorial, soal latihan, simulasi percobaan, konsultasi, bahkan fitur pencerahan atau motivasi pagi pelajar.

3.       Siapa yang membutuhkan digital learning?
Siapa saja. ABK. Homeschool karena sakit/hal tertentu. Karyawan atau Anak usia sekolah yang harus bekerja. Bisa jadi pengajar yang dengan keadaan tertentu, misal sakit atau bertugas, tetap bisa mengajar.

Ada kisah sukses anak homeschooling yang masih berusia belasan tahun, sekitar SMP, sudah bisa menyelesaikan kursus online di Coursera dan mendapatkan sertifikat, itu sampai 20 mata kuliah. Dan itu anak Indonesia.
Kursus online ini menerapkan digital learning dimana semuanya dilakukan secara digital tanpa kertas sama sekali (paperless). Buku handout berupa ebook digital, soal ujian juga digital, interaksi dengan dosen dari luar negeri pun digital.
Anak ini selain bisa menguasai materi, juga punya skill kemandirian belajar yang begitu tinggi. Dan itu sangat bagus untuk bekal masa depannya.
Belajar mandiri bukan berarti belajar sendirian. Akan tetapi dengan motivasi diri bisa belajar sesuai kebutuhan, juga tau caranya bertanya kepada para ahli atau mencari jawaban ketika tidak bisa menguasai materi.

Siapa mau punya anak atau murid dengan karakter seperti itu?



Segmen 2: Mengapa kita butuh menerapkan digital learning?

1.       Mengapa kita butuh?
Karena sudah menjadi tuntutan jaman. Digital learning memberikan pengalaman belajar baru yang sesuai dengan karakter generasi millenials. Dengan cara ini, kita bisa menarik perhatian mereka. Selain itu digital learning memberikan kesempatan mereka untuk menumbuhkan soft skill yang dibutuhkan di era digital:
a.       Kolaborasi -à fleksibel virtual team
b.      belajar mandiri à belajar karena butuh
c.       luwes berinteraksi secara global dan internasional
d.      menerima perbedaan dengan terbuka
e.      mengendalikan diri à dengan adanya UU ITE dan etika Digital Netizen

2.       Apa yang terjadi jika tidak menerapkan?
Tentu saja tidak akan kiamat. Karena di detik ini, mereka yang hidup dengan cara sangat sederhana juga bisa.

Kalau menurut pengalaman saya berinteraksi dengan mereka yang bertahan untuk gaptek atau menolak teknologi adalah mudah sekali menjadi pengguna saja. Sekaligus mudah keliru karena tidak tahu dan tidak mau tahu.
Kalau kita dan anak-anak terus bertahan hanya menjadi pengguna, maka kita adalah korban bagi mereka yang pinter teknologi. Mereka yang bikin, kita yang beli. Begitu seterusnya.

Jadi, jika kita punya ilmu dan kemampuan sesuai perubahan jaman yang begitu cepat, maka kita bisa punya senjata lebih banyak untuk mengendalikan diri sekaligus mengembangkan diri.



Segmen 3: Kendala selama ini
1. Apa saja kendalanya?
   a. Mindset keluarga (orang tua) bahwa teknologi itu lebih banyak mudharatnya jadi di stop semuanya
   b. Mindset guru bahwa kerja dengan teknologi itu lebih sulit
   c. Siswa belum terbiasa berkomunikasi dengan platform edukatif
   d. belum meratanya akses listrik dan internet di Indonesia

2. Bagaimana cara mengatasi kendala?
   a. edukasi ke orang tua oleh pihak lembaga pendidikan
   b. pembiasaan penggunaan kinerja berbasis teknologi di sekolah dan di kelas
   c. aktif dalam komunitas teknologi pendidikan


Segmen 4: Langkah Menerapkan Digital Learning

1.       Bagaimana tahapan menerapkan digital learning di sekolah?
a.       Punya mindset yang sama dan sepakat akan pentingnya digital learning.
b.      Menganalisa kesiapan sumber daya manusia dan sumber daya internet. Karena akses internet adalah wajib.
c.       Mencari sumber belajar, bisa belajar mandiri, memanggil Trainer / Guest Teacher, ikut Komunitas terkait seperti Google Educator Group, Bincang Edukasi, dll.


2.       Platform atau tools apa yang bisa digunakan?
a.       Ada gratisan dan berbayar
b.      Alhamdulillah nya yang gratisan itu buanyak sekali. Beberapa negara sudah membuat platform digital learning, termasuk Indonesia.
Terutama yang ada unsur LMS (Learning Management System), seperti Edmodo, Course Networking, Schoology,dll. Kalau di Indonesia: ada  Kelase, Kelas Kita, Ge School.

Bahkan Google sendiri juga mengembangkan banyak tools untuk pendidikan. Terangkum di GAFE (Google App For Education). Saya sendiri sudah menggunakan beberapa tools Google untuk pembelajaran ketika masih bersama teman di pasca Unesa, untuk beberapa guru di MTs Wonosalam Jombang. Dan nanti ada satu sekolah lagi di Sidoarjo yang ingin menerapkan hal yang serupa.

Platform yang sering digunakan, terutama di Indonesia adalah Edmodo. Karena relatif mudah dan menarik, bisa dilihat di www.edmodo.com. Di Indonesia sendiri sudah ada Kelase. Bisa dicoba di www.kelase.net.
Khusus Kelase, saya belum berhasil utak-atik karena register masih belum berhasil. Tetapi jika sudah semakin diperbaiki, dan sesuai kebutuhan, saya akan senang sekali menggunakan produk lokal dari bangsa Indonesia sendiri seperti Kelase.

Untuk rekaman suara saya di radio, bisa disimak disini:


Semoga bermanfaat, jika ada yang ingin ditanyakan atau sharing bisa hubungi saya di email:
heni.prasetyorini@gmail.com