Hi, I'm Heni, welcome to my blog

Sharing Tentang Coding Kids di SEA MORNING SHOW - SEA Today Channel

Doji 123: Ios App Untuk Belajar Menulis Angka

Inilah hasil draft ios apps yang saya buat ketika tugas akhir, atau final project.





Berikut Video penggunaan apps ini untuk belajar menulis angka







Kalau ingin tahu bentuk sketsa UI/UX design dan codingannya di Xcode, bisa dilihat di video ini. Sayangnya kurang jelas sih. Kalau ada waktu nanti saya bikin yang baru



Sebelumnya, ide apps ini sudah saya ujikan ke keponakan cilik saya






Nah saya pun meminta masukan dari teman-teman yang menjadi GURU PAUD, orang tua anak-anak yang masih kecil atau usia dini dan siapapun yang ingin memberikan masukan tentang aplikasi di hp itu mau kayak gimana jika digunakan untuk membantu anak belajar menulis huruf dan angka.


Kerja Di Rumah: Bisa Segitu Banyaknya

3 komentar
Kalau dari foto ini, saya tuh sedang menyapa secara Live di Grup Facebook Komunitas Coding Mum Indonesia. Sebagai Presiden alias Ketua Umum, ya harus menjaga ikatan batin antar anggota. Setelah itu, membuat video untuk mengais data perihal hal yang dibutuhkan anak usia dini jika diajak belajar menulis menggunakan aplikasi di handphone. Ketika semua urusan depan kamera selesai, blazer dan jilbab saya lepas (karena gerah), dan saya meneruskan menulis buku biografi pesanan klien di laptop.

ibu rumah tangga digital : Heni Prasetyorini
Mengisi Live Webinar Dari Handphone di rumah
Saat lelah ngetik, saya buka peralatan handmade dan mulai membuat satu demi satu prakarya berupa tali kacamata, bros, gelang dan kalung. Yang hasilnya kalau sudah jadi, bisa saya pakai sendiri atau jual. Koleksi bisa dilihat di www.instagram.com/percamanik.
Habis gitu, ke dapur (untuk cari bahan yang bisa dikunyah 😁). Mungkin lanjut menggoreng ikan bandeng, tahu dan tempe. Dilanjutkan lagi buka laptop untuk menulis konten baru di blog. Nge-blog itu sudah saya mulai sejak 10 tahun lalu, tepatnya tahun 2009. Awalnya cuma untuk curhatan aja dan latihan menulis. Saat ini, dari blog saya dapat banyak kejutan. Bisa terbang atau naik pesawat pertama kali juga karena tulisan di blog saya menang lomba.Lalu diundang jadi pembicara, trainer dan hal lainnya, termasuk diminta menulis buku biografi dosen ini, juga karena yang mengajak kerjasama telah melihat rekam jejak saya di blog. Baru-baru ini malah saya dapat sepatu dan sepatu sandal baru dari ngeblog. Cuma harus nulis artikel blog sebiji aja loh, http://www.prasetyorini.com/2020/01/shoesmart-marketplace-sepatu-terbesar-pengusung-brand-lokal-indonesia.html?m=1 Hampir semua pekerjaan itu saya lakukan dari rumah dan di dalam rumah saja. Kecuali memenuhi beberapa undangan. Pengalaman saya ini menarik sekali untuk saya bagikan. Karena saat ini, memilih jadi ibu rumah tangga atau working at home mom, sudah makin keren aja kedengarannya.
Selain keren juga makin mudah. Ada internet, ada platform digital. Ada teman dan komunitas tempat belajar bareng. Bahkan saya ikutan komunitas ibu-ibu dari luar negeri. Terkadang juga menyapa para pakar pendidikan dari luar negeri juga.Bahasa Inggris saya tidak terlalu fluent atau fasih. Saya bisa paham membaca dan mendengarnya. Cuma untuk menulis dan mengucapkan lagi, rada mikir. Tapi kalau sekadar berbalas chat dan mengirim pesan, kan bisa mengandalkan google translate? Jadi ga ada batas. Sharing saya kali ini, untuk memberi semangat pada ibu-ibu ya. Sehingga ke depannya juga, tidak kaget dan shock misalkan anak gadisnya atau menantunya memilih jadi ibu rumah tangga. Jangan cemas ilmunya bakal sia-sia.

Memberikan kelas online pun bisa. Itu rencana saya di startup teknologi pendidikan yang saya rancang dengan anak dan suami, di www.kelaskudigital.com Berbasis dari rumah, bekerja bisa begitu banyak ragamnya. Bahkan tahun 2009 itu saya mulai jualan jilbab online modal nekad, tapi bisa tembus diliput oleh Metro TV Jawa Timur. Ah nantilah, saya banyak cerita tentang ini https://www.facebook.com/pg/koleksijilbaborin/ Gimana, mau lanjut diceritani lagi?

Shoesmart Marketplace Sepatu Terbesar Pengusung Brand Lokal Indonesia

Tidak ada komentar
Keluarga saya ini makin hari makin suka beli online. Apapun itu. Mulai dari celana pendek, kaos, aksesoris laptop yang ada aja itu butuhnya dan juga alas kaki seperti sandal dan sepatu.

Langsung pergi ke mall, udah jarang banget kami lakukan. Kedua anak lelaki saya kalau diajak makan keluar pun juga ada aja alasan menolaknya. "Beli food delivery aja lah ma. Makan di rumah bareng, enak", begitu alasan mereka.  

Ya, you can call us Online Freak Family
Segala-galanya mending milih yang online deh. 

Urusan beli makanan secara online, udah ga ada masalah. Karena hanya tersedia satu dua aplikasi. Pinter-pinter aja baca review atau memilih yang brand-nya udah bagus dan teruji. Saya sih lebih sering beli di fitur nearby alias di sekitar rumah saja. Selain ingin cepet dan ongkos kirim murah, juga bisa saling membantu sesama tetangga, bisa dibilang begitu. 

Nah lain halnya jika butuh produk lain seperti  sepatu. Saya dan suami bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih online shop yang verified, review bagus, dapat dipercaya dan produknya beneran bagus. Lumayan menghabiskan waktu. 

Untung saja mulai bermunculan marketplace yang fokus menjual satu jenis produk. Ada yang khusus jual baju saja, skin care dan kosmetik saja dan satu lagi yang khusus menjual sepatu dan sandal saja. Dan menurut saya ini jauh lebih menghemat waktu dan tenaga untuk memilihnya. 

SHOESMART: Marketplace Sepatu Terbesar


Saya menemukan marketplace sepatu ini, dari postingan instagram story teman baru. Jujur saja, dari rekomendasi teman bisa membuat saya lebih cepat dan percaya dalam mengambil keputusan, dibandingkan browsing sendiri.

Setelah sekilas melihat postingannya, langsung saja saya masuk ke instagram @shoesmart.id dan membuka websitenya www.shoesmart.co.id.

Sebagai Coding Mum dan juga blogger, membaca ekstension domain saja sudah bisa menebak kalau ini bukan sekadar olshop kecil-kecilan biasa. 

Domain co.id menunjukkan jika website tersebut milik company  atau perusahaan resmi di Indonesia. Untuk mendapatkan domain itu harus menyerahkan bukti usaha dan dokumen resmi lainnya kepada provider domain. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan domain co.id ini. 

Jadi kesan pertama, shoesmart ini adalah perusahaan resmi dan terpercaya. Dan bener, setelah ditelusuri ternyata foundernya sudah berpengalaman bisnis bidang sepatu ini sejak tahun 1985. 

Setelah membuka website-nya, kesan kedua bertambah. Deretan foto dan gambar cantik tertera di sana. Lengkap dengan jenis sepatu, brand atau merk dan harga sepatu. Desain websitenya juga bagus dan profesional. 

Saya upreklah itu semua navigasi dan button yang tersedia. Udah bawaan sejak mengenal coding dan website development soalnya. Selalu ingin menguji website orang :).

Shoesmart: Marketplace Sepatu Terbesar


Baiklah, anda pun bisa mencoba membuka websitenya www.shoesmart.co.id sekarang.  

Dan ya, anda akan mendapatkan pengalaman pengguna atau user experience yang mudah dan menyenangkan. 

Di kolom navigasi, anda bisa memilih sepatu sesuai kebutuhan. Apakah untuk pria, wanita, orang dewasa ataupun anak. Jenis sepatu juga dibedakan  menurut:
  • kategori
  • brand
  • ukuran
  • warna
Produk Best Seller juga ditampilkan dengan manis berupa slider, sehingga pelanggan bisa mendapatkan masukan jenis produk yang sedang trend dan banyak digemari sekarang.  

Setelah ada satu model sepatu yang sudah nyangkut di hati, maka bisa langsung juga dilakukan pembelian di website tersebut. Tentu saja, harus lebih detil memperhatikan Ukuran sepatu, warna, jenis bahan sepatu yang sudah tertera di setiap produk. 


PENGUSUNG BRAND LOKAL

Kebetulan saya juga sedikit malang melintang di dunia startup dan e-commerce atau digital marketing. Pernah menjadi mentor anak-anak muda yang ingin membangun startup, membawa wawasan baru bagi saya, bahwa mempunyai bisnis tidak hanya berpikir High Profit untung banyak tapi juga High Impact yaitu memberikan dampak yang baik untuk sekitar. 

Menjadi pengusung brand lokal seperti yang dilakukan oleh Shoesmart, adalah praktek mewujudkan konsep High Impact tersebut. Menarik. Dan salut untuk keberaniannya tampil berbeda demi kontribusi untuk kesejahteraan UMKM dan Pengrajin sepatu dari negeri sendiri dengan kualitas produk yang sudah teruji. 




Brand Lokal yang sudah tergabung saat ini, untuk sepatu Pria adalah Tony Perotti, Alseno, Alseno Kids dan Fransisca Renaldy Kids. Sedangkan untuk sepatu wanita, brand yang sudah masuk menjadi produk ready stok adalah Austin, Bettina, Clarette, Inside dan lain sebagainya bisa dilihat langsung di website.

Setiap brand menampakan keunggulan dan keunikan masing-masing. Hal ini sangat menguntungkan calon pembeli karena jenis sepatu yang ditawarkan cukup banyak. Dan proses memilih sepatu ini tidak memakan waktu banyak karena cukup dilakukan secara online di mana saja dan kapan saja menggunakan gawai masing-masing.


SEPATU BETTINA BARU SAYA

Nah, ketemu Shoesmart ini tidak hanya sambil lalu saja, Tapi saya pun membuktikan diri untuk berbelanja sepatu dan sepatu sandal di situ.

Kalau anda amati di setiap foto saya di media sosial, seringnya pakai sepatu sneaker hitam dan goresan pink yang itu-itu saja. Kali ini saya membutuhkan sepatu yang lebih formal namun ringan jika disimpan di dalam koper jika nanti ada undangan seminar atau mengisi training di luar kota.

Dalam beberapa suasana, seperti waktu saya di Palangkaraya itu, rasanya saltum alias salah kostum. Saya memakai celana jeans dan sepatu sneaker. Ternyata para dosen dan tim kampus menggunakan batik resmi Kalimantan dan bersepatu flat. Jujur saja, saya jadi kikuk karena kuatir dirasa kurang sopan di hadapan mereka. Maklum udah terbiasa santai kalau ngisi acara di Surabaya, Jakarta atau sekitar pulau Jawa.

Nah, karena tidak ingin mengulang hal yang sama, maka saya harus punya sepatu formal. Warna hitam jadi pilihan karena netral dan bersih banget tampaknya. Dan satu lagi, wajib untuk flat atau teplek dan empuk sol-nya.

Saya udah takut pakai wedges atau sepatu dengan hak sependek apapun. Karena beberapa kali jatuh terkilir dan sempat satu tulang telapak kaki retak. Lingkaran kawat tembaga yang dipasang di tulang retak itu juga masih ada di kaki saya sampai sekarang. Maka jenis sepatu yang berani saya pakai ya sneaker atau flat dan sepatu sandal.

Kebutuhan macam ini, bisa dicari asal kita mau baca detil keterangan produk di setiap gambar sepatu yang ada di website Shoesmart.Co.id.

Saya memilih brand Bettina, karena sesuai dengan kebutuhan saya dan alhamdulillah pas barangnya datang pas banget mulai ukuran dan keempukan sol yang ditawarkan. Sepatu dan sepatu sandalnya pun ringan. Cocok nih.

Shoesmart: Marketplace Sepatu Terbesar
Cocok kan sepatunya dengan dress batik hijau mencrang ini?

Shoesmart: Marketplace Sepatu Terbesar
 Sepatu dan Sepatu Sandal brand Bettina Jadi Modal Kerja Saya :)



BISA RETUR JIKA SEPATU TIDAK COCOK

Nah, iya kalau cocok. Keengganan beli sepatu atau sandal online adalah jika ukuran tidak cocok. Karena beda brand beda ukuran biasanya. 

Sebenarnya di tiap detil bahan di website ini, kalau diamati, tiap brand memberikan satuan yang berbeda dari ukuran sepatunya. Misalkan untuk ukuran 40, ada yang dikonversikan menjadi 39.5 cm; 40 cm atau bahkan 42 cm. 

Sebaiknya kita mengukur kaki sendiri juga di rumah, bisa menggunakan penggaris biasa atau meteran kain. Jadi tahu ukuran kaki kita sendiri.

Jika terlanjur salah memilih ukuran sepatu, misalkan untuk memberikan hadiah kepada seseorang, jangan sedih dulu. Di Shoesmart ada fitur PENGEMBALIAN atau RETUR sepatu dengan syarat dan kondisi tertentu. Untuk lebih detilnya bisa dibaca di tautan berikut: https://shoesmart.co.id/return_policy

Begitulah beli sepatu dan sandal sekarang jadi jauh lebih mudah. Jika ada kesulitan pun tersedia Customer Service chat yang selalu siaga di sisi kanah bawah website Shoesmart. 

Oke selamat berselancar cuci mata memilih sepatu yang dibutuhkan. Dan semakin semangat belajar, bekerja dan berkarya dengan langkah yang semakin ringan dan menyenangkan. Gunakanlah sepatu buatan anak negeri sendiri, Cintailah produk Indonesia. 

Semoga menginspirasi.
Heni Prasetyorini

IRTD 7: Kriptonik

Tidak ada komentar
KRIPTONIK

Kain hero berwarna kuning berukuran 1,5 m x 3 m ini sudah penuh dengan tracing tulisan. Aku dan suamiku bergantian menebali tiap hurufnya dengan cat minyak berwarna hitam. Beberapa kali aku mendesah nafas panjang. Pinggangku terasa nyeri apalagi punggungku yang sudah menyangga janin berusia 4 bulan.

“Aku salah nih bikin hurufnya kecil-kecil begini. Jadi susah kita menebalinya dengan kuas cat.” Keluhku pada suamiku. Sejenak kemudian dia berhenti menggores kuas bercat hitam, lalu masuk ke dalam rumah. Sebungkus plastic kecil berisi cotton bud ada di tangan kanannya. 

Aku menerima barang itu dengan tersenyum. “Bagus juga idenya. Lebih rapi gini, mengecat dengan cotton bud.”

KRIPTONIK
JASA PENGETIKAN & BIMBEL SD, SMP, SMA
MATEMATIKA, FISIKA, KIMIA, BAHASA INGGRIS

Hampir selesai pekerjaan kami, ada tamu datang dan masuk ke ruangan depan rumah ibuku yang akan menjadi tempatku menerima murid bimbingan belajar dan jasa pengetikan. 

“Lagi ngapain dek Heni?”
“Owala pakai bikin sendiri geber’e rek. Pesen ae pok’o…”

Aku dan suami nyengir saja menerima komentar itu. Iya memang geber alias banner usaha ini bisa pesan ke tukang sablon. Tapi harganya waktu itu lumayan mahal juga. Demi ngirit, aku beli saja kain polosan kemudian menulisnya sendiri. Sebisa mungkin semua “modal usaha” ini dari kantongku dan suamiku sendiri. 

“gak papa mbak, daripada nganggur. Bisa bikin sendiri gini. Mau ta tak bikini?”candaku. 

KRIPTONIK. 

Aslinya adalah nama salah satu unsur kimia di deretan Sistim Periodik. Kriptonik punya nomor atom 36 dan ini adalah nomor absenku di kelas Kimia ITB angkatan 97. Sewaktu kami ospek, biasanya memanggil dengan nama unsure yang sesuai dengan nomor absen atau NIM ini. 

Setelah memutuskan kembali ke Surabaya, praktis kami berdua, aku dan suamiku menjadi “pengangguran”. Suamiku mengambil cuti belajar untuk kuliah lagi ke ITS. Dia dulu lulusan D3 Teknik Mesin (D3MITS), kemudian langsung bekerja di IPTN, perusahaannya pak B.J. Habibie yang bikin pesawat terbang itu loh. Sejak tahun 1999 dia pun memutuskan untuk melanjutkan kuliah lagi, sehingga bisa lulus S1 di jurusan yang sama juga, Teknik Mesin ITS.





IRTD 6: Akhirnya Aku Menjadi Ibu Rumah Tangga

Tidak ada komentar
“Menikah itu susah. Sorooo….”ibuku sering mengulang-ngulang hal ini. Beliau ingin sekali meyakinkanku bahwa menikah itu sangat susah. Sulit banget. Nggak ada indah-indahnya. Entah apa tujuan ibu terus menerus membombardirku dengan kalimat ini setiap kali aku pulang ke rumah di masa liburan kuliah. 

Ibu adalah politikus handal dalam keluarga kami. Tak ada satu pun gerak-gerik ibu atau perkataan ibu yang tidak ada maksud di belakangnya. Termasuk doktrinasi bahwa menikah itu susah yang diberikannya padaku, pasti dan pasti karena beliau tidak ingin aku buru-buru menikah. Aku harus berkarir super sukses dulu sebelum akhirnya duduk di pelaminan. Dan aku sangat mengamini hal itu. 

Tidak pernah terbesit sekalipun juga di dalam benakku di masa remaja atau bahkan masuk usia SMA bahwa aku akan menikah secepatnya. Aku ingin berkarir dulu, jelas. Menikah adalah urutan kesekian.

Mestinya begitu. Rencananya begitu. Akan tetapi Allah SWT tidak menganggap rencanaku itu baik karena Maha Mengetahui yang lebih baik dan terbaik untuk kehidupanku. 

Anak gadis yang ambisius untuk menjadi wanita karir ini, malah ketemu seorang laki-laki di semester pertama kuliahnya. Dan tanpa ada settingan sama sekali, akhirnya berjodoh menikah dengannya tepat 3 bulan sebelum lulus kuliah. 

Doktrinasi ibu tidak mempan padaku saat itu. Menjalani kehidupan yang sulit dan susah bukan hal yang mengerikan bagiku. Aku pernah makan nasi yang aku masak dari beras yang sudah kupisahkan dari tahi tikus yang masuk ke lemari dapur tempat kos kami di Bandung. Aku kuliah dari pagi sampai sore dengan bekal makan supermie dan kocokan nutrisari sebotol. Aku begadang sampai pagi menyelesaikan semua tugas kuliah dengan camilan campuran gula dan kopi bubuk instan yang aku anggap sebagai pengganti permen Nescafe. 

Bahkan aku sering sengaja main ke rumah teman asli Bandung di waktu makan siang dan makan malam, karena uang kirimanku sudah habis sebelum akhir bulan. Ini biasa terjadi ketika masa fotokopi tugas-tugas semakin banyak dan menyedot uang jatah bulananku sebesar 150ribu rupiah sebulan itu. 

Aku tak takut miskin, karena dari kecil ibu membiasakan kami makan dengan lauk seiris tempe tipis dan sesendok indomie yang sudah dicampur potongan cabe rawit dan kecap. Lauk yang harus cukup dimakan 10 orang di rumah kami. 
Jadi susah karena menikah tidak mengerikan. Yang menakutkan adalah aku berhenti karena menikah. Aku menjadi titik. Aku menjadi ibu rumah tangga. Itu terlalu menakutkan untuk dibayangkan. Karena ibu seringkali menakutiku bahwa jika perempuan tidak bekerja itu rentan untuk diperlakukan secara sembrono oleh suaminya.

Semakin kamu anti terhadap sesuatu biasanya Tuhan akan mencobamu dengan hal itu. Ketika aku anti banget menjadi ibu rumah tangga. Maka Tuhan menggerakkan telapak tangannya. Dan dengan sekejap saja tangan itu dibalik. Dan posisiku menjadi calon peneliti dengan karir cemerlang langsung berubah total menjadi ibu muda yang sedang hamil dan tidak berdaya. 

Aku dan suamiku turun dari angkot berwarna coklat yang mengantarkan kami dari stasiun Gubeng ke pinggir jalan. Rumah ibuku masih berjarak sekitar 300 meter lagi. Kami berjalan kaki dengan masing-masing tangan membawa tas besar berisi baju, buku dan beberapa barang kami dari tempat kos di Bandung. 

Sepeda, magic com dan barang yang besar, kami titipkan ke temannya suamiku yang masih ada di Bandung. Rencananya jika dia juga akan pindah kembali ke Surabaya, barangku akan dibawa serta dan dikirimkan ke rumahku. 

Tanpa riuh rendah penyambutan, aku dan suamiku membuka pintu pagar ibuku secara perlahan. “Loh sudah datang?” ibu dan bapakku kaget melihat kami sudah masuk ke rumah. Sementara baru beberapa hari lalu, kami menelepon mereka dan mengabarkan bahwa aku sedang hamil. 

“Kamarmu belum dibersihkan e Hen,”kata ibu. 

Aku bergegas memasukkan barang bawaanku ke kamar dan berkata pelan,”nggak papa bu, nanti kami bersihkan sendiri.”

Aku lihat kasur yang tidak ada spreinya. Dan kamar terasa sedikit berdebu. Kamar ini dibiarkan kosong ketika kami berangkat ke Bandung, tiga bulan setelah menikah. Tanpa beristirahat, aku dan suami segera membersihkan kamar dan membersihkan diri. Kami ingin beristirahat setelah naik kereta api dari Bandung ke Surabaya selama 12 jam lebih. 

Selesai membersihkan diri, aku berdiam di dalam kamar. Berat sekali rasanya perasaan ini. Kembali pulang tanpa sempat menjadi apa-apa. Padahal baru kemarin bapak menyorotkan binar mata bahagia ketika mendengar aku diterima kerja langsung di LIPI. Dan suamiku bisa tetap kerja lagi di IPTN setelah dia lulus kuliah lanjutan di ITS nanti. Dua pegawai BUMN yang sudah menentramkan hati orang tuanya ini, sekarang malah kembali ke rumah tanpa membawa kabar apa-apa selain kembali pulang karena hamil muda. 

Membuat orang tuaku patah hati begini. Aduhai pedih nian rasanya hati. 





IRTD 5: Dua Garis Biru Di Tempat Kos Baru

Tidak ada komentar
Suamiku mengambil cuti belajar untuk kuliah lagi ke ITS. Dia dulu lulusan D3 Teknik Mesin (D3MITS), kemudian langsung bekerja di IPTN (INDUSTRI PESAWAT TERBANG NASIONAL), perusahaannya pak B.J. Habibie yang bikin pesawat terbang dan terakhir berubah nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia. 

Beberapa bulan setelah kami dekat dan niat serius menjalani hubungan, dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah lagi, sehingga bisa lulus S1 di jurusan yang sama juga, Teknik Mesin ITS. Jadi sebelum menikah, kami menjalani LDR juga Long Distance Relationship Surabaya-Bandung, kurang lebih 4 tahun. 

Sebenarnya jika semua rencana kami terlaksana dengan detil, suamiku ini lulus barengan dengan aku. Jadi, wajar jika kami berani saja mengiyakan ketika keluarga memutuskan tanggal baik pernikahan kami adalah sebelum aku lulus kuliah. Prediksi kami saat itu, 3 bulan setelah menikah, aku lulus, kemudian suamiku juga lulus. Kami berdua jadi sarjana lalu kembali ke Bandung. Aku bekerja jadi peneliti di LIPI Bandung. Dia kembali ke kantornya di IPTN. Menjadi duo pasangan pegawai BUMN. Sempurna.

Hamil dan memiliki anak, bukan hal yang kami bahas detil saat itu. Kami adalah Discussion Couple. Sejak awal kami suka membicarakan banyak hal secara serius. Tapi sepertinya, bagi anak muda Jawa, membicarakan tentang rencana mempunyai anak, yang alhasil akan nyerempet ke hal yang tabu, itu masih bikin sungkan untuk dibicarakan. 

Kami tidak memprediksikan hal ini. Tidak juga menggunakan kontrasepsi untuk menunda kehamilan. Atau bahkan kami tidak sempat memikirkan hal itu juga. Bayangkan saja selama proses menjelang menikah, aku harus masih berkutat di laboratorium penelitian juga mempersiapkan bahan untuk seminar Tugas Akhir dan sidang sarjana. 

Dan rupanya kehidupan sedang bercanda pada kami berdua. Tepat beberapa hari setelah kami pindah ke tempat kos yang lebih baik, lebih bersih dan jauh lebih dekat dengan LIPI tempatku bekerja, aku hamil. 

Aku pikir telat datang bulan kala itu biasa saja karena kecapekan pindahan kos. Aku mengangkat koper, lemari, kasur dan segala perangkat dari Surabaya ke Bandung juga dari kos lama ke kos baru. Dengan menjadi tukang angkut barang berat saat itu, menurutku mustahil seorang perempuan bisa hamil gitu loh. Ibarat kata, kalau toh beneran jadi, bisa-bisa ambrol tuh calon jabang bayi. 

Tapi rupanya anakku nih setrongnya luar biasa. Atau rahimku yang tebal dan kuat. Belum hilang rasa capek kami karena pindahan, ternyata rasa mual dan tidak enak badan setiap hari yang kualami adalah tanda-tanda kehamilan. 



----------
“Mas, sini sini.” Aku memanggil suamiku yang berkutat di depan computer setelah sholat shubuh. 
Aku menyorongkan cawan petri berisi urin pertama pagi. Lalu membuka kemasan bertuliskan ONE MED yang aku beli di apotek kemarin sepulang dari LIPI. Aku baca sekilas petunjuk pemakaiannya lalu memasukkan batang berisi petunjuk kehamilan itu ke dalam urin yang sudah aku kumpulkan sebelum shubuh tadi. 

Aku tidak sedang mengharapkan hamil. Ini sudah percobaan test pack ke sekian kalinya sejak kami awal menikah. Dan hasilnya selalu negative. Aku pikir saat itu pun akan sama. Aku memanggilnya untuk menyaksikan pertunjukan sulap saja atau main tebak-tebakan setelah aku sudah telat datang bulan sekitar satu minggu lebih. 

“hayoo berapa garis jadinya, eng ing eng…”candaku. 
Sruuttt…..tak sampai satu detik, langsung terpampang nyata ada DUA GARIS di test pack yang aku pegang itu. Jantungku rasanya melorot langsung ke dengkul. 

“ha….dua gariiiss..???”desisku perlahan. 
Sebaliknya, “Alhamdulillah dua garis!”suamiku bertepuk tangan spontan. 
------

Dua garis itu membuatku lemas. Tak tahu harus berekspresi apa. Dan aku merasa bersalah juga tidak langsung berteriak hore atau Alhamdulillah atau super senang akan kehamilan ini seperti halnya momen yang muncul di iklan televise. 


Pas setelah ada dua garis melintasi test pack di subuh pagi itu, aku sudah yakin bahwa kembali ke Surabaya adalah jalan yang akan kami pilih. 

“Kamu masih mau tetap kerja di LIPI?” dia bertanya dengan hati-hati setelah kondisi tenang siang hari. 
Aku sudah tahu arah pembicaraan ini. 
“Iya, kalau bisa,”jawabku tak kalah perlahannya. 
“Apa bisa kamu hamil sendirian di sini? Kerja juga? Dari kemarin aja lemes banget. Nanti yang belikan makanan siapa? Yang ngantar kerja siapa?”

Aku terdiam. Pikiranku berputar. Memikirkan hal ini sendiri. Jadi anak perempuan yang masih muda, sudah menikah, lalu hamil dan merantau tanpa satu pun sanak family, bikin aku ketakutan juga. Apalagi suamiku. Dia benar-benar tidak mau meninggalkan aku sendirian di Bandung. 

Suamiku bukan tipe orang yang memberikan keputusan secara saklek. Kami sudah dekat selama 4 tahun sebelum akhirnya diijinkan untuk menikah. Sedikit banyak dia tahu karakterku yang susah dilarang jika sudah ada kemauan. Dan menjadi peneliti, bekerja di LIPI, jelas dia tahu itu adalah impianku. Impian terbesarku. Puncak target hidupku. 

Sejak percakapan itu aku terus menimbang-nimbang. Membayangkan ini itu. Bagaimana jika ini. Bagaimana jika itu. Apakah aku sanggup jika begini. Apa yang mungkin terjadi jika begitu. 

Hal yang paling membuatku takut adalah karena aku bekerja di laborarium biokimia. Selama menjalankan penelitian tugas akhir, ada beberapa reagen kimia yang karsinogenik (bisa memicu kanker). 

“Kalau aku ngotot kerja di LIPI. Dalam keadaan lemah, capek, sendirian, apakah aku kuat? Bagaimana jika aku terpapar reagen karsinogenik? Bagaimana jika nanti zat itu terkena janinku? Jangan-jangan nanti dia cacat. Kalau iya, nanti anakku jadi susah. Aku pun jadi susah.”

“Tapi, kalau aku berhenti, impianku akan musnah. Mana yang harus kupilih, anakku atau impianku?. Sepertinya tidak ada masalah aku tetap bekerja, toh ibu itu, ibu itu yang bekerja di LIPI, anaknya sehat-sehat saja.”

“Ah, Tapi mereka orang asli Bandung.”

“Kalau aku di sini, suamiku nanti bagaimana? Nanti dia kepikiran. Semakin kepikiran aku di sini, semakin dia nggak bisa fokus menyelesaikan skripsinya. Nanti dia nggak lulus-lulus. Bisa kena pinalti dari kantor. Kalau akhirnya di PHK gimana?”

Ini semua adalah kata-kata yang terdengar di dalam batinku sendiri. Sampai akhirnya aku merasa bahwa harus ada salah satu yang berkorban di sini. Yang pasti bukan suamiku yang berkorban karena dia adalah kepala keluarga. Tentu juga bukan anakku yang dikorbankan, karena dia tidak minta dihadirkan ke rahimku.

Jadi, tidak ada pilihan lagi, harus aku yang mengorbankan diri. Menikah adalah keputusanku. Memastikan kehamilanku terjaga sampai anakku lahir adalah tanggung jawabku. Tanpa ragu lagi, aku katakan pada suamiku pada malam itu,”biar aku rapikan barang-barang. Packing. Kita kembali saja ke Surabaya.”