IRTD 4: Sudah Titik. Benarkah?

Tidak ada komentar
“Kalau sudah menikah, hidupmu sudah TITIK Hen. Selesai. Titik.”
Ibunya Nia, sahabatku sewaktu SMA itu memberiku nasehat ketika aku bertandang ke rumahnya. Waktu itu aku masih kelas 3 SMA, tidak begitu tahu maksudnya. Aku kira beliau ingin memberitahu bahwa hidupmu sebagai manusia akan berakhir karena sudah menikah. Dan mulailah kehidupanmu sebagai perempuan saja. Sebagai isteri dari seorang laki-laki. Menjadi ibu dari beberapa anak-anakmu. Jadi menantu bagi kedua mertuamu. Jadi anak dari orang tuamu. Sudah itu saja. Hidup sebagai perempuan berarti bersiap tidak hidup sebagai manusia. 

“Mumpung masih muda Hen, belajar yang bener. Trus bekerja. Sebelum kamu menikah dan semuanya berhenti seperti ibu.” Beliau melanjutkan nasihat itu. Aku diam saja mendengarnya. Menelan mentah-mentah kata-kata itu sebagai arti bahwa, “jadilah wanita karir Hen. Yang pintar. Yang sukses. Yang mandiri. Dan kalau bisa nggak perlu menikah cepat-cepat.”

Dadaku naik turun untuk menarik dan membuang nafas. Membagikan karbondioksida tambahan di pelataran rumah sahabatku yang sangat luas ini. Aku, sahabatku dan ibu bapaknya sedang duduk santai selonjoran di teras depan rumah ini. 

Aku bukanlah anak yang mudah bercerita kepada orang tua ataupun saudara-saudariku sendiri. Bisa dibilang aku adalah anak yang pendiam. Hobinya membaca buku dan belajar di dalam kamar. Aku tahan belajar dari pagi sampai pagi, terutama ketika sudah libur sekolah. Sejak kecil aku belajar sendiri tanpa perlu disuruh. Aku memasang target hidup sendiri tanpa dipaksa siapapun selain gemblengan ibuku untuk terus berpendidikan tinggi agar tidak miskin dan menderita seperti ibuku dulu. 

Sejak kecil juga aku berhasil meraih nilai yang bagus dan rangking di kelas. Aku harus pintar supaya tidak dihina lagi karena miskin. Ya dihina karena miskin adalah makananku sehari-hari. Sejak SD aku mendapatkan bully-an itu karena menjadi anak yang tidak lahir dari keluarga yang bergelimang harta. Bahkan lebih parah ketika masuk SMPN 1 Surabaya, sekolah paling favorit di Surabaya pada waktu itu. 

Tidak hanya karena aku tampak miskin dan beneran miskin. Aku tak dihiraukan beberapa teman karena nomer absenku hampir paling bawah. Pada waktu itu, nomer absen sesuai dengan urutan rangking di kelas. Jika anak perempuan di kelas berjumlah 25 orang. Nomer absen 1 adalah rangking satu. Dan nomer absen 25 adalah rangking terakhir dari murid perempuan. Pada waktu masuk kelas 1 SMP aku mendapat nomor absen 20. Hampir rangking bagian belakang. 

Di awal SMP, jarang sekali aku disapa oleh anak-anak yang nomer absennya the best ten. Jangankan disapa, ditoleh aja tidak. Hal ini membuatku terbakar juga. Mati-matian aku belajar dengan segala fasilitas yang ada. Tanpa bimbel dan apapun. Hanya mengandalkan guru di sekolah dan mengulang sendiri pelajaran di rumah. Akhirnya nomer absensiku terus meningkat ketika naik kelas dua dan tiga. Saat itulah aku baru ditoleh atau dilihat oleh teman-temanku itu. 

Aku harus belajar. Aku harus berusaha lebih keras daripada orang lain. Aku harus pintar supaya tidak dihina oleh orang lain. Itulah pembelajaran hidup yang aku alami ketika hidup di Surabaya. Sebuah karakter berjuang yang lazimnya dimiliki oleh kaum melarat di kota besar. Ingin keluar dari kemiskinan. Dan untunglah ibu dan bapakku memilihkan jalur pendidikan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan ini. 

Aku sungguh-sungguh ingin keluar dari citra miskin ini. Aku tidak sedih dengan terbatasnya failitas ini itu yang tidak kami punyai. Aku hanya tidak tahan dihina orang lain. Dan aku lebih tidak tahan lagi melihat keluargaku juga mendapatkan hinaan itu. Ya, aku mengalami segala bentuk penghinaan itu mulai dari kecil sampai besar. Dan aku simpan sangat dalam perasaan luka hati itu. 

Aku tidak ingin dihina orang, maka aku harus pintar. 
Aku tahu rasanya jadi miskin dan dihina orang, maka aku tidak akan tega melukai hati orang miskin dalam bentuk apapun.
Dua hal itu yang menjadi peganganku. 

Karena alur hidupku di dalam keluargaku sendiri adalah berjuang, berjuang dan berjuang. Maka ketika mendengarkan nasehat dari ibunya sahabatku yang termasuk golongan orang kaya, bahwa menikah adalah titik, menjadi suatu hal yang besar efeknya padaku. 

Kenapa ibunya temanku itu sampai segitu putus asanya? Bukankah dia berkecukupan dan hartanya banyak?

Pasti tidak enak sekali rasanya ketika sudah menikah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin dia menerjemahkan arti TITIK itu sebagai ibu rumah tangga. 

Menjadi ibu rumah tangga = titik. Selesai. Berhenti. 

Dan aku tidak ingin terlalu cepat mencapai titik sebelum aku mati. 





IRTD 3: Aku Tak Mau Jadi Ibu Rumah Tangga. Saja.

Tidak ada komentar
Kegerahanku di balik baju berwarna biru berbahan tissue ini makin bertambah-tambah saja rasanya. Di depanku duduk seorang perempuan dengan perutnya yang sedikit membesar. Kabarnya sedang hamil sekitar 4 bulan. Senyumnya muncul di sela-sela wajahnya yang kusut dan keringat yang sesekali turun dari sudut keningnya. Tangan kanannya menopang tubuhnya yang sepertinya sedang lemah. Efek hamil muda, begitulah kiranya.

“Dari mana tadi mbak?”begitu tanyanya padaku.
“Dari rumah.”jawabku pendek.
“Asli Surabaya ta mbak?”
“Iya”. Dan jawaban pendekku itu tak berlanjut percakapan lagi. Karena aku sibuk dengan perasaanku sendiri. 

Kelusuhan seorang ibu muda di depanku ini membuatku menggumam berkali-kali. “Aku tak mau seperti dia. Aku nggak mau tampak lemah begitu. Tak berdaya. Hanya di rumah saja. Kelak hanya seperti itu saja, tugasnya repot mengasuh anak, tidak bisa kerja, tidak bisa kemana-mana. Tidak tidak tidak. Aku tidak mau jadi ibu rumah tangga.”

Pasti sulit menemukan orang yang menolak gumamanku sendiri itu. Hampir dipastikan banyak yang mendukung mahasiswi kimia ITB yang sebentar lagi lulus ini untuk menjadi wanita karir yang hebat. Yang sibuk di kantor. Yang workaholic. Bahkan jarang pulang ke rumah dan ngider saja dari bandara ke bandara, keliling dunia demi kerja. Wih bangga banget pastinya juga ibuku yang selalu ingin mempunyai anak perempuan yang berpendidikan dan berkarir tinggi. 

Ah bayangan yang kedua ini lebih indah di mataku. Berulang kali aku hadirkan bayangan itu untuk menutupi tampilan perempuan lemah yang ada di hadapanku itu. Perempuan yang kelak menjadi adik iparku.

Ibarat merapal mantra, aku ulang-ulang kalimat itu, untuk membuatku yakin bahwa setelah menikah pun aku akan bisa berkarir hebat. Dan aku tidak akan menjadi ibu rumah tangga saja setelah menikah dengan kakaknya. 

“Tidak tidak tidak. Aku tidak mau jadi ibu rumah tangga.”
Inilah bunyi rapalanku itu. 




Karir Sudah Jelas Sebelum Lulus Kuliah


Supaya aku tidak jadi ibu rumah tangga, maka sebelum menikah harus dipastikan kalau aku sudah diterima kerja. Hal ini aku pikirkan betul. Di masa skripsi dan penelitian tugas akhir di jurusan kimia ini, aku menimbang-nimbang tempat penelitian yang akan bisa mewujudkan niatku itu. 

Peluang bisa bekerja lebih besar di mana. Apakah aku tetap di jurusan kimia ITB, di PAU (Penelitian Antar Universitas) di dalam kampus ITB atau memberanikan diri untuk melakukan penelitian di luar kampus, yaitu di LIPI?

Pilihan terakhirlah yang aku ambil. Dosen pembimbing tugas akhir sebelumnya bertanya, “kamu mau penelitian di LIPI? Kalau iya temui bu Zalinar Udin, kepala Balai di sana, dia mahasiswa S3 saya. Kamu bantu penelitian dia.”

“Baik pak.” Aku langsung menjawab tanpa berpikir panjang. Aku tidak bertanya penelitiannya tentang apa dan harus mengerjakan apa. Aku hanya mengiyakan ketika bapak dosen bertanya apakah aku suka dengan biokimia medis. Dan aku menjawab, “iya saya suka pak.”

Esoknya tanpa diantar siapapun. Tanpa pak dosen ataupun teman lain satupun, aku berangkat sendirian menuju ke LIPI bandung yang letaknya cukup dekat dengan kampus juga dekat dengan area kosku. Berbekal nekad aku bertanya ke pos penjagaan, ke pak satpam, “di mana saya bisa bertemu bu Zalinar?”

Aku lakukan itu tanpa tahu bagaimana wajah bu Zalinar itu. Apakah beliau tahu kalau aku akan membantu penelitian S3-nya. Dan bagaimana respon beliau setelah melihatku. Aku tidak berpikir panjang. Targetku adalah mendapatkan tempat penelitian yang minim pesaing. Minim modal. Dan kelak bisa sekaligus bekerja juga di sana. Pilihan jatuh pada LIPI. 

Jika aku melakukan penelitian di kampus seperti teman lainnya, aku harus bersaing dengan banyak teman di topik yang sama. Harus mengantri zat kimia di laboratorium atau malah beli sendiri jika bahan habis, jelas aku tidak punya uang untuk itu. Dan aku belum tentu bisa diterima kerja di ITB, sadar diri juga karena nilai IPK- ku tidak spektakuler. 

LIPI Kimia Bandung adalah pilihan terbaik. Dan untunglah kenekadanku siang itu berbuah manis. Bu Zalinar, sosok perempuan yang mungil, lincah dan berkarakter tegas itu menerimaku menjadi pendamping penelitiannya di LIPI. 

“Oke. Siapa namamu? Oke Heni. Besok minta surat resmi ke pak dosennya ya. Lalu pindah penelitiannya di sini.”

“Baik bu.” Dadaku seperti meledak karena bahagia, lega dan bangga bisa melewati sesi kenekadan pertama jadi mahasiswi yang sendirian datang ke LIPI. Sementara tak ada satu pun temanku yang mau melakukan hal yang sama ini. 

Aku melonjak gembira. Langkahku meloncat-loncat ringan seperti halnya pemain The Sound of Music. 

Alhamdulillah ya Allah…Alhamdulillah. 
Yess… yesss…kalau bisa aku salto mungkin di jalanan. Tapi semua kebanggaan itu aku pendam dan rasakan sendiri sambil berjalan menuju ke rumah kos. 

Proses penelitian pun berjalan lancar. Dan naga-naganya bahwa aku akan diterima bekerja di LIPI semakin kelihatan. Bu Zalinar beberapa kali mengungkapkan, “kamu pintar Hen, kamu pintar. Nanti kuliah lagi ya S2.” Atau di lain waktu beliau mengatakan,”udah kalau lulus kerja di sini saja. Bantu saya”.

Ya, aku semakin pede kalau rapalanku itu beneran manjur. Sebelum menikah aku sudah punya tempat kerja. Jadi setelah menikah pun aku tidak akan menjadi ibu rumah tangga. Aku berhasil. Ketika adik iparku tadi sudah melahirkan dan bayinya berusia sekitar 6 bulan, aku menikah dengan kakak pertamanya. Dan setelah menikah, jelas sekali aku langsung akan bekerja di LIPI. Meneruskan penelitianku ketika sarjana, demi membantu pekerjaan bu Zalinar di LIPI dan juga penelitiannya di S3 ITB. 

Bekerja menjadi peneliti adalah impianku sejak SMA. Kimia adalah bidang studi yang aku sukai di jenjang sekolah itu. Bahkan ketika mendaftar kuliah pun aku memilih jurusan yang sama di pilihan 1 dan 2 pada tes UMPTN. Kimia ITB dan kimia ITS. 

Setelah lulus kuliah, jika tidak menjadi dosen maka aku akan menjadi peneliti.

Itu saja yang terus menerus menjadi affirmasiku setiap hari melakoni hari kuliah di kimia ITB. Sampai akhirnya momen itu terjadi juga. Aku diterima di LIPI tanpa kesulitan berarti. Dimudahkan karena aku melaksanakan tugas akhir di situ juga. Luar biasa. Sempurna sangat sempurna. Menjadi wanita karir setelah menikah adalah kebanggaanku dan keluarga. 

Tapi rupanya, takdir hidupku berkata lain. Semua hal yang sudah kurancang dengan suami, mulai tampak berbeda arah. Perahu yang kami kendarai bersama tidak bisa mengendalikan arah angin. Tidak ada pilihan bahwa kami harus memilih untuk membelokkan arah perahu, supaya tidak terjatuh dan karam atau menabrak tebing. Saat itu aku hamil anak pertama, sementara suamiku yang direncanakan akan lulus kuliah lanjutan bareng denganku mengalami hambatan pada skripsinya. 

“Wah hasilnya strip dua,”aku ternganga melihat hasil test pack yang pertama kali kulakukan itu.
Suamiku spontan berkata, “Alhamdulillah”. 
Aku pucat dan menahan hati. Dalam bahagia ini, ada satu konsekuensi besar yang harus kuhadapi. 

Benarlah firasatku. Demi kesehatan dan keselamatan si jabang bayi pertama kami, akhirnya aku dan suami memutuskan untuk kembali ke Surabaya. Dia tidak tega membiarkanku di perantauan sendirian, bekerja di laboratorium dengan bahan kimia yang karsenogenik pula. Demi si calon buah hati ini juga aku pun langsung mengiyakan ajakan suamiku kembali ke Surabaya tanpa ada perdebatan panjang atau kesepakatan yang alot. 

“Baiklah, ayo kita pulang. Anak ini tanggung jawab kita.” Aku menggenggam tangan suamiku erat-erat. Mencari penguatan akan harapan yang pecah berkeping-keping di dalam dada. 

Beberapa hari kemudian aku berpamitan kepada bu Zalinar. Aku mundur kerja sebelum diangkat jadi peneliti beneran. Tidak jadi kuliah lagi. Dan yang pasti, aku akhirnya melepaskan karir impianku yang sudah disusun bertahun-tahun sejak SMA. 

Apakah kira-kira kalian bisa membayangkan bagaimana rasanya?
Sepertinya aku akan jadi ibu rumah tangga. Saja.





IRTD 2: Awal Munculnya Istilah Ibu Rumah Tangga Digital

Tidak ada komentar
Suasana kelas Metodologi Penelitian lumayan tenang. Kami duduk melingkar di depan seorang dosen pria setengah baya. Tutur kata beliau begitu tenang, pelan, nJawani. Beliau sedang menanyai kami satu per satu sebagai sesi perkenalan. Maklum saja ini hari pertama di mata kuliah ini. 

“Bapak, Ibu, namanya siapa, kerja di mana?” begitu pertanyaannya berulang ke tiap mahasiswa Pascasarjana baru di ruangan itu. 

Dag, dig, dug dor. Pertanyaan nama siapa sih tidak masalah menjawabnya. Tapi “kerja di mana” itu adalah kalimat yang paling kuhindari belasan tahun ini. Bagaimana ya menjawabnya. 

Apakah harus menjawab, “saya ibu rumah tangga pak”. Tapi nanti beliau bertanya lagi, “ibu rumah tangga kuliah lagi buat apa?”

Atau kujawab, “saya blogger pak”. Nanti ditanyai juga, “blogger itu apa?”

Atau dijelaskan saja, “saya penjual jilbab online pak”. Malah bingung lagi pasti beliau, kemudian bertanya,” penjual jilbab untuk apa kuliah di jurusan Teknologi Pendidikan?”

Aneka tanya jawab yang kukarang sendiri itu melintas ramai di dalam pikiran. Makin dekat giliran, makin berisik suara-suara itu. Makin cepat juga detak jantung ini. Sampai akhirnya,

“Ibu...namanya?”, ibu jari beliau menunjuk tepat ke arah garis hidungku. 

Gugup. Aku menarik nafas panjang. Sedikit membetulkan posisi duduk. Lalu menjawab dengan berani menanggung segala resikonya,

“nama saya Heni pak. Saya IBU RUMAH TANGGA…...DIGITAL”

Grr…. seisi kelas tertawa tertahan mendengar jawaban saya. 

Walau keki, aku pun ikut nyengir kuda. Apalagi ketika akhirnya beliau bertanya, “hah? apa? maksudnya apa?”

Ya begitulah asal muasal kata IBU RUMAH TANGGA DIGITAL muncul dalam kehidupan ini.
Satu kejadian yang maksudnya ingin menjelaskan bahwa aku ini adalah ibu rumah tangga yang sibuk sendiri dengan bantuan teknologi digital dan internet. Jualan online iya, menulis di blog iya, rame di sosial media juga iya. Bahkan nguprek sendiri platform digital learning juga sekalian iya. Itulah alasannya aku sekarang duduk di ruangan itu. Salah satu kelas di gedung Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya. Tepatnya di jurusan Teknologi Pendidikan. 




IRTD 1: Prolog Ibu Rumah Tangga Digital The Storycakes

Tidak ada komentar

Lulusan ITB kok jadi ibu rumah tangga saja. Nggak sayang ilmunya?
Dieeengg!!!

godam mana godam? Eh udah nancep di kepala saya ya. 
Itu komentar sejuta umat, kok masih aja mampir di telinga saya to? Sampai kapan akan berakhir? Nunggu semua warga bumi pindah ke planet Mars? Atau nunggu si Unyil nggak cuma pakai laptop tapi udah sampai ke machine learning?
Widih mbak Heni, sewot banget. 
------
Ibu Rumah Tangga Digital Storycakes adalah kumpulan cerita autobiografi dari Heni Prasetyorini. 
Baca buku ini, maaf ya kalau jadi kayak naik roaller coaster. Kadang bisa nangis, kadang bisa ketawa ngakak. Selain terhibur semoga ada secuplik hikmah yang bisa diambil ya. Selamat membaca.
Jadi begini, awalnya ini cerita, saya tulis di Storial.co/henipr.
Berhubung saya mumet sendiri mau nerusin nulis di situ, dan entah kapan selesai mewujudkan kisah ini jadi buku. Sementara tahun 2020 kelak mau tekun telaten menulis buku tentang teknologi pendidikan di Kelasku Digital, maka saya putuskan menulis ini di blog saya saja. Jadi terpusat kisah yang terkait JURNAL IBU RUMAH TANGGA DIGITAL, itu di sini. 

Mungkin kisah saya nanti random, sesuai yang teringat. tapi semoga ada hal baik yang bisa diambil, walau itu seupil. 
Untuk membaca runtut silahkan mengikuti LABEL: iburumahtanggadigitalstorycakes
Yang ingin turut berbagi cerita, bisa email saja ke: heni.prasetyorini@gmail.com. 
Siapa tahu kumpulan cerita kita nanti bisa dirapikan jadi satu dan dibukukan.