9 Tips Sukses Wawancara Kerja

Tidak ada komentar



Bosan di kantor bikin Anda berpikir untuk pindah kerja? Sah-sah saja, tapi persiapkan diri sebaik mungkin. Bila tes awal sudah dilewati, masih ada wawancara, bagian yang menurut banyak pelamar amat sulit dilewati. Apa yang menjadikan seseorang selalu sukses untuk menggapai impiannya? Tampil beda dan memiliki keunggulan komperatif mungkin salah satu yang menjadikan Anda selalu berada di dalam posisi terdepan! Termasuk dalam meraih karier dan mengungguli orang lain dalam mencari pekerjaan yang sesuai. Ada beberapa trik atau strategi yang perlu disiapkan agar Anda sukses dalam melewati tahapan untuk mengejar karier yang diidam-idamkan. Modal nekat saja, pasti tak cukup. Karenanya, tak salah untuk menyimak beberapa kiat dari tim Jooble sebagai berikut.

1. Kesan pertama sangat menentukan
Ketika Anda dipanggil untuk wawancara, hanya dengan melihat sikap antusias Anda saja, pewawancara bisa membuat keputusan apakah diterima atau tidak. Apakah dengan melihat mimik muka, cara menjawab pertanyaan, bagaimana mempersiapkan surat-surat yang dibutuhkan dan sebagainya, bisa menjadi bahan pertimbangan layak atau tidak untuk diterima. Karenanya, persiapkan dengan baik!

2. Jangan berdusta
Biasanya, pewawancara akan menguji apa yang Anda cantumkan dalam CV, tapi itu sih bisa saja dimanipulasi. Namun, cukup dengan satu pertanyaan seperti Kesuksesan terbesar apa yang pernah diraih dan kegagalan terburuk apa yang pernah dialami?, Anda bisa ketahuan berbohong atau tidak.

3. Siasati setiap pertanyaan sepele
Kadangkala pewawancara suka menanyakan sesuatu yang sepele dan tak berhubungan sama sekali dengan pekerjaan yang Anda inginkan. Mengapa? Orang biasanya ingin melihat kepintaran dan kecerdasan lewat hal-hal kecil. Misal, apakah lukisan itu cocok terpajang di ruang ini? Jawaban Anda akan memberi petunjuk baginya tentang kecerdasan Anda.

4. Mengetahui sedikit profil perusahaan
Akan lebih baik lagi bila Anda mengetahui sedikit tentang perusahaan yang Anda lamar. Jadi, ketika ditanya, Anda tidak buta sama sekali. Ibaratnya, Anda tidak asal masuk kamar orang lain.

5. Menjawab dengan plesetan ringan
Tak semua pertanyaan harus dijawab secara serius. Kalau terlalu tegang, kesan akrabnya akan hilang. Ini juga perlu dicermati. Karena, dengan menjawab secara benar plus plesetan atau selingan humor akan menjadi nilai lebih bagi Anda.

6. Hati-hati dengan jebakan
Bila Anda salah melakukan gerakan atau menjawab pertanyaan jebakan, bisa fatal akibatnya. Memang sepele, tapi bagi yang pewawancara yang cermat dan teliti, hal tersebut bisa menjadi penilaian layak atau tidak Anda diterima. Karena itu, perhatikan dan perhitungkan segala sesuatunya dengan cermat.

7. Atur bahasa tubuh
Lima puluh lima persen kesuksesan wawancara menurut pakar komunikasi tergantung pada bahasa tubuh Anda. Bagaimana memelihara kontak mata, tersenyum, mengatur posisi tubuh dan tangan, bisa merefleksikan diri Anda yang sebenarnya. Termasuk juga busana dan aksesori yang dipergunakan. Jangan terlalu santai dan mencolok, pakailah busana formal dan tak terlalu funky.

8. Jangan terpengaruh oleh sikap pewawancara
Hati-hati dengan tipuan bahasa tubuh atau kesan yang ditimbulkan oleh pewawancara. Sok hebat, bermuka sangar atau memberi kesan dingin. Cobalah bersikap optimis untuk menjawab semua pertanyaannya. Memang, kesan pertama sangat penting, tapi yakinlah bahwa dengan berempati, semuanya akan berjalan lancar.

9. Buat follow-up setelah wawancara
Seringkali kebanyakan pelamar lupa menanyakan tindak lanjut hasil wawancara yang baru dilakukannya. Apakah dengan meminta kepastian diterima atau tidak, kapan bisa mulai bekerja, atau dengan cukup mengirimkan sepucuk surat sebagai tanda terima kasih setelah diwawancara. Hal tersebut tentunya akan lebih menghargai perasaan pewawancara.


Bulan Madu Pertama Murah Meriah di Yogyakarta

7 komentar
Bulan madu pertama?
Sumprit mbak Hen? Serius?

"kalau sumprit itu ekspresi kagetnya orang Surabaya :)

Nggak usah kaget gitu ah, emang udah 17 tahun nikah, 4 tahun pedekate jarak jauh, punya dua anak yang udah kumisan semua pula. Beneran saya dan suami belum pernah bulan madu.
Sumprit!
*nah kalau sumprit bernada keras gini, menunjukkan sungguh-sungguh alias beneran.


Gini loh, orang menikah belum sempat bulan madu ya nggak perlu diherankan to?
Wong seminggu setelah Akad Nikah di Surabaya, saya langsung balik ke Bandung untuk mempersiapkan Seminar Tugas Akhir, trus lanjut sampai maju Sidang Sarjana. Ya mana sempat bulan madu? bisa dipelototin dosen pembimbing nanti saya.....

Habis gitu hamil anak pertama. Trus balik Surabaya. Trus hamil anak kedua, yang dia prematur. Ya sudahlah, saya dan suami duduk manis penuh ketabahan hati di rumah saja. Alhamdulillah kok ya ketiwasan pas ngobrol santai sama si anak bungsu beberapa waktu lalu, dia kayak dapat wangsit dari langit.

"Ma, mama belum pernah bulan madu ya?"
"Belum. Kok kamu tahu?"

"Aku tahu. Mama pergilah sama bapak bulan madu."
"Trus, kamu gimana?"

"Aku sama Mas, dititipkan saja. Kalau nggak ke Uti Jombang aja gitu."
"Beneran nih?. Kenapa mendadak nyuruh mama bulan madu?"

"Ya, aku kasihan sama mama dan bapak di rumah terus nggak pernah kemana-mana."

Eaakk...saya ya rada gerimis hati, ya terharu ya bahagia juga.

Pas hal ini saya sampaikan ke suami, dia nggak langsung mengiyakan. Kebayang repotnya milih ini itu kali ya printilan kalau mau bulan madu. Ya karena saya menagih janjinya ketika sebelum menikah tuh, doi bilang mau ngajak honeymoon ke Yogyakarta.



Secara kami balik dan tinggal di Surabaya sejak belasan tahun lalu, ya mana tau kondisi Yogyakarta dan enaknya nginep di mana. Mau nebeng teman ya sungkan gitu, dah lama nggak ketemu juga. Piye iki?

Untunglah banyak kawan yang hobi travelling, siapa lagi kalau bukan para Travel Blogger kenalan saya yang udah penuh aja paspornya. Urusan ke Yogyakarta pasti cuma seupil aja susahnya buat mereka.

"Eh, mbakyu, aku pengen hanimun ke Yogya nih, piye ya? bantuin dong."
"Udah pesen tiket?"

"Tiket kereta maksudnya?"
"Bukan, tiket pesawat"

Beberapa menit kemudian,
"Rempong maaak. Ini aku milih tiket pesawat trus bingung milih hotelnya juga. Jadi booking sana booking sini. Ada cara lebih mudah?"
"Ini ada paket honeymoon traveloka ke Yogyakarta, murceee kok."

Loh, demi mendengar Paket Tiket pesawat sekaligus Hotel yang murce alias murah, tentu hatiku eh jariku langsung menyambutnya dengan membuka website yang dimaksud.

setelah masukkan destinasi Yogyakarta, tanggal dan lokasi kedatangan,
klik langsung Search Packages alias cari pilihan Paket


widih lebih hemat 20% tanpa perlu voucher promo apapun, sepanjang masaaaa

Kalap deh lihat pilihan Paket Tiket dan Hotelnya. Langsung SCROLL SCROOLL Mouse.
Kali ini saya pilih filter yang LOWER PRICE aja alias yang regone murah caaakkk..

*tau diri, baru aja bayar biaya daftar ulang sekolah swasta 2 anak, alhamdulillah investasi ya :)



eit, mata ini kecantol sama gambar rumahnya deh. Sekaligus juga harganya.
566ribu itu untuk tiket pesawat 2 orang dan menginap 2 orang loh gaissss.
jiwa Wong Jowo dari dalam diriku langsung bahagia melihat rumah jadoel gini

Udah ketemu tempat menginap yang dimaksud, bisa langsung klik SELECT di kotak kecil warna orange itu loh ya gais. Trus lanjuuut aja ke opsi BOOKING NOW. Lalu isi form yang cuma beberapa kolom aja diisinya: NAMA, TELPON, EMAIL. Udah gitu pas bayar, mudah pula caranya banyak metode pembayaran yang bisa dipilih.

Waduh makasih banget deh temanku si travel blogger kesayangan. Udah ngenalin paket hemat cermat dan mendukung keabadian cinta kami berdua nih. Nggak pakai lama, alias Saving Time, ora ribet sijine milih Pesawat, sijine milih Hotel.

Dan juga ada diskon Paket sampai 20%itu loh, lebih murah daripada beli terpisah alias beli tiket pesawat sendiri, hotel sendiri. Diskonan bisa jadi modal beli oleh-oleh Uti alias neneknya anak-anak yang dititipi buat njaga.

Emang ya, menikah muda itu nggak mudah.
Buktinya kami sempat berbulan madu ketika sudah tak lagi muda.
Untung ada paket pesan tiket pesawat dan hotel ala Traveloka.
Makasih ya.

Next honeymoon trip, bakal lihat lagi paket ini deh. Apalagi tahun depan, si kunyil masuk pesantren, jadi deh tinggal kami berdua aja di Surabaya. Kapan pun bisa mencuri waktu untuk Honeymoon ya kan? balas dendam akan bulan madu pertama di Yogyakarya yang tertunda :)

*ps: ingat bawa fotokopi Surat Nikah atau yang asli ya, karena nih penginapan pilihanku aja menerapkan aturan itu, mungkin hotel lain juga.



Bulan Madu Sambil Mengajar Di Malang

Tidak ada komentar
"Ma, ini ada temanku tertarik membuka kelas Coding Kids di rumahnya daerah Malang," kata suamiku.
"Wah, menarik nih Beib. Coba janjian kapan bisa kopdar tipis-tipis,"saya menyambut berita itu dengan antusias.


dipotret suami saat persiapan kelas Coding Kids
Ya, membuat kelas coding kids alias anak-anak belajar pemrograman adalah satu projek belajar yang sedang saya kembangkan bersama beberapa teman pegiat pendidikan. Sebagai langkah awal adalah mengajarkan coding ke anak melalui kegiatan membuat game sendiri. Dan kelas ini ternyata diminati oleh anak-anak. 

Pengajar mengarahkan murid membuat game dengan program KODU
Sama saja dengan pengalaman saya sendiri sebagai orang tua dua anak lelaki yang hobi banget main game, kegiatan mengajar saya kali ini menjadi solusi untuk mengarahkan minat para gamer cilik ini. Beberapa ibu dan bapak dari murid-murid, sering datang kepada saya untuk ngobrol pribadi dan mengatakan lega banget ada kelas yang khusus mengajarkan materi digital kreatif seperti ini.

Setali tiga uang dengan portfolio saya selama ini sebagai Blogger dan pegiat literasi digital, kelas untuk mengajarkan pemrograman sudah saya mulai sejak tahun 2016. Yaitu sejak kuliah lagi di jurusan Teknologi Pendidikan UNESA, dan mengajarkan cara membuat Kelas Belajar Online untuk para guru madrasah di Wonosalam Jombang. Serta dilanjutkan dengan materi yang lebih tinggi, setelah saya selesai mengikuti program Coding Mum di Surabaya sampai menjadi koordinator Coding Mum Disabilitas Surabaya, yaitu kelas belajar coding untuk teman disabilitas mulai tuna daksa, tuli dan slom learner. 

Pengalaman belajar mengajar ini membuka mata saya, bahwa masih banyak tempat yang belum terfasilitasi dengan baik. Salah satunya di Malang. Kebetulan rumah saya di Surabaya. Membuka kelas belajar di Malang, adalah opsi yang menarik karena masih area Jawa Timur dan terjangkau. Untuk itu, kami perlu menindaklanjuti permintaan dari teman suami saya tadi. 

PR pertama sebelum ke Malang adalah saya harus mencari tempat menginap yang nyaman dan bisa mendukung kinerja saya alias wajib ada WIFI hehehe. 

Kebetulan saya dan suami nih belum sempat berbulan madu *padahal dan nikah hampir 20 tahun, hahaha. Ya, karena keadaan saat itu, kami hanya fokus bekerja dan mengasuh dua anak kami. Insya Alloh sih ya, baru sekarang ini bakal bisa keluar rumah, ninggalin anak-anak dengan leluasa dan aman. 

Tempat menginap yang saya suka, adalah dekat dengan alam. Kalau bisa pas buka jendela itu kelihatan sawah atau gunung gitu. Secara saya nih sejak jaman janin tinggal di Surabaya, kota besar, rumah di pinggir jalan raya pula, jadi bosen lihat gedung :).

Seperti biasa, bahkan keluarga besar juga kalau kemana-mana dan liburan, mencari destinasi liburan,  dan bahkan tiket pesawat ya selalu di sini. Di Traveloka dulu :)

Maka dengan seksama dan dalam waktu sesingkat-singkatnya, saya buka nih website untuk mencari penginapan, kali ini VILLA karena saya ingin suasana rumahan dan alam:

pertama, saya isi destinasi wisata ke kota Malang

Lalu akan muncul hotel. Pilih Akomodasi, klik Villa

Lanjut membuka profil Villa yang menarik hati. Lihat reviewnya, Pilih yang poinnya gede

karena saya cuma berdua suami, jadi kamar ini cocok lah. Harganya juga cucookkk

my dream come true. Buka jendela kamar, eh kelihatan alam

tuh beneran kan, reviewnya. cocok banget deh. BOOK NOW

Nah itulah tahapan memilih tempat penginapan traveloka, perlu sekali kita sesuaikan budget keuangan kita dan juga selera. Dan jangan lupa fasilitasnya dipastikan dulu. Terutama kayak saya nih perlu sekali WIFI. 

Oke, setelah membereskan sedikit urusan sana-sini di Surabaya, dan pas juga si anak-anak ini sudah aktif masuk sekolah, maka saya dan si bojo kesayangan siap bulan madu sambil mengajar di Malang. Kalau anda, apakah tertarik juga ke Malang?

Kalau iya, mesen penginapannya di Traveloka aja deh. Dijamin nggak ribet, pembayaran mudah dan cepat. Bahkan pilihannya ada di seluruh Indonesia loh, bahkan dunia.

Setelah dari Malang ini, kami berdua udah rencana mau ke daerah lainnya lagi, keliling Indonesia. Ya, semacam balas dendam lah. Kemarin nggak sempat bulan madu walau sehari saja. Di masa depan kami akan bulan madu teruus sambil membuka kelas belajar. Doakan ya. Ayo kalau mau barengan :)






[womenhood] Emak Go Digital Kok Gaya Hidup Masih Konvensional ?!

Tidak ada komentar
Pada suatu hari saya menemukan satu postingan ini, tentang perempuan Palestina. Saya tertegun beberapa saat ketika membaca satu demi satu keterangan foto di dalamnya.


instagram

Inti dari postingan ini adalah:
Tentang Perempuan Palestina
1. Di Palestina wanita berlomba melahirkan generasi mujahiddin
2. Mereka bangga dari rahimnya lahir para pejuang yang mati syahid
3. Perempuan Palestina tidak kenal ke Mall dan tempat wisata
4. Bagi mereka medan jihad adalah "mall" dan tujuan wisatanya adalah akhirat
5. Di Palestina, kaum perempuan tidak lagi memikirkan kesibukan duniawi
6. Mereka memikirkan kontribusi apa yang bisa disumbangkan untuk Al Aqsha
7. Di Palestina, perempuan tidak minta perhiasan duniawi.
8. Karena mereka yakin, mereka sendiri adalah perhiasan dunia akhirat
9. Perempuan Palestina tidak pernah sibuk  memikirkan "krim" atau  "bedak" apa yang dapat memutihkan wajah.
10. Karena mereka yakin wajah mereka bersinar karena cahaya surgawi.

Wih membaca satu demi satu caption foto di postingan ini, rasanya makjleb di hati. Apalah diri ini? seperti remahan rengginang sisa lebaran yang tercekat di sudut kaleng Kong Guan?
Kecil banget.

Ulasan singkat itu juga mengingatkanku pada sosok para pahlawan perempuan jaman negara Indonesia ini belum merdeka. Mereka yang membantu para pejuang kemerdekaan dengan segala caranya. Seperti Srikandi Malahayati, Cut Nya Dien, Nyi Ageng Serang, Cut Meutia, dan lain sebagainya. Mereka pun pasti punya prinsip hidup seperti para perempuan Palestina. Tidak memikirkan printilan hidup duniawi dan hanya fokus berbuat sesuatu untuk negeri ini, untuk kemanusiaan dan untuk mewujudkan peng-Hamba-annya kepada TUHAN.

Hampir semua poin  di postingan instagram itu mengobrak-ngabrik hati saya. Namun hal itu juga membuat saya tersenyum lega. Seperti datang seorang Perempuan Palestina yang menepuk-nepuk pundak saya, memberikan penguatan sambil berkata, "Hai Heni, cara hidup yang kau pilih dan kau jalani ini, tidak salah". Lalu spontan saya curhat-curhatan di status whatsapp saya itu, sambil mojok di atas kasur, membatalkan niat menulis sesuatu di buku catatan sebelum tidur.


Inilah hasil semua screenshoot-nya, semoga menjadi sekadar masukan untuk sahabat sekalian tentang kehidupan.

















Ya, dari tiap kotak-kotak itu, anda pasti akan bisa menduga bagaimana saya ini menjalani hidup.
Lucu memang, karena sering orang mengira saya ini adalah perempuan alias emak-emak yang sangat aktif, pergi ke sana ke mari. Pagi, siang, malam bisa keluar untuk hangout, meeting, kerja atau apalah-apalah. Bisa cabut kapan saja untuk mengurus semua keperluan. Gaya hidup kekinian, begitulah kiranya.

Ternyata beda banget. Saya sering dibilang sebagai emak jadul. Sudah kelar kerjaan, langsung pulang. Nggak pakai stay sebentar untuk cangkrukan. Paling banter mandek sebentar untuk sekadar foto-foto di tempat yang bagus untuk diposting di instagram.

Dulu, saya pun resah dengan keterbatasan yang saya miliki ini. Sempat saya ikuti gaya hidup kekinian teman-teman yang baru saya kenal. Tapi saya resah. Hadir namun hati gelisah. Sering menggumam dalam hati, di tengah mall atau hotel atau restoran dan cafe yang mentereng itu, batin saya terus menerus bertanya, "Heni, kamu di sini untuk apa?". "Heni, sebandingkah ini semua dari pengorbananmu meninggalkan rumah?". Bisikan-bisikan semacam itulah yang terus menerus berputar di telinga batin saya.

Sampai akhirnya saya lelah melawan diri sendiri. Maka saya memilih berhenti menjadi kekinian dalam pergaulan. Saya menarik diri dari beberapa hal yang membuat saya resah. Saya bertanya berulang-ulang kepada TUHAN,...

"Ya Alloh SWT, saya harus bagaimana? apa tujuan KAU ciptakan diri ini? tugas apa sebenarnya aku hidup di dunia ini? tolong tunjukkan..."
Dan satu per satu jawaban itu pun ditunjukkan. Sampai akhirnya saya yang selalu berdiskusi dengan suami meyakini, bahwa tugas saya adalah di bidang pendidikan.

"Sudah ma, harus makin fokus sekarang. Kegiatan tidak terkait, lebih baik ditinggalkan. Waktu kita tidak banyak. Sampai kapan kita hidup, nggak ada yang tahu." Seperti itulah ucap suami saya. Dan saya yakini kebenarannya.

Maka, saya pun semakin yakin untuk KEMBALI KE RUMAH. Dan berusaha keras mencari cara agar dari rumah, saya masih bisa berkarya.

Mungkin saya harus keluar rumah, tapi itu untuk mengajar atau belajar atau terkait hal keduanya.

Mungkin saya juga ingin jalan-jalan, senang-senang, bercengkerama ringan, tapi itu jika semua urusan keluarga beres dan suami saya berkata Yess.

Istri zaman now, kok masih nurut suami?
Ah, kalau Alloh SWT dan Rasulullah Muhammad SAW tidak menganjurkan hal ini, ya nggak mungkinlah saya turuti.

Naif banget? iya kadang saya dinilai begitu.

Tapi ternyata pilihan hidup saya, menjadi satu hal yang bisa menguatkan beberapa perempuan lainnya. Terutama mereka yang baru memutuskan keluar dari pekerjaan dan menjadi ibu rumah tangga. Silahkan disimak beberapa tanggapan ini:







Apakah anda mengalami hal yang sama?