Serunya Debugging Hasil Coding Anak-Anak

Tidak ada komentar

Selesai membuat game, kadang ada error di project coding buatan anak-anak. Rameee biasanya, heboh karena katanya udah bener kok salah melulu?

Nah, sebelum ending kelas, kita DEBUGGING dulu tuh. Mencari BUG atau kode yang error. Anak-anak yang gantian SHARE SCREEN, jadi saya bisa melihat codenya langsung. 

Biasanya salahnya ga jauh-jauh amat. Keliru memasukkan nama variabel, atau salah tempat menyelipkan kode. 

Satu kekeliruan kecil aja, sudah berdampak. Jalan codingannya beda. Nah belajar coding ini yang ga sadar bisa melatih ketelitian anak-anak. 

Dan prosesnya tergantung karakter anak. Kalau tipe tenang, ya bisa kalem aja menelusuri kode satu demi satu. 

Kalau tipenya rame dan heboh, biasanya panik di rumahnya. Dan åsuara saya di MIC nggak terdengar.

Kalau udah gitu, trik saya ya ikutan teriak, sambil bilang, " Ssttt...heiii sssttt...sebentar. Tenang tenang tenang. Ayo lihat lagi satu satu. Sabar."

ya gitulah resikonya kelas online. Kalau kelas tatap muka, kita bisa pegang pundaknya. Atau peluk dulu bentar anaknya. Atau godain cuwil pipinya. :D

Inilah yang bikin kangen sih ya :)



Review Blender Sharp Blazter SB-TW101P

Tidak ada komentar

 Kepincut beli Blender Sharp Blazter SB TW101P karena Flash Sale. Dan juga mengamati gambar produknya, kok ada tabung bentuk gelasnya? kan menarik tuh, habis nge-blender tinggal minum aja. Nggak bikin bak cuci piring jadi penuh. 


gambar dari https://id.sharp/products/small-home-appliances/sb-tw101p

Tersebutlah promosi flash sale ini, dari harga normal 350 ribu menjadi  279 ribu. Plus ongkos kirim ke Surabaya, total 309 ribu. Jadi hemat sekitar 41 ribu. Lumayan lah ya, nggak pakai macet dan repot ke toko, diskon pula. 


Pas Flash Sale, saya nggak langsung klick Add To Cart dan Checkout. Malah kerja dulu. Ngajar dulu. Trus browsing review dulu, tentang asik nggaknya nih Blender. 

Sempat iseng bikin instagram story juga, nanyain Polling : Mending beli Panci atau Blender ya?

Dan jawabannya beragam. Sampai ada yang njapri, tergantung kebutuhan mbak. Eh lah jadi serius :D


Pas saya udah sreg mau beli. Klik lagi ke SHOPEE: Sharp Official Store [ ini bukan endorse, jadi rreeview jujur >.< ], eh ternyata STOK HABIS. Sedih banget to. Ya sudahlah nggak rejeki. Belum. Besok-besok ajalah. 

Pas udah malam, di atas kasur dan rebahan sambil ngadem. Iseng aja mencari blender lain pengganti tipe ini. Ketemu juga merk Sharp. Laiya emang browsingnya di toko yang sama. Beda tipe. Biasa aja. Murah. Gpp deh beli itu aja, khusus untuk buah. Karena blender lamaku, merk Philip, masih bagus dan bandel, cuman ya itu, bau bawang. Karena lebih sering dipakai blender bumbu masakan. Rupane blender e yo wis ra karu-karuan. Tapi performa masih bagus tuh. Emang merk ini kuat banget untuk blender. 

Udah mau beli blender baru yang lebih murah, iseng nih. Cek lagi nih blender Blazter. Eh terrnyata udah di RESTOK. Harrganya masih promo juga. Itu sekitar jam 9-10 malam ya. Langsung aja deh beli. Dan checkout. Dan bayar pakai shopee pay. Done. Tinggal dikirim. 

Waktu milih pengiriman, sebenarnya ada free ongkir potongan 10ribuan gitu pakai Shopee Express. Cuman sempat browsing review nih ekspedisi yang saya baru dengar, kok ada yang komen dapat notif terkirim abal-abal. Ya sedih kan. Ya sudah, pakai harga ongkos kirim biasa aja dengan JNE Cashless, lumayan bisa di track lah nanti jika ada apa-apa. Walau ongkir ga ada potongan. Asal bleender selamat sampai tujuan.

Sesuai perkiraan nih blender datang. Dikirim JNE pakai mobil. Jadi bukan abang kurir naik motor. Amanlah ya. 

Sekitar 3 hari kemudian baru unboxing dan bener. Itu senang deh isinya banyak untuk tabung blendernya. Ada 4 bentuk gelas. Cocok nih, serumah saya isinya 4 orang manusia. 

Tabung lainnya normal seperti blender biasa. 

Keesokan harinya, baru mencoba nih blender setelah sebelumnya belanja susu cair, pisang cavendis dan buah naga. Ya pengen banget bikin smoothies pakai blender ini.


Percobaan 1: bingung sendiri. 

Lihat You Tube, katanya nih blender ditekan biar jalan. Eh nggak bisa

Ternyata, bukan ditekan gais. Digerakkan ke kanan. Dibelokkan aja gitu. Asalkan kunci udah pas kliknya antara mesin dan tabung blender plus pisaunya. 

Mau nge-blend ngeri-ngeri gimana gitu takut tumpah.

Awal tes blend dengan tabung kosong, malah error, itu seal karet lepas. 

Sama suami langsung dibenerin dan dirapetin. Udah gitu saya isi aja dengan bahan smoothies. Susu cair 1/3 gelas aja. Lalu blend. Sebentar-sebentar gitu ya nge-blend-nya. Aturannya nggak boleh lebih dari 1 menit. 

Suaranya kenceng banget. Kayak tukang bangunan lagi ngiris keramik >.<

Cuman pisaunya tajam pula. Sekali dret dret dret, udah alus. Untuk bikin smoothies segelas, cukup 2-3 kali putar aja. 

Kemudian pisau dilepas dan tinggal minum, ga usah dituang lagi ke gelas lainnya. Mudah bukan?


Percobaan 2: bikin jus tomat. 

Tomat mentah diiris jadi 4, dikasih gula pasir dan air dikit. Blend. Udah jadi. Halus banget. Enak. 


Nah, dua hari berikutnya, saya coba bikin lagi nih smoothies buah naga. Eh karena salah nggak rapet waktu nutup tabung dan pisau, jadinya seal karet putus. Tuh suami saya udah mau emosi aja tuh. Biasa hahaha. 

Untung ada dua pisau. Jadi bisa pakai satunya. Kalaupun mentok nggak bisa, ya pakai jenis tabung blender biasa aja. Yang nggak perlu dituang kebalik saat nge-blend. Walau jadinya kudu dituang ke gelas baru dulu. 

Selesai minum smooothies setelah drama seal karet putus, saya bertanya ulang ke suami. "Apa bisa dibakar aja bisa nempel?"

Sebelumnya dia jawab, dikasih lem ajaib aja macam alteco gitu. 

Tapi kayaknya susah deh, karena ini plastik, dan nanti basah trus harus muter gitu.

Dia pun meralat kata-katanya. Dan bilang, cari aja di toped kayaknya ada yang jual. Eh beneran ketemu. Bapak-bapakk cari di toped. Saya cari di Shopee :)

Nih harganya nemu ada yang 45ribuan ada yang sampai 100 ribu lebih. 

Masih saya chat ke pemilik olshop, nanya apakah produk jualannya ori? karena kalau iya dan murah, kan bisa nyetok di rumah. Mungkin beli sekalian 5 biji. 


Begitulah review blender isi banyak ini. 

Dengan harga segitu, worthed lah ya.

Kalau punya anak bayi, harus waspada. Saat nge-blend, itu bising buanget. Takutnya anaknya nangis kejer malahan. 

Selamat mencoba. Saya mau eksperimen bikin aneka jenis smoothies setelah ini :)



Bootcamp KCMI Sesi 1: Membuat Website dengan HTML

Tidak ada komentar

 Pertemuan pertama di Google Meet sekaligus di Live Streaming ke You Tube



Link Studio Code: https://studio.code.org/projects/weblab/sJ6zJ1mVR8cM8_KgsYln2xKkQd1OH93pzzMYBFhHV_M/edit

Kenapa Coding Penting?

Tidak ada komentar

 

Jika kita mencari jawaban dari judul ini di google, maka akan tersedia banyak sekali quote bagus yang menyatakan kenapa coding itu penting.

Salah satunya adalah, “ Everybody have to learn how to code, because it teaches you how to think”.

Yang artinya, “Sebaiknya, semua orang belajar cara untuk code atau sebut saja coding, karena itu mengajari cara berpikir”.

Indonesia, termasuk negara yang sedikit terlambat untuk mengenalkan konsep coding kepada anak-anaknya. Untuk itu, bu Heni Prasetyorini selaku Founder Kelasku Digital, hadir untuk menjadi narasumber dalam Webinar yang diselenggarakan oleh Mikaza Sukaza School Surabaya.

Untuk memberikan wawasan kepada orang tua, guru dan wali murid tentang apa itu coding dan kenapa itu penting untuk anak-anak.

Berikut adalah rekaman videonya:

FREE ONLINE BOOTCAMP KCMI FOR WOMEN

Tidak ada komentar

 

KOMUNITAS CODING MUM INDONESIA [KCMI]

Menyelenggarakan FREE ONLINE BOOTCAMP khusus perempuan. Usia 18 tahun ke atas. Tidak harus sudah menikah dan tidak harus sudah jadi mum (ibu-ibu).

Materi: BELAJAR BIKIN WEBSITE STATIS DENGAN HTML, CSS DAN BOOTSTRAP.

Untuk: pemula

Maksud pemula adalah yang sama sekali tidak pernah mengenal pemrograman atau coding. Namun boleh juga jika anda ingin ikut lagi untuk me-refresh ilmu membuat website yang dulu pernah dipelajari jaman sekolah/kuliah/bekerja.

Output:

  1. Mengetahui cara membuat website
  2. Mengetahui konsep dan syntax HTML, CSS dan Bootstrap
  3. Mampu membuat website statis sederhana untuk keperluan belajar
  4. Mengetahui cara belajar mandiri untuk mengembangkan materi dasar yang sudah didapatkan selama bootcamp

Prasyarat:

  1. Wajib perempuan usia 18 tahun ke atas
  2. Menyediakan laptop dan akses internet mandiri [kelas dilakukan online]
  3. Berminat besar untuk terus belajar dan praktik mandiri
  4. Sudah terbiasa menggunakan laptop/komputer, internet dan skill digital dasar
  5. Aktif di kelas belajar dan di grup telegram KCMI
  6. Bersedia meneruskan semangat belajar dan mengajarkan materi yang sudah didapatkan kepada anak, saudara, keluarga, murid dan siapapun yang membutuhkan

Biaya : GRATIS

Learning Resources dan Tools:

  1. W3Schools
  2. Studio Code Web Lab
  3. Brackets Code Editor
  4. Google Meet
  5. Grup Telegram

Pengalaman Terkait StartUp

Tidak ada komentar

 

Kata kunci STARTUP lagi hits. Salah satu penyebabnya adalah mulai tayangnya Drama Korea berjudul Start-Up

Para pelaku Start-Up pun mulai muncul dan menjadikan drakor ini sebagai bahan obrolan atau sekadar caption di instagram.

Saya juga ikut-ikutan ingat jejak langkah masuk di dunia perusahaan rintisan alias Start-Up ini.

Di bawah ini masih dokumentasi foto yang berhasil saya kumpulkan dari Facebook (tempat simpan foto paling cepet :)). Untuk ceritanya menyusul dari editan artikel ini satu demi satu.

2019: Menjadi Mentor DILO PAD [ DILO Pre-Startup Development]

Sebuah training mentorship edukasi tim yang akan membuat startup dan mengikuti program selanjutnya.

Sebelumnya, saya pernah menjadi Guru Tamu juga di SMA Negeri 5 Surabaya, untuk materi Kewirausahaan dan berbicara tentang Startup.

Saya pun, menjadi Ketua Organizer Global Startup Weekend Women Surabaya tahun 2019

Lumayan juga kenangan dan pengalaman terkait Startup.

Apalagi buku yang dibaca dan training yang diikuti. Sempat baca buku tentang Startup lebih dari satu dalam waktu singkat. Karena akan diajak kerjasama membuat startup baru, yang ternyata ilang tanpa jejak.

Gpp, lumayan ilmunya nancep ga ilang.

saat ikut training membuat BMC {Business Model Canvas} by pak Zaenal Arifin di RKB Surabaya

Bahkan menang lomba menulis di blog pertama kali itu juga dengan tema StartUp.

Juga nekad naik motor bertiga, membonceng dua anak lelaki ini untuk ikutan seminar tentang StartUp.

link postingan foto bersama Chiki Fawzi : https://www.facebook.com/photo?fbid=987105901373786&set=a.985020954915614

Apa Jadinya Ketika Anak Gamer Belajar Coding

Tidak ada komentar


When you teach code, you’re not only teaching the language of technology. You’re teaching new ways to think and bring ideas to life.

Pengalaman menarik kemarin, ketika saya mengajar kelas privat untuk Khanza, kelas 3 SD, di kelas Ayo Bermain Coding menggunakan Scratch Programming.

Bagi yang belum tahu apa itu Scratch Programming, bisa buka saja langsung websitenya www.scratch.mit.edu dan membaca berbagai resources yang sudah disediakan oleh tim developer di web tersebut.

Sebelum mengajar Khanza, saya membuat contoh materi, yaitu membuat Flashcard Perkalian Sederhana. Tutorialnya bisa dilihat di sini:

Saya memberikan contoh membuat Flashcard standar, lalu ditambah Sound code dengan rekaman suara saya bergaya standar biasa juga.Tetapi Khanza tidak. Dengan berani dia merekam suara Perkalian dan Hasilnya, dengan nada yang begitu panjang dan riang. Khas dengan anak-anak.

Bisa dilihat hasilnya di video ini:

Saya terpana beberapa detik. Untuk kesekian kalinya saya merasakan kalah ANAK-ANAK INILAH GURU SAYA. Mereka mengajarkan hal-hal yang tidak terbesit di benak saya. Seorang dewasa yang sudah banyak terkikis keberanian kreatifnya karena banyak harus melakukan hal standar.

Tidak hanya Khanza. Beberapa anak lain juga mengajarkan saya. Di kelas online belajar Scratch Programming ini, para Scratch Coder, saya menyebut murid-murid saya itu, berani sekali mengeksplorasi Scratch. Jauh lebih berani daripada saya, gurunya.

Mereka membuka Google Translate dengan santainya, ketika ingin menuliskan Instructions dan Notes/Credits saat share Scratch project, dalam bahasa Inggris.

Begitu juga saat membuka code extension Text to Speech, yang ada code berbagai bahasa. Mereka dengan santainya menambahkan code untuk bahasa lain : Jepang, Rusia, Korea, dll dan mencari kata padanan dengan google translate.

Untuk penggunaan Google Translate saat itu, sama sekali tidak terpikir oleh saya :)

Anak-Anak Gamer

Sebagian besar murid saya, adalah anak-anak gamer. Atau anak-anak yang suka main game. Rata-rata mereka bercerita suka bermain ROBLOX.

Saya mendengar tentang Roblox, Minecraft, PUBG, dan nama game lain dari kedua anak lelaki saya. Sebaliknya, saya, ibunya, belum tertarik untuk bermain game online seperti mereka. Paling banter dulu saya bermain tetris (jaman dulu banget). Game lain cuma coba-coba awal saja, tapi cepat mandeknya. Saya sama sekali tidak telaten bermain game. Jika kalah di awal, ya sudah berhenti. Tidak mau mencoba lagi ke level awal, apalagi sampai ke garis finish.

Anak saya, termasuk anak gamer kelas berat. Bahkan membuat saya cemas dan bingung ketika dia kecil harus disikapi seperti apa. Itulah yang membuat saya nekad saja masuk ke dunia baru, dunia coding, dunia pemrograman, dunia IT = teknologi dan informasi dan hal-hal di luar pemikiran saya waktu itu, demi mencari tahu cara memfasilitasi anak-anak gamer semacam ini.

Alhamdulillah, usaha saya membawakan hasil.

Anak saya yang sempat dituding oleh seorang pembicara seminar sebagai “pecandu game” di depan umum, di atas jari telunjuk yang menuju ke hidung saya itu, sekarang bisa menyalurkan minat dan bakatnya pada game dan segala hal terkait teknologi informasi.

Anak saya yang ini, memilih masuk SMK jurusan RPL (Rekayasa Piranti Lunak) yang pelajarannya terkait coding dan programming. Beberapa kali berprestasi di SMK itu terkait coding dan bisa lolos SMPTN ke PENS — politeknik negeri terbaik di Surabaya — tanpa tes, tanpa harus ikut UTBK. Saya yakin ini juga berkat beberapa prestasinya di dunia pemrograman itu tadi.

Anak saya memilih jurusan Game Technology. Jurusan yang relatif baru di PENS. Cocok sekali dengan dia. Yang tidak hanya suka coding, tapi juga bisa menggambar digital deengan photoshop, membuat video animasi, mengedit video dan merancang cerita. Persis dengan konten yang ada di dalam game.

Anak saya ini, sejak kecil, lebih suka belajar sendiri (otodidak) untuk berbagai hal. Dan sangat telaten mencoba game baru sampai tuntas walau saat itu komputer kami sangat jadul, bahkan tidak ada akses internet. Ketika ada modem dengan sinyal internet sangat lemah pun, anak saya bersikeras untuk main game, belajar dan mengeksplorasi hal lain di komputer itu. Karakter ini terbangun tanpa sadar oleh kegemarannya pada game. Terbukti waktu SMK, dengan fasilitas sangat terbatas. Dan aturan yang sangat membatasi karena sekolahnya ada di lingkungan pondok pesantren di daerah Peterongan Jombang, anak saya masih mau belajar hal baru, belajar coding sendiri dan ikut lomba.

Pengalaman saya bersama anak kandung sendiri ini, menggerakkan hati untuk bisa memfasilitasi anak-anak yang punya minat sama.

Beberapa kali saya perhatikan, bahwa anak-anak kecil yang suka main game ini bukannya makin berkurang, melainkan bertambah. Tentu saja, akses internet makin mudah, harga gadget juga makin murah. Aneka jenis game online juga bertebaran di internet.

Apakah anak-anak ini dibiarkan saja?

Atau hanya diputus saja, dilarang begitu saja?

Saya punya pengalaman betapa menderitanya anak-anak penggemar game yang dilarang untuk membuka komputernya. Sangat tertekan secara emosional.

Maka, hadir untuk mengenalkan hal lain yang bisa dilakukan selain main game di HP atau laptop, adalah niat yang saya punya saat ini.

Di KELASKU DIGITAL, saya membuka kelas online untuk anak-anak belajar coding dengan Scratch Programming.

dan juga kelas online belajar coding membuat website,

Saya mulai kelas coding kids ini, secara tatap muka sejak 2018. Namun baru mulai membuka kelas onlinenya di bulan Ramadhan tahun 2019 kemarin. Hasilnya adalah anak-anak bisa mengikuti kelas belajar coding secara online. Dan jika hadir sepenuh hati untuk memahami mereka, maka sedikit demi sedikit mereka akan paham bahwa mereka aman dari tudingan sebagai pecandu game yang tidak berguna. Juga mereka tahu cara lain melakukan sesuatu, membuat sesuatu seperti game, animasi dan dongeng interaktif dengan Scratch Programming atau tools lain, dengan kegemarannya bermain game itu.

Menghadapi generasi sekarang, intinya kita harus hadir untuk mereka. Bukan sedikit-sedikit menuding mereka dan membatasi geraknya. Kita yang harus belajar banyak hal.

Semoga menginspirasi.