IRTD 7: Kriptonik

KRIPTONIK

Kain hero berwarna kuning berukuran 1,5 m x 3 m ini sudah penuh dengan tracing tulisan. Aku dan suamiku bergantian menebali tiap hurufnya dengan cat minyak berwarna hitam. Beberapa kali aku mendesah nafas panjang. Pinggangku terasa nyeri apalagi punggungku yang sudah menyangga janin berusia 4 bulan.

“Aku salah nih bikin hurufnya kecil-kecil begini. Jadi susah kita menebalinya dengan kuas cat.” Keluhku pada suamiku. Sejenak kemudian dia berhenti menggores kuas bercat hitam, lalu masuk ke dalam rumah. Sebungkus plastic kecil berisi cotton bud ada di tangan kanannya. 

Aku menerima barang itu dengan tersenyum. “Bagus juga idenya. Lebih rapi gini, mengecat dengan cotton bud.”

KRIPTONIK
JASA PENGETIKAN & BIMBEL SD, SMP, SMA
MATEMATIKA, FISIKA, KIMIA, BAHASA INGGRIS

Hampir selesai pekerjaan kami, ada tamu datang dan masuk ke ruangan depan rumah ibuku yang akan menjadi tempatku menerima murid bimbingan belajar dan jasa pengetikan. 

“Lagi ngapain dek Heni?”
“Owala pakai bikin sendiri geber’e rek. Pesen ae pok’o…”

Aku dan suami nyengir saja menerima komentar itu. Iya memang geber alias banner usaha ini bisa pesan ke tukang sablon. Tapi harganya waktu itu lumayan mahal juga. Demi ngirit, aku beli saja kain polosan kemudian menulisnya sendiri. Sebisa mungkin semua “modal usaha” ini dari kantongku dan suamiku sendiri. 

“gak papa mbak, daripada nganggur. Bisa bikin sendiri gini. Mau ta tak bikini?”candaku. 

KRIPTONIK. 

Aslinya adalah nama salah satu unsur kimia di deretan Sistim Periodik. Kriptonik punya nomor atom 36 dan ini adalah nomor absenku di kelas Kimia ITB angkatan 97. Sewaktu kami ospek, biasanya memanggil dengan nama unsure yang sesuai dengan nomor absen atau NIM ini. 

Setelah memutuskan kembali ke Surabaya, praktis kami berdua, aku dan suamiku menjadi “pengangguran”. Suamiku mengambil cuti belajar untuk kuliah lagi ke ITS. Dia dulu lulusan D3 Teknik Mesin (D3MITS), kemudian langsung bekerja di IPTN, perusahaannya pak B.J. Habibie yang bikin pesawat terbang itu loh. Sejak tahun 1999 dia pun memutuskan untuk melanjutkan kuliah lagi, sehingga bisa lulus S1 di jurusan yang sama juga, Teknik Mesin ITS.





IRTD 6: Akhirnya Aku Menjadi Ibu Rumah Tangga

“Menikah itu susah. Sorooo….”ibuku sering mengulang-ngulang hal ini. Beliau ingin sekali meyakinkanku bahwa menikah itu sangat susah. Sulit banget. Nggak ada indah-indahnya. Entah apa tujuan ibu terus menerus membombardirku dengan kalimat ini setiap kali aku pulang ke rumah di masa liburan kuliah. 

Ibu adalah politikus handal dalam keluarga kami. Tak ada satu pun gerak-gerik ibu atau perkataan ibu yang tidak ada maksud di belakangnya. Termasuk doktrinasi bahwa menikah itu susah yang diberikannya padaku, pasti dan pasti karena beliau tidak ingin aku buru-buru menikah. Aku harus berkarir super sukses dulu sebelum akhirnya duduk di pelaminan. Dan aku sangat mengamini hal itu. 

Tidak pernah terbesit sekalipun juga di dalam benakku di masa remaja atau bahkan masuk usia SMA bahwa aku akan menikah secepatnya. Aku ingin berkarir dulu, jelas. Menikah adalah urutan kesekian.

Mestinya begitu. Rencananya begitu. Akan tetapi Allah SWT tidak menganggap rencanaku itu baik karena Maha Mengetahui yang lebih baik dan terbaik untuk kehidupanku. 

Anak gadis yang ambisius untuk menjadi wanita karir ini, malah ketemu seorang laki-laki di semester pertama kuliahnya. Dan tanpa ada settingan sama sekali, akhirnya berjodoh menikah dengannya tepat 3 bulan sebelum lulus kuliah. 

Doktrinasi ibu tidak mempan padaku saat itu. Menjalani kehidupan yang sulit dan susah bukan hal yang mengerikan bagiku. Aku pernah makan nasi yang aku masak dari beras yang sudah kupisahkan dari tahi tikus yang masuk ke lemari dapur tempat kos kami di Bandung. Aku kuliah dari pagi sampai sore dengan bekal makan supermie dan kocokan nutrisari sebotol. Aku begadang sampai pagi menyelesaikan semua tugas kuliah dengan camilan campuran gula dan kopi bubuk instan yang aku anggap sebagai pengganti permen Nescafe. 

Bahkan aku sering sengaja main ke rumah teman asli Bandung di waktu makan siang dan makan malam, karena uang kirimanku sudah habis sebelum akhir bulan. Ini biasa terjadi ketika masa fotokopi tugas-tugas semakin banyak dan menyedot uang jatah bulananku sebesar 150ribu rupiah sebulan itu. 

Aku tak takut miskin, karena dari kecil ibu membiasakan kami makan dengan lauk seiris tempe tipis dan sesendok indomie yang sudah dicampur potongan cabe rawit dan kecap. Lauk yang harus cukup dimakan 10 orang di rumah kami. 
Jadi susah karena menikah tidak mengerikan. Yang menakutkan adalah aku berhenti karena menikah. Aku menjadi titik. Aku menjadi ibu rumah tangga. Itu terlalu menakutkan untuk dibayangkan. Karena ibu seringkali menakutiku bahwa jika perempuan tidak bekerja itu rentan untuk diperlakukan secara sembrono oleh suaminya.

Semakin kamu anti terhadap sesuatu biasanya Tuhan akan mencobamu dengan hal itu. Ketika aku anti banget menjadi ibu rumah tangga. Maka Tuhan menggerakkan telapak tangannya. Dan dengan sekejap saja tangan itu dibalik. Dan posisiku menjadi calon peneliti dengan karir cemerlang langsung berubah total menjadi ibu muda yang sedang hamil dan tidak berdaya. 

Aku dan suamiku turun dari angkot berwarna coklat yang mengantarkan kami dari stasiun Gubeng ke pinggir jalan. Rumah ibuku masih berjarak sekitar 300 meter lagi. Kami berjalan kaki dengan masing-masing tangan membawa tas besar berisi baju, buku dan beberapa barang kami dari tempat kos di Bandung. 

Sepeda, magic com dan barang yang besar, kami titipkan ke temannya suamiku yang masih ada di Bandung. Rencananya jika dia juga akan pindah kembali ke Surabaya, barangku akan dibawa serta dan dikirimkan ke rumahku. 

Tanpa riuh rendah penyambutan, aku dan suamiku membuka pintu pagar ibuku secara perlahan. “Loh sudah datang?” ibu dan bapakku kaget melihat kami sudah masuk ke rumah. Sementara baru beberapa hari lalu, kami menelepon mereka dan mengabarkan bahwa aku sedang hamil. 

“Kamarmu belum dibersihkan e Hen,”kata ibu. 

Aku bergegas memasukkan barang bawaanku ke kamar dan berkata pelan,”nggak papa bu, nanti kami bersihkan sendiri.”

Aku lihat kasur yang tidak ada spreinya. Dan kamar terasa sedikit berdebu. Kamar ini dibiarkan kosong ketika kami berangkat ke Bandung, tiga bulan setelah menikah. Tanpa beristirahat, aku dan suami segera membersihkan kamar dan membersihkan diri. Kami ingin beristirahat setelah naik kereta api dari Bandung ke Surabaya selama 12 jam lebih. 

Selesai membersihkan diri, aku berdiam di dalam kamar. Berat sekali rasanya perasaan ini. Kembali pulang tanpa sempat menjadi apa-apa. Padahal baru kemarin bapak menyorotkan binar mata bahagia ketika mendengar aku diterima kerja langsung di LIPI. Dan suamiku bisa tetap kerja lagi di IPTN setelah dia lulus kuliah lanjutan di ITS nanti. Dua pegawai BUMN yang sudah menentramkan hati orang tuanya ini, sekarang malah kembali ke rumah tanpa membawa kabar apa-apa selain kembali pulang karena hamil muda. 

Membuat orang tuaku patah hati begini. Aduhai pedih nian rasanya hati. 





IRTD 5: Dua Garis Biru Di Tempat Kos Baru

Suamiku mengambil cuti belajar untuk kuliah lagi ke ITS. Dia dulu lulusan D3 Teknik Mesin (D3MITS), kemudian langsung bekerja di IPTN (INDUSTRI PESAWAT TERBANG NASIONAL), perusahaannya pak B.J. Habibie yang bikin pesawat terbang dan terakhir berubah nama menjadi PT. Dirgantara Indonesia. 

Beberapa bulan setelah kami dekat dan niat serius menjalani hubungan, dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah lagi, sehingga bisa lulus S1 di jurusan yang sama juga, Teknik Mesin ITS. Jadi sebelum menikah, kami menjalani LDR juga Long Distance Relationship Surabaya-Bandung, kurang lebih 4 tahun. 

Sebenarnya jika semua rencana kami terlaksana dengan detil, suamiku ini lulus barengan dengan aku. Jadi, wajar jika kami berani saja mengiyakan ketika keluarga memutuskan tanggal baik pernikahan kami adalah sebelum aku lulus kuliah. Prediksi kami saat itu, 3 bulan setelah menikah, aku lulus, kemudian suamiku juga lulus. Kami berdua jadi sarjana lalu kembali ke Bandung. Aku bekerja jadi peneliti di LIPI Bandung. Dia kembali ke kantornya di IPTN. Menjadi duo pasangan pegawai BUMN. Sempurna.

Hamil dan memiliki anak, bukan hal yang kami bahas detil saat itu. Kami adalah Discussion Couple. Sejak awal kami suka membicarakan banyak hal secara serius. Tapi sepertinya, bagi anak muda Jawa, membicarakan tentang rencana mempunyai anak, yang alhasil akan nyerempet ke hal yang tabu, itu masih bikin sungkan untuk dibicarakan. 

Kami tidak memprediksikan hal ini. Tidak juga menggunakan kontrasepsi untuk menunda kehamilan. Atau bahkan kami tidak sempat memikirkan hal itu juga. Bayangkan saja selama proses menjelang menikah, aku harus masih berkutat di laboratorium penelitian juga mempersiapkan bahan untuk seminar Tugas Akhir dan sidang sarjana. 

Dan rupanya kehidupan sedang bercanda pada kami berdua. Tepat beberapa hari setelah kami pindah ke tempat kos yang lebih baik, lebih bersih dan jauh lebih dekat dengan LIPI tempatku bekerja, aku hamil. 

Aku pikir telat datang bulan kala itu biasa saja karena kecapekan pindahan kos. Aku mengangkat koper, lemari, kasur dan segala perangkat dari Surabaya ke Bandung juga dari kos lama ke kos baru. Dengan menjadi tukang angkut barang berat saat itu, menurutku mustahil seorang perempuan bisa hamil gitu loh. Ibarat kata, kalau toh beneran jadi, bisa-bisa ambrol tuh calon jabang bayi. 

Tapi rupanya anakku nih setrongnya luar biasa. Atau rahimku yang tebal dan kuat. Belum hilang rasa capek kami karena pindahan, ternyata rasa mual dan tidak enak badan setiap hari yang kualami adalah tanda-tanda kehamilan. 



----------
“Mas, sini sini.” Aku memanggil suamiku yang berkutat di depan computer setelah sholat shubuh. 
Aku menyorongkan cawan petri berisi urin pertama pagi. Lalu membuka kemasan bertuliskan ONE MED yang aku beli di apotek kemarin sepulang dari LIPI. Aku baca sekilas petunjuk pemakaiannya lalu memasukkan batang berisi petunjuk kehamilan itu ke dalam urin yang sudah aku kumpulkan sebelum shubuh tadi. 

Aku tidak sedang mengharapkan hamil. Ini sudah percobaan test pack ke sekian kalinya sejak kami awal menikah. Dan hasilnya selalu negative. Aku pikir saat itu pun akan sama. Aku memanggilnya untuk menyaksikan pertunjukan sulap saja atau main tebak-tebakan setelah aku sudah telat datang bulan sekitar satu minggu lebih. 

“hayoo berapa garis jadinya, eng ing eng…”candaku. 
Sruuttt…..tak sampai satu detik, langsung terpampang nyata ada DUA GARIS di test pack yang aku pegang itu. Jantungku rasanya melorot langsung ke dengkul. 

“ha….dua gariiiss..???”desisku perlahan. 
Sebaliknya, “Alhamdulillah dua garis!”suamiku bertepuk tangan spontan. 
------

Dua garis itu membuatku lemas. Tak tahu harus berekspresi apa. Dan aku merasa bersalah juga tidak langsung berteriak hore atau Alhamdulillah atau super senang akan kehamilan ini seperti halnya momen yang muncul di iklan televise. 


Pas setelah ada dua garis melintasi test pack di subuh pagi itu, aku sudah yakin bahwa kembali ke Surabaya adalah jalan yang akan kami pilih. 

“Kamu masih mau tetap kerja di LIPI?” dia bertanya dengan hati-hati setelah kondisi tenang siang hari. 
Aku sudah tahu arah pembicaraan ini. 
“Iya, kalau bisa,”jawabku tak kalah perlahannya. 
“Apa bisa kamu hamil sendirian di sini? Kerja juga? Dari kemarin aja lemes banget. Nanti yang belikan makanan siapa? Yang ngantar kerja siapa?”

Aku terdiam. Pikiranku berputar. Memikirkan hal ini sendiri. Jadi anak perempuan yang masih muda, sudah menikah, lalu hamil dan merantau tanpa satu pun sanak family, bikin aku ketakutan juga. Apalagi suamiku. Dia benar-benar tidak mau meninggalkan aku sendirian di Bandung. 

Suamiku bukan tipe orang yang memberikan keputusan secara saklek. Kami sudah dekat selama 4 tahun sebelum akhirnya diijinkan untuk menikah. Sedikit banyak dia tahu karakterku yang susah dilarang jika sudah ada kemauan. Dan menjadi peneliti, bekerja di LIPI, jelas dia tahu itu adalah impianku. Impian terbesarku. Puncak target hidupku. 

Sejak percakapan itu aku terus menimbang-nimbang. Membayangkan ini itu. Bagaimana jika ini. Bagaimana jika itu. Apakah aku sanggup jika begini. Apa yang mungkin terjadi jika begitu. 

Hal yang paling membuatku takut adalah karena aku bekerja di laborarium biokimia. Selama menjalankan penelitian tugas akhir, ada beberapa reagen kimia yang karsinogenik (bisa memicu kanker). 

“Kalau aku ngotot kerja di LIPI. Dalam keadaan lemah, capek, sendirian, apakah aku kuat? Bagaimana jika aku terpapar reagen karsinogenik? Bagaimana jika nanti zat itu terkena janinku? Jangan-jangan nanti dia cacat. Kalau iya, nanti anakku jadi susah. Aku pun jadi susah.”

“Tapi, kalau aku berhenti, impianku akan musnah. Mana yang harus kupilih, anakku atau impianku?. Sepertinya tidak ada masalah aku tetap bekerja, toh ibu itu, ibu itu yang bekerja di LIPI, anaknya sehat-sehat saja.”

“Ah, Tapi mereka orang asli Bandung.”

“Kalau aku di sini, suamiku nanti bagaimana? Nanti dia kepikiran. Semakin kepikiran aku di sini, semakin dia nggak bisa fokus menyelesaikan skripsinya. Nanti dia nggak lulus-lulus. Bisa kena pinalti dari kantor. Kalau akhirnya di PHK gimana?”

Ini semua adalah kata-kata yang terdengar di dalam batinku sendiri. Sampai akhirnya aku merasa bahwa harus ada salah satu yang berkorban di sini. Yang pasti bukan suamiku yang berkorban karena dia adalah kepala keluarga. Tentu juga bukan anakku yang dikorbankan, karena dia tidak minta dihadirkan ke rahimku.

Jadi, tidak ada pilihan lagi, harus aku yang mengorbankan diri. Menikah adalah keputusanku. Memastikan kehamilanku terjaga sampai anakku lahir adalah tanggung jawabku. Tanpa ragu lagi, aku katakan pada suamiku pada malam itu,”biar aku rapikan barang-barang. Packing. Kita kembali saja ke Surabaya.”






IRTD 4: Sudah Titik. Benarkah?

“Kalau sudah menikah, hidupmu sudah TITIK Hen. Selesai. Titik.”
Ibunya Nia, sahabatku sewaktu SMA itu memberiku nasehat ketika aku bertandang ke rumahnya. Waktu itu aku masih kelas 3 SMA, tidak begitu tahu maksudnya. Aku kira beliau ingin memberitahu bahwa hidupmu sebagai manusia akan berakhir karena sudah menikah. Dan mulailah kehidupanmu sebagai perempuan saja. Sebagai isteri dari seorang laki-laki. Menjadi ibu dari beberapa anak-anakmu. Jadi menantu bagi kedua mertuamu. Jadi anak dari orang tuamu. Sudah itu saja. Hidup sebagai perempuan berarti bersiap tidak hidup sebagai manusia. 

“Mumpung masih muda Hen, belajar yang bener. Trus bekerja. Sebelum kamu menikah dan semuanya berhenti seperti ibu.” Beliau melanjutkan nasihat itu. Aku diam saja mendengarnya. Menelan mentah-mentah kata-kata itu sebagai arti bahwa, “jadilah wanita karir Hen. Yang pintar. Yang sukses. Yang mandiri. Dan kalau bisa nggak perlu menikah cepat-cepat.”

Dadaku naik turun untuk menarik dan membuang nafas. Membagikan karbondioksida tambahan di pelataran rumah sahabatku yang sangat luas ini. Aku, sahabatku dan ibu bapaknya sedang duduk santai selonjoran di teras depan rumah ini. 

Aku bukanlah anak yang mudah bercerita kepada orang tua ataupun saudara-saudariku sendiri. Bisa dibilang aku adalah anak yang pendiam. Hobinya membaca buku dan belajar di dalam kamar. Aku tahan belajar dari pagi sampai pagi, terutama ketika sudah libur sekolah. Sejak kecil aku belajar sendiri tanpa perlu disuruh. Aku memasang target hidup sendiri tanpa dipaksa siapapun selain gemblengan ibuku untuk terus berpendidikan tinggi agar tidak miskin dan menderita seperti ibuku dulu. 

Sejak kecil juga aku berhasil meraih nilai yang bagus dan rangking di kelas. Aku harus pintar supaya tidak dihina lagi karena miskin. Ya dihina karena miskin adalah makananku sehari-hari. Sejak SD aku mendapatkan bully-an itu karena menjadi anak yang tidak lahir dari keluarga yang bergelimang harta. Bahkan lebih parah ketika masuk SMPN 1 Surabaya, sekolah paling favorit di Surabaya pada waktu itu. 

Tidak hanya karena aku tampak miskin dan beneran miskin. Aku tak dihiraukan beberapa teman karena nomer absenku hampir paling bawah. Pada waktu itu, nomer absen sesuai dengan urutan rangking di kelas. Jika anak perempuan di kelas berjumlah 25 orang. Nomer absen 1 adalah rangking satu. Dan nomer absen 25 adalah rangking terakhir dari murid perempuan. Pada waktu masuk kelas 1 SMP aku mendapat nomor absen 20. Hampir rangking bagian belakang. 

Di awal SMP, jarang sekali aku disapa oleh anak-anak yang nomer absennya the best ten. Jangankan disapa, ditoleh aja tidak. Hal ini membuatku terbakar juga. Mati-matian aku belajar dengan segala fasilitas yang ada. Tanpa bimbel dan apapun. Hanya mengandalkan guru di sekolah dan mengulang sendiri pelajaran di rumah. Akhirnya nomer absensiku terus meningkat ketika naik kelas dua dan tiga. Saat itulah aku baru ditoleh atau dilihat oleh teman-temanku itu. 

Aku harus belajar. Aku harus berusaha lebih keras daripada orang lain. Aku harus pintar supaya tidak dihina oleh orang lain. Itulah pembelajaran hidup yang aku alami ketika hidup di Surabaya. Sebuah karakter berjuang yang lazimnya dimiliki oleh kaum melarat di kota besar. Ingin keluar dari kemiskinan. Dan untunglah ibu dan bapakku memilihkan jalur pendidikan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan ini. 

Aku sungguh-sungguh ingin keluar dari citra miskin ini. Aku tidak sedih dengan terbatasnya failitas ini itu yang tidak kami punyai. Aku hanya tidak tahan dihina orang lain. Dan aku lebih tidak tahan lagi melihat keluargaku juga mendapatkan hinaan itu. Ya, aku mengalami segala bentuk penghinaan itu mulai dari kecil sampai besar. Dan aku simpan sangat dalam perasaan luka hati itu. 

Aku tidak ingin dihina orang, maka aku harus pintar. 
Aku tahu rasanya jadi miskin dan dihina orang, maka aku tidak akan tega melukai hati orang miskin dalam bentuk apapun.
Dua hal itu yang menjadi peganganku. 

Karena alur hidupku di dalam keluargaku sendiri adalah berjuang, berjuang dan berjuang. Maka ketika mendengarkan nasehat dari ibunya sahabatku yang termasuk golongan orang kaya, bahwa menikah adalah titik, menjadi suatu hal yang besar efeknya padaku. 

Kenapa ibunya temanku itu sampai segitu putus asanya? Bukankah dia berkecukupan dan hartanya banyak?

Pasti tidak enak sekali rasanya ketika sudah menikah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin dia menerjemahkan arti TITIK itu sebagai ibu rumah tangga. 

Menjadi ibu rumah tangga = titik. Selesai. Berhenti. 

Dan aku tidak ingin terlalu cepat mencapai titik sebelum aku mati. 





IRTD 3: Aku Tak Mau Jadi Ibu Rumah Tangga. Saja.

Kegerahanku di balik baju berwarna biru berbahan tissue ini makin bertambah-tambah saja rasanya. Di depanku duduk seorang perempuan dengan perutnya yang sedikit membesar. Kabarnya sedang hamil sekitar 4 bulan. Senyumnya muncul di sela-sela wajahnya yang kusut dan keringat yang sesekali turun dari sudut keningnya. Tangan kanannya menopang tubuhnya yang sepertinya sedang lemah. Efek hamil muda, begitulah kiranya.

“Dari mana tadi mbak?”begitu tanyanya padaku.
“Dari rumah.”jawabku pendek.
“Asli Surabaya ta mbak?”
“Iya”. Dan jawaban pendekku itu tak berlanjut percakapan lagi. Karena aku sibuk dengan perasaanku sendiri. 

Kelusuhan seorang ibu muda di depanku ini membuatku menggumam berkali-kali. “Aku tak mau seperti dia. Aku nggak mau tampak lemah begitu. Tak berdaya. Hanya di rumah saja. Kelak hanya seperti itu saja, tugasnya repot mengasuh anak, tidak bisa kerja, tidak bisa kemana-mana. Tidak tidak tidak. Aku tidak mau jadi ibu rumah tangga.”

Pasti sulit menemukan orang yang menolak gumamanku sendiri itu. Hampir dipastikan banyak yang mendukung mahasiswi kimia ITB yang sebentar lagi lulus ini untuk menjadi wanita karir yang hebat. Yang sibuk di kantor. Yang workaholic. Bahkan jarang pulang ke rumah dan ngider saja dari bandara ke bandara, keliling dunia demi kerja. Wih bangga banget pastinya juga ibuku yang selalu ingin mempunyai anak perempuan yang berpendidikan dan berkarir tinggi. 

Ah bayangan yang kedua ini lebih indah di mataku. Berulang kali aku hadirkan bayangan itu untuk menutupi tampilan perempuan lemah yang ada di hadapanku itu. Perempuan yang kelak menjadi adik iparku.

Ibarat merapal mantra, aku ulang-ulang kalimat itu, untuk membuatku yakin bahwa setelah menikah pun aku akan bisa berkarir hebat. Dan aku tidak akan menjadi ibu rumah tangga saja setelah menikah dengan kakaknya. 

“Tidak tidak tidak. Aku tidak mau jadi ibu rumah tangga.”
Inilah bunyi rapalanku itu. 




Karir Sudah Jelas Sebelum Lulus Kuliah


Supaya aku tidak jadi ibu rumah tangga, maka sebelum menikah harus dipastikan kalau aku sudah diterima kerja. Hal ini aku pikirkan betul. Di masa skripsi dan penelitian tugas akhir di jurusan kimia ini, aku menimbang-nimbang tempat penelitian yang akan bisa mewujudkan niatku itu. 

Peluang bisa bekerja lebih besar di mana. Apakah aku tetap di jurusan kimia ITB, di PAU (Penelitian Antar Universitas) di dalam kampus ITB atau memberanikan diri untuk melakukan penelitian di luar kampus, yaitu di LIPI?

Pilihan terakhirlah yang aku ambil. Dosen pembimbing tugas akhir sebelumnya bertanya, “kamu mau penelitian di LIPI? Kalau iya temui bu Zalinar Udin, kepala Balai di sana, dia mahasiswa S3 saya. Kamu bantu penelitian dia.”

“Baik pak.” Aku langsung menjawab tanpa berpikir panjang. Aku tidak bertanya penelitiannya tentang apa dan harus mengerjakan apa. Aku hanya mengiyakan ketika bapak dosen bertanya apakah aku suka dengan biokimia medis. Dan aku menjawab, “iya saya suka pak.”

Esoknya tanpa diantar siapapun. Tanpa pak dosen ataupun teman lain satupun, aku berangkat sendirian menuju ke LIPI bandung yang letaknya cukup dekat dengan kampus juga dekat dengan area kosku. Berbekal nekad aku bertanya ke pos penjagaan, ke pak satpam, “di mana saya bisa bertemu bu Zalinar?”

Aku lakukan itu tanpa tahu bagaimana wajah bu Zalinar itu. Apakah beliau tahu kalau aku akan membantu penelitian S3-nya. Dan bagaimana respon beliau setelah melihatku. Aku tidak berpikir panjang. Targetku adalah mendapatkan tempat penelitian yang minim pesaing. Minim modal. Dan kelak bisa sekaligus bekerja juga di sana. Pilihan jatuh pada LIPI. 

Jika aku melakukan penelitian di kampus seperti teman lainnya, aku harus bersaing dengan banyak teman di topik yang sama. Harus mengantri zat kimia di laboratorium atau malah beli sendiri jika bahan habis, jelas aku tidak punya uang untuk itu. Dan aku belum tentu bisa diterima kerja di ITB, sadar diri juga karena nilai IPK- ku tidak spektakuler. 

LIPI Kimia Bandung adalah pilihan terbaik. Dan untunglah kenekadanku siang itu berbuah manis. Bu Zalinar, sosok perempuan yang mungil, lincah dan berkarakter tegas itu menerimaku menjadi pendamping penelitiannya di LIPI. 

“Oke. Siapa namamu? Oke Heni. Besok minta surat resmi ke pak dosennya ya. Lalu pindah penelitiannya di sini.”

“Baik bu.” Dadaku seperti meledak karena bahagia, lega dan bangga bisa melewati sesi kenekadan pertama jadi mahasiswi yang sendirian datang ke LIPI. Sementara tak ada satu pun temanku yang mau melakukan hal yang sama ini. 

Aku melonjak gembira. Langkahku meloncat-loncat ringan seperti halnya pemain The Sound of Music. 

Alhamdulillah ya Allah…Alhamdulillah. 
Yess… yesss…kalau bisa aku salto mungkin di jalanan. Tapi semua kebanggaan itu aku pendam dan rasakan sendiri sambil berjalan menuju ke rumah kos. 

Proses penelitian pun berjalan lancar. Dan naga-naganya bahwa aku akan diterima bekerja di LIPI semakin kelihatan. Bu Zalinar beberapa kali mengungkapkan, “kamu pintar Hen, kamu pintar. Nanti kuliah lagi ya S2.” Atau di lain waktu beliau mengatakan,”udah kalau lulus kerja di sini saja. Bantu saya”.

Ya, aku semakin pede kalau rapalanku itu beneran manjur. Sebelum menikah aku sudah punya tempat kerja. Jadi setelah menikah pun aku tidak akan menjadi ibu rumah tangga. Aku berhasil. Ketika adik iparku tadi sudah melahirkan dan bayinya berusia sekitar 6 bulan, aku menikah dengan kakak pertamanya. Dan setelah menikah, jelas sekali aku langsung akan bekerja di LIPI. Meneruskan penelitianku ketika sarjana, demi membantu pekerjaan bu Zalinar di LIPI dan juga penelitiannya di S3 ITB. 

Bekerja menjadi peneliti adalah impianku sejak SMA. Kimia adalah bidang studi yang aku sukai di jenjang sekolah itu. Bahkan ketika mendaftar kuliah pun aku memilih jurusan yang sama di pilihan 1 dan 2 pada tes UMPTN. Kimia ITB dan kimia ITS. 

Setelah lulus kuliah, jika tidak menjadi dosen maka aku akan menjadi peneliti.

Itu saja yang terus menerus menjadi affirmasiku setiap hari melakoni hari kuliah di kimia ITB. Sampai akhirnya momen itu terjadi juga. Aku diterima di LIPI tanpa kesulitan berarti. Dimudahkan karena aku melaksanakan tugas akhir di situ juga. Luar biasa. Sempurna sangat sempurna. Menjadi wanita karir setelah menikah adalah kebanggaanku dan keluarga. 

Tapi rupanya, takdir hidupku berkata lain. Semua hal yang sudah kurancang dengan suami, mulai tampak berbeda arah. Perahu yang kami kendarai bersama tidak bisa mengendalikan arah angin. Tidak ada pilihan bahwa kami harus memilih untuk membelokkan arah perahu, supaya tidak terjatuh dan karam atau menabrak tebing. Saat itu aku hamil anak pertama, sementara suamiku yang direncanakan akan lulus kuliah lanjutan bareng denganku mengalami hambatan pada skripsinya. 

“Wah hasilnya strip dua,”aku ternganga melihat hasil test pack yang pertama kali kulakukan itu.
Suamiku spontan berkata, “Alhamdulillah”. 
Aku pucat dan menahan hati. Dalam bahagia ini, ada satu konsekuensi besar yang harus kuhadapi. 

Benarlah firasatku. Demi kesehatan dan keselamatan si jabang bayi pertama kami, akhirnya aku dan suami memutuskan untuk kembali ke Surabaya. Dia tidak tega membiarkanku di perantauan sendirian, bekerja di laboratorium dengan bahan kimia yang karsenogenik pula. Demi si calon buah hati ini juga aku pun langsung mengiyakan ajakan suamiku kembali ke Surabaya tanpa ada perdebatan panjang atau kesepakatan yang alot. 

“Baiklah, ayo kita pulang. Anak ini tanggung jawab kita.” Aku menggenggam tangan suamiku erat-erat. Mencari penguatan akan harapan yang pecah berkeping-keping di dalam dada. 

Beberapa hari kemudian aku berpamitan kepada bu Zalinar. Aku mundur kerja sebelum diangkat jadi peneliti beneran. Tidak jadi kuliah lagi. Dan yang pasti, aku akhirnya melepaskan karir impianku yang sudah disusun bertahun-tahun sejak SMA. 

Apakah kira-kira kalian bisa membayangkan bagaimana rasanya?
Sepertinya aku akan jadi ibu rumah tangga. Saja.