5 Barang Wajib Ada Di Tas

Tidak ada komentar

Hiya, tas kuning mencrang selalu mencuri perhatian. Apalagi jika tabrak warna sama outfit yang saya pakai. Ini nyentrik karena tas-nya ya itu-itu aja. Saya juga heran kenapa dulu milih warna tas yang kuning, bukan hitam?
Entahlah hahaha.

Yang penting sesuai instruksi Blogger Perempuan challenge, saat ini membahas 5 barang yang wajib ada di tas ala saya.

1. Handphone dan Chargernya, diusahakan juga ada kuota data. Jaga-jaga jika jauh dari wifi.

2. Dompet dan segala isinya. Mulai duit, SIM, KTP sampai Kartu Nama.

3. Notebook kecil dan pulpennya. Buat mencatat cepat hasil olah pikir, biasanya berupa Mind Map. Dan timeline rencana program ke depan.

4. Tisue kering atau basah. Makin gede anakku, makin lupa bawa ini.

5. Air minum dalam botol. Bisa rada kuat nahan lapar, kalau haus wah wassalam. Beli air juga kadang rasanya aneh atau mahalnya nggak ketulungan. Mending bekal sendiri deh.

Dengan 5 barang ini, di manapun saya berada, bisa merasa aman.

Tempat Jual Makan Enak di Surabaya Barat

3 komentar

Teman saya mesti bete kalau nanya, "makan enak di Surabaya di mana ya?"

Soalnya saya mesti bingung menjawab. Padahal saya asli Surabaya dan sekarang tinggal di Surabaya. Merantau cuma 4 tahun di Bandung untuk kuliah.

Lah gimana bisa menjawab, saya bukan petualang kuliner. Jaman saya kecil, ibu rajin masak sendiri di rumah. Mau itu gado-gado kek, bakso, jajan apa aja deh wajib makan di rumah. Secara kita masuk umat Crazy Poor Surabayan. Kagak sanggup jajan di luar. Gitu lah :)

Nah setali tiga uang. Pas menikah dapat suami yang ga terlalu suka makan di luar rumah. Eh dua anak lelaki kami pun niru bapaknya. Jadi deh, mending milih bungkus makanan trus diserbu bareng di rumah, daripada kudu kemana-mana cuma sekadar untuk makan. Ada food delivery macam go-food melengkapi deh model keluarga kura-kura ini. Demennya di dalam rumah mulu hehehe.

Ya sudah karena topik blog challenge dari Blogger Perempuan kali ini tentang restoran yang saya artikan tempat jual makanan. Maka saya tulis saja 5 tempat jualan makanan favorit kami sekeluarga di Surabaya Barat, daerah sekitar rumah kami.

1. Depot Sate Sriwijaya
Lokasinya di depan pasar bawah Manukan. Jualan sate, gule, krengsengan daging dan rawon. Rasanya juara. Bumbune sedep, legit. Langganannya banyak banget. Pedagang lama. Rasa pun ga berubah. Sedap pokoknya.

2. Bakso Pak Min Solo
Lokasi di jalan Manukan. Bakso yang paling sedep kuahnya dan baksonya rada pedes karena banyak merica.

3. Depot Devie
Ini jualan gudeg Jogja dan rasnaya muantep. Anak saya suka beli bebek goreng di sini. Sedia banyak rupa makanan rumahan. Dan enak rasanya.

4. Terang Bulan Maknyuss
Lokasi dekat puskesmas Manukan. Buka sore mulai jam 4. Terang bulannya enak, banyak banget butternya. Anak saya kurang suka lelehan butter ini. Tapi saya suka hahaha. Martabak juga rnak. Antri terus yang beli.

5. Nasi pecel Karitas.
Lokasi jualan dekat sekolahan kristen Karitas di jalan Jelidro. Legendaris banget nih pecel. Bumbunya nomer satu rasanya. Konsisten pula. Penolong jika saya males masak dan mencari sarapan pagi. Cuma sebentar  bukanya. Khusus buat sarapan aja.

Berikut tempat enak beli makan di Surabaya Barat. Kalau dekat sini, bisa saya anterin deh hehehe.

More About Me

Tidak ada komentar

"Karepmu opo?"
Artinya, "Maksudmu apa?". Sebuah pertanyaan yang menyiratkan keheranan ketika saya memakai jas hujan, lalu bersiap mengendarai motor menembus hujan deras, untuk berangkat les bahasa Jepang.

Pertanyaan itu saya jawab dengan tatapan mata.

"Entahlah, pokoknya saya harus berangkat. Titip anakku sebentar ya pak....."

-----
"Halah mbak. Kalau aku jadi mbak ya milih enaknya saja. Gaji suami udah cukup. Duduk manis aja, ngurus anak, ngurus suami. Jadi ibu rumah tangga. Ngapain repot-repot."

Saya menjawab komentar ini dengan helaan nafas. Panjang dan berat. Kemudian melanjutkan langkah ke gedung kelas Pasca Sarjana.

-----

"Kenapa dia selalu dibantu? Saya pernah dalam posisi seperti dia. Lebih buruk malah. Tapi saya tak banyak bicara. Saya mengatasi persoalan itu sendiri, dengan berkarya. Dan itu bisa. Bisa."

Protes saya dijawab dengan kalimat, "itu kan kamu. Kamu pintar, dia nggak."

Hampir seumur hidup saya mendapatkan respon seperti ini. Dulu saya marah mendengarnya. Sekarang saya anggap itu sebagai DO'A.

---

"Stop. Aku tidak seperti kamu mbak. Aku beda."

"Seperti aku? Emang aku kenapa?"

"Mbak Heni hebat. Bisa melakukan semuanya. Bisa belajar hal baru. Bisa bicara di depan ratusan orang. Mau susah payah ini itu padahal ngurus anak, jadi ibu rumah tangga. Aku tidak bisa. Jangan suruh aku berusaha sekeras mbak, aku bukan mbak Heni."

Penjelasan singkat itu membuat denyut nadi saya bergerak perlahan.

Kawan. Nanti juga lo paham.

----
"Aku kecewa sama kamu Rin. Katanya kamu ibu rumah tangga."

"Loh, iya aku ibu rumah tangga. Aku bukan pekerja resmi kantoran kalau itu yang kamu maksud."

"Aku kecewa Rin. Aku bangga sekali sama kamu. Salut. Kamu meninggalkan karirmu yang kau impikan di LIPI dan memilih menjadi ibu rumah tangga. Semua orang aku ceritakan tentang ini."

"Itu benar. Kecewamu karena apa? Tidak ada yang berubah dari aku. Tetep aku ibu rumah tangga."

"Tidak. Kamu tidak lantang menantang lagi seperti dulu."

Urat syaraf saya mengendur.

"Oh itu. Karena dulu aku tidak tahu, cerita di balik pintu perempuan. Aku baru tahu untuk beberapa perempuan, dia tidak bisa memilih menjadi ibu rumah tangga. Dia harus keluar rumah. Bekerja. Menghidupi keluarganya."

"Tidak Rin. Aku masih kecewa sama kamu."

Ah kawan. Sekali lagi. Nanti juga lo paham.

Geliat Media Sosial

Tidak ada komentar

Media sosial bak tongkat ajaib Nirmala, tokoh salah satu cerita anak di majalah Bobo yang berjudul Oki & Nirmala.

Media sosial, "medsos" saja kita menyingkatnya, seperti tongkat ajaib yang menyulap hal biasa menjadi luar biasa, seperti fenomena hadirnya Selebgram dadakan akhir-akhir ini.

Kamu kaget ketika menyanyikan lagu Abdullah saja, esoknya bisa masuk televisi. Ajaib. Satu video beredar viral di instagram, satu Indonesia mendadak kenal.

Kuatnya efek medsos ini jika dikelola dengan baik, bisa memberikan manfaat sekaligus dampak yang besar. Dengan konten menarik, strategi posting yang tepat, maka setiap tujuan bisa tercapai dengan lebih cepat, lebih mudah sekaligus meraih orang lebih banyak.

Terlihat pada kampanye kebaikan yang sekarang bisa mulai tampak hasilnya. Contoh kampanye pentingnya ASI untuk bayi. Dengan satu akun instagram, seseorang atau lembaga kesehatan resmi bisa mengajak setiap ibu untuk berusaha sekeras mungkin memberikan ASI untuk bayinya sampai usia tertentu. Dan hasilnya, bahkan sekarang ada larangan bagi pekerja bidang medis untuk mempromosikan susu formula. Sedahsyat itu efeknya.

Saya mengalami ketika menyusui anak sendiri, dianggap lebih receh daripada mereka yang menyusui anaknya dengan susu formula.

"Nggak punya uang mbak, ya disusuin sendiri aja, wong Heni ini nggak kerja kok. Cuma jadi ibu rumah tangga."

Tak perlu dibayangkan ini kalimat dari siapa. Tapi pada saat itu, saya tidak bisa membela diri. Menerangkan ASI itu bergizi buat bayi dan bla bla bla, susah.

Seandainya dulu ada media sosial, bisa tuh pembelaan diri saya berwujud dalam satu status facebook dengan kalimat yang lebih dari 500 kata. Dijamin rame komentarnya dan bisa saja status itu jadi viral, lalu saya masuk tivi :).

Nah, mudahnya satu status facebook untuk viral juga bisa berubah jadi bumerang.
Iya kalau statusnya benar, kalau salah?
Iya kalau berdasarkan fakta, kalau hoax?

Edukasi penggunaan media sosial yang sehat menjadi satu isu lagi yang diusung berbagai pihak yang menggiatkan literasi digital.

Berinternet memang harus hati-hati. Karena produk inovasi teknologi informasi ini punya dua sisi mata uang koin. Ada sisi baik, ada juga buruknya.

Bisa banjir rejeki dengan mudah.
Bisa juga kena UU ITE dan masuk penjara.

Menurut pengalaman saya, pengguna medsos ini punya 3 tahap dalam hidupnya.

1. Tahap bulan madu.
     Di tahap ini orang seneng banget ketemu medsos. Kontak dengan teman satu kos yang terpisah 20 tahun lamanya. Mencengangkan.
Bisa terhubung dengan pakar sesuatu, berskala Internasional pula, komentar kita dijawab pula, mengharukan.

Di tahap ini orang belum banyak tahu cara menggunakan medsos yang tepat. Semua dibagikan di medsos. Mau makan update status. Per detik. Per kegiatan.
Semua hal diceritakan, tentang keluarga, diri sendiri dsb. Tanpa sensor. Karena belum paham bahwa tulisannya dibaca banyak orang. Dan semua orang bebas membagikan ulang, meng-copy paste, dan juga bebas berkomentar.

...
Artikel bersambung....